NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Alfian yang melirik jam tangan sedikit terkejut.

"Aku pamit pulang ya...." Ucapnya pelan.

Wajahnya berubah menjadi serius dan sangat menyeramkan."Ingat! Jaga pandanganmu."

Alfian mengangkat jari tengah dan jari telunjuk hingga membentuk huruf V. Kemudian dia mengarahkan jarinya ke arah matanya lalu ke arah wajah Kayla.

"Apaan sih!" Gerutu Kayla sambil memutar bola matanya malas.

Namun, Alfian semakin mendekat. Tubuhnya kini hanya berjarak beberapa Senti dari Kayla. Mereka sangat dekat, sehingga membuat Kayla jadi was-was.

Ditambah suasana di balkon ini sangat sunyi, hanya ada mereka berdua. Tindakan Alfian yang mendekat secara tiba-tiba membuatnya sedikit takut.

Jangan lakukan itu! Plis... Apa sebenarnya yang akan dia lakukan?

Kayla menutup matanya, ia tidak bisa membayangkan kalau sampe Alfian melakukan adegan itu.

Tuk!

 Ternyata, Alfian hanya mengetuk dahi Kayla dengan ujung jari telunjuknya. Ia tersenyum melihat ekspresi Kayla yang terlihat takut.

"Mikirin apa sih?" Tanya Alfian seraya mengacak-acak rambut Kayla dengan gemas.

Setelahnya dia pun berbalik. Seolah-olah yang dilakukan tadi adalah ucapan perpisahan. Ia meninggalkan Kayla dengan kondisi yang berbunga-bunga.

Hanya ketukan? Dia pikir Alfian akan menciumnya. Ada sedikit rasa kecewa, tapi sesaat kemudian Kayla memukul-mukul kepalanya.

"Mikirin apa sih? Kayla Lo harus sadar! Jangan mudah baper." Ucap Kayla kepada dirinya sendiri.

Ia merutuki dirinya karena sempat berpikir hal yang sedikit intim. Rasa kecewa karena apa yang dia pikirkan tidak terjadi membuatnya malu.

Kayla pun memilih untuk langsung tidur. Kalau tidak... Ia akan terus terbayang-bayang kejadian tadi.

.....................

Setelah selesai berganti pakaian, Kayla berjalan menuju ruang makan. Sebenarnya dia tidak ingin makan dengan mereka, namun perutnya sudah sangat lapar.

Dari kejauhan Kayla bisa merasakan betapa dinginnya suasana di meja makan itu. Biasanya mereka terlihat harmonis dan sering bercanda.

Yang dilihatnya sekarang, mereka seperti sedang perang dingin. Tak ada canda dan tawa, yang ada hanya suara garpu dan pisau yang saling bersentuhan dengan piring

Kayla tak memperdulikan hal itu. Ia segera menggeser kursi lalu duduk.

Makanan di meja makan di dominasi oleh makanan kesukaan Claudy. Namun Kayla sudah tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah mengisi perutnya yang keroncongan.

"Aku sudah kenyang." Ucap Claudy dingin, lalu ia meninggalkan meja makan.

Padahal dia baru makan dua sendok. Tapi ia lebih memilih pergi dari pada harus melihat perilaku Ayah dan Ibunya yang tak pernah berubah.

"Ini semua gara-gara kamu!" Ucap Agnes dengan nada tinggi. Ia menatap tajam ke arah Kayla.

Uhuk! Uhuk!

Agnes tersedak makanan. Ia segera mengambil air lalu meneguknya hingga habis.

"Karma di bayar instan!" Celutuk Kayla.

Dia dengan entengnya mengatakan hal itu. Wajahnya datar, seolah-olah tidak mengatakan sesuatu.

Brak!!

Agnes memukul meja marmer itu dengan sangat kuat. Namun bukannya takut, Kayla malah terlihat biasa saja.

Kayla menikmati makanannya tanpa terganggu oleh aksi yang dilakukan oleh Agnes.

Wajah Agnes merah padam. Padahal ia sudah memukul meja hingga tangannya membiru. Namun yang ia lihat adalah wajah datar Kayla.

Agnes memilih meninggalkan meja makan. Selera makananya jadi berkurang karena emosi yang sudah sangat tinggi.

"Anak tidak tahu diri! Kenapa nggak mati aja pas waktu lahiran!" Maki Wiliam. Setelah itu ia pergi meninggalkan Kayla sendiri di meja makan.

Deg!

Walaupun sudah sering mendengar kata-kata itu. Hati Kayla sangat sakit saat mendengarnya.

Apakah dia tidak berharga di mata mereka? Ia juga tidak bisa memilih lahir dari keluarga yang mana.

Kalau bisa memilih ia tidak akan memilih keluarga ini. Dia akan memilih keluarga yang menginginkannya

Andai saja...

"Sudahlah! Aku tak boleh cengeng! Kau sudah dewasa Kayla." Ucapnya pada diri sendiri.

Kayla mencoba menarik nafas panjang, berharap bisa menghilangkan rasa sesak di dada.

Kalau dulu pasti dia sudah lari dan nangis di pojokan. Tapi sekarang dia sudah dewasa, dia bisa mengatasi sakit ini tanpa terlihat oleh siapapun.

Kalau ditanya lukanya masih ada atau nggak? Jawabannya masih ada! Bahkan luka itu semakin melebar. Lukanya tidak terlihat karena ia membalutnya dengan sangat rapi. Sehingga luka itu tak terlihat.

Setelah makan Kayla pergi menuju kamar sang kakek. Alasan Kayla pulang ke rumah ini karena ia ingin mengunjungi sang kakek.

Cleck!

Baru saja membuka pintu, Arkana langsung memanggil-manggil nama Kayla.

"Kakek kok tahu aku mau kesini?" Tanya Kayla seraya mengambil kursi.

Kursi itu ia letakan di samping ranjang sang kakek.

"Kakek bagaimana keadaanmu? Apakah kau dirawat dengan baik?" Walaupun tahu seberapa baik mereka kepada Arkana. Kayla tetap ingin tahu langsung dari kakeknya.

"Mereka sangat baik. Aku hanya sedikit bosan berada di kamar ini terus." Ucap Arkana seraya menampilkan wajah sedih.

"Ayo jalan-jalan!" Ajak Kayla. Spontan

Kayla mengambil kursi roda agar sang kakek tidak perlu berjalan. Kakeknya ini emang masih kuat untuk berjalan. Namun, baru berjalan sedikit kakinya akan sakit.

Arkana segera bangkit dan duduk di kursi roda. Ia tersenyum lebar saat tahu Kayla akan mengajaknya jalan-jalan.

Mereka berjalan-jalan ke taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Tess!

Arkana tak kuasa menahan air matanya. Air mata yang mengalir pelan itu lama-lama semakin deras.

Kayla langsung menghentikan langkahnya. Dia maju ke depan, lalu berjongkok di depan sang Kakek.

"Kok nangis? Ada yang sakit?" Tanya Kayla seraya memegang kaki Arkana.

"Apa mereka masih seperti itu? Mereka masih jahat padamu?" Tanya Arkana dengan mata yang berkaca-kaca, tubuhnya juga bergetar hebat.

"Nggak! Mereka sekarang sudah cukup baik." Ucap Kayla sambil tersenyum.

Arkana bisa melihat ada kebohongan di mata Kayla. Dia sangat mengenali cucunya ini. Dia juga tahu kapan Kayla berbohong, dan kapan Kayla jujur.

Maafkan Kakek... Kakek belum bisa mengatakan kebenarannya kepadamu. Kakek belum sanggup.

.....................

(Rumah Alfian)

"Kamu pulang jam berapa semalam? Tadi malam Ayah cek, kamu nggak ada." Tanya Lucas seraya memperhatikan Alfian.

Alfian tak menjawab, dia hanya tersenyum. Senyumnya itu terlihat seperti orang yang sedang salting.

"Ohh... Dari rumah gadis itu ya? Keliatannya seneng banget ya?" Ucapnya seraya tersenyum hangat.

"Wajahnya nggak pernah berubah. Ia tetap terlihat cantik dan menggoda." Ucap Alfian tersenyum tipis, ia membayangkan wajah Kayla yang terlihat sangat lucu saat salting.

"Hey! Jangan macam-macam sama anak orang! Kalau kamu melakukan hal itu, aku yang akan maju ke depan untuk mengajarimu!" Ucap Lucas sambil memperlihatkan kepalan tangannya yang besar dan kuat.

"Ayah emang nggak mau cucu?" Tanya Alfian tersenyum jahil seolah sengaja untuk memancing Ayahnya.

Entah mengapa senyumnya itu membuat Lucas sedikit kesal. Dia ingin sekali melayangkan tinju kalau sampe tahu Alfian melakukan hal yang tidak bermoral.

"Ayah sangat ingin cucu. Tapi, harus dengan cara yang terhormat. Jaga batasanmu!" Kali ini wajahnya terlihat dingin dan serius.

"Bagaimana dengan Bunda?" Tanya Alfian serius.

Lucas yang tadinya terlihat biasa saja menjadi sangat muram.

"Dia terlihat sangat kurus."

"Kapan ayah bertindak? Kalau terlalu lama Bunda bisa mati ditangannya!"

Alfian sangat kesal dengan pergerakan ayahnya yang sangat lambat dan tidak membuahkan hasil apa-apa.

"Dia sangat pintar, saat tahu aku mulai bergerak. Dia akan menggunakan Bunda untuk membuatku diam." Ucapnya dengan wajah yang lesu. Lucas seperti tidak ada tenaga lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!