Sebuah kecelakaan membuat Caroline koma. Meski raganya sekarat, tapi jiwanya terbangun di tubuh yang berbeda. Dia masuk ke tubuh Mazaya yang melakukan bunuh diri karena tak kuat menghadapi sikap suaminya sendiri.
Menjadi Mazaya, jiwa Caroline pun mulai melakukan tindakan untuk mengubah keadaan. Arnold yang menjadi suami Mazaya pun perlahan berubah sikap berkat keterampilan yang dimiliki Caroline.
Dalam tubuh Mazaya, Caroline mulai menemukan banyak kejanggalan tentang orang-orang di sekitarnya yang tak tahu bahwa dia hidup di tubuh orang lain. Tunangannya berkhianat dengan sahabatnya sendiri dan membuat Caroline seperti orang bodoh selama ini.
Mampukah Caroline menyelesaikan semua masalah itu dalam tubuh Mazaya yang dipandang sebelah mata? Lalu, akankah Caroline kembali ke tubuhnya yang asli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RIC ° Bab 32
Mazaya menatap Raffaello dengan geram. Laki-laki itu yang membuat Mazaya marah karena kaget, tapi bisa-bisanya Raffaello mengingatkannya untuk sabar dan menjaga tubuh orang lain.
Sorot mata Mazaya pada Raffaello menunjukkan seberapa kesalnya wanita itu pada makhluk menyebalkan yang selalu muncul secara tiba-tiba. “Yang bikin aku marah-marah itu kamu! Kalau aja kamu nggak muncul tiba-tiba, pasti aku nggak akan kaget dan marah-marah. Kalau Mazaya kembali dan dia jadi jelek, itu kamu yang salah!”
Raffaello mengakhiri perdebatan yang tidak penting itu karena ada hal yang lebih penting yang harus mereka bahas. “Rencanamu bagaimana?” tanyanya dengan wajah serius.
Mazaya kini ikut menatap Raffaello dengan serius. “Aku sudah kirim video yang aku rekam tadi ke email asliku. Saat tubuhku bangun dan memeriksa email, perselingkuhan itu akan terbongkar. Tapi, kenapa Mazaya asli nggak mau kembali saja? Aku bisa urus masalahku sendiri, dan dia bisa kembali sama suaminya. Lagi pula, Arnold sepertinya juga sudah berubah, rasanya nggak mungkin kalau dia akan menindas istrinya lagi,” jawab Caroline dalam diri Mazaya.
Raffaello manggut-manggut. “Seharusnya memang begitu, tapi mungkin dia sudah sangat membenci suaminya dan nggak mau kembali. Masalahnya, tubuh kamu sudah terlalu lama tanpa jiwa. Sepertinya Mazaya juga akan sulit memasukinya,” jelasnya.
Caroline termenung. Dia teringat pada ibunya yang sangat dirindukan. Pasti wanita yang telah melahitkannya itu akan sangat bersedih dan merasa kesepian menunggu tubuhnya kembali bangun. Caroline sendiri juga tidak bisa keluar dari tubuh Mazaya dengan paksa sebelum Arnold dengan tulus mencintai Mazaya.
Sayangnya, mereka tak ada yang tahu, siapa yang sekarang dicintai Arnold.
“Kalau aku tidak bisa membuat Arnold mencintai Mazaya, apa aku akan selamanya terjebak di tubuh ini? Kenapa Mazaya tidak kembali saja?” Wanita itu berteriak dengan kesal.
Raffaello mencium kehadiran Arnold yang mungkin sudah mendengar teriakan Mazaya. Malaikat tampan itu segera melarikan diri dan semakin membuat Mazaya kesal.
“Jangan kabur!” teriak Mazaya lagi.
“Siapa yang kabur?” tanya Arnold yang kini sudah membuka pintu tanpa Mazaya sadari.
Laki-laki itu merasa khawatir dengan keadaan istrinya. Dia mengecek jendela dan balkon. Tidak ada tanda-tanda orang di sana. Lalu, kenapa Mazaya berteriak?
Arnold kembali menghampiri istrinya yang terlihat gugup. “Siapa yang kabur?”
Mazaya akhirnya mengerti kenapa Raffaello tiba-tiba pergi. Dia menelan ludah dengan kasar dan tersenyum pada suaminya sebelum membuat alasan untuk menjelaskan kenapa dia berteriak.
“Tadi, ada kecoa!” jawab Mazaya dengan spontan.
“Kecoa? Di kamar ini? Kok bisa?” tanya Arnold heran.
Merasa akan diinterogasi. Mazaya berbalik badan dan berjalan ke sofa supaya Arnold tidak bisa menatap ke dalam matanya.
“Itu tadi ada kecoa. Pas mau aku pukul pakai sandal malah dia terbang,” jawab Mazaya.
Arnold semakin heran dengan jawaban Mazaya. Kebersihan di rumahnya sangat terjaga. Lalu, bagaimana bisa seekor kecoa masuk ke rumahnya?
“Sekarang kita pindah kamar saja! Biar kamar ini dibersihkan pelayan. Kecoa itu harus ketemu!” kata Arnold yang kemudian menarik tangan sang istri untuk keluar kamar.
Mazaya membulatkan mata lebar-lebar dan terpaksa mengikuti Arnold. Jawaban spontan yang dia ucapkan tadi, sepertinya membuat para pelayan tak bisa istirahat dengan tenang.
Arnold menyuruh pelayan untuk membersihkan kamarnya. Sementara dia membawa Mazaya memasuki kamar lamanya yang masih terawat dan tak pernah dimasuki siapa pun kecuali dia dan Della yang bertugas menjaga kebersihan kamar itu.
“Sementara kita tidur di sini!” kata Arnold yang kemudian menyalakan lampu di kamar itu.
Ini adalah kali pertama Arnold membawa Mazaya ke kamar itu. Ya, bahkan dia tidak pernah membawa Mazaya asli ke kamarnya karena memang tak menyukai istrinya itu sejak awal.
“Ini kamar kamu juga?” tanya Mazaya merasa yakin karena di kamar itu ada foto Arnold saat masih sangat muda.
“Ya, ini kamar aku sebelum menjadi pembunuh ayahmu,” jawab Arnold dengan ekspresi datar.
***
Ramaikan komennya dulu dong 🙃🙃🙃
pengen liat si bandit arogan bucin sama si mazaya ,,
🤭🤣🤣
keyèèèn abiiizzz