Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini di mana?
Dengan sisa-sisa kesabaran yang setipis tisu dibelah tujuh, Kilau akhirnya menginstruksikan sopirnya untuk membantu membopong tubuh berat Badai ke dalam mobil. Ya gimana, mau ditinggal gitu aja di depan Paradise juga Kilau merasa nggak tega.
Sepanjang perjalanan menuju apartemennya di kawasan elit, aroma alkohol yang menyengat bercampur dengan parfum maskulin milik Dai yang sudah samar membuat Kilau harus berkali-kali menutup hidung dengan syal sutranya. Sudah tak terhitung berapa kali Kilau menghela nafas jengah. Dia bahkan meminta supirnya untuk membawa mobil lebih cepat dari biasanya.
"Bisa-bisanya lo jadi seberantakan ini, Dai," gumam Kilau sambil menatap wajah mantan kekasihnya yang terlihat pucat di bawah temaram lampu jalanan yang masuk melalui kaca mobil.
Tak bisa bohong jika ketampanan Dai makin menjadi di usianya sekarang, pemuda itu makin mirip dengan aktor Ye Haoran. Rambutnya yang dibiarkan panjang tapi tetap rapi menambah kesan badas.
Lima tahun lalu, Badai adalah pria yang paling anti dengan hal-hal yang merusak kesadaran. Dia adalah tipe pria yang lebih suka menghabiskan malam dengan bermain gitar atau berdiskusi tentang filosofi hidup yang absurd ketimbang menenggak cairan yang bikin teler. Ya mungkin karena dulu Dai masih muda, hidupnya masih lurus nggak ada belokannya.
Sesampainya di apartemen, perjuangan Kilau belum berakhir. Dibantu oleh Pak Arif, sopirnya, Badai berhasil direbahkan di sofa ruang tamu yang luas. Kilau memberikan uang tips tambahan pada Pak Arif sebelum menyuruhnya pulang.
"Non, maaf saya nggak denger non pulang." Dia adalah mbak Epi, asisten rumah tangga yang berkerja dan tinggal bersama Kilau di apartemen ini. Nampaknya mbak Epi terbangun dari tidurnya karena terkejut mendengar majikannya baru saja pulang.
"Nggak apa-apa, mbak. Mbak bisa minta tolong siapin air hangat? Aku mau mandi."
Pandangan mbak Epi tertuju pada pemuda yang lemah tak berdaya tergolek di sofa. "Iya non. Non, itu.. Itu siapa?" tanya mbak Epi ragu-ragu.
"Teman." Satu kata itu langsung membungkam mbak Epi. Wanita 30 tahun itu beranjak pergi ke kamar mandi dan menyiapkan apa yang diperintahkan nona mudanya.
Kini Kilau duduk di sofa berhadapan dengan Dai. Dari tempatnya duduk, dia bisa memperhatikan dengan jelas wajah mantan kekasihnya itu. Alisnya tebal, matanya terpejam terkadang mengernyit seperti sedsng menahan sesuatu dalam dirinya, hidungnya mancung, dan bibirnya.. Bibir pucat itu yang dulu pernah memberikan pengalaman berciuman bagi Kilau.
Baru saja Kilau hendak mengambil napas panjang, tiba-tiba Badai mengerang. Wajahnya berubah menjadi sangat tidak nyaman, tangannya meraba-raba dadanya sendiri sebelum akhirnya...
"Hueeeek!"
"Badai! Astaga!" Kilau menjerit tertahan sambil melompat mundur.
Badai muntah dengan hebat. Cairan cocktail berkadar alkohol tinggi yang dipaksakan Lalinan agar diminum, benar-benar ditolak mentah-mentah oleh lambungnya. Pria itu terus memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya lemas tak berdaya di lantai. Kilau, yang biasanya sangat anti dengan kotoran, entah kenapa merasa hatinya mencelos melihat kondisi itu.
"Ya Allah non, temannya kenapa? Biar saya saja yang membersihkan non. Non Kilau mandi saja." seru mbak Epi yang muncul dari kamar mandi.
Ya sudah barang tentu mbak Epi lah yang membersihkan semuanya, Kilau melihat celana dan kemeja yang dipakai Badai terkena cairan muntahan, wanita itu geleng kepala.
"Mbak, bisa tolong bantu aku pindahin dia ke kamar?"
Mbak Epi tak banyak bicara, dia langsung mengiyakan sambil berusaha memapah lelaki dengan tinggi 188 cm itu bersama Kilau menuju kamar utama majikannya.
Di kamar, Kilau langsung mempreteli kemeja dan Celana Dai. Rasa malu dan sungkannya dia buang jauh-jauh ke kutub Utara. Meski tak bisa dipungkiri, jika Kilau sampai menelan salivanya karena melihat tubuh Dai tanpa pakaian seperti itu.
"Menyebalkan!"
Lah, entah bagian tubuh mana yang membuat Kilau sebal. Nyatanya Kilau langsung meninggalkan Dai begitu saja setelah berhasil menanggalkan penutup tubuh mantan pacarnya.
Pagi tiba, tak ada kokok ayam yang memberi tanda jika rembulan sudah berganti shift dengan matahari. Dai bangun dari peraduan dengan rasa sakit di kepala dan perutnya yang tak bisa dibantahkan. Erangan itu menjadi tanda jika si pemuda sedang mencoba mengumpulkan kesadaran agar nggak plenger-plenger banget dilihatnya.
"Ini di mana?"
Kepalanya boleh pusing, tapi dia tentu tak akan melupakan design dan interior kamarnya sendiri. Dan yang sedang dia tempati sekarang ini jelas bukan kamar apalagi tempat tidurnya. Ketika selimut dia sibak, betapa terkejutnya Dai mendapati dirinya hanya berbalut sempak selapis.
"Anjing! Ini baju gue ke mana?" serta merta Dai turun dari tempat tidur.
Ingin keluar dari kamar tapi keadaannya sangat memalukan, matanya menatap selimut yang tadi dipakai menutupi tubuhnya, alah.. Nggak ada sarung, selimut pun jadi buat bebetan ya kan?
Dai keluar dari kamar Kilau dengan selimut membelit tubuhnya. Dia masih penasaran di mana sebenarnya dia sekarang? Terakhir kali memorinya menangkap ingatan tentang dirinya yang dipaksa minum dua gelas koktail oleh Lalinan.
"La?" panggil Dai karena dia berpikir telah bermalam dengan Lalinan.
"Manggil siapa lo? Pacar atau bini?"
Suara itu.. Dai langsung menoleh cepat sambil mengeratkan selimut yang dia lilitkan dari dada hingga batas mata kaki.
"Kilau.. Kamu.."
"Napa? Lo kira gue hantu?" ketus sekali cara bicara Kilau. Padahal dulu pernah sedekat Desember dan Januari, tapi sekarang mereka seperti Januari menuju Desember.. Jauh.
Kata 'lo gue' yang Kilau ucapkan seperti sebuah pengingat bagi Dai jika di antara mereka sudah tak ada hubungan apa-apa, mereka hanya mantan yang dipertemukan secara tak sengaja.
Dai berdehem pelan, tak ingin mendekati wanita yang kini tampak menikmati secangkir matcha dan roti bakar di hadapannya. "Kenapa aku-- gue, kenapa gue ada di sini, Ki?"
"Pakai baju dulu sana! Apa tadi lo nggak liat di nakas ada kemeja dan celana lo? Kenapa lo keluar malah membelit diri pakai selimut kayak gitu? Lagi memperagain gimana gambaran orang yang mau dicaplok anakonda?" aduh mulutnya Kilau ternyata memang sangat berkilau buat julid ke orang.
"Lah lagian kenapa baju gue lo copotin coba, nafsu banget lo sama gue hmm?" masih pagi kok bikin emosi mana kepala nyut-nyutan, eh diajak adu mekanik gini.. Ayo aja kalau kata Dai mah.
"Tolol!" Ucap Kilau menatap sengit ke arah Dai.
"Nyesel gue nolongin lo, tau gini mending gue biarin lo diobok-obok sama betina yang ngebet banget pengen bikin anak sama lo semalem."
"Mbak Epiii, beresin semuanya. Aku mau berangkat ke kantor sekarang." setelah berkata demikian, Kilau memutuskan untuk meninggalkan Dai begitu saja lengkap dengan selimut membelit tubuh si mantan pacar.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚