di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.
tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.
Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis
hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.
> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <
> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE GUNUNG LANGIT
Di hari itu saat ia pergi meninggalkan pegunungan dan menaiki awan giok milik Tetua Linxi. Tetua Linxi membawa Kenzie melintasi pegunungan yang menjulang seperti tombak-tombak surgawi. Udara dingin menggigit kulit, namun Kenzie berdiri tegap, matanya menatap ke depan tanpa ragu. Di bawah sana, terhampar lembah besar yang dikelilingi oleh delapan puncak suci, seolah menjadi penjaga dari Sekte Gunung Langit—salah satu tempat paling bergengsi dalam dunia bela diri.
Sesampainya di sana, tetua Linxi hanya menurunkan Kenzie di kaki gunung. Ia tak menurunkannya langsung di depan gerbang sekte, sebab tetua Linxi ingin memberikan ujian kecil pada Kenzie, sebelum ia melakukan ujian masuk sekte.
"turunlah kamu di kaki gunung ini Kenzie.." ucapnya memerintahkan Kenzie
"mengapa anda menurunkan aku disini?..." tanya Kenzie, lalu berkata kembali "padahal anda bisa menurunkan aku di depan gerbang sekte!.." ucap Kenzie kepada tetua Linxi
"anggap saja ini ujian kecil dariku..." ujar tetua Linxi. "turunlah dan berjalanlah kamu dianak tangga itu, untuk menuju gerbang sekte" ucap tetua Linxi pada Kenzie
Kenzie tak berbicara, dan ia pun langsung melompat turun dari atas awan giok milik tetua Linxi. Saat dirinya berdiri diatas tanah, tetua Linxi tersenyum lalu berkata "silahkan kamu awali ujian kecil dariku" tetua Linxi memandang tangga tersebut dan menyuruh Kenzie mengawali ujian kecil dari dirinya
Kenzie menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan menaiki anak tangga yang menuju gerbang sekte gunung langit.
Singkat cerita Kenzie pun menaiki tangga tersebut, kemudian ia melangkahkan kakinya dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya, hingga ia kini merasakan tekanan di setiap anak tangga yang diinjaknya.
"setiap kali aku menaiki tangga ini, beban pada tekanannya bertambah, kupikir hanya perasaanku saja!." ucapnya pada dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanannya Kenzie sering menemui orang yang mencoba masuk sekte gunung langit, setiap orang yang di jumpainya, ada yang sedang beristirahat dan ada juga yang menyerah hingga tak mau melanjutkan perjalanannya. Tapi di setiap ia melihat orang orang tersebut, Kenzie selalu teringat dengan wajah adiknya, dari pikirannya terlintas bayangan Reinzie dan chelsea, Kenzie yang sedang putus asa kini kembali semangat dan semakin semangat, dirinya bahkan memaksa untuk terus melanjutkan perjalanan untuk menaiki anak tangga tersebut. Walau tubuhnya tak mampu lagi ia tetap memaksakan diri.
di benaknya ia memikirkan kembali perkataan tetua Linxi yaitu: "anggap saja ini ujian kecil dariku." perkataan itu seakan menjadi sebuah jebakan. padahal sebelumnya ia berpikir ujian kecil yang di katakan oleh tetua Linxi tidaklah sulit, sampai ia berkata dalam diam di pikirannya, "apakah berjalan kaki menaiki tangga menuju gerbang sekte termasuk ujian?." ucapnya di pikirannya. Akan tetapi pada kenyataannya ujian ini sangatlah sulit untuk di hadapi, tidak seperti kenyataan yang terlihat.
Singkat cerita, sesampainya di gerbang masuk sekte, Kenzie melihat gerbangnya menjulang tinggi. Diukir dari batu putih yang hanya bisa dipotong oleh teknik pedang kelas surga. Di atas gerbang tertulis dalam aksara kuno:
“Hanya mereka yang berani menantang langit, layak berdiri di atasnya.”
Kenzie menunduk hormat saat memasuki halaman utama. Dirinya melihat puluhan calon murid yang berhasil menaiki tangga menuju gerbang sekte, berkumpul di pelataran batu yang luas. Di antara mereka, hanya sedikit yang mengenakan pakaian biasa seperti dirinya. Sebagian besar adalah keturunan keluarga besar, bangsawan, atau anak tetua sekte cabang.
Mereka memandang Kenzie yang baru saja tiba disana dengan pandangan remeh, bahkan menganggap diri Kenzie berhasil dengan keberuntungan saja.
Tapi Kenzie tak memedulikan itu.
Langkahnya lurus, seperti jurus pedang yang telah ia tempa selama tiga tahun.
Di tengah pelataran, berdiri seorang pria tua berjubah kuning keemasan. Jenggotnya panjang dan putih, matanya tajam seperti elang.
Tetua Huang Zeshi—penguji utama ujian masuk Sekte Gunung Langit.
“Para calon murid,” suaranya menggema, “hari ini kalian akan menghadapi Tiga Ujian Langit. Gagal di satu saja, maka pulanglah kalian sebagai orang biasa. Hanya mereka yang bertahan, yang akan mendapatkan kesempatan diterima di perguruan luar sekte gunung langit.”
Semua murid tegang.
Namun Kenzie berdiri tanpa gentar.
Tetua Huang menunjuk ke tengah pelataran, dan formasi batuan membentuk arena. Tiga pilar muncul dari bawah tanah: satu menyala biru, satu merah, dan satu emas.
“Ujian pertama: Tes Ketahanan Energi Langit. Berdirilah di pilar biru selama tiga puluh napas tanpa terpental keluar.”
Beberapa murid maju terlebih dulu.—sebagian calon murid jatuh di detik ke sepuluh. Ternyata pilar itu menekan tubuh mereka dengan kekuatan murni langit ketujuh, mengguncang tulang dan otot.
Ketika giliran Kenzie, sebagian murid tertawa kecil. “Anak kampung? Dengan pedang usang di punggung? Lucu sekali…”
Kenzie hanya mengangguk kecil, lalu melangkah ke pilar biru.
Begitu ia berdiri, tekanan itu langsung menghantam seluruh tubuhnya—seperti lima gunung menghantam dada sekaligus. Ototnya gemetar. Tapi ia tidak bergerak. Dalam hatinya, wajah Reinzie terlintas lagi… dan suara Volzek menggema.
“Langit tempat kita berdiri ini akan selalu menyambut mu kembali.”
Kenzie mengepalkan tangan. Walau dirinya masih kekurangan tenaga di ujian kecilnya sebelumnya, tapi ia tetap berusaha bertahan.
10 napas… 20… 30… bahkan 40…
Tetua Huang mengerutkan dahi.
“Cukup,” katanya, menghentikan formasi.
Kenzie melompat turun. Wajahnya pucat, tapi ia masih bisa berdiri tegak. Kini hasilnya ia di loloskan.
Berikut ujian kedua adalah resonansi roh, di mana calon murid harus membuat satu roh roh spiritual merespon sentuhan auranya dalam gua kristal suci. Sebagian hanya mendapat gema samar.
Namun ketika Kenzie meletakkan tangan di atas altar kristal, seluruh gua bersinar lembut. Dari dalam kristal muncul gelombang kabut keperakan, membentuk siluet cahaya dari energi langit.
Roh kristal mengenalinya. Itu adalah resonansi darah suci.
Tetua Huang nyaris tak berkata apa-apa, hanya mengangguk kecil, dan mencatat namanya lebih tebal dari yang lain. Hingga di loloskan di ujian kedua dengan nilai tertinggi
Ujian terakhir: Duel melawan murid inti tingkat satu.
Semua yang lolos dari ujian pertama dan kedua harus bertarung satu lawan satu dengan murid internal yang telah dilatih minimal dua tahun.
Ketika nama Kenzie dipanggil, lawannya adalah seorang pemuda angkuh dari klan Ximen bernama Ximen Tao. Tubuh tinggi, rambut hitam panjang, dan senyum meremehkan.
“Jika kau hanya bisa berdiri di atas batu pilar, maka kau tak akan mampu bertahan dari teknik Tebasan Angin Empat Langit milikku. Walau di ujian kedua kau di kenali altar kristal sebagai pemilik energi suci... semua itu belum tentu menandakan bahwa kau yang terkuat.”
Namun Kenzie hanya membungkuk, dan saat bel pertandingan berbunyi—ia menghilang.
Langkah Pembunuh Langit.
Dalam sekejap, ia muncul di belakang Tao, dan dengan satu ayunan ringan, pedang hitam Kenzie menyentuh leher lawan.
“Menyerah lah,” bisiknya.
Ximen Tao menggertakkan gigi, lalu mengangguk. Wajahnya merah padam.
Di sekeliling arena, para tetua diam. Sebagian menatap Kenzie penuh ketertarikan. Tapi hanya satu yang membuka suara lebih dulu.
Seorang wanita berjubah putih keperakan, rambut panjang seperti es, dan mata tajam yang seolah bisa menembus hati seseorang.
Tetua Li Mei. Seorang guru dari perguruan inti didalam sekte
Ia menuruni tangga dari singgasananya. Semua tetua memberi hormat.
Li Mei berdiri di hadapan Kenzie, memandangi anak muda itu dengan saksama.
“Siapa yang mengajarkanmu teknik langkah itu?”
Kenzie menjawab singkat, “Aku berlatih sendiri… dibimbing oleh seseorang bernama Tetua Volzek.”
Li Mei tampak berpikir, lalu berkata pelan, “Namanya sudah lama tidak terdengar…”
Ia memutar tubuhnya dan berkata lantang:
“Mulai hari ini, Kenzie Laurent… kau adalah murid pribadiku.”
Para murid terkejut. Tetua Li Mei dikenal dingin, tidak pernah mengambil murid dalam tiga tahun terakhir. Bahkan murid inti pun tak berani menyebut namanya sembarangan.
Tetua Huang Zeshi mengangguk, puas. “Sekte Gunung Langit telah mendapat angin baru.”
Kenzie Laurent kini telah resmi menjadi murid pribadi Tetua Li Mei—seorang yang ahli dalam jurus pedang surgawi, seorang tetua inti di sekte gunung langit. Namun jalan di dalam sekte tidaklah mudah. Di balik dinding megah dan jurus langit… tersembunyi politik, persaingan, dan bahaya. Tapi bagi Kenzie… hanya ada satu arah: maju. Karena di ujung jalan ini, ada nama yang terus ia panggil dalam hatinya: yaitu Reinzie dan Chelsea.