Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Langkah kaki Zivara bergema di koridor gedung DKV yang mulai ramai. Ia sengaja berjalan lebih cepat, seolah ingin segera menanggalkan sisa-sisa aroma maskulin dari mobil Kaizar yang masih menempel di indranya. Begitu pintu kelas terbuka, sosok Dina langsung muncul dan menyambutnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Vara! Ya ampun, aku baru saja mau mengirim pesan," seru Dina sembari meneliti wajah sahabatnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Tadinya aku berencana mampir ke rumahmu setelah kelas selesai, tapi ternyata kamu sudah di sini. Kamu benar-benar sudah pulih?"
Zivara menyunggingkan senyum tipis—senyum yang terasa lebih tulus dan ringan daripada biasanya. "Aku baik-baik saja, Din. Kalau cuma berdiam diri di kamar, aku malah akan merasa bosan dan makin pusing. Lebih baik sibuk di kampus".
Dina mengembuskan napas lega, bahunya yang tegang perlahan merosot. "Syukurlah. Yang penting aku melihatmu sudah bisa berdiri tegak lagi. Jangan dipaksakan kalau memang masih lemas, ya?"
"Terima kasih, Din. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," ucap Zivara tulus.
"Hei, bicara apa sih? Tidak perlu berterima kasih segala," Dina merangkul bahu Zivara, mengajaknya menuju kursi di barisan tengah. "Bagaimanapun, kita ini sahabat. Kamu itu sudah kuanggap saudaraku sendiri, tahu".
Zivara merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Di kehidupan yang lalu, ia terlalu fokus mengejar punggung pria yang tidak pernah menoleh, sampai-sampai ia mengabaikan permata berharga seperti persahabatannya dengan Dina. Kini, ia merasa sangat beruntung memiliki seseorang yang tulus berdiri di sampingnya tanpa embel-embel kepentingan.
Di sisi lain gedung fakultas, atmosfer terasa jauh lebih mencekam. Kaizar berjalan dengan rahang mengeras, tepat di persimpangan koridor menuju ruang kuliahnya, sebuah sosok menghadang langkahnya.
Luna berdiri di sana dengan penampilan yang sempurna—terlalu sempurna untuk seorang mahasiswa pagi—lengkap dengan senyum manis yang dulu sempat membuat Kaizar bertekuk lutut.
Kaizar menghentikan langkah, namun matanya menatap Luna dengan sorot sedingin es.
"Ada apa lagi?" tanya Kaizar pendek, suaranya terdengar sangat tajam.
Luna tampak terkejut, namun ia segera memulihkan raut wajahnya menjadi memelas. "Kai, kenapa dingin sekali? Aku hanya ingin menyapa. Apa setelah kita putus, kita bahkan tidak bisa menjadi teman?"
"Aku tidak pernah punya rencana untuk berteman denganmu, Luna," sahut Kaizar tanpa keraguan sedikit pun. Ia hendak melangkah pergi, tetapi Luna bergerak cepat mencengkeram lengan kemejanya.
Melihat ketidaktertarikan yang nyata di mata Kaizar, Luna mulai merasa terancam. Logikanya mulai tertutup oleh keputusasaan. Dengan tindakan nekat, ia tiba-tiba merosot berlutut di lantai koridor, memegangi kaki Kaizar di depan beberapa mahasiswa yang mulai lewat dan memperhatikan mereka.
"Kai, tolong... aku tidak bisa kalau kamu seperti ini! Kamu tahu aku hanya punya kamu," isak Luna, sebuah tindakan manipulatif yang justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Kaizar menatap pemandangan di bawahnya dengan rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun. Di matanya, tindakan Luna bukan lagi tanda cinta, melainkan sebuah pertunjukan murahan yang menghina martabat mereka berdua. Ia melepaskan cengkeraman tangan Luna dengan kasar, membuat wanita itu terduduk lemas di lantai.
"Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri demi menarik perhatianku, karena itu hanya akan membuatku semakin ingin melenyapkanmu dari pandanganku," bisik Kaizar parau, cukup untuk didengar oleh Luna saja.
Kaizar melangkah pergi meninggalkan Luna yang masih bersimpuh di bawah kakinya. Luna menatap kepergian Kaizar dengan bar api yang membara dari netranya dengan kedua tangan yang mengepal.
**
Zivara berdiri di depan pintu ruang latihan Taekwondo, menghirup aroma khas matras dan keringat yang tajam. Di tangannya, seragam putih yang masih kaku terasa seperti beban sekaligus harapan baru.
Selama ini, Zivara Arthea dikenal sebagai gadis lembut yang lebih suka bersembunyi di balik kanvas lukisnya. Anak tunggal seorang diplomat yang terbiasa dengan kesunyian dan kepatuhan. Di kehidupan sebelumnya, jam-jam seperti ini biasanya ia habiskan untuk memikirkan cara agar Kaizar meliriknya, meski hanya sekali. Zivara yang dulu adalah definisi dari kesabaran yang tak berujung, mencintai tanpa syarat hingga titik di mana ia kehilangan dirinya sendiri.
Akan tetapi, memori tentang jalanan basah dan tubuh yang terhempas tak bernyawa tidak bisa dihapus hanya dengan air mata. Kejadian tempo hari—jebakan Luna yang nyaris merenggut napasnya—menjadi lonceng peringatan yang memekakkan telinga. Zivara menyadari satu hal: kelembutan tanpa perlindungan hanya akan mengundang predator.
Bugh!
Tendangan pertama Zivara mendarat di target pad yang dipegang instruktur. Kakinya berdenyut nyeri, tetapi ia tidak meringis. Ia justru merasakan aliran adrenalin yang asing sekaligus melegakan. Setiap hantaman kakinya adalah bentuk perlawanan terhadap masa lalu yang pasif. Ia tidak lagi ingin menjadi "pilihan kedua" yang bisa dibuang kapan saja.
"Lagi, Zivara! Jangan ragu!" teriak sang instruktur.
Zivara mengatur napas. Keringat mulai membasahi pelipisnya, membuat beberapa helai rambut menempel di wajahnya yang kini tampak lebih tegas. Ia bukan lagi gadis berusia delapan belas tahun yang polos; di dalam raga ini, ada jiwa wanita berusia tiga puluh tahun yang sudah kenyang akan pengkhianatan. Ia harus memiliki bekal untuk membela dirinya sendiri. Jika dunia tidak memberinya keamanan, maka ia akan menciptakan keamanan itu dengan tangannya sendiri.
Bayangan Luna yang licik melintas di benaknya. Dulu, Zivara mungkin akan menangis atau mengadu pada Kaizar. Sekarang? Tidak lagi. Zivara memutuskan untuk berhenti menjadi penonton dalam hidupnya sendiri. Ia akan berhadapan langsung dengan siapa pun yang mencoba menjebaknya, termasuk Luna. Ia ingin membuktikan bahwa gadis yang bisa mereka permainkan sudah mati di lini masa yang lama.
Di balik kaca jendela aula yang sedikit berembun, Kaizar berdiri mematung. Pria yang biasanya dominan dan dingin itu hanya bisa menatap dari kejauhan. Ada rasa sakit yang menghujam dadanya melihat Zivara bersusah payah berlatih bela diri.
Kaizar tahu, setiap tetes keringat Zivara adalah tanda bahwa gadis itu tidak lagi mempercayainya sebagai pelindung. Rasa bersalah karena pernah menjadi pria egois yang mengabaikan ketulusan Zivara demi masa lalu bersama Luna kini mencekiknya perlahan. Ia ingin masuk dan memeluk Zivara, memintanya berhenti menyiksa diri, tapi ia sadar ia tidak memiliki hak itu lagi. Zivara sedang membangun bentengnya sendiri, dan benteng itu juga ditujukan untuk menghalangi Kaizar masuk kembali ke hatinya.
***