NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13: Jejak Darah di Balik Kepura-puraan

Suasana di halaman rumah berubah menjadi hening yang mencekam. Kabar kaburnya Tuan Handoko bagaikan badai besar yang menghantam ketenangan yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Wajah semua orang yang ada di sana pucat pasi, napas mereka tertahan, dan rasa takut perlahan menjalar ke setiap sudut hati. Musuh terbesar mereka, orang yang rela melakukan apa saja demi dendam, kini kembali bebas, bergerak di tempat yang tidak diketahui, dan pasti sedang menyusun rencana yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.

Petugas polisi segera menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil. Mereka akan menempatkan penjaga keamanan tambahan di sekitar rumah besar keluarga Ardiansyah, memasang pos pengawasan di setiap jalan masuk desa, dan menyebarkan daftar pencarian orang ke seluruh kota serta daerah sekitarnya. Namun meskipun begitu, tidak ada satu orang pun yang merasa benar-benar aman. Semua orang tahu, Tuan Handoko bukan orang biasa. Ia cerdas, licik, punya banyak koneksi gelap, dan tahu persis kelemahan serta kebiasaan setiap orang yang menjadi musuhnya.

Setelah polisi dan Pak Haris berpamitan pergi, meninggalkan dua petugas penjaga di gerbang rumah, suasana di dalam rumah menjadi jauh lebih tegang dari sebelumnya. Lira duduk di ruang tengah, tubuhnya gemetar hebat, pikirannya kacau balau. Bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan di kepalanya: bayangan Tuan Handoko yang masuk diam-diam di malam hari, bayangan orang-orang suruhannya yang menyerang secara tiba-tiba, bayangan kehilangan orang-orang yang dicintainya lagi untuk kedua kalinya.

Raga duduk di sampingnya, memegang tangan Lira erat-erat, berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan. Meski di dalam hatinya ia juga merasa cemas dan marah, ia tidak boleh membiarkan rasa itu terlihat. Ia harus tetap menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi Lira dan semua orang yang ada di rumah itu.

“Jangan takut, Lira. Ada penjaga di luar, pintu dan jendela sudah dikunci rapat, dan aku tidak akan beranjak sedikit pun dari sisimu. Dia tidak akan bisa masuk ke sini dengan mudah, apalagi dia tahu kita sudah siap menghadapinya,” bisik Raga lembut, mencoba menenangkan hati wanita itu.

Lira menoleh, menatap mata Raga yang teduh namun penuh kewaspadaan, lalu mengangguk pelan.

“Aku tahu, Mas. Tapi aku tidak bisa tidak takut… Dia sudah kabur, artinya tidak ada lagi hukum, tidak ada lagi aturan yang mengikatnya. Dia bisa melakukan apa saja, ke mana saja, kapan saja… Dan yang paling mengerikan, dia tahu segalanya tentang kita. Dia tahu tempat persembunyian kita, dia tahu orang yang kita percayai, dia tahu kelemahan kita semua…”

“Karena itulah kita harus lebih waspada dari sebelumnya. Kita tidak boleh lengah sedetik pun, dan kita harus segera mencari tahu ke mana dia pergi, siapa yang membantunya, serta apa tujuan utamanya yang sebenarnya,” jawab Raga tegas.

Saat mereka sedang berbincang, Bu Sumi masuk ke ruang tengah membawa secangkir teh hangat, namun kali ini gerakannya tidak lagi seperti biasanya. Langkahnya tergesa-gesa, pandangannya selalu menghindar saat bertemu mata dengan mereka, dan tangannya sedikit gemetar saat meletakkan cangkir di atas meja.

“Minumlah ini, Nona, Mas Raga… Supaya hati kalian sedikit lebih tenang,” kata Bu Sumi dengan suara yang terdengar kaku dan tidak wajar, lalu segera berbalik badan seolah ingin segera pergi dari sana.

Namun sebelum Bu Sumi sempat melangkah keluar, Raga tiba-tiba bersuara, nadanya dingin dan penuh perhatian, membuat langkah wanita tua itu seketika berhenti kaku di tempat.

“Bu Sumi, tadi saat polisi memberitahu kabar itu… Aku melihat Ibu berdiri di balik jendela dapur. Saat semua orang kaget dan ketakutan, kenapa wajah Ibu terlihat berbeda? Kenapa tidak ada rasa kaget sedikit pun di sana? Malah… seolah Ibu sudah tahu hal itu akan terjadi,” kata Raga perlahan, setiap kata diucapkan dengan jelas dan tajam, seolah jarum yang menusuk perlahan ke hati Bu Sumi.

Tubuh Bu Sumi menegang keras, bahunya berguncang pelan. Ia tidak segera berbalik badan, ia tetap membelakangi mereka, namun suara gemetar keluar dari mulutnya.

“Maaf, Mas Raga… Aku tidak mengerti maksud ucapanmu. Aku juga kaget, aku juga takut sama seperti kalian semua. Aku hanya… aku hanya terlalu kaget sampai tidak bisa bereaksi apa-apa saat itu saja,” jawab Bu Sumi, namun nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang berusaha keras menutupi kebohongan.

Lira yang sejak tadi sudah curiga, kini menatap punggung Bu Sumi dengan pandangan yang sakit hati namun penuh kesungguhan. Semua keanehan yang terjadi belakangan ini, semua reaksi yang tidak wajar, semua hal yang disembunyikan Bu Sumi, kini berkumpul menjadi satu benang merah yang mengerikan di kepalanya.

“Bu Sumi… Berbaliklah dan tatap mata kami,” kata Lira dengan suara lembut namun penuh kekuatan. “Selama ini aku percaya padamu seperti ibuku sendiri. Aku menganggapmu keluarga, aku berhutang nyawa padamu karena sudah merawatku dari kecil. Tapi banyak hal yang membuatku ragu sekarang. Saat aku bertanya tentang rahasia terakhir ibuku, kamu gugup dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. Saat Pak Budi datang melapor, kamu terlihat gelisah. Dan sekarang, saat kabar paling mengerikan datang, kamu malah terlihat sudah tahu semuanya. Coba jelaskan pada kami, Bu. Katakan sejujurnya, apakah ada hal yang kamu sembunyikan dari kami? Apakah kamu tahu sesuatu tentang rencana Tuan Handoko? Atau… apakah kamu sebenarnya sudah bekerja sama dengannya selama ini?”

Kalimat terakhir itu keluar dari mulut Lira dengan susah payah, penuh rasa sakit hati yang luar biasa. Ia berharap sekali Bu Sumi akan segera menyangkalnya, akan segera berkata bahwa semua itu salah paham, akan segera membuktikan bahwa ia benar-benar setia.

Namun, detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Bu Sumi tidak menjawab, tidak menyangkal, dan tidak berbalik badan. Tubuhnya semakin gemetar hebat, dan perlahan, terdengar suara isak tangis pelan yang keluar dari mulutnya.

Pemandangan itu sudah menjadi jawaban yang paling jelas. Hati Lira terasa hancur berkeping-keping, napasnya sesak, matanya berkaca-kaca karena rasa sakit yang tidak terkira. Orang yang paling ia percayai, orang yang paling dekat dengannya, orang yang dianggapnya pelindung terkuatnya… ternyata juga adalah orang yang menyembunyikan rahasia, mungkin bahkan orang yang berkhianat.

“Benar…” suara Bu Sumi terdengar parau dan tersendat di tengah isak tangisnya, kata itu keluar dengan sangat berat, seolah setiap hurufnya menyakiti hatinya sendiri. “Benar, Nona… Aku tahu semuanya. Aku tahu Tuan Handoko akan kabur, aku tahu dia punya rencana cadangan, dan aku memang menyembunyikan banyak hal dari kalian berdua… Maafkan aku… Maafkan aku sebesar-besarnya…”

Lira merasa kakinya lemas, ia hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Raga di sampingnya. Dunia yang selama ini ia yakini benar-benar runtuh di depan matanya.

“Kenapa, Bu? Kenapa kamu melakukan itu? Aku sudah menganggapmu ibuku sendiri, aku sudah memberikan kepercayaan penuh padamu… Kenapa kamu tega membohongiku, menyakitiku, dan membantu orang yang sudah menghancurkan hidup keluargaku?” tanya Lira dengan suara menangis, campuran rasa marah dan rasa kecewa yang meledak-ledak di dadanya.

Bu Sumi perlahan berbalik badan, wajahnya penuh air mata, tatapannya penuh rasa bersalah dan kepedihan yang luar biasa. Ia jatuh berlutut di lantai di hadapan Lira dan Raga, kedua tangannya merapat ke dada seolah sedang memohon ampunan yang tidak mungkin didapatkannya.

“Bukan karena aku membencimu, Nona! Bukan karena aku setia pada Tuan Handoko! Aku melakukan semua ini karena terpaksa, karena aku tidak punya pilihan lain!” teriak Bu Sumi dengan suara keras dan putus asa. “Lima belas tahun yang lalu… Sebelum Tuan Handoko mulai melakukan kejahatannya, sebelum dia mulai mengejar kekayaan dan dendam itu… Dia menangkap anakku, anakku satu-satunya yang tinggal di desa sebelah. Dia menculiknya, mengurungnya di tempat yang tidak aku ketahui, dan dia mengancam akan membunuh anakku di depanku jika aku tidak mau bekerja untuknya, jika aku tidak mau melaporkan setiap gerak-gerik keluarga Ardiansyah, jika aku tidak mau menyembunyikan rahasia-rahasianya!”

Air mata mengalir deras di wajah tua Bu Sumi, suaranya pecah karena rasa sakit masa lalu yang kembali terungkap.

“Dia bilang padaku: ‘Sumi, kamu punya dua pilihan. Kamu mati bersama anakmu sekarang, atau kamu hidup dan menyelamatkan nyawa anakmu dengan menjadi mata-mataku di rumah itu. Kamu harus melayani mereka, kamu harus terlihat setia, tapi semua hal yang mereka bicarakan, semua hal yang mereka rencanakan, semua barang berharga yang mereka miliki, harus kamu laporkan kepadaku.’ Aku tidak punya pilihan, Nona! Aku adalah ibu, aku tidak rela melihat anakku sendiri mati dibunuh begitu saja. Aku terpaksa menerima tawaran itu, terpaksa menjadi orang jahat di balik kedok pelayan setia, hanya demi melihat anakku tetap hidup dan selamat…”

Lira dan Raga saling pandang dengan kaget luar biasa. Mereka tidak menyangka ada kisah sedih dan paksaan yang tersembunyi di balik semua ini. Rasa marah di hati Lira perlahan berkurang, digantikan oleh rasa iba dan rasa sedih yang mendalam. Ia bisa mengerti perasaan seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi anaknya, betapa berat beban yang harus dipikul Bu Sumi sendirian selama lima belas tahun itu, betapa sakitnya harus membohongi orang yang dicintainya setiap hari, hanya demi keselamatan orang yang paling berharga di hidupnya.

“Lalu… di mana anakmu sekarang, Bu?” tanya Raga dengan nada lembut, tidak lagi penuh kecurigaan atau kemarahan.

“Dia masih hidup… Dia masih ditahan oleh orang suruhan Tuan Handoko sampai sekarang. Setiap beberapa bulan sekali, aku diperbolehkan melihatnya sebentar saja, hanya untuk memastikan dia masih hidup, asal aku terus melakukan apa yang diperintahkan Tuan Handoko,” jawab Bu Sumi sambil menangis tersedu-sedu. “Selama ini aku melaporkan hal-hal yang tidak penting saja, hal-hal yang tidak membahayakan nyawa kalian. Hal-hal yang berbahaya, hal-hal yang menyangkut keselamatan Nona, hal-hal yang penting… Aku selalu menyembunyikan, aku selalu berbohong pada Tuan Handoko, meskipun aku tahu jika dia tahu, nyawa anakku dan nyawaku sendiri akan melayang seketika. Aku sudah berusaha melindungi Nona sebisa mungkin di tengah posisi yang sulit ini…”

Bu Sumi mengangkat wajahnya, menatap Lira dengan pandangan penuh rasa bersalah.

“Nona… Saat Bu Ratih meninggal, saat dia memberikan kunci cadangan itu padaku, dia sebenarnya sudah tahu semuanya. Dia tahu aku dipaksa menjadi mata-mata, dia tahu posisiku sulit, dia tahu aku sebenarnya orang yang baik dan setia di dalam hati. Itulah sebabnya dia tetap mempercayaiku, tetap memperlakukanku dengan baik, dan dia berpesan padaku: ‘Sumi, aku tahu kamu tidak jahat. Teruslah bertahan, lindungilah anakku sebisa kamu. Suatu hari nanti, semua beban ini akan terangkat, dan kamu akan bebas dari semua ancaman ini.’ Bu Ratih… dia orang yang begitu mulia, dia tahu semuanya tapi dia tidak pernah menyalahkan atau membenci aku sedikit pun…”

Mendengar itu, air mata Lira semakin deras mengalir. Ia teringat kembali betapa bijaksana dan mulianya sifat ibunya dulu, betapa ia selalu bisa memahami hati orang lain meskipun orang itu berbuat salah atau berada di posisi yang sulit. Rasa sakit hati yang tersisa di hatinya akhirnya lenyap sepenuhnya. Ia segera berlutut di hadapan Bu Sumi, lalu memeluk tubuh wanita tua itu dengan erat, menangis bersama-sama.

“Bu Sumi… Maafkan aku… Maafkan aku karena sempat mencurigaimu, sempat membencimu, sempat mengira kamu orang jahat. Aku tidak tahu beban berat yang kamu pikul sendirian selama ini… Aku tidak tahu betapa sakit dan sulitnya posisimu… Kamu tidak salah, Bu. Kamu hanya seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya, itu bukan dosa, itu bukan kejahatan. Yang salah hanyalah Tuan Handoko, orang kejam yang memaksa dan menyiksa orang lain demi keinginannya sendiri…”

Bu Sumi terkejut luar biasa, ia tidak menyangka Lira akan memaafkannya begitu mudah, akan memeluknya dan menyebutnya tidak bersalah. Ia segera membalas pelukan itu dengan erat, menangis sejadi-jadinya seolah melepaskan semua beban yang menumpuk di dadanya selama lima belas tahun yang panjang itu.

“Terima kasih… Terima kasih, Nona… Terima kasih sudah mengerti, sudah memaafkan, dan tidak membenci aku… Aku siap melakukan apa saja sekarang, aku siap membantu kalian menangkap Tuan Handoko, aku siap memberitahu semua rahasianya, semua tempat persembunyiannya, semua orang suruhannya, asal kalian mau membantu aku menyelamatkan anakku… Aku sudah tidak kuat lagi menanggung semua ini sendirian…”

Raga menghela napas panjang, lalu ikut berjongkok di samping mereka berdua, menepuk-nepuk bahu mereka dengan lembut.

“Tenanglah, Bu Sumi. Mulai sekarang, kamu tidak sendirian lagi. Kamu bukan lagi musuh, kamu bukan lagi mata-mata paksaan. Kamu adalah keluarga kami, orang yang kami percayai dan lindungi. Kami akan membantu kamu menyelamatkan anakmu, kami akan mengalahkan Tuan Handoko, kami akan mengakhiri semua penderitaan ini untuk selamanya. Dan karena kamu sudah jujur dan mau membantu kami, kami akan melindungimu dan anakmu dengan nyawa kami sendiri.”

Setelah suasana tenang kembali, Bu Sumi mengusap air matanya, lalu menatap mereka berdua dengan pandangan yang serius dan tegas, kini sudah tidak ada lagi rasa takut atau rasa bersalah yang menahan dirinya.

“Baiklah, Mas Raga, Nona Lira. Sekarang aku akan memberitahu kalian semua hal yang aku ketahui, semua rahasia yang selama ini aku simpan, semua rencana jahat Tuan Handoko yang belum terungkap. Aku tahu tempat persembunyian rahasianya yang tidak diketahui polisi, aku tahu siapa saja orang penting yang masih bekerja untuknya, dan aku tahu apa tujuan utamanya yang sesungguhnya, tujuan yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada sekadar merebut harta atau membalas dendam semata.”

Mata Raga dan Lira terbelalak kaget. Akhirnya, mereka akan mengetahui kebenaran terakhir yang selama ini disembunyikan, kebenaran yang mungkin menjadi kunci utama untuk mengakhiri semua masalah ini selamanya.

“Katakanlah semuanya, Bu. Kami siap mendengarkan,” kata Raga dengan suara tegas.

Bu Sumi menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara rendah namun jelas, membuka tirai kegelapan yang selama ini menutupi kebenaran yang paling mengerikan itu.

“Tuan Handoko tidak hanya menginginkan harta keluarga Ardiansyah, dan tidak hanya ingin membalas dendam pada kakek kalian. Semua itu hanya bagian kecil saja dari tujuannya. Tujuan utamanya adalah sesuatu yang tersembunyi di balik sejarah keluarga yang sudah ratusan tahun lamanya… Di bawah tanah rumah besar ini, dan di bawah tanah perkebunan luas milik keluarga kita, tersembunyi sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang ditinggalkan oleh leluhur keluarga kita beratus tahun yang lalu. Sesuatu yang memiliki kekuatan besar, kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya, dan rahasia yang bisa mengubah nasib siapa pun yang memilikinya. Dan Tuan Handoko sudah mencari benda itu seumur hidupnya, dia rela menghancurkan siapa saja, rela melakukan kejahatan apa saja, hanya untuk mendapatkan benda itu.”

Lira dan Raga saling pandang dengan wajah penuh keterkejutan. Mereka sama sekali tidak tahu hal itu, sama sekali tidak menyangka ada harta karun atau rahasia besar yang tersembunyi tepat di bawah tanah tempat mereka tinggal selama ini.

“Dan yang paling penting…” lanjut Bu Sumi dengan suara yang semakin rendah dan penuh rasa ngeri, “benda itu tidak bisa diambil atau dibuka sembarangan. Hanya darah keturunan murni keluarga Ardiansyah yang bisa membuka jalan masuk ke sana, dan hanya gabungan darah keturunan Ardiansyah dan keturunan Handoko yang bisa mengaktifkan kekuatan di dalamnya. Itulah sebabnya dia mengejarmu, Nona Lira. Itulah sebabnya dia dulu berusaha menjodohkan Mas Raga denganmu. Dia tidak hanya ingin menghancurkan kalian, dia ingin menggabungkan darah kedua keluarga itu, supaya dia bisa mendapatkan akses penuh ke benda rahasia itu, dan menguasai segalanya sendirian.”

Panas dingin menjalar di seluruh tubuh Lira dan Raga. Ternyata semua kejadian, semua pertemuan, semua perpisahan, semua bahaya yang mereka alami selama ini, semuanya sudah diatur dan direncanakan dengan matang demi satu tujuan besar itu. Mereka bukan hanya korban dendam pribadi, mereka hanyalah bagian dari rencana jahat yang jauh lebih besar dan tua daripada usia mereka sendiri.

“Dan sekarang, karena dia sudah kabur dan sudah bebas kembali… Dia pasti akan segera melakukan langkah terakhirnya. Dia akan datang ke sini, ke rumah ini, untuk mencari jalan masuk ke tempat rahasia itu. Dan dia tidak akan ragu untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya, termasuk kita semua,” kata Bu Sumi dengan suara gemetar.

Di luar rumah, langit perlahan berubah menjadi gelap, awan hitam tebal mulai menutupi sinar matahari, dan angin kencang mulai bertiup, membawa aroma hujan yang lebat dan suasana yang mencekam. Seolah alam pun tahu bahwa pertarungan terbesar dan terakhir mereka sudah semakin dekat, bahwa bahaya terbesar sudah berada tepat di depan pintu, siap menyerang kapan saja.

Namun kali ini, Lira dan Raga tidak lagi sendirian. Mereka sudah punya kebenaran di tangan, mereka sudah punya Bu Sumi yang setia sepenuh hati, mereka sudah saling percaya tanpa ada rahasia lagi, dan mereka sudah siap menghadapi musuh terbesar itu dengan kekuatan persatuan dan keberanian yang baru.

Pertarungan bukan lagi sekadar mempertahankan nyawa atau harta, tapi pertarungan untuk melindungi rahasia leluhur, untuk menyelamatkan orang yang mereka cintai, dan untuk mengakhiri lingkaran kejahatan yang sudah berlangsung ratusan tahun itu sampai ke akar-akarnya.

 

(Bersambung ke Episode 14)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!