"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tapi sepertinya Dian salah, Alex langsung pergi begitu saja saat Dian tiba di hadapan mereka. Dian mencoba untuk bersikap biasa saja saat Reno menghampiri nya bersamaan dengan itu sudut mata dian melihat tatapan kebencian dari Alex yang langsung tancap gas saat itu juga.
"Sudah siap, rumah yang satu minggu lalu kita lihat sudah turun harga"ujar Renata yang kini terlihat begitu semangat.
"Kakak baru dari makam ayah kakak, mungkin besok pagi, semua barang bisa diangkut dengan mobil itu mungkin hanya dua atau tiga kali angkut"ucap Dian yang kini sudah memutuskan untuk pindah dari rumah yang penuh kenangan itu.
Ya, ayah Reno sudah membelinya beberapa hari yang lalu untuk dijadikan kos-kosan.
"Baiklah jika kamu siap, hubungi saja aku,"ujar Reno yang kini masuk kedalam rumah bersama Dian dan juga Renata yang kini tersenyum bahagia karena untuk pertama kalinya dia melihat kedua orang yang dulu sangat saling mencintai itu kembali bersama meskipun dalam konteks yang berbeda.
"Kamu tenang saja, rumah ini tidak akan ada yang diubah, jika suatu saat nanti kamu ingin kembali kesini aku akan bicara sama ayah"ucap Reno.
"Kalian bebas untuk mengubah semuanya. Karena saat ini semuanya sudah menjadi milik kalian"ujar Dian yang sebenarnya begitu berat melepaskan rumahnya itu. Tapi uang Alex yang selama ini telah dia keluarkan cukup besar dan uang hasil usahanya tidak cukup, itulah kenapa dia menjual rumah dan tanah nya dan membeli rumah yang lebih sederhana dari rumah nya itu dengan tanah yang tidak seberapa luas seperti tanah di halaman rumah nya.
Pengeluaran Alex selama tinggal bersamanya mungkin jauh lebih besar dari itu, tapi Dian sudah berusaha untuk membayar seberapa besar uang yang Alex keluarkan di hadapannya saat itu.
Si Optimus adalah satu-satunya barang berharga yang akan tetap menemani dirinya saat ia pindah nanti.
Dan tidak ada satupun orang yang tahu tentang itu kecuali dua orang kakak beradik yang kini tengah menikmati martabak manis yang sejak dulu menjadi makanan favorit Dian.
Malam pun tiba, lagi-lagi Dian tidak bisa memejamkan matanya. Bukan karena kisah cinta yang menyakitkan itu. Tapi karena ini adalah malam terakhir dia berada di rumah tercintanya.
Rumah yang akan dia tuju terletak di desa sebelah, Dian membeli rumah dari seorang janda yang kini pindah karena tidak tahan dengan gunjingan orang di sekitarnya yang selama ini terus didesak untuk meninggalkan rumah nya sendiri demi keamanan para ibu rumah tangga.
Sebenarnya itu bukan pilihan utama Dian, ada satu rumah lainnya lagi di tengah kota, dan rumah itu juga cukup sederhana dan sudah lama kosong karena pemiliknya telah meninggal dunia di luar negeri. Dan rumah itu dijual oleh anak keturunan nya.
Rumah yang di bilang turun harga oleh Renata, mungkin itu akan menjadi pilihan terakhir nya. Setidaknya disana Dian tidak perlu bertetangga karena suasana kota tidak seperti di desa.
Pagi pun tiba, Dian pun sudah memutuskan untuk memilih rumah yang mana, dia memilih rumah yang ada di kota karena dia juga seorang janda meskipun janda kembang.
Dian yang kini sudah memasukkan barang-barang nya keatas mobil, yang paling pertama adalah barang-barang pribadinya. Tapi saat itu Reno datang bersama Ari yang baru mengetahui apa yang terjadi pada Dian semalam.
Keduanya datang dengan membawa mobil truk untuk pindahan karena ada perabotan yang cukup besar yang harus diangkut menggunakan truk.
Dian tidak berbicara pada Ari, tapi juga tidak mengabaikan nya begitu saja. Mereka seperti orang asing yang baru saling mengenal.
Ternyata Ari yang sudah dua hari ini memutuskan untuk tidak lagi bekerja di gudang padi tersebut pun berniat untuk menemui Dian tapi di perjalanan dia melihat Reno dan Renata yang baru saja kembali dari rumah Dian, hingga akhirnya mereka pun berbincang panjang lebar.
Dan kini setibanya di rumah baru Dian yang lumayan besar itu, Dian akhirnya berbicara pada Ari.
"Apa yang membuat mu kembali menemui ku sobat?"ujar Dian saat kedua kakak beradik dan beberapa tukang kuli angkut barang itu berada di dalam.
"Aku sudah terlalu lama lalai dalam kewajiban ku Di, aku melupakan permintaan sahabat ku untuk selalu menjaga mu. Aku juga telah melupakan jasa orang baik yang telah menolong keluargaku seperti ayah mu yang dulu selalu ada untuk keluarga ku.... Aku terlalu kejam hanya karena sebuah pekerjaan dan juga gaji yang cukup besar, hingga melupakan teman seperjuangan ku. Maafkan aku Diandra, mulai detik ini itu semua tidak akan terjadi lagi"ujar Ari yang kini tatapan matanya penuh penyesalan.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak buat salah apapun padaku. Justru aku senang jika ekonomi mu selama ini sudah membaik. Tetaplah seperti itu, karena ketulusan seorang sahabat tidak diukur seberapa sering kita bertemu... dan kita kini sudah berpisah jauh, tapi ada satu hal yang mungkin bisa kamu lakukan saat ini,"ujar Dian.
"Apa itu Diandra asal jangan meminta ku untuk melompat dari atas gedung tinggi itu"ujar Ari.
"Tidak sobat, aku tidak sekejam itu. Aku hanya ingin kamu menjaga ibu dan Afifah untuk ku, kabari aku jika mereka butuh bantuan?"ujar Dian.
"Aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa Diandra, lagi-lagi kamu begitu pemaaf terhadap orang yang telah membuat mu dijauhi oleh warga sekampung termasuk aku yang terlalu pengecut."ujar Ari.
"Kamu terlalu berlebihan Ri, biar bagaimanapun dia keluargaku setelah suamiku meninggal dunia. Dan aku sudah berusaha untuk menunaikan kewajiban ku meskipun mereka memperlakukan ku dengan begitu buruknya. Semua yang mereka lakukan juga atas luapan rasa sakit karena aku pernah mengkhianati satu-satunya orang yang sangat mereka cintai"ujar Dian yang kini berakhir dalam pelukan Ari.
"Kamu tidak sendirian lagi Di, aku akan selalu ada untuk mu seperti dulu lagi. Kita akan kembali bekerja sama, bila perlu aku ikut pindah ke kota bersama mu"ujar Ari yang kini membuat keduanya kembali tertawa kecil seperti dulu saat mereka bersama.
"Ah ayo masuk biar mereka yang urus semuanya"ucap Dian yang ingin melupakan kesedihannya.
"Rumahnya cukup nyaman Di, hanya butuh sentuhan cat dan beberapa jendela yang harus ditambahkan, jangan lupa tanam sayuran di halaman belakang, itu untuk mengobati rindu mu pada kampung halaman kita"ujar Ari.
"Masih banyak yang harus aku ubah, tapi aku butuh dana untuk semua itu. Dan aku butuh kerja keras untuk mendapatkan semua itu"ujar Dian.
" Semangat kak, kakak bisa... Lagipula tanpa kerja keras kakak tinggal sedikit bermanja-manja pada kakak ku. Maka semua akan terwujud"ucap Renata.
"Jaga bicaramu anak nakal, bagaimana bisa Diandra serendah itu."ucap Ari yang kini dibalas anggukan kepala oleh Reno yang sebenarnya setuju dengan ide Renata.
...******...
Satu minggu sudah, Dian berada di rumah barunya. Dian pun sudah mulai terbiasa dengan hidup barunya itu.
Dian bahkan selalu diberikan kelancaran dalam berdagang, karena ibu-ibu yang tinggal di perumahan sederhana itu merasa terbantu dengan adanya tukang sayur keliling seperti Dian yang datang di waktu yang tepat dan selalu memenuhi kebutuhan dapur mereka.
Jika selama ini mereka harus membeli semua itu di pasar yang cukup jauh atau di super market yang ada di luar kompleks perumahan itu. Kini ada Dian yang selalu standby di pagi hari di depan rumah-rumah mereka.
"Neng sendirian aja, apa tidak kepikiran untuk membawa gandengan"ujar salah seorang ibu-ibu.
"Saya sudah nyaman dengan kesendirian saya bu, lagipula untuk mencari orang yang tulus dan menerima saya apa adanya itu sangat mustahil"ujar Dian sambil tersenyum manis pada yang lainnya.
"Kamu cantik neng, kamu pasti bisa dapat sekelas CEO"ujar tante-tante yang baru saja datang bergabung dan memilih sayur yang akan mereka beli.
"Saya tidak pernah berani berharap yang muluk-muluk mbak, saya serahkan semua pada sang pemilik kehidupan"ujar Dian.
"Itu jauh lebih baik nak, oh iya pesanan ibu ada?"tanya bu Hajah satu-satunya wanita berhijab yang selalu setia berbelanja pada Dian.
"Tentunya bu Hajah, saya bahkan rela mengitari pasar induk itu, untuk mendapatkan pesanan anda"ujar Dian yang kini menyerahkan sayuran langka yang kini membuat ibu-ibu lainnya juga menginginkan nya.
"Neng mbak mau dong"ujar yang lainnya.
" Neng ibu juga mau"ujar yang baru datang.
"Et.... Tenang stok masih ada, tapi yang sabar ya saya bongkar dulu"ujar Dian yang kini sibuk membongkar tumpukan boks sayuran.
"Ini yang anda semua mau, tunggu satu-satu oke"ujar Dian.
Dian pun membagi dua ikat sayur untuk satu orang langganannya itu. Setelah semua kebagian Dian pun kembali melayani pembelian untuk yang lainnya hingga satu mobil sayur dan buah-buahan itu terjual habis dan Dian pun begitu bersyukur dengan itu.
Dian pulang dengan senyuman, sesampainya di rumah dia tidak lupa memandikan si Optimus, setelah itu ia pun mengurus rumah dan diri sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul empat belas, Dian pun memasak makan siang sederhananya. Dian yang kini benar-benar sendiri pun hanya memasak makanan simple, terdiri dari telur ceplok dan tumis sayur juga sambal yang semua bahannya mentah.
Hari demi hari ia lewati dengan aktifitas yang sama, dan kini tiba saatnya dia menikmati hidupnya meskipun dalam kesederhanaan, Dian kini pergi ke tempat pemancingan bersama Ari dan juga Reno dan Renata.
Disana mereka bertemu, Dian dengan mobil tua kesayangan nya, dan Ari dengan motor nya yang kini dinaikkan ke mobil Dian.
Sementara Reno dan Renata dengan mobil pribadi mereka. mereka berangkat menuju desa sebelah yang dulu pernah menjadi saksi bisu sejarah kehidupan Dian dan teman-temannya.
"Dian kemarin Tio bilang melihat tuan Alex datang ke rumah lama mu. Tapi tidak lama karena orang-orang disana bilang kalau kamu sudah pindah rumah"ujar Ari.
"Sudahlah Ri, semua sudah berakhir. Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengannya"ujar Dian.
"Hm.... Aku minta maaf, tapi Tio bilang dia terlihat begitu terpukul saat tau tentang itu.
"Tidak, yang ada dia bahagia karena semua berjalan sesuai keinginannya. Ah sudahlah mari kita bahas yang lainnya. Aku sudah bawa umpan terbaik untuk kita semoga bisa dapat banyak ikan, lihat seberapa banyak pesanan ibu-ibu komplek perumahan itu "ujar Dian.
"Iya ibu sayur"ujar Ari yang kini terkekeh sambil mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di tempat pemancingan, mereka tidak mendirikan kemah karena hanya empat orang saja, mereka bisa istirahat didalam mobil, mungkin hanya untuk dapur darurat mereka jika hujan, selebihnya hanya ada tikar yang digelar di atas kerikil bercampur pasir khas tanah pinggir sungai.
Saat Dian turun untuk bersiap menebar pancing, ponsel Ari berdering dan Dian bisa melihat Dito menghubungi Ari yang kini mengangkat panggilan telefon tersebut.
Dian langsung pergi menebar pancing di pinggiran sungai, bersamaan dengan itu mobil yang dikendarai oleh Reno dan Renata datang.
Entah apa yang ari bicarakan di telfon yang jelas sikap Ari terlihat berubah, dimatanya ada tatapan penuh penyesalan saat Dian bertanya ada apa dengan dirinya yang sejak tadi hanya diam tanpa kata dan terus menghisap rokok nya.
"Dian maaf dia datang"ujar Ari.
"Maksudnya dia siapa? Bukankah hanya kita berempat?"ujar Dian yang kini menatap lekat wajah Ari.
"Aku kira Tio hanya sendirian saat menghubungi ku, tapi ternyata tuan Alex ada bersamanya dan dia menjebak Tio agar dia bisa mencari tahu dimana keberadaan mu saat ini."ujar Ari begitu penuh penyesalan.
"Ah, soal itu, biarkan saja mungkin dia juga ingin mancing. Toh kita tidak satu tim"ucap Dian yang kini tidak ingin membuat Ari terus merasa bersalah.
"Ada apa kak, lihat aku bawa apa?"ujar Renata.
"Tidak ada ren, kami hanya bercanda. Oh iya kak Reno dimana?"tanya Dian yang kini membenahi tikar tempat mereka duduk di tepi sungai itu.
"Kakak kebelet pipis, mungkin disana, tuh kan benar,"ujar Renata yang kini menujuk kearah Reno yang sedang berdiri di samping batu besar itu.
"Awas ren, nanti burung beo mu disambar ikan"ujar Ari.
Sementara Reno hanya tersenyum kecil dan langsung bergegas menghampiri mereka setelah selesai buang air kecil.
"Dian, lihat apa yang aku dapat?"ujar Reno yang kini membawa ikan sidat yang cukup besar.
"Oh wow!..." teriak ketiganya yang kini bangkit dari duduknya.
" Ikan pepes untuk makan malam kita sepertinya cukup"ucap Reno yang terlihat sangat bahagia.
"Tidak, aku beli saja itu pesanan ibu-ibu langganan ku"ujar Dian.
" Lalu bagaimana caranya biar awet sampai dua hari lagi.
"Aku bawa dandang besar, itu bisa di kukus dengan waktu yang lama agar awet" ucap Dian.
"Baiklah nona untuk mu gratis saja, tapi janji nanti ikan yang lain aku minta ikan kukusnya"ujar Reno yang kini tersenyum manis sambil membantu Dian menaruh ikan sidat itu di dalam boks berisi bongkahan es.