NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RANTING

​Pengawal kekar dari Keluarga Wang melesat turun bagaikan harimau yang kelaparan. Pedang bajanya yang lebar membelah udara, memancarkan kilatan energi kuning kecokelatan yang tebal. Tekanan dari serangan itu begitu kuat hingga membuat ubin batu di bawah kaki Ji Huang retak-retak. Seringai kemenangan sudah terukir jelas di wajah si pengawal. Di matanya, Tuan Muda Keluarga Ji yang berantakan ini sudah tidak berbeda dengan potongan daging yang siap dicincang.

​Ji Zhen memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata keputusasaan mengalir di pipinya. "Huang'er!" teriaknya dengan suara parau, meratapi nasib anaknya yang dirasa akan tewas mengenaskan sore ini.

​Namun, di tengah badai energi yang menderu-deru, Ji Huang tetap berdiri dengan tegak. Matanya yang sayu tidak berkedip sedikit pun. Baginya, kecepatan tebasan ini sangat menggelikan. Itu bukanlah jurus pedang; itu hanyalah ayunan kasar seorang amatir yang mengandalkan otot.

​Tepat ketika bilah pedang baja itu berada hanya beberapa jengkal dari kepalanya, tangan kanan Ji Huang yang memegang ranting pohon kering bergerak.

​Gerakannya tidak cepat, bahkan terkesan sangat lambat dan asal-asalan, seperti gerakan seorang kakek tua yang sedang mengusir lalat di siang bolong. Ji Huang sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalam atau energi spiritual yang konvensional. Wadah tubuhnya memang kosong dari Qi, tetapi esensi jiwanya adalah perwujudan dari Maksud Pedang Mutlak.

​Saat ranting kering itu dikibaskan, hukum alam di sekitar halaman kediaman Ji seolah-olah membeku. Seluruh kehendak pedang yang ada di dunia fana ini mendadak tunduk pada perintah sebatang kayu rapuh di tangan Ji Huang.

​KLANG!

​Suara benturan yang terdengar bukan seperti kayu yang memukul besi, melainkan seperti dua senjata pusaka tingkat dewa yang saling hantam dengan kekuatan penuh.

​Detik berikutnya, sebuah pemandangan yang menembus batas nalar terjadi. Pedang baja lebar milik si pengawal—senjata tajam yang ditempa dari besi pilihan—mendadak berhenti di udara begitu menyentuh ujung ranting kering Ji Huang. Energi kuning kecokelatan yang menyelimuti bilah pedang itu langsung hancur berantakan seperti kaca yang dilempar batu.

​PRANK!

​Bukan ranting kayu Ji Huang yang patah, melainkan pedang baja besar milik pengawal itu yang pecah berkeping-keping. Retakan menjalar dari ujung bilah hingga ke gagangnya dalam hitungan milidetik, mengubah senjata kokoh tersebut menjadi debu besi yang berhamburan di udara.

​"A-Apa?!" pengawal kekar itu terbelalak, matanya hampir keluar dari rongganya melihat senjata andalannya lenyap menjadi abu.

​Namun, kejutan belum selesai. Sisa gelombang Maksud Pedang dari kibasan malas Ji Huang menjalar melewati debu besi tersebut dan menghantam dada si pengawal dengan telak. Pengawal bertubuh raksasa itu merasa seolah-olah dadanya baru saja dihantam oleh seluruh berat dari sebuah gunung purba.

​BUM!

​Tubuh kekar itu terpental ke belakang sejauh puluhan meter, melesat melewati halaman rumah, dan menghantam sisa tembok gerbang yang sudah runtuh dengan sangat keras. Pengawal itu langsung muntah darah, matanya berputar ke atas, dan tubuhnya merosot ke tanah dalam kondisi pingsan total. Pusat tenaga dalamnya tidak hancur, namun seluruh jalur energinya tersumbat akibat syok yang luar biasa.

​Halaman kediaman Keluarga Ji mendadak sunyi senyap. Kesunyian yang begitu pekat hingga suara jatuhnya sehelai daun pun bisa terdengar dengan jelas.

​Para pelayan yang tadi menutup mata perlahan membuka mata mereka, dan pemandangan di depan mereka membuat rahang mereka jatuh ke tanah. Tuan Muda Wang Jiao yang tadinya tertawa sombong, kini membatu di tempatnya dengan kipas kertas yang terlepas dari genggaman jarinya. Di sampingnya, Penatua Huo dari Sekte Harimau Barat meremang hebat. Sepasang mata tetua sekte itu menatap Ji Huang dengan pandangan penuh kengerian yang mendalam. Sebagai seorang kultivator tingkat tinggi, dia tahu persis apa yang baru saja terjadi.

​Anak muda di depan mereka tidak menggunakan tenaga dalam. Tidak ada gelombang Qi yang keluar dari tubuhnya. Itu berarti, pemuda itu mengalahkan seorang kultivator murni dengan menggunakan hukum pemahaman senjata yang sangat tinggi—tingkatan yang bahkan tidak bisa dicapai oleh ketua sektenya sendiri!

​Ji Zhen, sang ayah, mengucek matanya berkali-kali. Dia melihat anaknya yang masih berdiri tegak, lalu melihat pengawal kekar yang terkapar di kejauhan. "Ini... apakah aku sedang bermimpi?" gumamnya lirih, merasa dunianya baru saja dibalikkan.

​Di tengah-tengah kepanikan mental semua orang, Ji Huang justru menurunkan tangannya. Dia menatap ranting pohon di genggamannya yang kini telah patah menjadi dua bagian akibat tubuh fana ranting tersebut tidak kuat menahan beban dari Maksud Pedang miliknya.

​Wajah tampan Ji Huang langsung merengut. Dia menghela napas panjang dengan ekspresi yang sangat dongkol dan penuh penyesalan.

​"Aduh... patah kan," keluh Ji Huang dengan suara yang cukup keras, memecah keheningan halaman. "Padahal ranting ini punya lengkungan yang sangat pas di ujungnya. Tadi aku berniat menyimpannya di kamar untuk alat penggaruk punggung kalau sedang malas bangun. Benar-benar merugi."

​Ji Huang membuang sisa ranting patah itu ke tanah dengan wajah kecewa, lalu mengalihkan pandangannya ke arah cangkir teh di tangan kirinya. Dia menyesap teh dingin itu sedikit, lalu menguap lebar-lebar seolah-olah tindakan meruntuhkan seorang kultivator tadi tidak lebih melelahkan daripada mengusir nyamuk.

​Dia mengabaikan fakta bahwa dia baru saja melakukan mukjizat yang tidak masuk akal. Di kepalanya saat ini, kehilangan alat penggaruk punggung yang potensial jauh lebih tragis daripada urusan hidup dan mati Keluarga Ji.

​Wang Jiao menelan ludahnya dengan susah payah. Langkah kakinya otomatis mundur satu langkah di belakang Penatua Huo. Suaranya bergetar hebat saat menunjuk Ji Huang. "K-Kamu... siluman apa kamu?! Bagaimana mungkin seorang sampah sepertimu bisa melakukan itu?!"

​Ji Huang menatap Wang Jiao, matanya kembali sayu dan malas. "Sudah kubilang kan, wajah emas? Berisik sekali. Kalau kalian datang ke sini hanya untuk merusak halaman rumah orang dan menghancurkan ranting berhargaku, lebih baik kalian pulang saja. Aku mengantuk, mau lanjut tidur siang."

​Mendengar jawaban yang sangat meremehkan itu, Penatua Huo tahu bahwa situasi ini sudah berada di luar kendali mereka. Pemuda di hadapannya ini bukanlah Tuan Muda sampah yang dirumorkan, melainkan seorang pakar tersembunyi yang sedang mempermainkan mereka dengan gaya bertingkah seperti orang tolol.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!