NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Membawa Hasil

Angin sepoi berembus pelan. Di salah satu sudut, lampu sorot dan latar polos masih berdiri, seolah baru saja dipakai. Langit malam itu gelap tanpa tanda hujan, hanya dingin yang menetap di kulit.

Darrel merapatkan jaket tebalnya sebelum melangkah masuk ke sebuah gerai fashion dan kosmetik. Lampu-lampu etalase menyala terang, kontras dengan pikirannya yang masih dipenuhi bayangan bangsal sunyi beberapa waktu lalu.

Ia tidak datang untuk berbelanja. Tempat ini hanyalah persinggahan—langkah kecil untuk membuka informasi berikutnya.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, seorang perempuan menyapanya dengan senyum profesional.

“Selamat malam, Kak. Silakan, kami punya beberapa koleksi dari brand ternama. Ada yang bisa dibantu?”

Darrel membalas dengan anggukan kecil.

“Saya pertama kali datang ke sini. Bisa dicarikan kemeja yang cocok dengan warna kulit saya?”

“Baik, Kak.”

Darrel mengikuti karyawan itu menelusuri deretan kemeja.

“Kulit Kakaknya putih langsat. Warna ivory ini cocok,” ujarnya sambil menahan kemeja di depan dada Darrel.

“Boleh. Ada warna lain?”

“Ada, Kak. Yang ini juga masuk.”

Darrel mengangguk setuju.

Namun matanya tetap sibuk melirik ke sekeliling, memastikan sesuatu, alasan sebenarnya ia datang ke tempat ini.

Di salah satu sudut, lampu sorot dan latar polos kembali menarik perhatiannya.

“Gerai ini juga dipakai untuk pemotretan?” tanya Darrel, membuka percakapan.

Entah kebetulan atau semesta memang sedang berpihak padanya, karyawan yang melayaninya tampak terlalu mudah berbagi cerita.

“Iya, Kak. Model utama di sini namanya Kak Rania Anggraini. Lagi hits sekarang. Beliau juga calon istri owner kami.”

Kesempatan itu langsung ditangkap Darrel.

“Owner-nya siapa?”

“Pak Rama, Kak.”

“Yang ini?” Darrel menunjukkan foto di ponselnya—laki-laki yang pagi tadi ia lihat bersama Ratna.

Karyawan itu mengangguk mantap.

“Benar, Kak.”

“Oh...” Darrel menyimpan kembali ponselnya ke saku. “Kalau begitu, bisa langsung dibungkus?”

“Baik, Kak.”

Lampu kasir kembali menyala, dan suara plastik pembungkus terdengar singkat.

Malam menutup langkah Darrel tanpa memberi lebih banyak jawaban.

......................

Keesokan paginya, Darrel tahu ke mana harus melangkah.

Dari belakang, Darrel mengikuti arah Ratna pergi. Kali ini ia datang sendiri. Lagi-lagi, mobil itu membawanya ke rumah sakit jiwa yang sama.

Seperti yang dilakukan Revan sebelumnya, Darrel tidak datang tanpa persiapan.

Kali ini, semuanya sudah disiapkan dalam bentuk yang lebih rapi.

Surat perizinan tertulis dari kepala rumah sakit menjadi pengantarnya masuk, seseorang yang mengenal baik Revan dan orang tuanya.

Nama keluarga Revan memang disegani. Bisnis dan kedermawanan mereka membuat banyak pintu terbuka tanpa perlu banyak tanya.

Saat Ratna masuk lebih dulu, Darrel menjaga jarak sekitar lima meter.

Ia melihat Ratna memasuki salah satu pintu kamar paling ujung. Pintu itu teramat sempit, hingga sulit dikenali sebagai kamar pasien.

“Wah...benar ada yang terlewat,” bisik Darrel pada dirinya sendiri.

Ratna tidak menoleh sedikit pun, seolah sudah hafal tiap sudut bangunan itu.

Darrel berhenti sejenak sebelum pintu tertutup sempurna, menjaga jarak dengan tempat itu, cukup dekat untuk mengamati, cukup jauh untuk tidak terlihat mencurigakan.

Lorong itu lebih sempit dari yang lain. Lampunya redup, bau antiseptik lebih menyengat dan mengganggu pernapasan, membuat Darrel refleks menutup hidung.

Ia berpindah posisi, berdiri di balik sekat dinding yang tak terlihat dari dalam ruangan, namun cukup jelas dari luar.

Darrel melihat Ratna berjongkok, menghadap seseorang. Terhalang punggung Ratna, ia tak tahu dengan siapa dan tentang apa perempuan itu berbicara.

Beberapa menit berlalu. Ratna berdiri hendak keluar. Darrel buru-buru melangkah menjauh.

Wajah Ratna tetap datar. Tidak ada raut tergesa, tidak pula kecemasan—seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan rutinitas.

Ratna melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.

Darrel menunggu hingga langkah itu benar-benar menjauh. Barulah ia mendekat ke pintu yang sama.

Nomor kamar tertera kecil di sudut atas. Tidak tercantum nama.

Darrel menghela napas pelan.

“Pantas saja,” gumamnya lirih.

Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang pintu, lalu berhenti.

Ia tidak bisa gegabah.

Belum sekarang.

Darrel mundur selangkah, menempelkan punggung ke dinding dingin lorong itu. Di kepalanya, potongan-potongan informasi mulai ia susun untuk Revan.

Ia menyalakan ponsel.

Panggilan terhubung.

Darrel memberi tahu Revan agar segera ke rumah sakit. Untuk sementara, ia akan tetap di sini menunggu.

Tak lama kemudian, dari kejauhan terlihat Revan melangkah ke arahnya. Namun ia tidak sendiri, seorang perawat berjalan di belakangnya.

Mereka bertiga berhenti di depan ruangan sempit itu. Pandangan Revan beralih ke suster dengan sorot serius.

“Jelaskan pada saya,” ucapnya dingin, “kenapa dia ditempatkan di ruang sesempit ini.”

Sorot matanya cukup membuat suster itu gugup.

“Maaf, Pak,” jawabnya dengan hati-hati. “Ini satu-satunya tempat yang kami anggap aman untuk pasien tersebut. Ia mengalami trauma berat akibat pelecehan di masa lalu. Setiap kali melihat laki-laki, kondisinya memburuk dan sering berontak. Kami kerap kewalahan.”

Suster itu menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.

“Di ruangan ini, ia lebih terhindar dari pasien laki-laki maupun tamu lain. Tujuan kami hanya menjaga ketenangannya, Pak.”

Rahang Revan mengeras.

“Kalian menyebut ini ketenangan?” suaranya turun, tapi tajam. “Dia sakit, bukan patung hidup. Mengurungnya seperti ini bukan menyembuhkan, justru membuatnya semakin nggak waras.”

Suster itu membeku, tidak berani menjawab sepatah katapun, hanya helaan napas yang terdengar.

"Beri tahu saya, siapa orang yang kerap kali datang menjenguknya," ucap Revan.

“Bu Ratna, Pak. Orang yang membawa pasien itu ke sini sejak sebelas tahun lalu,” jawab suster itu dengan suara sedikit bergetar.

Mendengar itu, Revan tidak melangkah lebih jauh.

Bukan karena ia tahu siapa perempuan di dalam sana—melainkan karena instingnya mengatakan, kehadirannya hanya akan memperburuk keadaan.

“Kamu masih mau kerja di sini, kan,” ucap Revan dingin.

Tanpa menunggu jawaban, ia menurunkan pandangan ke ponselnya. Jemarinya bergerak cepat di layar, seolah tak lagi membutuhkan reaksi siapa pun.

Beberapa detik berlalu. Revan mengangkat wajahnya kembali.

“Anggap kamu tidak pernah melihat saya,” telunjuknya lalu beralih ke arah Darrel, “dan dia datang ke sini. Paham?”

Wajah suster itu memucat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya sebelum ia mengangguk cepat.

Belum sempat suasana mencair, langkah kaki terdengar mendekat dari ujung lorong.

Seorang dokter perempuan menghampiri mereka.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak Revan?”

“Tolong periksa pasien di dalam, Dok. Sekarang.”

“Baik.”

Beberapa menit kemudian, dokter itu keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.

“Bagaimana?” tanya Revan.

“Pasien mengalami trauma berat yang berkembang menjadi depresi. Dari pemeriksaan awal, ditemukan gangguan pada persepsinya, sehingga ia sering melihat atau merasakan hal-hal yang baginya terasa nyata, meski sebenarnya tidak sepenuhnya terjadi.

Berdasarkan catatan yang ada, pasien memang sempat mendapatkan penanganan. Namun fokusnya lebih banyak pada upaya menenangkan kondisinya, bukan pemulihan traumanya secara menyeluruh. Akibatnya, keluhan halusinasi muncul berulang dan sulit dikendalikan."

“Lalu apa yang harus dilakukan?” tanya Revan, suaranya tertahan.

"Untuk sementara, pasien sebaiknya dihindarkan dari pemicu yang dapat memperburuk kondisinya, termasuk interaksi dengan laki-laki. Setelah kondisinya lebih stabil, ia perlu pendampingan psikiater agar trauma dan gangguan persepsinya bisa ditangani dengan tepat.”

Revan mengangguk pelan.

“Terima kasih, Dok.”

Dokter itu pamit, meninggalkan Revan menatap pintu ruangan sempit itu tanpa sedikit pun melangkah mendekat.

Ia kemudian beralih pada suster.

“Berapa kali Ratna datang ke sini?”

“Tiga kali seminggu, Pak,” jawabnya cepat. “Hari ini kunjungan ketiga.”

“Dengarkan saya.”Nada Revan datar, tapi cukup membuat suster itu refleks menegakkan tubuh.

“Buat seolah pasien itu kabur, dan pihak rumah sakit tidak berhasil menemukannya.”

Wajah suster itu seketika memucat.

“Tapi, Pak...Bu Ratna bisa menuntut rumah sakit ini.” Jemarinya meremas gugup.

“Saya juga bisa menuntut kamu dan pihak rumah sakit,” potong Revan dingin, “atas kelalaian dalam menangani pasien.”

Keheningan menyelimuti.

“Tuan Muda,” Darrel akhirnya angkat bicara, “sebaiknya kita pastikan dulu siapa perempuan itu.”

Revan menoleh singkat.

“Kamu benar.”

Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyerahkannya pada suster.

“Masuk. Foto pasien itu.”

Tanpa berani membantah, suster itu menuruti perintah. Beberapa detik kemudian, ia kembali dan menyerahkan ponsel tersebut.

Revan dan Darrel melihatnya bersamaan.

“Astaga, Tuan Muda,” gumam Darrel tertahan. “Dia...perempuan yang hampir saya tabrak waktu pertama kali menjemput Zaskia.”

Revan menjajarkan dengan foto yang ia punya.

"Dia mirip sekali dengan ibu Zaskia."

“Iya,” sahut Revan pelan. “Postur dan wajahnya. Tidak salah lagi.”

Suster itu menelan ludah.

“Pasien itu memang sempat kabur beberapa minggu lalu, Pak."

Revan terdiam sejenak, matanya tetap tertuju pada layar ponsel. Otaknya bekerja cepat, menyusun langkah tanpa meninggalkan celah kecurigaan.

“Hubungi para maid,” perintahnya akhirnya pada Darrel.

“Suruh mereka bersiap. Untuk menjemputnya sekarang.”

Sementara Darrel menyiapkan segala yang dibutuhkan, Revan beralih serius pada suster di hadapannya.

"Dan kamu," tatapan Revan tajam bak mata elang yang tahu mangsanya. "Kalau kamu ingin pekerjaanmu aman, ikuti arahan saya."

"Saya mengerti, Pak."

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!