Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana berubah menjadi pilu. Dari kegelapan jalan setapak, muncul wajah-wajah yang sangat dikenal. Ada Kang Darmo yang tadi berteriak marah, ada ibu-ibu yang biasa bertegur sapa di pasar, hingga kakek tua penjaga balairung desa. Namun, mata mereka tak lagi memiliki pupil; hanya menyisakan warna putih keruh yang memancarkan kebencian murni.
Mereka bergerak dengan gerakan patah-patah, namun cepat. Mulut mereka menganga, mengeluarkan erangan parau yang terdengar seperti gesekan batu.
"Mereka dikendalikan oleh Benang Sukma," ujar Gandraka sembari berusaha mengatur napasnya. "Jika kalian memutus nyawa mereka, Eyang akan semakin kuat karena ia memanen rasa bersalah kalian. Kalian harus memutus kendalinya, bukan raganya!"
Nyai Lodra segera beraksi. Ia tidak lagi menggunakan belati tajamnya untuk membunuh. Ia memutar rantai tipisnya dengan sangat rendah, menyapu kaki-kaki warga yang merangsek maju. Rantai itu melilit kaki mereka, menjatuhkan raga-raga tak bermaya itu hingga bertumpuk di halaman.
Namun, jumlah warga terlalu banyak. Jayantaka berdiri di tangga paling bawah, menggunakan bagian tumpul kerisnya dan hulu senjatanya untuk memukul titik-titik saraf di leher warga. Setiap kali ia menjatuhkan satu warga, hatinya mencelos. Sebagai Senopati, ia bersumpah melindungi rakyat, bukan memukuli mereka seperti ini.
"Maafkan aku..." bisik Jayantaka saat ia menghantam rahang seorang pemuda desa yang mencoba menggigit lengannya.
Di tengah kekacauan itu, Gandraka kembali memejamkan mata. Ia harus segera masuk ke pikiran anak kedua—seorang gadis kecil bernama Sari. Pasak kedua ini terasa lebih berat, karena Sari adalah anak yang paling lemah fisiknya.
"Ayah! Ada sesuatu yang besar ikut bersembunyi di balik barisan warga!" seru Gandraka tepat sebelum sukmanya melesat pergi.
Ki Bagaskara menoleh. Benar saja, di belakang kerumunan warga, tampak sesosok makhluk setinggi tiga meter dengan kulit bersisik merah layaknya ular Naga. Makhluk itu adalah Lurah Sekit, tangan kanan Eyang Jagad Ireng yang bertugas memanen nyawa.
"Jayantaka! Urus warga yang di depan! Biar makhluk itu menjadi bagianku!" Ki Bagaskara melesat, melompati kepala-kepala warga desa dengan teknik meringankan tubuh yang sempurna.
Dua pedang hitamnya berkilat di bawah matahari merah yang terdiam. Ia berhadapan dengan Lurah Sekit yang membawa gada besar berduri. Benturan senjata mereka menghasilkan percikan api yang menyambar daun-daun kering di sekitarnya.
Sementara itu, di alam bawah sadar Sari, Gandraka menemukan pemandangan yang berbeda. Sari tidak sedang ketakutan; ia justru sedang asyik bermain boneka di sebuah taman bunga yang sangat indah. Namun, Gandraka tahu, setiap bunga di sana adalah lintah yang sedang menghisap umur Sari.
"Sari, ayo pulang. Ini bukan tamanmu," ucap Gandraka lembut.
Sari menoleh, wajahnya cantik namun pucat. "Tapi di sini matahari tidak panas, Gandraka. Di sini aku tidak perlu takut pada Eyang."
"Itu karena kau sedang tidur di dalam perutnya, Sari. Jika kau tidak bangun sekarang, kau tidak akan pernah melihat ibumu lagi."
Tiba-tiba, taman bunga itu berubah menjadi tumpukan tengkorak yang berderak. Sari menjerit. Di saat yang sama, di balai desa, raga Gandraka mulai mengeluarkan darah dari pori-pori kulitnya. Tekanan ilusi ini mulai merusak tubuh fisiknya.
"Gandraka! Bertahanlah!" teriak Nyai Lodra yang kini harus berjuang ekstra keras karena ia dikepung oleh warga sekaligus harus melindungi raga anaknya yang mulai melemah.
Jayantaka melihat darah yang mengalir di lengan Gandraka. Ia tahu, jika pasak kedua ini tidak segera lepas, bocah itu akan mati karena pecahnya pembuluh darah. Dengan sisa tenaga, Jayantaka merapal mantra penguat raga yang ia pelajari dari rahib Trowulan. Ia menghantamkan telapak tangannya ke lantai kayu balai desa, menyalurkan energi murninya untuk membentengi raga Gandraka dari hawa panas Surya Pralaya.
"LEPAS!" teriakan Gandraka bergema, kali ini lebih keras hingga menggetarkan atap balai desa.
Tubuh Sari tersentak, lalu jatuh lemas. Pasak kedua putus. Matahari di atas mereka mendadak meredup sesaat, berganti menjadi gerhana hitam yang mengerikan sebelum kembali merah.
Namun, harga yang harus dibayar mahal. Ki Bagaskara terlempar jauh akibat hantaman gada Lurah Sekit, dan Jayantaka muntah darah karena energinya terkuras habis untuk melindungi Gandraka.
"Dua..." bisik Gandraka dengan suara parau. "Masih ada lima lagi"
Sementara itu
Jauh dari hiruk-pikuk neraka ilusi di Mojorejo, di sebuah lembah tersembunyi yang dibentengi tebing-tebing curam, ribuan obor menyala membelah kegelapan. Itu adalah markas rahasia para pemberontak, tempat di mana sisa-sisa dendam terhadap Trowulan dipelihara.
Di dalam sebuah balairung batu yang dingin, Ra Kuti duduk di atas singgasana kayu jati yang diukir dengan motif tengkorak. Di depannya, ribuan pengikutnya berdiri bersila dalam keheningan yang mencekam, mengenakan pakaian serba hitam dengan rajah Naga Hitam di lengan mereka.
Seorang telik sandi (mata-mata) bersujud dengan napas memburu di hadapan Ra Kuti.
"Gusti... laporan dari wilayah selatan. Dua jagal dari Klan Anggrek Hitam yang kita cari selama dua belas tahun ini telah menampakkan diri," ucap telik sandi itu dengan suara bergetar.
Mata Ra Kuti yang tajam seketika berkilat. Ia menegakkan duduknya, meremas sandaran tangan singgasananya hingga kayu itu berderit. "Bagaskara dan Lodra? Jadi, mereka benar-benar bersembunyi sebagai petani rendahan di desa terkutuk itu?"
"Benar, Gusti. Mereka sedang bertempur melindungi seorang bocah bernama Gandraka. Dan bukan hanya mereka... ada seorang Penyelidik Agung dari Trowulan bernama Jayantaka di sana."
Ra Kuti tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan penuh tipu daya. "Jayantaka hanya kerikil kecil. Tapi bocah itu... Gandraka..."
Ra Kuti berdiri, melangkah menuruni undakan singgasana. Ia memandang peta tanah Jawa yang terbentang di atas meja batu.
"Kalian pikir Gandraka hanya sekadar bocah pembawa kutukan? Tidak. Dia adalah Kunci Jagat Baru. Di dalam darahnya mengalir sisa kekuatan purba yang mampu membelah dimensi antara alam manusia dan alam lelembut," Ra Kuti berbisik, namun suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Ia mengepalkan tangannya di atas peta, tepat di titik yang menandakan ibu kota Majapahit.
"Jika aku bisa menguasai bocah itu dan menjadikannya wadah kekuatanku, aku tidak perlu lagi ribuan pasukan untuk menyerbu Trowulan. Aku bisa membukakan pintu bagi jutaan pasukan gaib untuk menelan Majapahit dalam satu malam. Kerajaan itu akan runtuh, dan di atas abunya, aku akan membangun jagat baru di mana akulah penguasa tunggalnya!"
Ra Kuti berbalik menatap ribuan pengikutnya yang kini mulai bersorak rendah, menyebut namanya.
"Siapkan pasukan Dharmaputra pilihan! Kita tidak akan membiarkan Eyang Jagad Ireng menghancurkan bocah itu. Kita akan merebutnya dari tangan kedua orang tuanya, dari tangan Senopati itu, bahkan dari kakeknya sendiri sekalipun!"
"Berangkat ke Mojorejo! Pastikan bocah itu jatuh ke tanganku dalam keadaan hidup!"
Perintah itu disambut dengan dentuman gong yang menggetarkan lembah. Sementara di Mojorejo Gandraka sedang bertaruh nyawa memutus pasak ilusi, dari arah utara, badai politik dan militer yang jauh lebih besar kini mulai bergerak mendekat, siap menelan desa kecil itu ke dalam pusaran konflik yang akan mengubah sejarah nusantara.