kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Pagi harinya dikediaman Samsul dan Sitoh.
Kabut tipis masih menggantung rendah di atas genteng. Dilingkari bawah mata sitoh menghitam karena semalaman tidak tidur. Masih teringat kejadian semalam yang hampir merenggut nyawa suaminya....Samsul! dan pagi ini truk besar berhenti dirumah Samsul.
Pintu rumah utama terbuka setengah, Di dalam baunya berubah. Tidak ada lagi bau kemenyan. Yang ada bau anyir tipis, bercampur dengan bau semen basah dan sesuatu yang manis, seperti bunga melati layu.
Suara mesinnya menggelegar, memecah sunyi kampung yang biasanya baru hidup jam tujuh. Dua orang kernet turun, keringat sudah bercucuran padahal matahari belum naik penuh. Di bak truk itu ada tumpukan karung semen, balok kayu jati, keramik mengkilap, dan satu peti kayu panjang yang ditutup rapat. Tidak ada label. Tidak ada nama pengirim.
Pintu rumah utama terbuka setengah.
Di dalam, baunya berubah. Tidak ada lagi bau kemenyan, yang ada hanya bau anyir tipis, bercampur dengan bau semen basah dan sesuatu yang manis, seperti bunga melati layu.
Sitoh dan anak-anaknyanya berdiri di ambang pintu. Badannya masih pakai baju lusuh semalam, rambutnya acak-acakan dan belum sempat diganti.
salah satunya anaknya yang baru beberapa bulan menikah dan masih tinggal dengan ibunya bertanya."Bu, apa yang akan ibu lakukan dengan bahan itu."
"ibu akan membuat toko kelontong kita semakin besar".jawab sitoh pelan
"tapi darimana ibu mendapatkan uang untuk membangun ini semua, padahal pendapatan toko kita tidak banyak". Ragunya ami. Karena dia tahu, kalau pendapatan toko ibunya tidak besar dan apakah ibunya dapat harta warisan, tapi itu tidak mungkin, karena setahunya kakeknya tidak meninggalkan harta warisan.
"kamu tidak perlu tahu, darimana ibu mendapatkannya, yang penting sekarang hidup adikmu terjadi dan tidak kekurangan". Selesai dia mengatakan itu. Salah satu kernet mendekat, garuk kepala. "Ibu Sitoh ya...? Yang pesen barang banyak semalem. Katanya langsung kirim pagi buta, katanya buru-buru." Sitoh tidak menjawab. Dia cuma mengangguk pelan.
Samsul keluar dari dalam. Wajahnya segar, terlalu segar untuk orang yang semalam hampir mati. Dia menepuk bahu kernet itu, suaranya ringan, seperti pedagang yang baru dapat rezeki besar.
"Masukin semua ke gudang belakang. Hati-hati dan jangan sampai rusak."
Kernet itu mengangguk pelan.
Mereka mulai menurunkan barang satu per satu. Karung semen, tumpukan keramik, balok alat lainnya. Tapi setiap kali mereka lewat samping rumah Samsul, hawa dingin langsung menusuk pori-pori mereka, padahal harinya masih pagi.
Sitoh masih berdiri di ambang pintu, tidak beranjak dan Matanya tidak lepas dari bungkusan yang ada ditangannya. Dadanya naik turun pelan, seperti menahan napas yang sudah ditahan sejak semalam. Anak-anak yang melihat barang berdatangan hanya bisa diam.
Mereka mulai menurunkan barang satu per satu. Karung semen, tumpukan keramik, balok alat lainnya. Tapi setiap kali mereka lewat samping rumah Samsul, hawa dingin langsung menusuk pori-pori mereka, padahal harinya masih pagi.
Bukan dingin angin. Lebih seperti berdiri di depan pintu kuburan yang baru dibuka.
Sitoh masih berdiri di ambang pintu, tidak beranjak. Matanya tidak lepas dari bungkusan yang ada di tangannya. Dadanya naik turun pelan, seperti menahan napas yang sudah ditahan sejak semalam. Kain mori itu sudah basah di sudutnya, meski tidak ada air di sekitar.
Samsul keluar lagi, bawa dua gelas teh manis buat kernet. Tapi senyumnya berhenti waktu melihat Sitoh.
"Sudah tohh,,, ayo masuk Biar mereka yang kerja." Sitoh tidak bergerak. Dia cuma mengangkat bungkusan itu sedikit.
Salah satu kernet yang lewat dekatnya tiba-tiba tersandung, padahal tanah di depan pintu rata dan Barang yang dia bawa jatuh. Keramik pecah. Tapi suara pecahnya tidak nyaring, Lebih seperti suara tulang retak.
Samsul melangkah maju cepat, tangannya hampir menyentuh lengan Sitoh.
"Tuh kan.... Sitoh. Lo diam aja di situ malah bikin orang celaka." Suaranya pelan, tapi ada tegang di ujungnya, Bukan marah ke Sitoh Lebih ke takut.
Kernet yang tersandung itu meringis, mengusap lututnya. Keramik di tangannya hancur jadi serpihan kecil, bercecer di tanah yang katanya rata. Yang anehnya, tidak ada yang dengar suara pecah. Yang kedengeran cuma "kretek" pelan, kayak tulang retak di dalam daging.
Sitoh tidak minta maaf, Dia cuma nurunin bungkusan itu perlahan. seolah beratnya bukan barang tapi sesuatu yang lain.
"Mereka kerja," katanya pelan. "Tapi aku juga kerja."
Samsul berhenti, Matanya jatuh ke bungkusan itu. Kain lusuh, tali tambang, dan dari celahnya, bau anyir tipis keluar. Bukan bau ikan. Bau yang dulu pernah dia cium waktu mengangkat bangkai kucing ketabrak di gang belakang.
Salah satu kernet lain mendekat, ngeliatin serpihan keramik.
"Apaan sih, bro? Sialan banget hari ini."
Sitoh mengangkat kepala, Untuk pertama kalinya sejak tadi. dia melihat langsung ke mata Samsul, merah, kosong, tapi ada sesuatu dibelakangnya yang bikin perut mual, bukan marah tapi lebih banyak kayak pasrah.
"Abang.... masuk aja ke dalam, kondisi Abang belum pulih." ucap sitoh pelan, tapi tangannya masih nekan bungkusan itu biar tidak kebuka lebih lebar dan Tali tambangnya sudah lepas satu simpul. Bau anyir itu makin nyebar pas angin masuk lewat pintu belakang.