Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Karantina Lantai Lima Belas
l"Lo yakin dengan apa yang mata lo lihat di foto ini, Gideon?"
Suara Bramantyo merendah drastis. Nada bicaranya terdengar sangat pelan, namun getarannya memancarkan aura membunuh yang jauh lebih pekat daripada racun. Pria raksasa itu mencengkeram erat pinggiran meja pualamnya hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Mata tajamnya menatap lurus ke arah sosok pria berjas hitam di dalam foto tersebut.
"Seratus persen yakin, Bos! Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri di pelataran parkir hotel!" jawab Gideon menggebu-gebu, mengusap darah yang terus mengalir dari sudut bibirnya yang sobek. "Laki-laki itu, Jace Diwantara! Pewaris tunggal dari sindikat bajingan yang selama ini selalu mengacaukan jalur penyelundupan kita. Dan Riana, Direktur Kepatuhan culun kesayangan Bos itu, berjalan berdampingan sama dia masuk ke dalam mobil!"
Bramantyo tidak berkedip menatap foto tersebut. Otak mafianya yang luar biasa licik langsung merangkai ribuan keping teka-teki yang selama ini terasa sangat janggal.
Kehancuran Boni si komandan tempur. Anggaran logistik yang dibekukan secara tiba-tiba. Server perusahaan yang disabotase lalu pulih dalam waktu lima detik. Eksekusi Frans di ruang rapat eksekutif. Semua kekacauan besar itu terjadi secara beruntun semenjak Riana naik jabatan, dan selalu ada petugas kebersihan baru yang berkeliaran di sekitar perempuan itu.
"Perempuan jalang itu bukan cuma sekadar pengkhianat," desis Bramantyo, suaranya berubah menjadi geraman buas. Urat-urat tebal langsung menonjol di pelipis dan lehernya menahan amarah yang mendidih. "Dia adalah agen ganda yang sengaja ditanam oleh klan Diwantara untuk menghancurkan pilar keuangan dan logistik gue dari dalam!"
Gideon tersenyum miring melihat bos besarnya murka. "Gue sudah bilang dari awal, Bos! Dia itu musuh dalam selimut! Kita harus seret dia sekarang juga dan potong-potong tubuhnya sampai hancur!"
Bramantyo tidak membuang waktu membalas ucapan Gideon. Bos besar itu langsung membalikkan badannya, melangkah lebar menghampiri sebuah panel baja yang tersembunyi di balik lukisan pemandangan besar di dinding ruangannya. Dia menempelkan telapak tangannya ke layar pemindai biometrik.
Akses diterima.
Bramantyo menekan sebuah tombol merah berukuran sangat besar di tengah panel tersebut. Tombol itu bukan sakelar alarm biasa. Itu adalah protokol karantina absolut tingkat tertinggi yang hanya boleh diaktifkan saat markas utama mafia Aegis Corp sedang diserang oleh musuh yang setara.
"Kunci seluruh akses gedung ini sekarang juga! Tutup semua pintu baja! Jangan biarkan ada satu ekor lalat pun yang bisa terbang keluar dari markas gue!" teriak Bramantyo ke arah interkom utama yang terhubung langsung ke seluruh alat pendengar pengawal pribadinya. "Cari Riana dan petugas kebersihan bernama Jace itu! Bawa mereka ke hadapan gue dalam keadaan hidup atau mati!"
Suara sirine melengking luar biasa keras langsung membelah kesunyian di seluruh penjuru gedung markas Aegis Corp.
Di lantai lima belas, suara bising alarm itu terdengar memekakkan telinga.
Riana sedang berdiri menyandarkan punggungnya ke rak besi tinggi di dalam ruang arsip HRD yang minim cahaya. Di depannya, Jace yang kembali mengenakan seragam biru muda khas petugas kebersihan sedang berjongkok. Pria itu sibuk menyambungkan kabel dari tablet kerja Riana ke sebuah panel server fisik yang tersembunyi rapat di balik tumpukan kardus dokumen tua.
"Lo yakin mau memindahkan sisa data logistik Gideon ke server bayangan kita sekarang juga?" tanya Jace tanpa menoleh, jari-jarinya bergerak lincah mengetikkan deretan kode peretas di atas layar tablet. "Orang-orang di luar sana masih sibuk membicarakan kematian Frans. Suasana kantor lo sedang sangat tegang, Riana."
"Justru karena sedang tegang, tidak akan ada yang memperhatikan pergerakan kita di ruang arsip kotor ini," balas Riana datar, melipat kedua tangannya di depan dada. Kacamata tebalnya memantulkan cahaya redup dari layar tablet. "Gideon sudah hancur reputasinya semalam, tapi dia masih bernapas bebas. Selama dia masih bisa berjalan, dia tetap ancaman mutlak. Gue mau lo telusuri semua aset fisik logistik yang dia sembunyikan di area basement."
"Perintah diterima, Bu Direktur Kepatuhan. Gue masuk ke sistem keamanan basement sekarang." Jace terkekeh pelan, menekan tombol eksekusi di layarnya.
Namun, sebelum proses pemuatan data itu mencapai angka sepuluh persen, lampu neon putih di langit-langit ruang arsip mendadak mati total.
Hanya dalam hitungan detik, lampu darurat berwarna kuning terang menyala berkedip-kedip menyorot seluruh ruangan. Suara sirine bahaya melengking sangat tajam, beresonansi memantul di dinding-dinding beton kedap suara lantai lima belas.
Jace langsung melompat berdiri, mencabut kabel data dari tabletnya secara paksa. Raut wajah santainya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi. Insting mafianya langsung menyala.
"Alarm kuning," desis Jace menatap lampu yang berputar liar di atas kepala mereka. "Ini bukan latihan evakuasi kebakaran biasa. Ini protokol lockdown (kunci otomatis) mutlak dari sistem pertahanan pusat."
Dari arah luar ruang arsip, terdengar suara gemuruh yang luar biasa mengerikan. Suara lempengan baja tebal yang diturunkan paksa dari langit-langit. Pintu keluar utama lantai lima belas, akses lift VIP, dan tangga darurat, semuanya ditutup rapat oleh pintu baja hidrolik yang tidak bisa ditembus oleh peluru kaliber besar sekalipun.
Riana tidak menunjukkan reaksi panik, tapi matanya menyipit tajam penuh kalkulasi. Perempuan itu berjalan cepat mendekati celah kaca di pintu kayu ruang arsip, mengintip ke arah area kerja staf HRD di luar.
Seluruh staf HRD sedang menjerit ketakutan, berjongkok berlindung di bawah meja kerja mereka masing-masing sambil menutup telinga rapat-rapat.
"Bramantyo menekan tombol karantina. Dia tahu gedung ini disusupi musuh," ucap Riana dingin, berbalik badan menatap Jace. "Tidak ada lagi orang dari Divisi Keuangan atau Logistik yang punya akses memicu alarm ini selain bos besar sendiri."
"Bagaimana dia bisa tahu secepat ini? Penyamaran gue semalam saat di lantai dansa sangat sempurna," bantah Jace, rahangnya mengeras. Otaknya berputar cepat mencari celah kelalaian mereka.
"Tidak ada yang sempurna di dunia mafia. Seseorang pasti melihat wajah lo waktu kita berdua berkelahi di pelataran hotel semalam dan melapor langsung ke lantai puncak," analisis Riana cepat dan presisi.
Belum sempat Jace membalas ucapan tersebut, suara dentuman keras terdengar dari arah lorong utama.
BRAK! BRAK! BRAK!
Pintu kaca ganda yang memisahkan area HRD dengan lorong lift didobrak hancur berkeping-keping. Serpihan kaca tajam berhamburan ke atas karpet.
Melalui celah kaca ruang arsip, Riana bisa melihat dengan sangat jelas puluhan pria bertubuh raksasa yang mengenakan setelan jas hitam serba rapi menyerbu masuk ke lantai lima belas. Mereka bukan sekuriti gedung biasa. Mereka adalah pasukan algojo elit pribadi milik sang CEO. Setiap orang dari mereka menenteng senapan laras panjang yang sudah terisi penuh peluru mematikan.
"Geledah seluruh sudut lantai ini! Bos besar mau kepala Riana dan tukang bersih-bersih itu sekarang juga!" raung komandan pasukan tersebut memberikan instruksi keras.
Suara derap langkah sepatu bot tentara itu terdengar sangat berat dan mengancam. Bunyi kokangan senjata api bergema mengerikan membelah udara. Mereka mulai menyebar, menendang pintu-pintu ruangan satu per satu dengan sangat brutal, mengobrak-abrik meja kerja staf HRD yang sedang menangis memohon ampun.
Derap langkah mematikan itu semakin lama terdengar semakin dekat. Mendekat lurus ke arah lorong sempit tempat ruang arsip itu berada.
Jace mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, melangkah maju menutupi tubuh Riana dari arah pintu. Tidak ada jendela keluar di ruangan ini. Tidak ada jalan kabur rahasia. Pintu kayu di depan mereka adalah satu-satunya akses, dan sebentar lagi pintu itu akan didobrak oleh puluhan moncong senapan mesin.
"Kita terperangkap dan akan mati di sini," bisik Jace, otot lengan di balik seragam birunya menegang maksimal bersiap menghadapi pertarungan jarak dekat paling berdarah dalam hidupnya. "Bersiaplah, Riana."
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪