Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Gimana rasanya dipeluk oleh seseorang yang kalian nantikan, tapi kalian dipeluk karena di kira orang lain.
Joy merasa dirinya seperti terbang tinggi ke langit, lalu dijatuhkan ke tanah dengan sangat kuat.
Dia mengira sudah tidak mendapatkan penolakan, dia sangat senang di terima oleh ibunya. Namun rasa senang hanya sementara...
"Joy? Kamu bukan Lucas? Kamu Joy! Kamu bukan LUCAS!" Teriak Helena seraya mendorong tubuh Joy dengan sekuat tenaga.
Joy tersungkur jatuh ke belakang,
ia tertawa kecil. Tawa itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa kesedihan yang mendalam. Ia menertawakan nasibnya yang malang ini dan kejam ini.
"Kenapa kamu tidak bisa menerimaku sedikit saja? Jika bisa memilih aku tidak akan memilih keluarga ini! Aku akan mencari orang tua yang bisa menerimaku! Tapi kenyataannya aku adalah anak kalian! Kenyataan yang pahit..." Ucap Joy dengan mata yang berkaca-kaca.
Selama ini ia tak pernah di terima oleh ibunya sendiri. Ia sangat dibenci, ia dianggap sebagai mala petaka.
Gavin yang kasar itu masih lebih baik dari pada Helena. Walaupun emosinya selalu meledak-ledak, ia tetap perduli kepada Joy. Ia tidak akan membiarkan Joy kenapa-kenapa.
Setelah mendorong tubuh Joy, Helena langsung berlari dengan cepat. Ia meninggalkan Joy yang masih terbaring di lantai.
Helena terus berlari dengan kuat, ia mencari-cari ruangannya sendiri. Saat ia sudah berada tepat di ruangannya, dikuncinya pintu itu. Agar Joy tidak bisa masuk.
"Aku benci kau! Kau itu bencana! Anak sialan! Kau anaknya! Bukan anakku!" Teriak Helena dengan suara yang melengking di balik pintu yang terkunci.
Ruangan Helena itu terdapat jaring-jaring besi yang panjang dan lebarnya seperti jendela. Orang dari luar bisa melihat Helena, dan Helena bisa melihat orang yang berada diluar.
Joy hanya melihat Helena dari jauh, dia tidak berani mendekat. Sebab, Helena pasti akan semakin mengamuk kalau melihatnya. Bahkan dibawah alam sadarnya, wanita itu sangat membenci Joy.
"Jaga ibuku dengan baik!" Perintahnya pada suster yang sering merawat ibunya. Ia memastikan ibunya baik-baik saja sebelum meninggalkan Rumah Sakit.
Joy meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan yang amat sedih. Langkahnya pelan, seakan tak mau pergi.
Ia pikir hari ini akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kenyataannya tetap sama. Namun, harapannya tak pernah sirna, walaupun ia tahu itu sangat mustahil terjadi.
"Kapan kau bisa menerimaku? Mungkin suatu saat nanti? Semoga saja..." Ucapnya penuh harap.
Dari dulu harapan itu tak pernah berubah. Walaupun sering kali kecewa dan sakit hati, Joy tidak pernah merubah doa dan harapannya.
.........
"Aku akan pulang ke rumah dinas, aku tidak ingin dirawat terlalu lama disini." Ucap Joy dingin dan datar.
"Terserah, tapi aku akan mengirimkan pengawal!" Ucap Gavin tegas tak mau dibantah.
"Tidak perlu!"
Tut...Tut...Tut...
Kini Joy yang mematikan telepon secara sepihak. Ia tak ingin lama-lama berbicara dengan Gavin, karena setiap kali berbicara dengan pria itu, bawaannya kesal dan melulu.
Ting!
Ada pesan masuk dari Jenny, Joy segera membuka aplikasi hijau dan melihat pesan apa yang dikirimkan oleh Jenny.
(Via Chat)
Jenny: Kau ada dimana? Kami bertiga akan
menjemputmu.
Joy: Rumah Sakit Jaya Negara.
Setelah membalas pesan dari Jenny, Joy segera meletakan handphonenya di atas meja. Ia ingin istirahat sebentar sambil menunggu kedatangan mereka.
Beberapa menit setelahnya ia pun tertidur. Kejadian hari ini sangat melelahkan, dan menguras semua energinya.
Klik!
Pintu terbuka, mereka bertiga masuk secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan Joy yang masih beristirahat itu.
Kayla, Jenny, dan Alfian tidak terkejut mendapati Joy yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Karena kondisi ini bukan terjadi kali ini saja, melainkan sering terjadi.
Kayla dan Alfian memilih duduk di sofa yang jaraknya sedikit jauh dari ranjangnya Joy. Sedangkan Jenny memilih duduk di kursi yang berada di dekat ranjang.
Tangan Joy terlihat bergetar, matanya mengeluarkan air mata. Melihat hal itu, dengan sigap Jenny menyentuh tangan Joy seolah berkata "Aku ada disini, aku akan menemanimu."
Joy memegangi tangan Jenny dengan sangat erat, seakan takut genggaman itu terlepas dan ia akan sendirian.
Jenny mulai membelai kepala Joy dengan sangat lembut, berharap belaian itu bisa menenangkan Joy yang terlihat rapuh di alam bawah sadarnya.
Jenny tolong dikondisikan! Kau harus tahu waktu!
Disaat seperti ini Jenny malah salfok dengan bibirnya Joy. Pikiran-pikiran kotor itu pun kembali muncul dan menghantui Jenny.
Jenny mulai mengatur nafasnya perlahan, berharap gejolak yang ada itu bisa terkontrol. Namun, pikiran-pikiran kotor itu terus memaksa masuk, mereka memenuhi isi otaknya Jenny.
"Jenny! Jangan Gegabah!" Ucapnya pelan pada diri sendiri.
"Lakuin aja! Lagian dia juga masih tidur. Asal jangan brutal!" Teriak Alfian yang tidak sengaja melihat gelagat Jenny.
"Hus!" Kayla menutup mulut Alfian dengan kedua tangannya.
Kalau sedikit saja dia tidak akan bangun kan? Lagian aku akan melakukannya dengan sangat lembut.
Jenny mulai terpengaruh dengan ucapan Alfian. Seolah ucapan Alfian itu menghapus rasa takutnya, dan digantikan dengan rasa percaya diri dan berani.
Cup!
Dengan rasa percaya diri Jenny mendaratkan ciuman di bibir tebal dan merah itu. Ciuman yang awalnya hanya menempel itu semakin lama semakin dalam.
Jenny benar-benar sudah hilang kesadaran. Ia melumatkan bibirnya seolah sedang menikmati makanan yang sangat Lezat.
"Yah... Baru juga dibilangin, malah terjadi! Dasar!" Ucap Alfian tertawa kecil.
Bugh!
"Aduh! Sakit Kay! Aku itu cuma lagi cari jalan keluar buat Jenny. Apa kamu tidak kasian kepadanya?" Jawab Alfian seolah apa yang ia lakukan itu tidak sepenuhnya salah.
Joy perlahan membuka matanya perlahan. Joy membulatkan matanya saat melihat wajah Jenny yang sangat dekat dengan wajahnya. Ditambah dengan tindakan Jenny saat ini membuatnya semakin tidak karuan.
Joy seperti sedang dilempari oleh bom waktu. Tubuhnya yang tidak memilki persiapan itu seolah langsung di bantai.
"Tenang aja, Aku bakal bersihin bibir kamu."Ucapnya santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Jenny bangkit, ia mengambil tissu yang berada dimeja, lalu mengelap bibir Joy yang sudah basah karena ulahnya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Joy sedikit linglung.
"Mau diulangi lagi? Agar kau mengerti apa yang aku lakukan?" Tanya Jenny seraya tersenyum jahil.
Joy Kembali terkejut, Ia membulatkan matanya mendengar pertanyaan Jenny yang terdengar sangat sangat tidak masuk akal itu.
" Ti...Tidak! Ja...Jangan!" Ucapnya terbata-bata. Mungkin kali ini dia sudah sadar sepenuhnya.
"Aku juga tidak akan rugi jika mengulanginya." Ucap Jenny sembari tertawa kecil yang terdengar menyeramkan di mata Joy.
"Dia terlihat sangat berani dan percaya diri!" Ucap Alfian.
Matanya berbinar-binar melihat adegan di depan sana. Seolah-olah apa yang dilakukan Jenny adalah sesuatu yang sangat mengagumkan.
Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.Wajahnya memanas karena malu dengan tingkah Jenny yang seperti itu.
"Melihat kelakuannya aku jadi malu. Apakah dia tidak malu?" Tanya Kayla dengan suara pelan.