NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Come Back-nya Si Pemaksa

Naura tiba di kafe tepat setelah jam kuliahnya usai. Dari kampus, ia langsung diantar Hanif menuju tempat kerjanya. Motor berhenti di depan kafe yang mulai ramai oleh pengunjung sore. Naura turun, melepas helm, lalu mengucapkan terima kasih singkat sebelum melangkah masuk.

Ia tak menyadari, di seberang jalan, sebuah mobil baru saja berhenti. Di dalamnya, Hamka menatap lurus ke arah kafe. Tepat saat Naura turun dari motor Hanif, sepasang mata itu menangkap setiap geraknya.

Rahang Hamka mengeras. Tatapannya menajam, tak berkedip. Ada sesuatu yang menyusup pelan ke dalam dadanya,perasaan yang tak ingin ia akui. Bukan marah sepenuhnya, bukan pula cemburu yang jelas bentuknya, tapi ketidakrelaan yang menyesakkan.

Lima tahun bukan waktu yang singkat. Ia tahu, dalam rentang itu banyak hal bisa berubah, banyak orang bisa hadir dan pergi. Namun tetap saja, melihat Naura diantar laki-laki lain, tertawa tipis sebelum masuk ke kafe, membuat dadanya terasa sesak.

Sementara itu, Naura melangkah masuk ke dalam kafe, bersiap mengenakan celemek dan mulai bekerja. Ia tak tahu bahwa di saat yang sama, beberapa laki-laki juga memasuki kafe..dan di antara mereka, ada Hamka.

Naura kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Tangannya bergerak gesit, mencatat pesanan, mengantar minuman, lalu kembali ke bar tanpa banyak jeda. Senyum profesional terpasang, meski pikirannya sesekali melayang.

Entah sejak kapan, ia merasa ada sepasang mata yang terus mengikutinya. Tatapan itu begitu nyata, membuat tengkuknya terasa hangat. Beberapa kali ia berpura-pura tak sadar, sampai akhirnya pandangannya tak sengaja beradu ke arah meja sudut.

Pantas saja.

Di sana, Hamka duduk bersama beberapa temannya. Tubuhnya bersandar santai, namun matanya tak pernah benar-benar lepas darinya. Tatapan itu sama..tenang, dalam, dan membuat jantung Naura berdegup tak karuan.

Naura buru-buru memalingkan wajah, kembali fokus pada nampan di tangannya. Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri. Bekerja, Naura. Fokus.

Namun meski langkahnya tetap ringan dan gerakannya lincah, ia tahu satu hal..kehadiran Hamka di kafe itu membuat suasana siang yang biasa, berubah menjadi jauh lebih berat dari yang seharusnya.

Naura berusaha tetap bersikap biasa. Ia bahkan sengaja meminta rekan kerjanya untuk mengantar pesanan ke meja Hamka dan teman-temannya, berharap jarak itu cukup untuk menjaga hatinya tetap tenang.

Namun tak lama kemudian, rekan kerjanya kembali, menyelipkan secarik kertas kecil ke tangannya.

Naura menunduk, membaca isinya.

Ke mejaku sebentar. Jika tidak… aku yang akan ke sana.

Tulisan tangan itu rapi, tegas, dan terlalu familiar untuk disangkal. Dadanya mengencang. Ia tahu betul siapa penulisnya.

Tak ingin menimbulkan masalah atau menarik perhatian pengunjung lain, Naura akhirnya melangkah pelan menuju meja di sudut kafe. Kini Hamka duduk sendiri. Teman-temannya entah sejak kapan sudah pergi, meninggalkan suasana yang tiba-tiba terasa sunyi di tengah riuh kafe.

Naura berdiri di hadapannya, menjaga jarak aman.

“Apa ada yang perlu saya bantu?” ucapnya datar, profesional, tanpa berani menatap wajah laki-laki itu.

Hamka mengangkat wajahnya perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya..senyum yang dulu sering membuat Naura kesal.

“Perlu,” jawab Hamka pelan.

Tatapannya mengunci, penuh makna.

Hamka menepuk pelan kursi kosong di depannya.

“Duduk,” ucapnya singkat, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Temenin aku makan.”

Naura akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya tegas, nyaris dingin.

“Maaf, Pak. Saya sedang bekerja,” jawabnya tanpa ragu. “Kalau tidak ada pesanan tambahan, saya permisi.”

Hamka menghela napas pendek, lalu tersenyum kecil senyum yang justru membuat Naura makin waspada.

“Kamu masih sama,” katanya lirih. “Keras kepala.”

“Saya profesional,” balas Naura cepat. “Dan saya tidak bisa duduk di jam kerja.”

Hamka terdiam sesaat, seolah berpikir. Lalu ia menyandarkan punggungnya, menautkan jemari dengan santai.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kalau di sini tidak bisa…”

Ia menatap Naura lurus-lurus.

“Berarti setelah kamu pulang nanti, pasti bisa.”

Naura melongo.

“Apa?”

Hamka menaikkan satu alis, nada suaranya tetap tenang namun mengandung tekanan yang sama seperti dulu.

“Kita bicara. Habis kamu selesai kerja.”

“Itu juga tidak mungkin,” potong Naura, suaranya menegang. “Tolong jangan memaksa.”

Namun Hamka hanya tersenyum, tak sedikit pun terlihat gentar.

“Kamu lupa satu hal,” ujarnya pelan. “Jika aku.. adalah pemaksa."

Naura mengepalkan tangan di balik celemek.

Laki-laki itu.. lima tahun berlalu, jabatan berubah, penampilan dewasa namun sikap memaksanya masih sama.

Dan itu membuat dadanya kembali bergetar, antara kesal… dan takut pada perasaan yang belum sepenuhnya mati.

Baiklah,” ucap Hamka kala itu dengan nada tenang namun mengandung ancaman halus. “Kalau kamu masih menghindar… aku akan duduk di sini sampai kamu bilang ..iya.”ucapnya santai dengan tersenyum .

Dan seperti yang selalu ia lakukan, Hamka tak pernah main-main dengan ucapannya.

Sudah lebih dari dua jam berlalu. Ia masih duduk santai di meja yang sama, sesekali menyeruput minumannya, sesekali menatap layar ponsel, namun lebih sering matanya mengikuti setiap langkah Naura yang lalu-lalang melayani pelanggan.

Naura mulai gelisah. Beberapa kali ia mendengar bisik-bisik rekan kerjanya.

“Aneh ya, itu tamu dari tadi nggak pergi-pergi…”

“Pesannya juga udah lama habis.”

Wajah Naura memanas. Bukan malu, tapi tak enak. Ia tak ingin kehadiran Hamka menimbulkan masalah di tempat kerjanya.

Akhirnya, di sela pekerjaannya, ia merogoh ponsel. Jemarinya bergerak cepat, sedikit gemetar.

Me : Pergilah. Kita bertemu selesai aku kerja.

Ia menekan tombol kirim, lalu menghela napas panjang. Dadanya berdebar, bukan karena lelah bekerja,melainkan karena ia tahu, dengan satu pesan itu, ia baru saja membuka kembali pintu yang selama lima tahun berusaha ia tutup rapat.

Hamka tersenyum kecil saat membaca pesan dari Naura. Senyum yang tak lebar, namun sarat kemenangan kecil..seolah ia tahu, cepat atau lambat, perempuan itu memang tak pernah benar-benar bisa mengusirnya pergi.

Ia bangkit dari duduknya, merapikan jaket, lalu melangkah keluar dari kafe tanpa menoleh lagi. Beberapa rekan kerja Naura sempat memperhatikannya, heran, namun Hamka tak peduli.

Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya terhenti. Hamka memanggil salah satu waiters yang sedang melintas. Ketika perempuan itu mendekat, Hamka menyelipkan sesuatu ke tangannya..

" mbak ,titip ini untuk Naura ya ."ucapnya pelan .

sebatang cokelat Silv*rQ*een yang sejak tadi ia simpan di saku celananya. Bungkusnya sedikit melembek, tanda cokelat itu sempat terkena hangat tubuhnya.

Di atas cokelat itu, tertempel secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.

Semangat kerjanya. Sampai ketemu nanti.

Maaf kalau cokelatnya sedikit lumer…

tapi tenang aja, rasanya masih tetap sama.

Hamka tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkahnya keluar kafe.

Sementara itu, tanpa ia tahu, pesan sederhana itu akan membuat Naura terdiam lama..karena seperti cokelat itu, ada rasa yang mungkin sempat meleleh oleh waktu, namun nyatanya tak pernah benar-benar berubah.

Di luar, ia menghembuskan napas pelan.

Naura masih sama. Keras kepala, menjaga jarak, pura-pura kuat.

Dan Hamka pun masih sama.

Sabar dalam caranya sendiri, keras dalam tekadnya.

Ia tahu betul..selama ini, ia selalu bisa menghadapi keras kepala perempuan itu. Dan kali ini pun, ia tak berniat menyerah.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!