Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Beberapa menit berlalu, tangisan Shaka perlahan mulai mereda. Napasnya masih berat sementara matanya memerah. Ia bersandar lemah di dinding kamar sambil menatap kosong ke depan. Lalu perlahan satu kesadaran mulai muncul di dalam dirinya. Ia tidak bisa terus seperti ini, ia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya karena perasaannya sendiri. Hanindya berhak bahagia dan Ustadz Ilyas juga pantas mendapatkannya.
Mereka saling mencintai, saling menjaga, saling cocok satu sama lain. Sementara dirinya? Dirinya hanyalah seseorang yang baru belajar memperbaiki hidup. Shaka menghembuskan napas cukup panjang, dadanya masih sakit namun perlahan ia mulai memaksakan dirinya menerima kenyataan itu.
“Hanindya bahagia sama ustadz Ilyas.” gumam Shaka pelan pada dirinya sendiri. Dan anehnya kalimat itu justru membuat air matanya jatuh lagi. Shaka menundukkan kepalanya sambil tertawa lirih. “Kalau dia bahagia…” suaranya serak. “Harusnya aku juga ikut bahagia.”
Meski nyatanya ia hampir hancur karena mencoba menerima itu. Beberapa saat kemudian Shaka mengusap wajahnya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam lalu memejamkan matanya. Dan untuk pertama kalinya, ia mencoba belajar mengikhlaskan sesuatu yang sangat ia cintai. Walaupun rasanya begitu menyakitkan, walaupun hatinya seperti diremas perlahan. Namun akhirnya Shaka membuat keputusan. Ia akan menyimpan perasaannya sendiri. Ia tidak akan pernah mengganggu hubungan Hanindya dan Ustadz Ilyas.
Dan mulai hari ini ia harus belajar menghilangkan perasaannya kepada Hanindya sedikit demi sedikit. Karena mencintai seseorang terkadang juga berarti merelakannya bahagia bersama orang lain.
Kamar asrama itu kembali sunyi setelah tangisan Shaka perlahan mereda. Cahaya matahari pagi mulai masuk lewat jendela kayu di samping tempat tidurnya, membentuk garis-garis tipis di lantai. Shaka masih duduk bersandar di dinding. Matanya merah, dadanya masih terasa sesak meskipun tidak sekuat beberapa menit yang lalu. Tangannya perlahan terangkat mengusap wajahnya sendiri yang masih basah oleh air mata. Ia benar-benar tidak menyangka kalau mencintai seseorang diam-diam bisa sesakit ini.
Dulu saat hidup di jalanan, Shaka pernah dipukul sampai berdarah, ditusuk saat tawuran, bahkan nyaris mati karena overdosis obat-obatan. Tapi semua rasa sakit itu masih kalah dibanding apa yang ia rasakan pagi ini.
Karena luka di tubuh mungkin bisa sembuh cepat. Namun luka di hati ternyata jauh lebih sulit untuk dihilangkan.
“Semoga kalian bahagia…” gumam Shaka dengan lirih meski dadanya kembali terasa nyeri saat mengucapkan itu.
Tok tok tok.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar dan membuat Shaka langsung sedikit terkejut.
Tok tok tok.
“Shaka?”
Suara Ustadz Ilyas terdengar dari luar dan membuat jantung Shaka langsung berdetak cepat. Dengan cepat ia buru-buru mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghilangkan jejak air mata di pipinya. Tangannya bahkan sempat merapikan rambut depannya dengan gugup meski sebenarnya penampilannya masih berantakan. Ia tidak mau Ustadz Ilyas tahu kalau dirinya baru saja menangis. Apalagi menangis karena perempuan yang akan dinikahi lelaki itu.
“Shaka?” panggil Ustadz Ilyas lagi dengan nada sedikit khawatir.
“I-iya ustadz… sebentar.”
Shaka cepat-cepat berdiri meski kepalanya sedikit terasa pusing setelah terlalu lama duduk di lantai. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali lalu berjalan menuju pintu.
Ceklek.
Pintu kamar akhirnya terbuka perlahan dan di depan sana benar saja, Ustadz Ilyas berdiri sambil membawa nampan kecil berisi sarapan sederhana. Ada nasi goreng, telur, dan segelas teh hangat di atasnya. Melihat itu, dada Shaka langsung terasa semakin sesak entah kenapa.
“MasyaAllah…” Ustadz Ilyas langsung mengernyit pelan begitu melihat wajah Shaka. “Kamu kenapa?”
Shaka cepat-cepat menggeleng.
“Eh… enggak apa-apa ustadz.”
Namun jelas sekali wajahnya tidak baik-baik saja. Matanya merah, suaranya serak dan itu tentu tidak lolos dari perhatian Ustadz Ilyas.
“Shaka kamu sakit ya?” tanya lelaki itu lagi sambil masuk sedikit ke dalam kamar.
“Enggak kok ustadz…”
“Terus kenapa wajah kamu pucat begitu?”
Shaka langsung memalingkan wajah sedikit. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin bilang kalau dirinya menangis karena patah hati setelah mendengar kabar pernikahan Ustadz Ilyas dan Hanindya. Itu terlalu memalukan dan terlalu menyakitkan.
“Saya cuma agak pusing sedikit, ustadz.” jawab Shaka akhirnya dengan pelan dan membuat ustadz Ilyas langsung terlihat khawatir.
“Pusing?” Lelaki itu meletakkan nampan sarapan di meja kecil dekat tempat tidur. “Atau kamu habis nangis?”
Pertanyaan itu langsung membuat Shaka membeku sesaat, namun untungnya Ustadz Ilyas segera melanjutkan kalimatnya sendiri.
“Apa badan kamu masih belum enak setelah kemarin membantu saya bersih bersih ruang perpustakaan?”
Shaka langsung mengangguk kecil cepat-cepat memanfaatkan kesempatan itu.
“Iya… mungkin karena kecapekan aja, ustadz.”
Ustadz Ilyas menghela napas lega.
“Alhamdulillah saya kira kenapa.” Lelaki itu lalu tersenyum kecil. “Tadi saya nunggu kamu di dapur buat sarapan tapi kamu nggak datang-datang.” Shaka terdiam. “Makanya saya ke sini.” lanjut Ustadz Ilyas sambil tersenyum ramah seperti biasa. “Saya takut kamu kenapa-kenapa.”
Dan lagi-lagi kebaikan itu menusuk hati Shaka tanpa ampun. Lelaki yang sekarang berdiri di depannya benar-benar terlalu baik. Bahkan saat dirinya sedang hancur karena mencintai perempuan yang akan dinikahi Ustadz Ilyas, Lelaki itu justru datang membawakan sarapan sambil khawatir kalau dirinya sakit. Shaka langsung menundukkan wajahnya dengan pelan. Dadanya terasa nyeri namun bersamaan dengan itu, ada satu keyakinan yang perlahan muncul di dalam dirinya. Keputusannya untuk mengikhlaskan Hanindya memang benar karena Ustadz Ilyas benar-benar lelaki baik dan Hanindya pantas mendapatkan lelaki seperti itu.
Shaka mungkin mencintai Hanindya namun Ustadz Ilyas mampu memberikan kebahagiaan yang jauh lebih layak untuk perempuan itu.
“Terima kasih ustadz…” gumam Shaka pelan.
Ustadz Ilyas tersenyum kecil.
“Sudah makan belum?”
Shaka menggeleng.
“Belum.”
“Nah makanya dimakan dulu.” Ustadz Ilyas menunjuk sarapan di meja kecil. “Kalau lagi nggak enak badan jangan sampai telat makan.”
Shaka hanya mengangguk kecil sambil berusaha menahan emosinya sendiri. Sungguh, semakin ia melihat kebaikan Ustadz Ilyas, semakin sulit baginya membenci kenyataan ini. Justru yang ada, ia malah merasa bersalah karena sempat berharap Hanindya bisa menjadi miliknya. Padahal sejak awal, ustadz Ilyas sudah jauh lebih pantas untuk perempuan itu. Suasana kamar sempat hening beberapa detik. Ustadz Ilyas lalu duduk di tepi tempat tidur Shaka sambil tersenyum kecil.
“Oh iya,” ujarnya tiba-tiba dan membuat Shaka menoleh.
“Ada apa ustadz?”
“Sebenarnya saya juga mau minta tolong sama kamu.”
“Minta tolong?”
Ustadz Ilyas mengangguk.
“Nanti setelah kamu sarapan…” lelaki itu terlihat sedikit malu-malu sambil tersenyum kecil. “Saya mau ajak kamu keluar sebentar.”
“Keluar?”
“Iya.” Ustadz Ilyas tertawa kecil pelan. “Saya mau kamu menemani saya membeli beberapa keperluan buat nikahan.”
"innalillahi wa inna ilaihi raji'un"
Haduuhhhh...gawat kalau sampai ustadz Ilyas meninggal dunia.
🚑🏥👨⚕️👩⚕️
Ini mah akal²-an Shaka, merubah alur supaya bisa bersanding dengan Hanindya di pelaminan sebagai pengganti calon pengantin laki...😨😰😱