Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam telah tiba dengan langit malam----dengan kesunyian yang pecah.
Suara dengkur halus anak-anak panti asuhan yang tidur di ranjang besi tingkat sudah mulai berderit.
Di dalam kamar Melina masih terjaga, hanya demi menyelesaikan tugas dari dosennya.
Duduk di tepi ranjang, mengenakan daster tanpa lengan---garis-garis perpaduan kuning dan biru, pakaian paling nyaman yang di milikinya.
Malam ini Melina duduk bersila di atas kasur tipis, cahaya biru dari layar laptop memantul di wajahnya yang tampak penuh rasa khawatir.
Jari-jarinya masih mengetik di tombol-tombol laptop.
Melina masih berkutik memberikan waktu satu minggu untuk mengumpulkan tugas itu.
Meski begitu Melina harus mengerjakan tugas itu hari itu juga, dan harus selesai hari itu juga.
Karena Melina tak punya waktu luang yang menjadi kemewahan untuknya.
Besok ada jadwal kuliah pagi, lalu akan ke rumah Ganendra jam 10 pagi setelah jam kuliah usai.
Nanti sore beruntungnya akan ada kelas lewat zoom karena dosen sedang ada jadwal webinar ke luar kota.
Sesekali matanya melirik ke arah anak-anak kecil yang tertidur pulas di ranjang sebelah.
Pikirannya tiba-tiba melayang kembali ke dapur megah Nyonya Adisti.
Beberapa jam yang lalu, saat hendak pulang---Matanya melihat piring-piring yang masih menyisakan beberapa potong lauk dan nasi yang cukup banyak.
Daripada dan mubazir, Melina dengan telaten membungkusnya.
Baginya makanan ini adalah penyelamat untuknya.
"Lumayan untuk sarapan besok," gumamnya dalam hati saat itu, sembari mengemas makanan ke dalam wadah plastik kecil yang selalu ia siapkan di ranselnya.
Di panti asuhan, makanan adalah hal mewah yang harus dibagi dengan puluhan anak lainnya.
Membawa pulang sedikit makanan adalah kemewahan untuknya, dengan mengambil makanan sisa itu mungkin dengan itu bisa berhemat.
Kembali ke layar laptop, Melina menghela napas panjang.
Tugas kampusnya sudah selesai, namun pikirannya melayang pada Ishan yang tanpa sengaja keduanya bertatapan.
Tanpa sengaja Ishan melihat tangan Melina membungkus makanan-makanan sisa itu.
"Mau ngapain kamu?" tanya Ishan dengan suara bariton.
"Den...," ucap Melina lirih, seolah baru ke pergok mencuri.
"An-anu Den, saya mau--mau bungkus makanan sisa den...Daripada mubazir mending buat saya," jawab Melina dengan gugup.
Ishan mendelik, memperhatikan penampilan Melina dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Masih muda cantik sih," pikir Ishan menatap Melina.
Melina menunduk hatinya berdegup kencang saat menatap mata Ishan, seorang aktor terkenal yang memiliki wajah tampan.
"Anjirrlah ganteng banget, mukanya kaya eropa campur Arab," ucap Melina dalam hati dan kakinya bergetar.
"Yaudah bawa," jawab Ishan singkat, lalu pergi berlalu.
Setelah kepergian Ishan Melina bisa bernapas lega, lalu tersenyum menatap makanan itu.
Melina menatap jam yang sudah larut malam, tiba-tiba mulutnya menguap.
Kepalanya terasa berat, namun ambisinya jauh lebih besar daripada rasa kantuknya.
Matanya masih menatap deretan kalimat di layar laptop, lalu seusai dirinya mengerjakan tugas kampus-----tugas kampus itu langsung di kumpulkan lewat email.
Setelah selesai, tiba-tiba bayangan wajah Ishan Ganendra dan tatapan dingin Nyonya Adisti sesekali melintas di benaknya.
Melina sendiri hanya mengatakan jika dirinya bekerja paruh waktu sebagai IRT di sebuah rumah---Rumah di komplek melati dua.
Rumah kaya para konglomerat yang ditinggali artis dan beberapa pengusaha terkenal.
Jika nanti tabungan Melina sudah terkumpul, dirinya akan mencari kos dan akan berusaha hidup mandiri.
Dirinya tak mau menyusahkan panti asuhan lagi.
Toh sebentar lagi dirinya akan berusia 19 tahun, jadi dirinya bebas memilih hidupnya sendiri asalkan tetap atas bimbingan agama.
Sementara itu, di lain sisi.
Seorang pria dan wanita tengah bercumbu mesra, dia adalah Ishan dan Livia.
Keduanya melakukan hal yang nista itu di dalam mobil parkiran area lokasi syuting, keadaan sedang beristirahat.
Jadi para kru film tengah sibuk, sementara para artis dan aktor sedang beristirahat.
Tangan Ishan meraba bagian depan yang menonjol milik Livia.
Rupanya gadis yang berwajah Latino berkulit sawo matang ini, tengah menikmati setiap cecapan manis dari sang kekasih.
Cecapan manis sang surgawi.
Setelah puas, tangan Ishan menyentuh wajah Livia.
"Sampai kapan Mas...sampai kapan ibumu tak merestui kita menikah?" tanya Livia.
Ishan hanya menghela napas, memejamkan matanya tangannya membelai wajah Livia.
"Dek aku udah berusaha bujuk mama, biar merestui cinta kita," sahut Ishan.
"Semua sudah aku berikan Mas, tubuhku, cintaku, bahkan hidupku hanya untukmu."
Ishan menyentuh pipi sang kekasih, dirinya tahu jika wanita ini hanya butuh kepastian.
"Tolong bersabar," ujarnya.
Kedua tangan Livia menangkup kedua pipi kekasihnya, rahang pipinya tegas seperti orang balkan.
Dan ada wajah Pakistan juga di dalam diri Ishan.
"Mama cuman mau menantu yang perawan, Mas aku bisa melepaskan karir model aku untuk hanya hidup sama kamu," kata Livia.
"Yah aku tahu sayang, kamu bisa berbisnis. Aku dengar kamu punya bisnis makeup 'kan?" ujar Ihsan.
"Aku izinkan kamu berbisnis," lanjutnya.
Livia tersenyum kecil, lalu kembali mencumbu bibir Ishan.
Malam ini keduanya melakukan cecapan manis satu sama lain melalui bibir, cecapan manis surgawi yang di rasakan keduanya.
Ishan sudah menjalin hubungan dengan Livia selama hampir tiga tahun, dan keduanya mau serius.
Namun, terhalang restu Adisti Ganendra.
Karena Adisti hanya mau menantu dari keluarga baik-baik, masih perawan dan yang pasti muda---karena untuk melahirkan anak.
Wanita itu harus muda, jika masih muda Adisti masih meyakini mampu melahirkan anak.
Tapi jika wanita itu sudah berumur 30 tahun ke atas akan sangat sulit memiliki seorang anak.
Pemikiran yang amat jadul, padahal jodoh dan takdir ada di tangan tuhan bukan di tangan manusia.
Ihsan semalam sangat kecewa lantaran sang ibu mau menjodohkannya dengan seorang perempuan yang usianya di bawah dua puluh tahun.
"Ishan mama mau punya empat orang cucu! karena kamu anak tunggal!" tegasnya.
Ishan yang mendengar itu harus menelan salivanya, karena satu orang anak saja biaya hidupnya mahal.
Apalagi memiliki empat orang anak.
Sungguh dilema Ishan sebagai seorang anak, jika tak menurut maka sang ibu akan menangis dan membawa nama mendiang sang ayah.
Jika menuruti sang ibu, Ihsan tak bisa mengejar kebahagiannya.
Posisi yang serba salah.
*
*
*
*
*