seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anak dari proyek Elysium
Ruangan bawah tanah itu terasa semakin dingin.
Lampu merah berkedip pelan di sepanjang dinding laboratorium tua, menciptakan bayangan bergerak yang membuat suasana terasa tidak nyata.
Alya berdiri membeku.
Kata-kata Kaizer terus bergema di kepalanya.
“Dia menciptakanmu untuk Elysium.”
“A-apa maksudmu…?”
Suaranya bergetar kecil.
Layar hologram memperlihatkan wajah Kaizer yang tenang seperti biasa. Tatapan pria itu tajam, namun anehnya tidak terlihat sedang bercanda.
Reno melangkah maju sedikit.
“Cukup.”
Nada suaranya dingin.
“Berhenti memainkan pikirannya.”
Kaizer melirik Reno sekilas.
“Kalau aku ingin memainkan pikirannya, aku sudah melakukannya sejak lama.”
Tatapannya kembali pada Alya.
“Bukankah kau juga mulai merasakannya?”
Tubuh Alya menegang.
Ia memang merasakannya.
Suara-suara sistem.
Koneksi aneh dengan teknologi.
Dan memori yang bukan miliknya.
Namun—
“Itu tidak berarti Ayah memanfaatkanku!”
Kaizer tersenyum tipis.
“Benarkah?”
Layar hologram di belakangnya berubah.
Muncul file lama Zenith.
Kode-kode data bergerak cepat.
Lalu sebuah dokumen terbuka.
PROJECT ELYSIUM – HOST CANDIDATE.
Dan di bawahnya—
nama Alya.
Jantung Alya terasa jatuh.
“Tidak…”
Tanggal di dokumen itu bahkan lebih tua dari sebagian ingatannya sendiri.
Hana menelan ludah pelan.
“Ini… sudah direncanakan sejak dulu?”
Reno menatap layar tanpa ekspresi.
Namun matanya perlahan berubah gelap.
Kaizer melanjutkan:
“Arman adalah ilmuwan terbaik Zenith.”
“Dia memahami Elysium lebih baik daripada siapa pun.”
Layar berubah lagi.
Kini muncul video laboratorium lama.
Arman terlihat sedang berbicara dengan beberapa peneliti.
Di belakangnya terdapat tabung neural bercahaya biru.
“Elysium membutuhkan sinkronisasi emosional alami,” suara Arman di rekaman terdengar jelas. “Bukan paksaan.”
Seorang peneliti lain membalas:
“Itu terlalu berisiko.”
“Tidak,” jawab Arman. “Justru itu satu-satunya cara.”
Video berhenti.
Kaizer menatap Alya lagi.
“Ayahmu percaya manusia tidak bisa dipaksa menyatu dengan Elysium.”
“Jadi dia mencari seseorang yang bisa tumbuh bersama inti itu secara alami.”
Napas Alya mulai tidak teratur.
“Berhenti…”
Namun Kaizer terus bicara.
“Dan kemudian…”
Layar berubah sekali lagi.
Foto lama muncul.
Arman sedang menggendong bayi kecil.
Alya.
Kalung biru kecil sudah tergantung di leher bayi itu.
Mata Alya membesar.
Tubuhnya terasa dingin.
“Tidak…”
Hana bahkan tidak bisa bicara lagi.
Sementara Reno hanya menatap layar dengan rahang menegang keras.
“Alya,” kata Kaizer pelan. “Kau bukan korban kecelakaan.”
“Kau adalah inti proyek itu sejak awal.”
BRAKK!
Alya tiba-tiba menghantam layar hologram dengan tangannya.
Gambar Kaizer pecah menjadi statis.
“DIAM!”
Seluruh ruangan langsung bergetar.
Gelombang energi biru meledak dari tubuh Alya.
Lampu pecah.
Terminal error.
Kabel neural di langit-langit menyala liar.
WARNING. NEURAL SURGE DETECTED.
Reno langsung bergerak cepat.
“Alya!”
Namun Alya mundur.
Matanya mulai dipenuhi cahaya biru samar.
“Aku tidak percaya…”
Suaranya bergetar.
“Ayah tidak mungkin melakukan itu…”
Kaizer muncul lagi di layar lain.
“Kalau begitu kenapa inti Elysium langsung memilihmu?”
“Karena aku anaknya!”
“Tidak.”
Tatapan Kaizer menusuk tajam.
“Karena kau diciptakan untuk kompatibel.”
Hening.
Kalimat itu terasa menghancurkan sesuatu dalam diri Alya.
Semua kenangan masa kecilnya tiba-tiba terasa aneh.
Kenapa ayahnya selalu melindunginya berlebihan?
Kenapa ia sering sakit saat kecil?
Kenapa ia selalu merasa “berbeda”?
Dan sekarang…
semuanya mulai memiliki jawaban yang mengerikan.
“Aku bukan eksperimen…” bisiknya lemah.
Namun suara sistem di kepalanya justru menjawab.
> Host utama terkonfirmasi.
Sinkronisasi emosional meningkat.
Aktivasi Elysium: 39%.
“Agh—!”
Alya memegangi kepalanya.
Rasa sakit menusuk muncul tiba-tiba.
Potongan-potongan gambar asing mulai memenuhi pikirannya.
Laboratorium putih.
Tangisan bayi.
Suara mesin.
Dan—
suara Arman.
> “Kalau ini berhasil… dia akan hidup normal.”
Mata Alya membesar.
“Itu…”
Reno langsung sadar.
“Memori neural.”
Hana panik.
“Kenapa dia terus dapat flashback aneh begitu?!”
“Karena inti Elysium menyimpan jejak data lama.”
Alya jatuh berlutut.
Kepalanya terasa seperti akan pecah.
Dan gambar-gambar itu semakin jelas.
Ia melihat Arman berdebat dengan Kaizer muda di laboratorium.
“Kau tidak mengerti apa yang kau lakukan!” bentak Kaizer.
“Aku justru mencoba menghentikanmu,” balas Arman.
“Elysium bisa mengubah dunia!”
“Dengan mengorbankan manusia?!”
Lalu gambar berubah lagi.
Arman memegang bayi Alya sambil memasukkan cahaya biru kecil ke kalungnya.
Tangannya gemetar.
Dan matanya penuh rasa bersalah.
Air mata Alya jatuh perlahan.
“Ayah…”
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Marah?
Sedih?
Takut?
Semuanya bercampur jadi satu.
Reno berjalan mendekat perlahan.
“Alya.”
Namun Alya justru mundur lagi.
“Jadi dia memang menjadikanku eksperimen…”
“Tidak sesederhana itu.”
“Lalu apa?!”
Suaranya pecah.
“Seumur hidupku aku pikir aku hanya gadis biasa!”
Lampu ruangan kembali berkedip hebat.
Energi biru mulai menyebar dari lantai.
Hana langsung mundur panik.
“Dia mau meledak lagi!”
Reno tetap berdiri tenang di depan Alya.
“Ayahmu tidak pernah ingin menjadikanmu senjata.”
“Bagaimana kau tahu?!”
Karena untuk pertama kalinya…
emosi Reno ikut muncul.
Tatapannya berubah tajam.
“Karena aku mengenalnya.”
Hening.
Reno menarik napas pelan.
“Arman membencinya.”
“Membenci apa?”
“Eksperimen manusia.”
Suara Reno lebih pelan sekarang.
“Dia selalu mencoba mencari cara agar Elysium tidak menghancurkan siapa pun.”
Tatapannya jatuh pada kalung Alya.
“Dan menurutku…”
“…kau adalah usaha terakhirnya.”
Alya menatap Reno dengan mata basah.
“Usaha terakhir?”
“Untuk membuktikan bahwa Elysium bisa hidup berdampingan dengan manusia.”
Kaizer tertawa kecil dari speaker.
“Romantis sekali.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Sayangnya dunia tidak bekerja berdasarkan harapan.”
Layar hologram berubah lagi.
Kini menampilkan seluruh Zenith.
Pasukan keamanan bergerak di berbagai koridor.
Unit Fenrir menyisir area bawah.
Dan—
beberapa siswa mulai dievakuasi.
Hana membelalak.
“Mereka sampai mengevakuasi akademi?!”
Kaizer tersenyum tipis.
“Karena mereka takut.”
Tatapannya kembali pada Alya.
“Dan ketakutan manusia selalu menghasilkan hal yang sama.”
“Kebencian.”
Alya menggenggam tangannya erat.
Ia tahu Kaizer benar.
Orang-orang sudah mulai melihatnya sebagai ancaman.
Monster.
Bom berjalan.
Namun yang paling menyakitkan—
sebagian dirinya mulai takut bahwa mereka memang benar.
Tiba-tiba—
Sistem laboratorium berbunyi lagi.
ACCESS TO CENTRAL CORE OPENED.
Reno langsung menoleh.
“Pusat inti…”
Pintu besar di ujung ruangan perlahan terbuka sendiri.
Lorong gelap panjang terlihat di baliknya.
Angin dingin mengalir dari sana.
Dan cahaya biru samar bersinar jauh di dalam.
Kaizer melihat itu.
Untuk pertama kalinya, senyumnya sedikit memudar.
“Jadi sistem masih mengenalmu…”
Reno menyipit.
“Artinya?”
Namun Kaizer tidak menjawab.
Tatapannya justru berubah serius pada Alya.
“Alya.”
Nada suaranya kali ini berbeda.
Lebih rendah.
Lebih tajam.
“Kalau kau masuk ke pusat inti Zenith…”
“…kau tidak akan bisa kembali menjadi manusia biasa.”
Jantung Alya berdetak keras.
Hana langsung menunjuk layar.
“Bisa tidak sekali saja kau bicara sesuatu yang menenangkan?!”
Namun Kaizer mengabaikannya.
“Di sanalah Elysium pertama kali dilahirkan.”
Tatapannya menusuk langsung ke mata Alya.
“Dan di sanalah semuanya akan berakhir.”
Lalu—
Siaran terputus.
Seluruh layar mati bersamaan.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara mesin tua dan napas mereka sendiri yang terdengar.
Hana langsung bicara pertama.
“Oke.”
Ia menunjuk lorong gelap di depan.
“Aku rasa itu jelas jebakan.”
“Ya,” jawab Reno tenang.
“Lalu kenapa kita masih berdiri di sini?!”
Karena Reno tahu sesuatu.
Sesuatu yang belum ia katakan.
Tatapannya perlahan jatuh pada lorong menuju pusat inti.
Dulu…
Arman pernah membawanya ke sana.
Satu kali.
Dan setelah malam itu—
semuanya berubah.
“Alya,” kata Reno pelan.
Kalimat berikutnya terasa berat keluar dari mulutnya.
“Ada kemungkinan… semua jawaban tentang dirimu ada di sana.”
Alya menatap lorong itu.
Gelap.
Asing.
Menakutkan.
Namun anehnya—
ia merasa seperti dipanggil.
Suara lembut tadi kembali muncul di kepalanya.
> “Datanglah…”
Tubuh Alya sedikit gemetar.
Dan tanpa sadar—
kalung biru di lehernya mulai bersinar lebih terang daripada sebelumnya.