"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25 Topeng Sengkala
Hawa dingin menyelimuti ruang tengah rumah tua di sudut kota. Di dalam ruangan minim pencahayaan itu, Haidar berdiri tegak menatap layar monitor yang menyala terang. Layar itu menampilkan titik koordinat gudang tua persembunyian Edo, sang Topeng Sengkala.
"Semua jalur pelarian Edo dan para petinggi Black Shadow udah ditutup?" tanya Haidar. Suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan.
"Sudah, Jenderal," jawab Dion sembari mengangguk tegas. "Tim satu sudah siaga di pintu belakang gudang tua basecamp Bima Sakti. Begitu sirene polisi berbunyi, Edo nggak akan punya celah untuk kabur. Tim dua dan tim tiga sudah mulai bergerak, mengepung basecamp Black Shadow."
Haidar mengembuskan napas panjang, lalu memutar tubuhnya--menatap Nara yang duduk terdiam di sudut ruangan.
"Lo tetap di sini, Ra. Jangan keluar dari rumah ini sampai misi kita selesai," ujar Haidar, menyiratkan nada perlindungan yang kuat. "Temen-temen gue bakal menjaga tempat ini dengan ketat. Jadi, lo lebih aman di sini ketimbang di kos."
Nara membawa tubuhnya bangkit. Ia melangkah mendekat, lalu menatap lekat sepasang manik mata Haidar dengan sorot memohon.
"Aku nggak mau. Tolong izinin aku ikut bersama kamu, Haidar," pinta Nara dengan suara yang sedikit bergetar.
"Jangan keras kepala, Ra. Di sana bahaya," tutur Haidar mencoba memberi pengertian.
"Aku tahu!" potong Nara cepat. Ia meremas jemari tangannya sendiri, mencoba mengusir rasa gugup yang mendera. "Tapi aku merasa... jauh lebih tenang dan aman kalau berada di dekat kamu, ketimbang harus berdiam diri di sini sendirian."
Haidar terdiam sesaat. Lantas menarik sudut bibirnya tipis, mendengar pengakuan jujur yang meluncur bebas dari bibir Nara.
.
.
Suasana di gudang tua--basecamp Geng Bima Sakti malam ini terasa sangat berbeda. Ruangan yang biasanya selalu dipenuhi oleh gelak tawa dan omongan jemawa dari Sang Narendra, kini diselimuti oleh atmosfer sunyi yang mencekam.
Sejak kepergian Gea, Xavier lebih sering duduk menyendiri dan diam, ketimbang harus bercanda atau berbincang santai dengan para anggota inti Bima Sakti--tak terkecuali dengan Edo.
"Gue perhatiin, akhir-akhir ini lo banyak diem, Xav. Apa jangan-jangan... lo kangen sama Gea? Atau, pengen gituan lagi sama Sukma?" Edo terkekeh culas, lalu menyesap vape--menikmati kepulan uap beraroma macchiato yang menguar pekat memenuhi seisi ruangan.
Plak!
Refleks, Xavier menggeplak pelan bagian belakang kepala sahabat minim akhlaknya itu. "Jaga mulut lo! Asal lo tahu, gue nyesel setengah mati karena udah ngikutin ide gila dari orang blangsak kayak lo!"
"Ck, nggak usah munafik deh," Edo mendecih sembari mengusap kepalanya. Ia sama sekali tidak merasa bersalah. "Lo pasti seneng kan sebenarnya, karena udah bisa nikmatin tubuh Sukma yang putih bersih, dan pastinya belum terkontaminasi sama cowok mana pun."
"Gue beneran nyesel, brengsek!" Xavier kembali menggeplak kepala Edo. Kali ini pukulannya dilayangkan dengan tenaga yang jauh lebih kuat, meluapkan seluruh kekesalan batin yang sudah lama tertahan di dalam dada.
"Ah, sialan! Sakit, bego!" umpat Edo meringis kesakitan. Namun, sedetik kemudian seringai liciknya kembali terbit di bibir. "Kalau tahu lo bakal nyesel kayak gini, mendingan waktu itu gue aja yang haha-hihi sama Sukma."
"Shit! Brengsek lo!"
Xavier yang sudah benar-benar kehilangan kendali atas batinnya seketika mengamuk. Tanpa memedulikan rasa mual yang masih menggelitik perutnya, ia bergerak secepat kilat merenggut paksa seutas rantai motor cadangan yang tergeletak di dekat perkakas gudang, berniat membungkam mulut Edo dengan rantai itu.
Gelombang suara frekuensi tinggi tiba-tiba menginterupsi paksa gerakan tangannya. Membelah keheningan malam, menggema--mengepung seluruh sudut luar gudang tua.
Sorot lampu rotator merah dan biru menembus celah-celah dinding kayu yang rapuh, menciptakan kepanikan yang teramat luar biasa bagi seluruh anggota Geng Bima Sakti yang berada di dalam basecamp.
Seketika, tawa Edo terhenti. Wajah berandal itu mendadak pias, berganti dengan gurat kepanikan yang teramat kentara. Dan sialnya, ia lengah. Terlalu puas karena berhasil menghancurkan Sang Narendra serta terlupa untuk bersiap menghadapi kemungkinan buruk: penyergapan para abdi negara.
"Ada apa ini? Kenapa polisi mengepung kita?!" cecar Xavier dengan nada tinggi, namun pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh Edo ataupun anggota geng lainnya yang sibuk menyelamatkan diri.
Jelas, Sang Narendra teramat kaget sekaligus heran dengan kedatangan para polisi yang terkesan tiba-tiba itu. Ia merasa teramat yakin jika selama dua bulan terakhir ini, ia dan seluruh barisan gengnya sama sekali tidak pernah lagi membuat ulah ataupun menciptakan keonaran di jalanan kota.
Di luar gudang, Haidar dan timnya sudah bersiap di posisi masing-masing. Bergabung dengan belasan aparat polisi yang mulai bergerak sigap di bawah komando Iptu Akbar, perwira pertama dari Satuan Reserse Kriminal.
Para abdi negara itu bergegas menodongkan senjata api laras pendek, langsung membidik ke arah Edo Malviano Sengkala yang nekat melarikan diri menerobos pintu belakang.
Setelah Edo berhasil diringkus, Haidar dan Nara bergegas melangkah--memasuki area dalam gudang tua yang berdebu. Keduanya berjalan tanpa riak ketakutan, lalu berhenti tepat di hadapan Xavier yang masih berdiri mematung didera kebingungan.
"Xavier," panggil Haidar.
Suara bariton yang terdengar dingin dan berwibawa itu seketika memecah lamunan Xavier. Ia refleks tersentak, mengalihkan perhatian penuh ke arah sosok di depannya--lelaki yang ia ketahui sebagai salah satu anggota andalan dari Geng Black Shadow, musuh bebuyutannya.
"Jadi... lo yang udah bikin kekacauan ini? Lo yang nekat ngelaporin gue sama anak-anak Bima Sakti ke polisi?!" bentak Xavier. Rahangnya mengeras, sepasang matanya menatap tajam, sementara kedua tangannya mengepal kuat. Seolah-olah, ia sudah tidak sabar untuk melayangkan bogem maut ke wajah Haidar.
Haidar tidak bergeming. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ketenangan.
"Bukan gue yang ngelaporin, tapi atasan gue," potong Haidar dengan nada suara yang ditekan rendah. "Orang yang udah ngasih amanah besar ke gue buat menyeret keluar seorang pengkhianat busuk. Manusia bejat yang selama ini udah tega mendorong lo masuk ke dalam lembah jahanam, menghasut lo sampai lo gelap mata dan tega merenggut paksa kesucian Sukma."
Haidar mengambil satu langkah lebih dekat, menatap langsung ke dalam manik mata Xavier yang mulai bergetar hebat.
"Bukan cuma bejat, tapi... manusia paling amoral yang udah merusak masa depan anak-anak Cakrawala dengan bisnis gelapnya. Prostitusi dan drugs. Sang pengkhianat bermuka dua yang selama ini berpura-pura jadi sahabat terbaik lo... Edo Malviano Sengkala."
Rahang Xavier kian mengeras, sepasang matanya memerah pekat karena kobaran api amarah. Dadanya kembang kempis tak beraturan, didera rasa mual yang tiba-tiba kembali bergejolak hebat akibat guncangan batin yang teramat dahsyat.
Sebagai seorang sahabat sekaligus pimpinan geng yang merasa teramat mengenal Edo, tentu ia menolak untuk percaya. Namun, akal sehatnya menggaungkan bahwa apa yang Haidar katakan adalah kebenaran yang tak bisa dinafikan.
"Bangsat!" umpat Xavier menggelegar, meluapkan murka dan keputusasaannya yang membuncah.
Brak!
Ia melayangkan satu pukulan maut berkekuatan penuh, meninju dinding kayu gudang tua hingga hancur berantakan dan menyisakan serpihan yang patah. Buku-buku jarinya seketika robek dan meneteskan darah segar, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih yang meremukkan jiwanya saat ini.
🍁🍁🍁
Bersambung
padahal bagian ini yg aku tunggu..ngarep ada momen kocar kacirnya Edo CS..eh udah lari aja
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier