NovelToon NovelToon
Better Half

Better Half

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: fei yuu

Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. MURAT CEMBURU

" Apa kah kamu baik baik saja?". Suara seseorang mengejutkannya. Suara itu terdengar sangat khawatir dan penuh perhatian.

Tanpa menunggu jawaban Hanna, Halil langsung merangkul Hanna karena takut wanita itu jatuh.

" Sebaiknya kamu duduk dulu". Mereka berjalan perlahan menuju sofa yang tidak jauh dari posisi dapur.

"Apakah kamu butuh sesuatu?". Halil bertanya dengan rasa khawatir. Hanna mengangguk

" Aku hanya mau mengambil segelas air hangat kak". Suaranya pelan seolah menahan sakit.

Halil yang mengerti lalu ke dapur untuk mengambilkan apa yang Hanna minta. Pria itu berjongkok didepannya dan memberikan segelas air hangat itu.

Wanita berkulit putih pucat itu meminum airnya sedikit demi sedikit. " Maaf kak aku merepotkanmu". Hanna merasa tidak enak telah merepotkan pria itu.

Halil menggeleng. Tadinya Pria itu tidak berniat pergi ke dapur, dia hanya ingin turun untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya.

Namun terdengar suara benda jatuh di dapur yang membuatnya mendekati sumber suara. lelaki itu sangat terkejut karena melihat Hanna sedang memegangi perutnya hingga membungkuk.

" Apakah kamu baik baik saja? Apa ada yang sakit?" Dia panik karena sejak tadi Hanna hanya diam sambil memegangi perutnya.

" Iya kak sakit sekali disini". Wanita itu menunjuk rasa sakitnya. Wajahnya sudah penuh dengan keringat.

Halil memegang pergelangan tangan Hanna untuk memeriksa denyut nadinya . " Maaf biar aku periksa".

" Apakah sakitnya disini". Lalu Halil menekan nekan perut Hanna dengan hati hati.

Wanita itu meringis, dia mengangguk dengan pelan. " Tunggu sebentar". Halil berlari mencari kotak obat. Dia menumpahkan semua isi kotak untuk mencari obat yang dia butuhkan.

" Ah..Ketemu". Halil memberikan obat pereda nyeri pada Hanna. " Minumlah ini bisa mengurangi rasa sakitmu".

Wanita itu menerima dan meminumnya. Butuh beberapa menit baginya untuk merasakan efek obatnya.

Hanna merasa lega, rasa sakitnya sudah berangsur angsur berkurang. Pria itu masih cemas, dia masih berjongkok didepan Hanna.

" Apa sudah lebih baik?". Hanna mengangguk.

"Apa kamu sering merasakan sakit seperti ini?"

" Mungkin sekitar dua bulan belakangan ini kak, rasa sakitnya selalu hilang timbul."

" Baiklah, lebih baik kita ke Rumah Sakit sekarang, tunggu aku pindahkan mobilku dulu?"

Hanna menarik lengan Halil yang sudah berdiri. Wanita itu menggeleng

" Jangan, tidak usah kak, aku sudah lebih baik sekarang". Wajahnya penuh permohonan.

Pria itu berjongkok lagi, dia berusaha membujuk Hanna. " Hanna dengarkan aku, sebaiknya kita ke Rumah Sakit ! Demi kebaikanmu".

" Jangan sampai..." Lelaki itu menelan ludahnya, dia tidak meneruskan kalimatnya, banyak pikiran buruk yang muncul di otaknya saat ini. Profesi dokternya sudah mengajarkan lelaki itu tentang pengalaman hidup dari berbagai pasien yang dia tangani.

Ibu muda itu semakin menundukkan wajahnya. Dia tidak mau Halil melihat wajah ketakutannya saat ini.

" Kenapa..?" tetapi Hanna hanya diam yang membuat Halil semakin penasaran. Pria itu menggenggam hangat tangan kurus Hanna.

" Aku mohon Hanna. Aku akan menemanimu". Halil mencoba meyakinkan, yang dipikirannya saat ini adalah agar wanita itu mau melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit.

" HANNA.... ?" Suara Murat menggelegar membuat kedua manusia itu terkejut. Dengan refleks Hanna menarik tangannya dari genggaman Halil.

Meskipun terkejut Halil tetap tenang. Dia berdiri untuk mensejajarkan tingginya dengan Murat.

" tadi Hanna..." Pria itu mencoba menjelaskan tetapi Murat hanya melewatinya, Dia mengabaikan Halil dan berdiri menjulang didepan Hanna.

" Putri Kita menangis!". Wajah pria itu sangat garang, seolah akan memakan Hanna bulat bulat.Suara dinginnya membuat atmosfer disekitarnya terasa dingin pula.

Sedangkan Hanna yang terbiasa melihat wajah garang suaminya hanya mengangguk. Wanita itu berusaha bangkit dari tempat duduknya.

Halil dengan sigap membantu Hanna berdiri, pria itu memegangi kedua tangan Hanna seperti merangkulnya.

" Hati hati"

" Terima kasih banyak kak". Halil mengangguk dia tetap memegangi Hanna yang memang kesulitan.

Kedua orang itu tidak menyadari dengan tatapan membunuh seseorang. Murat sudah mengepalkan tangannya kuat. Adegan didepannya telah membuat hatinya terbakar.

Dengan kasar pria itu menarik tangan istrinya. Dia menarik Hanna tanpa peduli wanita itu yang kesulitan mengikuti langkah besarnya.

Halil khawatir melihat bagaimana kasarnya Murat pada istrinya. Dia pun mengikuti mereka untuk memastikan.

...****************...

BUM...

Murat membanting pintu kamarnya. Dia tidak menyadari suaranya itu bisa membangunkan bayinya. Hanna berlari untuk melihat putrinya yang katanya menangis.

Tetapi ternyata baby Malika masih tertidur dengan sangat pulas, bahkan suara keras dari pintu tadi tidak membangunkannya sama sekali. Membuat Hanna bernapas lega.

Napas Murat masih memburu, ada rasa sesak sekaligus marah yang menguasai hatinya. Pria itu pun pergi ke balkon untuk meredakan emosinya yang dia tahan sejak tadi.

Dirasa emosinya sudah mereda dia kemudian masuk lagi kekamarnya. Kini dia melihat istrinya sudah tertidur dengan tenang tanpa memberikan penjelasan apa yang terjadi tadi.

Murat menyugar rambutnya. Dia lalu berbaring disamping Hanna anehnya kali ini dia tidak memunggungi istrinya. Posisi tidur mereka sekarang berhadapan.

Wajah Hanna begitu tenang. " Cantik" detak jantung Murat semakin cepat. Dia memperhatikan setiap detail wajah Hanna.

Mata Murat menyusuri setiap wajah istrinya. Tak ada celah, istrinya memang sangat cantik hanya sekarang wajahnya lebih tirus dan pucat.

Pandangan Murat berakhir pada bibir Hanna. Tanpa sadar Murat mendekati Wajah istrinya.

Cup

Dia mencium bibir Hanna dengan penuh perasaan. Detak jantungnya sudah menggila, Lalu dia mencium bibir itu lagi dan lagi hingga keempat kalinya dia melumat bibir itu pelan.

Murat menghentikan ciumannya, pria itu meraup oksigen sebanyak banyaknya, keningnya ditempelkan pada kening Hanna. Matanya memandang dalam pada mata indah yang tertutup itu.

Tangannya pun sudah membelai rambut kecoklatan Hanna. Lalu pria itu mencium kening Hanna sangat lama seolah meresapi setiap perasaan yang kini menyeruak dihatinya.

Setelahnya Murat tidur sambil memeluk erat istrinya tak lupa dia menyelimuti tubuh mereka berdua.

1
Nurjannah Rajja
Semoga istrimu diambil Halil, kamu jahat sih, jadi kudoakan yg terburuk buat kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!