Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Berujung di Dermaga Hitam
Malam membungkus Pelabuhan Incheon dengan keheningan yang pekat dan aroma garam yang menusuk hidung. Hujan deras yang mengguyur sejak sore telah menyisakan genangan air di sepanjang aspal Dermaga 4, memantulkan pendar remang dari lampu-lampu sorot kapal kontainer di kejauhan. Kabut tebal mulai turun, menyamarkan pergerakan tiga mobil SUV hitam yang melaju tanpa lampu depan, berhenti senyap di balik barisan peti kemas yang terbengkalai.
Pintu mobil tengah terbuka. Cha Jin-wook melangkah keluar dengan mantel panjang hitamnya yang berkibar ditiup angin laut yang kencang. Wajah tampannya sedingin es batu, rahangnya mengencang sempurna dengan sepasang mata elang yang memancarkan aura kematian murni. Di belakangnya, sepuluh anggota tim keamanan komando pusat bergerak tak taktis, mengepung gudang logistik tua beratap seng yang berada di ujung dermaga.
Di dalam gudang itu, Kang Min-woo sedang berjalan mondar-mandir seperti binatang buruan yang terpojok. Ponsel murah di tangannya mati total sejak dua jam lalu. Jam dinding berkarat menunjukkan pukul 23.00 KST, dan kedua preman yang ia utus ke Hannam-dong sama sekali belum memberikan kabar kemenangan.
"Mengapa lama sekali?!" desis Min-woo parau, meremas rambutnya yang acak-acakan. "Han Ji-an seharusnya sudah mati keguguran sekarang! Mengapa tidak ada berita di media?!"
BRAKKK!
Pintu besi besar gudang itu hancur berantakan, terlempar ke dalam ruang kosong akibat hantaman ram taktis tim keamanan.
Sebelum Min-woo sempat berteriak, empat lampu sorot berdaya tinggi dari luar langsung dinyalakan, menembus kegelapan gudang dan membutakan pandangan Min-woo seketika. Ia terhuyung mundur, menutupi matanya yang perih dengan sebelah tangan.
Dari balik siluet pendar cahaya yang menyilaukan itu, Cha Jin-wook melangkah masuk. Langkah kakinya yang berat bergaung di atas lantai beton, terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi sisa hidup Kang Min-woo.
"K-Kau..." Min-woo membelalakkan matanya yang memerah saat mengenali sosok tegap yang berdiri di hadapannya. Jiwanya yang sudah digerogoti kegilaan seketika diselimuti ketakutan yang luar biasa.
Jin-wook berhenti tepat lima langkah di depan Min-woo. Ia tidak membawa senjata, namun kehadiran fisiknya yang dominan sudah cukup untuk menekan sisa kewarasan mantan suami istrinya itu.
"Kau mencari kedua orang suruhanmu, Kang Min-woo?" suara Jin-wook terdengar sangat rendah, bergetar menahan luapan amarah yang bisa meledak kapan saja. "Mereka saat ini sedang menikmati sel isolasi kejaksaan tinggi setelah menyerahkan seluruh rekaman suaramu dan botol racun arsenik yang kau berikan."
Min-woo tertawa getir, sebuah tawa kosong yang terdengar histeris di dalam gudang yang sepi. Ia mundur hingga punggungnya membentur tumpukan palet kayu. "Jadi mereka gagal? Han Ji-an... wanita jalang itu masih selamat?! Mengapa dia selalu beruntung?! Mengapa dia harus merebut semua yang aku miliki?!"
BUKKK!
Satu pukulan mentah dari tangan kanan Jin-wook mendarat telak di rahang Min-woo sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Kekuatan pukulan Jin-wook membuat Min-woo terlempar ke lantai, memuntahkan darah segar dari sudut bibirnya.
Jin-wook tidak membiarkan Min-woo bernapas. Ia melangkah maju, mencengkeram kerah jaket kotor Min-woo dengan satu tangan, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga kedua kakinya hampir tidak menyentuh lantai.
"Jangan pernah berani menyebut namanya dengan mulut kotarmu yang menjijikkan itu," desis Jin-wook tepat di depan wajah Min-woo, matanya berkilat penuh racun dendam yang mematikan. "Kau mencoba membunuh anakku? Kau mencoba menyentuh wanita yang menjadi seluruh napas hidupku? Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup setelah ini?"
"Bunuh saja aku!" teriak Min-woo gila, meludah darah ke arah mantel Jin-wook. "Bunuh aku sekarang, Cha Jin-wook! Jika aku mati, Han Ji-an akan selamanya mengingat bahwa ada seorang pria yang mengutuk kehamilannya hingga akhir hayat!"
Jin-wook menatap Min-woo dengan pandangan meremehkan yang begitu dingin, perlahan menyunggingkan senyuman miring yang sangat kejam.
"Mati? Itu terlalu mudah untuk tikus sepertimu, Min-woo ya," Jin-wook menghempaskan tubuh Min-woo kembali ke lantai beton dengan kasar. Ia berdiri tegak, merapikan lengan kemejanya yang sedikit berkerut, lalu berbalik memunggungi Min-woo.
"Aku tidak akan mengotori tanganku untuk membuatmu menjadi martir di hadapan hukum. Aku sudah menyiapkan tempat yang jauh lebih indah untuk sisa hidupmu," ujar Jin-wook dingin.
Sekretaris Kim melangkah maju membawa seberkas dokumen resmi berkepala surat dari Lembaga Pemasyarakatan Khusus Pulau Baengnyeong—sebuah pulau terpencil di perbatasan paling utara yang dikenal sebagai tempat penahanan narapidana kejahatan negara tanpa hak remisi atau kunjungan seumur hidup.
"Dakwaanmu malam ini bukan lagi sekadar percobaan pembunuhan, Kang Min-woo," Sekretaris Kim menjelaskan dengan nada formal yang kejam. "Tim hukum Cha Group telah menghubungkan sisa aset logistik lamamu dengan jaringan penyelundupan bahan kimia ilegal internasional yang dibekukan dua tahun lalu. Kau akan divonis atas pasal terorisme korporasi dan sabotase keamanan nasional."
Min-woo tertegun, matanya melebar penuh horor. Itu artinya, ia tidak akan pernah melihat dunia luar lagi. Ia akan dibusukkan di dalam sel bawah tanah di pulau terisolasi tanpa ada satu pun orang yang tahu ia masih hidup atau sudah mati.
"Bawa dia pergi," perintah Jin-wook tanpa menoleh sedikit pun.
Dua pengawal bertubuh kekar langsung menyeret Min-woo yang mulai berteriak histeris dan meronta-ronta menembus kegelapan malam dermaga, mengakhiri seluruh sisa obsesi dan dendam hitam yang selama ini mengusik kebahagiaan Hannam-dong.
Dua jam kemudian, pukul 02.00 KST.
Mobil Bentley Jin-wook kembali memasuki gerbang kompleks Hannam-dong dengan pengawalan yang super ketat. Jin-wook melangkah keluar dari lift pribadi, melintasi koridor penthouse yang sunyi, dan langsung menuju kamar tidur utama.
Ia membuka pintu dengan sangat perlahan. Di dalam kamar yang remang-remang, Han Ji-an ternyata tidak sedang tidur. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan jubah tidur sutranya, memeluk kedua lututnya dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas.
Melihat Jin-wook masuk, Ji-an langsung berdiri dan berlari kecil mendekati suaminya.
"Jin-wook ya!"
Jin-wook tidak berkata apa-apa. Ia langsung menangkap tubuh Ji-an ke dalam dekapan posesifnya yang luar biasa erat, membenamkan wajahnya di rambut harum sang istri seolah sedang mengisi kembali seluruh energinya yang terkuras habis oleh amarah malam ini. Tubuh kekarnya yang tegap sedikit bergetar, menyalurkan rasa takut kehilangan yang amat pekat yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng dinginnya.
"Kau dari mana? Sekretaris Kim bilang kau ada urusan logistik, tapi... tapi instingku bilang kau pergi menghadapi bahaya," bisik Ji-an, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat mencium aroma angin laut dan sisa ketegangan dari tubuh suaminya.
Jin-wook melepaskan pelukannya sedikit, membingkai wajah cantik Ji-an dengan kedua tangan besarnya yang hangat. Ia menatap lekat sepasang mata istrinya, lalu perlahan turun menatap perut rata Ji-an yang berharga.
"Semuanya sudah berakhir, Ji-an. Benar-benar berakhir," suara Jin-wook melembut, dipenuhi kehangatan romantis ala drakor yang selalu berhasil menenangkan jiwa Ji-an. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi kabut dari masa lalu, tidak akan ada lagi tikus dari Jeju atau Incheon yang bisa menyentuhmu atau anak-anak kita. Aku sudah mengubur mereka semua."
Jin-wook menunduk, meraup bibir Ji-an dalam sebuah ciuman yang sangat intens, panas, namun sarat akan rasa syukur yang membumbung tinggi. Ciuman itu menjadi segel penutup dari seluruh badai yang telah mereka lalui bersama. Tangan Jin-wook berpindah ke pinggang Ji-an, menariknya semakin rapat, mendeklarasikan kemenangan mutlak atas aliansi cinta mereka yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih karena tetap aman untukku, Nyonya Cha," bisik Jin-wook di sela ciuman mereka, tersenyum miring seksi yang membuat jantung Ji-an berdegup kencang kembali ke dalam ritme kedamaian yang manis.
Musuh terakhir telah tumbang secara tragis! Kini saatnya menyambut masa depan baru yang dipenuhi kemegahan dan kebahagiaan keluarga besar Cha Group.
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️