NovelToon NovelToon
Boss Kecil, Didunia Kuno! [Boy Lovers]

Boss Kecil, Didunia Kuno! [Boy Lovers]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.

Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.

Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.

dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tidak sadarkan diri

Dokter Fei berteriak marah. "Hwang zin..!"

"....Dari pada kau berteriak disini dan membuat kekacauan! lebih baik kau pergi rawat pasien' mu dengan baik Dokter Fei!" Dia mencengkram tangan Dokter Fei dengan kuat.

Dokter Fei merasakan kesakitan namun tak melepaskan, melihatnya dengan penuh kebencian. ".....Apa Jenderal tau, orang seperti kamu.. Kejam, tak berperasaan!"

Hwang Zin tertawa terbahak-bahak – nyatanya Jenderal itu tahu lebih dari siapapun sikapnya.

Melihatnya tertawa membuat rasa benci Dokter Fei semakin besar. "..Apa yang lucu!"

Berhenti tertawa dengan senyum mengejek, Hwang Zin berkata. "Ini lebih baik darimu... aku tak bisa berpura-pura lembut namun picik didepannya, dengan pikiran kotor itu...pengecut."

Wajah Dokter Fei berubah warna dari hijau, merah, hingga membiru – dia tahu, dia tahu dirinya adalah pengecut.

Dia begitu menyukai Jenderal bertahun-tahun sejak pertama dia ditugaskan disini dan berharap bisa diterima, tapi pria itu selalu dingin dan jauh darinya.

Lalu tiba-tiba anak ini muncul dan dengan mudah membuat Jiang Feng memperlakukannya dengan baik – perhatian dan kelembutan yang selalu dia impikan.

Semuanya hancur karena anak ini!

"Cukup! Berhenti!" Hang Si yang datang bersama Paman Dong segera memisahkan mereka dengan marah. "....Hentikan! Apa yg kalian lakukan!"

"Dokter Fei, kau terlalu banyak membuang waktu mu, cepat pergi rawat orang itu jangan biarkan dia lari padaku!"ucap Hwang Zin melihat dengan wajah tersenyum padanya.

"Hwang zin diam!" tegur Paman Dong dengan tak sabar – kenapa anak ini memancing amarah pria itu lagi?

Seperti dugaan Paman Dong, raut wajah Dokter Fei semakin memburuk dengan mata penuh kebencian dan keinginan membunuh.

Saat Hang Si dan Paman Dong ingin menariknya pergi, Dokter Fei mendorong Paman Dong hingga jatuh ke tanah, lalu saat Hang Si lengah – dia dengan cepat mengambil pisau kecil di pinggang Hang Si dan menusuknya ke arah Hwang Zin yang tak bergerak.

Mata semua orang melebar.

"Tidak...!" teriak Hang Si menarik tubuh Dokter Fei namun gerakan pria itu lebih cepat – terlambat.

Pisau itu menancap di perut Hwang Zin.

Mata Dokter Fei melebar dengan ekspresi kaku – cairan hangat terasa di tangannya. Dia menunduk dengan mata gemetar melihat darah membasahi tangannya.

anak itu tak menghindar.

Hang Si bangun hanya untuk melihat darah merembes keluar,dengan wajah pucat ketakutan. "Zin.an....!!!

"Hwang zin.an !!!" teriak Paman Dong dengan jeritan ketakutan saat menyadari apa yang terjadi.

Dokter Fei melepaskan tangannya, mundur dua langkah dengan ketakutan.

"ZIN.AN ! " teriak Hang Si mendorong Dokter Fei pergi, segera menahan tubuh anak itu yang akan jatuh ke lantai

"Idiot! Bajingan kecil! Kenapa kau tak lari...!"makinya dengan marah sambil air mata menetes – wajah Hwang Zin semakin pucat namun seolah tak merasakan sakit.

Sejujurnya, ketahanan tubuh aslinya terhadap rasa sakit cukup tinggi – bukan dia tak merasakan sakit. Namun Hwang Zin tak menjelaskan apa-apa dan hanya duduk bersandar pada meja di belakangnya.

Tak lama kemudian, Paman Dong yang berlari keluar untuk mencari pertolongan kembali dengan Dokter Shen – dokter lain yang bertugas di klinik.

Dokter Shen melihat Hwang Zin lalu melihat Dokter Fei yang terjatuh di lantai, pria itu bahkan terlihat lebih menyedihkan dibanding anak yang terluka.

Dokter Shen tak mau menyia-nyiakan waktu dan segera memeriksa lukanya – pisau masih tertancap di bagian kanan perut, darah merembes membasahi pakaiannya.

Ini.....

"Ini.... semuanya masuk..." tangannya gemetar saat memeriksa luka. Dia mendongak melihat Hwang Zin yang juga melihatnya dengan senyum kecil.

Mata Dokter Shen melebar – apakah anak ini sengaja ingin mati?

"Apa maksudmu?!" tanya Hang Si dengan tidak sabar. "....Jelaskan dengan cepat!"

Dokter Shen menjelaskan dengan cemas."...Pisaunya tertancap sepenuhnya – dilihat saja sudah tau betapa kuat Dokter Fei menusuknya sampai... mati...." dan anak ini sengaja tak menghindar sama sekali.

Keduanya segera berwajah pucat.

Dokter Fei menundukkan kepalanya –tangannya yang dipenuhi darah masih gemetar,memang benar anak itu tak menghindar sama sekali.

Dari cerita Paman Dong, Dokter Fei datang tanpa alasan, menerobos dapur, berkelahi sepihak, lalu merasa terhina dan menusuknya dengan pisau Hang Si.

"Kami harus mencabutnya,kita bisa bawa dia dulu ke ruangan...." ucap Dokter Shen sambil membersihkan tangan dengan alkohol medis yang dibawanya.

"Apa kamu akan mencabutnya begitu saja!"bentak Paman Dong dengan marah dan cemas. "...Rekan mu yg menusuk Zin.an kami!"

Wajah Dokter Shen memucat namun tetap tenang. "Ini... ini satu-satunya cara paman, kami akan mengeluarkan pisaunya baru bisa mengobati lukanya...."

"Tarik saja secara langsung, merepotkan sekali...." ucap Hwang Zin dengan bibir pucat.

"Diam! Jangan bicara!" teriak Paman Dong dan Hang Si bersama-sama dengan marah.

"......." Hwang Zin merasa tak berdaya – kedua pria ini semakin pemarah.

Mereka tak bisa membawa Hwang Zin ke klinik karena jaraknya jauh, jadi terpaksa memindahkannya ke kamar Paman Dong yang bersebelahan dengan dapur.

Saat anak itu dibawa masuk dengan tandu, Li Ming dan lainnya yang sedang beristirahat terkejut.

"Hwang zin...!" teriak mereka dengan ketakutan. Paman Dong segera meminta mereka untuk diam.

"Ada apa dengan nya...?" tanya koki kecil dengan air mata berlinang saat melihat pisau yang menusuk perut anak itu.

"Bajingan... siapa.. siapa yg melakukan nya!" Li Ming mengumpat dengan wajah pucat.

"Kalian keluar dulu....." Dokter Shen segera mengurus mereka untuk pergi. Paman Dong dengan mata merah meminta kelompok untuk keluar lebih dulu.

"Kamu... apa kamu ingin mati?" Dokter Shen merobek baju anak itu yang tertancap pisau – lukanya tak lebar. Meski menggunakan pisau kecil, tusukan cukup dalam.

"Apa maksudmu Dokter?" jawab Hwang Zin sambil memejamkan matanya, mulai mengantuk.

Dokter Shen menghentikan gerakannya sesaat sebelum berkata. "...Kamu sengaja tak menghindar..."

Pemuda itu membuka matanya – pupilnya begitu gelap membuat orang merasa terjerat saat melihatnya lebih lama.

"Mati hari ini atau besok apa bedanya..."jawabannya yang santai membuat Dokter Shen membeku.

Dia menurunkan pandangan, memegang gagang pisau dan menariknya langsung.

"Huh...!" Anak itu mendengus namun tak berteriak kesakitan.

Wajah Dokter Shen sedikit hangat karena darah yang menodainya, dia menahan lukanya dengan handuk bersih."Kamu benar-benar tak takut mati..."

Pria itu dengan cekatan memeriksa luka, menghapus darah dengan alkohol medis dan membersihkannya dengan handuk bersih.

Hwang Zin memejamkan matanya kembali – rasa mengantuk sangat mengganggunya dan dia berbicara tanpa sadar. "...Mungkin karena aku telah mati sekali... jadi tak apa-apa jika terjadi lagi..."

Mata Dokter Shen melebar, tangannya gemetar – mati sekali?

Jadi itu alasannya dia tak takut sama sekali.

"Jadi begitu...." Dia menundukkan kepalanya dengan pandangan kabur namun gerakannya tetap terarah dan cekatan saat menjahit luka yang perlu dijahit.

Tangannya penuh darah hingga menodai baju putihnya, namun dia tak berhenti mengobati pasiennya.

3 Hari kemudian, Jenderal Jiang yang koma akhirnya bangun – semua orang bernafas lega dan menjaganya dengan baik.

Jenderal tahu dia telah membuat semua orang kesusahan, jadi berusaha cepat sembuh dan kembali bekerja.

Untuk sementara, dia tak akan menemui Hwang Zin dulu – takut anak itu akan marah lagi, jadi lebih baik menjauh hingga waktunya tepat.

Dari hari itu hingga sebulan kemudian,

Jenderal Jiang tidak pernah makan di kantin lagi dan tak pernah menanyakannya soal Hwang Zin pada Song Wen atau yang lain.

Song Wen dan lainnya juga tak berniat membahasnya karena menyadari tempramen pria itu jika tahu anak itu terluka.

Jadi Jiang Feng tak pernah tahu bahwa selama 1 bulan itu, Hwang Zin dalam kondisi koma, dibawah pengawasan ketat Dokter Shen dan Paman Dong – tidak ada orang yang boleh menemui anak itu.

Dokter Fei bekerja seperti biasanya tanpa ada yang tahu apa yang telah dia lakukan.

Dia bersikap normal pada semua orang, hanya Hang Si, Song Wen, Paman Dong, para koki, dan Dokter Shen yang tahu kejadian sesungguhnya dan menghindari pria itu setiap kesempatan.

Semua orang sepakat untuk menutup mata dan telinga saat ini karena keselamatan Hwang Zin adalah yang paling penting bagi Paman Dong – meskipun dia ingin segera menyeret Dokter Fei ke penjara.

Pada pukul 10 pagi, Paman Dong kembali ke kamarnya dengan hati-hati. Saat berbalik, dia melihat pemuda yang hampir tak bergerak selama 1 bulan itu duduk bersandar sambil mengunyah sesuatu.

Paman Dong menutupi mulutnya dan berteriak dalam diam. "Hmmmm!!"

"........" Hwang Zin hanya menatapnya.

Sadar akan kelakuannya yang bodoh, pria tua itu segera menurunkan tangannya dan berbalik pergi – bang! pintu ditutup kembali.

Hwang Zin mengira dia terlalu terkejut dan melarikan diri, jadi bangun dan mencoba merenggang kan anggota badan yang terasa kaku.

Sepertinya selama koma, Dokter Shen tak membiarkan tubuhnya diam sehingga saat bangun tidak terlalu tegang.

Saat akan melakukan peregangan, pintu tiba-tiba terbuka. Dia menoleh melihat Dokter Shen yang berkeringat dan Paman Dong yang kembali melarikan diri.

Hwang Zin dengan sadar menurunkan tangannya – Dokter Shen segera menyeretnya untuk berbaring kembali.

Beberapa saat kemudian, Dokter Shen memperingatkannya dengan tegas. "Lukanya mengering dengan baik, tapi jangan asal bergerak....!"

Hwang Zin bertanya. "Sudah berapa lama?"

"1 bulan 12 hari...." jawab Paman Dong di samping ranjang dengan mata merah. Pria tua ini menangis sangat menyedihkan hingga membuat Hwang Zin merasa bersalah.

Tiba-tiba ada permen jeruk yang diulurkan padanya. Paman Dong mendongak dan melihat senyum anak itu. "...Paman makanlah..."

"Kamu..." bibir pria itu bergetar. Melihat dia akan menangis lagi membuat Hwang Zin tak berdaya. "Oke cukup, aku baik-baik saja!"

"Tunggu saja sampai kau benar-benar sembuh, aku akan menghajar mu...." dengus Paman Dong dengan hidung masam, mengambil permen dari anak itu.

"Tentu saja!"Hwang Zin mengangguk cepat.

1
Dania
misi
LING
r
Jack Strom
Nice!!! 😁
Jack Strom
Jejak kumis!!! 😁
Dania: misiiiiiii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!