Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Magrib turun perlahan ketika Zainal Buana akhirnya kembali ke rumah. Jas kampanyenya ia lepaskan, menyisakan kemeja putih yang sudah sedikit kusut oleh seharian berjabat tangan dan tersenyum pada banyak orang. Aroma teh hangat menyambutnya di ruang keluarga.
Lastri duduk di sofa, wajahnya teduh namun menyimpan lelah yang sama.
Lingga bersandar di sandaran kursi, masih mengenakan jaket relawan kampanye, sementara Pitaloka melipat kaki di karpet, memeluk bantal kesayangannya.
"Capek?" tanya Lastri lembut, menyerahkan cangkir teh pada suaminya.
Zainal tersenyum, menerima cangkir itu. "Capek, tapi hatiku penuh dengan bahagia."
Pitaloka langsung menegakkan badan. "Respons warga gimana, Yah?"
"Lebih baik dari yang kita kira," jawab Zainal mantap. "Aku lihat di mata mereka. Bukan sekadar janji yang mereka dengar, tapi harapan."
Pitaloka mengangkat wajahnya. "Ayah yakin bakal menang?"
Zainal menatap anak bungsunya itu, lalu menoleh pada Lastri dan Lingga. Tatapannya penuh keyakinan, dibumbui kesombongan. "Ayah yakin. Bukan karena ayah paling kuat atau paling kaya, tapi karena Ayah sudah menggelontorkan dana yang tidak sedikit ... jadi Ayah pasti menang. Suara bisa dibeli dengan uang, karena rakyat pada dasarnya kan memang butuh uang."
Lastri menghela napas pelan. "Aku agak sedikit takut ... makin ke depan makin keras serangannya."
Zainal menggenggam tangan istrinya. Genggaman yang sudah lama tak diberikan Zainal. "Aku tahu. Tapi aku nggak sendirian. Banyak pihak yang menyokongku. Kemenangan sudah dalam genggaman."
Lingga tersenyum kecil, ada api kebanggaan di matanya. "Siapa dulu dong, Zainal Buana gitu loh."
Mereka berempat tertawa angkuh dan penuh keyakinan.
_____
Malam mulai merayap sunyi ketika Lingga berdiri di depan rumah sunyi.
Lampu teras menyala redup. Angin menggesek dedaunan, menciptakan suara lirih yang membuat dadanya berdebar.
Ia mengetuk pintu, dan tak lama ... Freya membukakan pintu. Wajah cantiknya nampak tenang, dingin, dan menawan seperti biasa. Membuat perasaan Lingga makin menggila.
"Eh, Mas Lingga, ada apa malam-malam ke sini? Mari masuk." Senyum indah merekah menghiasi bibir Freya yang merah merona.
Lingga melangkahkan kakinya ke dalam rumah, lalu duduk di sofa ruang tamu, berhadapan dengan Freya.
"Mas Lingga mau minum apa? Biar aku buatin."
Namun Lingga menggeleng. "Nggak perlu, Fre. Aku udah banyak minum dari tadi. Nemenin Ayah kampanye membuatku haus terus," kekehnya mencairkan suasana yang mendadak tegang.
Freya ikut terkekeh. "Mas ada-ada saja." Kekehan itu tidak dari hati, tentunya dibuat-buat. "Oh, ya ... Mas ada perlu apa datang ke sini?" Freya mengulangi pertanyaannya yang tadi belum sempat dijawab oleh Lingga.
"Freya ... aku nggak mau basa basi dan muter-muter," ucap Lingga akhirnya. Suaranya bergetar. "Aku datang ke sini ingin mengungkapkan perasaanku ke kamu. Kalau selama ini, dari pertama kali kita ketemu ... aku langsung jatuh cinta sama kamu."
Freya tak terkejut, karena ia sudah tahu dan memang rencananya harus begitu. Membuat Lingga Buana jatuh cinta padanya.
Freya menatap Lingga lama. "Inilah saatnya," batin Freya puas. "Mas Lingga," kata Freya pelan, tegas. "Aku berterima kasih sekali karena kamu punya perasaan seindah itu untukku, tapi maaf, Mas ... aku tidak bisa membalas perasaanmu. Karena aku ... sudah punya kekasih."
Kata-kata itu jatuh seperti palu yang menghantam dada dan relung kalbu.
Lingga membeku. Dadanya sesak. "Apa?"
"Aku dan kekasihku sebentar lagi akan bertunangan. Kami sudah merencanakan pernikahan," lanjut Freya dengan suara bergetar yang dibuat-buat.
Ada sesuatu yang retak di dada Lingga. Wajahnya mengeras, matanya memerah ... bukan oleh air mata, tapi oleh ego yang terluka. Penolakan itu terasa seperti penghinaan. "Kamu serius?" desisnya. "Setelah semua perhatian yang aku kasih ke kamu selama ini?"
Freya berdehem. "Perhatian bukan alasan untuk memiliki, Mas Lingga. Selama ini, aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerja sekaligus teman."
Lingga tertawa pendek, pahit. Amarah membuncah, menghapus sisa logika. "Rekan kerja? Teman? Baik. Kalau begitu, aku permisi. Semoga hubunganmu dan kekasihmu berjalan lancar." Ia bangkit, melangkah cepat menuju pintu.
Pintu dibanting keras, gema suaranya memantul di dinding rumah sunyi ... seperti jeritan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Di luar, Lingga melangkah dengan rahang mengeras, amarah dan patah hati berkelindan di dadanya. Ia pergi tanpa tahu satu hal ... perempuan yang baru saja menolaknya ... adalah korban pemerkosaan yang dulu menjerit memohon agar Lingga menghentikan aksi bejatnya.
Sementara itu, Freya berdiri mematung di ruang tamu. Lalu senyumnya tiba-tiba melebar. Dan tawa pun mengudara. "Hahaha ... akhirnya, aku bisa melihat wajah kecewamu, Lingga Buana." Ia bertepuk tangan. "Kamu pasti merasa sangat hancur dan itu memang tujuanku. Nikmatilah Lingga, sebelum kejutan sebenarnya datang menghampirimu."
_____
Lingga membanting pintu kamarnya begitu tiba di rumah. Suara keras itu menggema, membuat pigura di dinding bergetar. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Jaket yang masih melekat di tubuhnya ia lempar sembarangan ke lantai, seolah benda itu ikut bersalah atas kehancuran harga dirinya malam ini. "Freya ..." gumamnya dengan suara parau.
Ia meraih meja, menghantamnya dengan kepalan tangan. Amarah, kecewa, dan ego yang tercabik bercampur menjadi satu. Penolakan itu terasa lebih menyakitkan daripada hinaan terbuka. Bukan karena cinta ... melainkan karena ia tak terbiasa ditolak.
"Berani-beraninya kau menolakku," desisnya, mata memerah. "Seolah aku tak berarti apa-apa."
Lingga berjalan mondar-mandir di kamar, langkahnya kasar, tak teratur. Ingatannya kembali pada tatapan Freya yang dingin, suaranya yang tenang namun tegas. Tak ada gentar. Tak ada keraguan. Itu yang paling melukai. "Awas kau, Freya," katanya lirih, tapi penuh racun. "Kau pikir ini selesai begitu saja?"
Ia berhenti di depan cermin. Pantulan wajahnya tampak asing ... keras, gelap, dipenuhi bayangan dendam. Sesuatu yang lama terkubur kini merangkak naik ke permukaan.
"Kalau aku tak bisa mendapatkanmu dengan cara baik-baik," ucapnya perlahan, seakan berbicara pada dirinya sendiri, "Maka aku akan memaksamu menjadi milikku. Kau harus kudapatkan! Tunggulah!"
Tangannya mengepal semakin erat, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga memerah. Dalam kepalanya, penolakan berubah menjadi tantangan. Bukan cinta yang ia kejar, melainkan kuasa.
"Kau akan menyesal telah berkata tidak padaku," bisiknya tajam. "Tak ada yang berhak mempermalukanku seperti ini."
Lingga menjatuhkan diri ke tepi ranjang, wajahnya tertunduk. Namun bukannya reda, amarah itu justru mengendap, menjadi sesuatu yang lebih berbahaya ... tenang, terencana, dan dingin.
"Sebelum kau bertunangan dengan kekasihmu ... akan kupastikan kalau kau akan tidur bersamaku. Akan kurenggut mahkotamu supaya kau tahu ... siapa Lingga Buana sebenarnya? Aku adalah lelaki yang tak pernah menerima penolakan. Apa pun yang aku inginkan ... harus dan pasti menjadi milikku." Ia menyeringai lebar. Satu rencana langsung tersusun rapi di kepalanya.