NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Gema suara Kyai Umar masih menyisakan getaran di udara aula.

Para santriwati yang tadi mengejek kini tak lebih dari sekumpulan jiwa yang tertunduk lesu, menyadari bahwa lidah mereka baru saja menggali lubang kesulitan bagi diri mereka sendiri.

Kyai Umar mengangguk singkat ke arah Humairah sebelum melangkah keluar dengan raut wajah yang masih menunjukkan kekecewaan mendalam.

Humairah menarik napas panjang di balik cadarnya.

Ia tidak merasa menang, justru hatinya merasa berat karena harus menjadi wasilah hukuman bagi mereka. Namun, ia tahu adab harus ditegakkan.

"Ayo, sekarang kalian duduk dan mulai menghafal," ucap Humairah. Suaranya tenang, tidak ada nada dendam atau kepuasan dalam bicaranya.

Ia ingin mereka tahu bahwa tugas ini adalah cara untuk menyucikan lisan mereka kembali.

Suasana kelas yang tadinya riuh dengan tawa hinaan, kini berganti dengan suara isak tangis yang tertahan dan gemerisik lembaran mushaf yang dibuka dengan terburu-buru.

Humairah menoleh ke arah santriwati yang sejak awal membelanya.

"Aisyah, bisa bantu sebentar?"

Aisyah menganggukkan kepalanya dengan sigap. Ada binar kelegaan di matanya melihat keadilan ditegakkan oleh sang Kyai. Ia segera berdiri dan menghampiri meja pengajar.

"Iya, Ustadzah. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Aisyah dengan nada hormat yang tulus.

Humairah menyerahkan sebuah buku besar bersampul cokelat yang merupakan buku induk kelas tersebut.

"Aisyah, tolong bantu saya mengabsen teman-temanmu. Tandai siapa saja yang hadir hari ini, karena catatan ini akan menjadi dasar setoran hafalan Al-Baqarah mereka ke depannya."

"Baik, Ustadzah," jawab Aisyah patuh. Ia mulai menyebutkan nama satu per satu dengan suara yang lantang.

Setiap kali sebuah nama dipanggil, santriwati yang bersangkutan menjawab dengan suara lirih dan kepala yang tetap tertunduk.

Mereka tidak berani lagi menatap mata Humairah.

Di depan kelas, Humairah memperhatikan mereka satu per satu dengan tatapan penuh kasih sayang yang tersembunyi di balik cadar.

Ia tidak membenci mereka; ia hanya berharap kejadian hari ini menjadi pelajaran bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh desas-desus, melainkan oleh ketaatannya kepada Allah.

Di luar aula, Fathan masih berdiri di balik pilar. Ia memperhatikan bagaimana Humairah mengelola kelas yang baru saja menghancurkan mentalnya.

Ia tertegun melihat istrinya tidak membalas makian dengan makian, melainkan dengan ketegasan yang anggun.

Ada sesuatu yang mulai bergejolak di hati Fathan—sebuah pengakuan kecil yang ia tekan kuat-kuat—bahwa wanita ini memiliki ketabahan yang tidak biasa.

Namun, bayangan pengkhianatan masa lalunya kembali melintas, membisikkan bahwa setiap wanita bisa saja sedang bersandiwara untuk terlihat suci.

Fathan memutar tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan istrinya yang sedang berjuang memenangkan hati para santriwati dengan kesabaran.

Sementara itu, jauh dari ketenangan pesantren yang penuh dengan lantunan ayat suci, suasana di sebuah apartemen mewah di pusat kota terasa sangat kontras.

Ruangan itu berantakan dengan botol-botol minuman kaleng dan tumpukan pakaian yang tidak tertata.

Di sana, Abraham duduk di tepi balkon, menatap lampu-lampu kota dengan pikiran yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tenang.

Taufik, teman lama Abraham yang memberinya tempat bernaung selama pelariannya, masuk ke ruangan sambil memainkan ponselnya.

Ia menatap Abraham dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Apakah kamu sudah mendengar kalau Humairah menikah dengan kakakmu, Fathan?" tanya Taufik tiba-tiba, memecah keheningan.

Abraham tersentak. Ia hampir menjatuhkan gelas di tangannya.

Matanya membelalak tak percaya, menatap Taufik seolah pria itu baru saja menceritakan sebuah lelucon yang sangat buruk.

"Apa? Dia menikah dengan Kakakku? Bagaimana mungkin?!" suara Abraham meninggi, ada nada tidak terima yang terselip di sana.

"Kak Fathan itu kaku, dingin. Dia tidak mungkin mau menikahi wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya sendiri!"

Taufik berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di pintu balkon sambil tersenyum sinis.

Ia tidak menunjukkan rasa simpati sedikit pun pada sahabatnya itu.

"Dunia terus berputar meski kamu melarikan diri, Abra. Keluargamu harus menutup aib yang kamu buat. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan wajah Kyai Umar adalah dengan meminta Fathan maju sebagai penggantimu," jelas Taufik dengan nada datar.

Abraham meraup wajahnya dengan kasar. Perasaan bersalah, cemburu, dan bingung bercampur aduk menjadi satu.

"Tapi itu tidak benar. Humairah itu milikku, Taufik!"

Taufik mendengus kasar, lalu menatap Abraham dengan tajam.

Rasa hormatnya kepada sahabatnya itu kini telah menguap sepenuhnya.

"Milikmu?" tanya Taufik dengan nada menghina.

"Abra, aku memang temanmu, tapi kelakuanmu yang lari saat pernikahan membuatku muak. Kamu meninggalkan wanita sehebat Humairah di depan penghulu, membiarkan dia menanggung malu sendirian, dan sekarang kamu masih berani mengklaim dia milikmu?"

Taufik melangkah maju, menekan kata-katanya. "Kalau aku jadi Fathan, aku pun akan melakukan hal yang sama untuk melindungi wanita itu dari laki-laki pengecut seperti kamu. Sekarang, dia bukan lagi calon istrimu. Dia adalah kakak iparmu. Terimalah kenyataan itu."

Abraham terdiam seribu bahasa. Dada yang tadinya dipenuhi amarah kini terasa kosong.

Ia menyadari bahwa pelariannya bukan hanya menghancurkan hubungannya dengan Humairah, tapi juga telah menyerahkan wanita yang dicintainya ke pelukan pria yang paling ia segani sekaligus ia takuti—kakaknya sendiri.

Lampu-lampu kota mulai menyala, namun ruangan apartemen itu masih terasa remang.

Taufik menatap Abraham yang tampak kerdil di atas sofa mewahnya.

Kata-kata Taufik tadi seolah menjadi cermin retak bagi Abraham—menunjukkan betapa hancurnya harga dirinya sebagai laki-laki.

"Kamu sudah dewasa, Bra. Bukan anak kecil lagi yang bisa lari ke ketiak teman setiap kali ada masalah," lanjut Taufik dengan nada yang tidak lagi sinis, melainkan penuh penekanan.

Taufik berjalan ke arah kulkas, mengambil air mineral, lalu duduk di hadapan sahabatnya itu.

"Apa yang kamu takutkan sebenarnya? Humairah itu wanita baik. Dia bukan wanita penuntut. Kenapa di hari suci itu kamu justru memilih jadi pecundang?"

Abraham menghela napas panjang, jarinya menyisir rambutnya yang berantakan dengan gusar.

"Banyak yang aku takutkan, Fik. Kamu tidak tahu rasanya menjadi anak Kyai besar. Semua mata tertuju padaku."

Ia menunduk, menatap lantai dengan tatapan kosong.

"Aku takut tidak bisa memberikannya rezeki yang layak. Aku takut jika sudah menikah, aku tidak bisa sebebas ini lagi. Dan yang paling membuatku sesak, aku takut punya anak. Aku belum siap memikul beban sebesar itu. Aku takut gagal menjadi ayah,"

Taufik tertegun sejenak, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya.

Bukan tawa mengejek, melainkan tawa yang penuh dengan keheranan.

"Kamu anak Kyai, Bra. Kamu besar di lingkungan pesantren, tapi kenapa kamu justru meragukan Allah?" tanya Taufik sambil menggelengkan kepala.

Taufik meletakkan botol minumnya di meja dengan bunyi tuk yang mantap.

"Aku memang nakal, Bra. Shalatku masih bolong-bolong, aku masih sering main ke kelab malam. Tapi soal rezeki, maut, dan takdir lainnya, aku yakin dengan Allah. Aku tahu Dia yang mengatur segalanya. Sedangkan kamu? Kamu hafal ribuan dalil tapi kamu takut besok makan apa?"

Abraham terdiam. Kata-kata Taufik menghujam jantungnya lebih dalam daripada ceramah mana pun yang pernah ia dengar di pesantren.

"Sekarang nasi sudah jadi bubur," pungkas Taufik.

"Humairah sudah jadi istri Kakakmu. Dia sudah aman di tangan laki-laki yang jauh lebih berani darimu."

Sore itu, langit berubah menjadi warna jingga yang pekat, seolah ikut menggambarkan kegundahan di hati Abraham.

Ia berdiri di balkon, memandang ke arah kejauhan, membayangkan Humairah yang kini mungkin sedang melayani kakaknya.

Ada rasa sesal yang mulai merayap, namun ia sadar, pintu yang ia tutup sendiri itu kini telah dikunci rapat oleh takdir.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!