NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Narisa sudah siap dengan sepuluh lembar HVS di tangan, semuanya penuh berkat gotong royong satu kelas yang dipaksa dengan halus tapi efektif.

Dia melangkah ke ruang BK dengan ringan.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk."

Narisa membuka pintu dengan senyum manis andalannya.

"Ini punya saya, Bu," katanya santai, lalu meletakkan tumpukan HVS di meja.

Di dalam, ternyata Kara dan Harum sudah lebih dulu duduk. Dua-duanya kelihatan tenang.

Bu Rahayu mulai membalik lembar demi lembar. Satu. Dua. Tiga. Semakin lama, napasnya makin berat.

"Apa tidak ada yang kalian kerjakan sendiri?" tanyanya akhirnya, nada suaranya datar tapi jelas lelah.

Narisa melirik cepat ke arah HVS milik Kara dan Harum. Tulisannya beda semua. Ada yang rapi, ada yang miring, ada yang seperti ditulis sambil lari.

Narisa langsung menunduk, menahan tawa yang hampir meledak.

"Bu, kan udah dibilang," kata Harum santai, bahkan sempat menyandarkan punggung. "Yang penting hukuman terlaksana."

Bu Rahayu menutup mata sebentar, lalu memijat pangkal hidungnya. Seumur hidup mengajar, mungkin ini fase paling.. menguji iman,

"Toilet tidak kalian bersihkan kemarin," katanya akhirnya, membuka mata lagi.

"Oh, itu karena dia pingsan pas dijemur kemarin, Bu," jawab Harum cepat, menunjuk Narisa tanpa dosa.

Narisa langsung menoleh. "Eh-"

"Lain kali jangan pakai fisik, Bu. Bisa mati anak orang," gumam Kara datar.

Bu Rahayu menatap mereka satu per satu.

"Hukuman yang saya berikan itu standar," katanya pelan. "Kalau tidak kuat, harusnya kalian pikirkan resikonya sebelum melanggar."

Tiga orang itu langsung menghela napas hampir bersamaan.

Mulai.

Mode ceramah: aktif.

~

Setengah jam kemudian, mereka akhirnya keluar dari ruang Bk dengan ekspresi yang sama.

Bukan kapok. Lebih ke... kebal.

"Dia kalau ngomong bisa setengah bab sendiri," gerutu Narisa.

"Untung gak disuruh bikin rangkuman," timpal Harum.

Kara hanya menguap kecil. "Udah, lanjut kerjaan."

Mereka naik ke lantai tiga. Lantai mereka. Wilayah kelas dua belas. Lorongnya lebih sepi, tapi justru terasa lebih hidup dengan aura senioritas yang tidak tertulis. Tempat di mana adik kelas biasanya cuma lewat cepat, bukan nongkrong santai.

Di ujung lorong, Helma dan empat temannya sudah berdiri menunggu. Posisi mereka canggung. Jelas tidak terbiasa berada di sana terlalu lama.

Begitu melihat Kara, Narisa, dan Harum datang, mereka langsung tersenyum. Senyum yang salah alamat.

"Pergi ke toilet," kata Harum santai. "Bersihin semuanya,"

Senyum itu langsung patah di tempat. "Loh, kok gitu, kak?" salah satu dari mereka protes.

"Katanya. mau nongkrong..."

"Bersih-bersih itu nongkrong juga," balas Harum tanpa jeda. "Cepetan. Ngebully bisa, masa beginian gak bisa."

Nada suaranya datar, tapi posisinya jelas. Ini lantai siapa. Kara dan Narisa hanya berdiri di belakang, menonton tanpa komentar. Wajah mereka datar, seolah ini hal biasa.

Dan memang buat mereka... ini biasa.

Helma dan gengnya saling pandang. Tidak ada yang berani melawan. Mereka tahu reputasi dua orang di depan mereka.

Kara dan Harum, yang dulu terkenal sering berantem waktu kelas sepuluh. Dan Narisa yang entah kenapa selalu lolos dari masalah besar, ditambah statusnya yang cukup 'aman' sebagai pacar anak kepala sekolah.

Akhirnya tanpa banyak suara, mereka pun bergerak.

Acara bersih-bersih dimulai. Bukan cuma satu toilet. Tapi tiga. Kanan, kiri, dan tengah.

Lantai tiga jadi saksi bisu penderitaan lima orang yang biasanya cuma jago di depan junior lemah.

Satu jam berlalu. Keringat, bau pembersih, dan wajah lelah jadi paket lengkap. Begitu selesai, Kara melangkah mendekat sedikit.

"Udah?" tanyanya singkat.

Mereka mengangguk lemah.

Narisa menatap mereka satu persatu, lalu tersenyum tipis.

Kara dan Harum sempat menoleh dengan alis berkerut. Lalu ancaman terakhir pun dilempar dengan santai.

"Kalau ada yang buka mulut, besok kalian bukan yang ngebully. Tapi..." Harum condong sedikit sambil menyipitkan mata, "... kalian yang dibully."

Sunyi. Tidak ada yang berani menjawab.

Helma dan gengnya hanya bisa mengangguk cepat. Mereka tahu ini bukan gertakan. Dan berurusan dengan senior lantai tiga jelas bukan pilihan cerdas untuk masa depan yang damai.

~

Sampai di parkiran, Narisa langsung memutar mata saat Kara menyuruhnya naik.

"Gw mau balik sama Cakra aja," katanya sambil membuka ponsel.

Pesan dari Cakra muncul. Isinya, "Risang, aku disuruh buru-buru pulang. Mama minta dianter ke rumah Tante. Kalau kamu belum pulang, nanti aku jemput. Kabari aja."

(Risang \= Risa sayang.)

Narisa baru mau membalas, tapi suara Kara Sudah menyela dengan nada kesal.

"Buruan. Jadi mau jual cincin gak sih?"

Narisa mendecak pelan, lalu mengunci layar ponselnya lagi. Dengan terpaksa dia naik ke boncengan.

"Woy, gw duluan ya," seru Harum sambil melintas dengan motornya. "Yang akur kalian jadi laki bini."

"Najis amat tuh anak," gerutu Narisa.

Kara tidak menanggapi. Dia mulai memundurkan motor... dan berhenti.

"Lo berat amat. Motor gw stuck."

Narisa langsung membelalak. "Lo hobi banget ya ngatain gw berat. Kaki lo aja yang lemah. Tadi nyuruh naik, udah naik malah-"

"Yaudah sih, becanda doang," potong Kara santai. Kali ini motor dimundurkan lagi, dan langsung mulus.

Narisa hanya mendengus. Sepanjang jalan, dia sengaja berpegangan ke belakang, menjauh sejauh mungkin dari punggung Kara.

"Lo jatoh bukan salah gw ya," teriak Kara di tengah suara angin.

"Terus salah siapa? Si Irwan?" balas Narisa tak kalah kencang.

"Anjir, gak sopan."

"Oiya, anak-anak bilang kemarin ban motor Pak Kasim tau-tau nyangkut di atap parkiran. Lo tau siapa yang ngerjain?"

Kara terkekeh pelan. "Kocak amat. Gak tau gue."

Padahal jelas kerjaannya dengan Harum.

"Gw malah curiga sama lo berdua-"

Ckiiit!

"ANJIR!"

Narisa refleks teriak. "Lo ngapain ngerem mendadak, setan?! Kaget gw!"

"Kucing nyebrang."

Narisa melongok sedikit ke depan. Benar saja, seekor kucing masih santai di tengah jalan, malah lanjut garuk-garuk seolah tidak punya dosa. Ia memperhatikan sampai kucing itu akhirnya jalan sendiri ke pinggir.

"Jalan udah," tegurnya.

Kara diam.

Satu detik.

Dua detik.

"Woy!"

Kara membuka kaca helmnya, lalu menghela. napas panjang.

"Lo kenapa sih?" tanya Narisa heran.

"Punggung gw enak banget, sumpah," jawab Kara santai, lalu kembali menjalankan motor.

Narisa butuh waktu untuk memproses... lalu langsung tersadar.

Dari tadi-karena rem mendadak-dadanya terus menempel ke punggung Kara.

"Mesum amat lo, anjir!" teriaknya sambil menjauh lagi, kali ini menjaga jarak lebih dari yang sebelumnya.

"Ada ya cewek kayak lo. Punya sendiri padahal!" Dia masih mengomel.

"Gw jadi gak yakin mau tinggal bareng sama lo."

Kara tidak menjawab. Tapi dari bahunya yang sedikit bergetar, jelas dia sedang menahan tawa. Dan itu yang justru bikin Narisa makin kesal sepanjang jalan.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!