NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2. Wasiat terakhir ibu

Pintu kamar terbuka perlahan.

Aroma minyak kayu putih dan obat-obatan langsung terasa begitu masuk ke dalam ruangan itu. Lampu kamar yang redup membuat suasana terasa semakin sendu. Tirai jendela bergerak pelan tertiup angin sore yang mulai dingin.

Di atas ranjang, Bu Rahman masih terbaring lemah dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Napasnya terdengar lirih dan berat.

Bu Dewi langsung mendekat.

"Innalilahi..." bisiknya pelan sambil menahan haru melihat kondisi sahabat lamanya itu.

Dulu Bu Rahman adalah perempuan paling aktif di pesantren. Suaranya selalu paling lantang saat menghafal kitab-kitab. Tawanya hangat. Tangannya tak bisa diam menulis dan membuat kerajinan dari benang.

Sekarang perempuan itu hanya terbaring diam seperti tubuh yang perlahan kehilangan tenaga hidupnya.

Sekar berdiri beberapa langkah di belakang ibunya.

Tangannya saling menggenggam gugup di depan perut. Sedari tadi ia lebih banyak menunduk, merasa seperti orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kesedihan keluarga orang lain.

Galang berdiri di sisi ranjang sambil mempersilahkan Bu Dewi duduk.

"Terima kasih sudah datang jauh-jauh, Bu," ucapnya pelan.

Bu Dewi menggeleng cepat. "Jangan begitu. Ibumu itu sudah seperti saudara sendiri buat ibu."

Galang tersenyum tipis lalu menoleh sekilas ke arah Sekar.

Perempuan itu langsung menunduk lagi begitu sadar di perhatikan.

"Assalamualaikum..." suara Sekar akhirnya terdengar kecil.

"Waalaikumsalam," jawab Galang.

Hening sesaat.

Entah kenapa suasana menjadi sedikit canggung.

Sekar memang cantik, tetapi bukan tipe perempuan yang ramai atau banyak bicara. Tatapannya teduh, pembawaannya kalem sekali sampai membuat orang otomatis ikut menurunkan suara saat berada di dekatnya.

Galang sendiri terlalu lelah untuk memulai percakapan panjang.

"Silahkan duduk," ucap lelaki itu sopan.

Sekar mengangguk kecil lalu duduk di kursi dekat jendela.

Tak lama kemudian Galang berdiri.

"Saya ke depan dulu, Bu. Pak Hendra sendirian di ruang tamu."

"Iya, Nak." Jawab Bu Dewi pelan.

Galang kembali melirik ibunya sebentar sebelum keluar kamar.

Begitu pintu tertutup perlahan, suasana kamar kembali sunyi.

Di ruang tamu, Pak Hendra duduk di kursi kayu sambil memandang halaman rumah yang luas. Pohon mangga di depan rumah bergoyang pelan di terpa angin sore. Beberapa buah yang hampir matang menggantung rendah di dahan.

"Maaf jadi merepotkan," ucap Galang sambil duduk di hadapan lelaki paruh baya itu.

Pak Hendra tersenyum tipis.

"Tidak merepotkan sama sekali. Justru kami merasa bersalah baru datang sekarang."

Galang mengangguk kecil.

Percakapan mereka kemudian mengalir pelan tentang kondisi Bu Rahman, rumah sakit, dan kehidupan di Bandung.

Sementara itu di dalam kamar.

Indah, kakak sulung Galang dan Mila kembali menemani ibunya. Ia duduk di sisi ranjang sambil sesekali mengusap perempuan tua itu perlahan.

"Barusan sempet sadar lagi," bisiknya pada Bu Dewi. "Tapi cepat lupa."

Bu Dewi hanya menghela napas panjang.

Di sudut kamar, Sekar memperhatikan Bu Rahman diam-diam. Pelan-pelan Sekar berdiri, lalu membantu merapikan ujung selimut Bu Rahman yang sedikit turun.

Gerakannya sangat hati-hati.

Sangat lembut.

Indah yang melihat itu sempat memperhatikan Sekar beberapa saat.

Perempuan ini cantik, pikirnya.

Bu Rahman juga memperhatikan gerakan Sekar, ia perlahan menyentuh jemari gadis itu pelan. Ia menatap Sekar penuh kasih sayang.

"Menantu ibu? Istrinya Galang ini?" tanyanya, hampir berbisik.

Gerakan Sekar seketika diam. Ia tersenyum manis. "Saya Sekar, Bu. Anaknya sahabat ibu."

Bu Rahman menatap lamat gadis itu, ada embun di sudut mata sayunya. Kemudian ia melepaskan pergelangan Sekar pelan, lalu beralih pandangan ke arah Bu Dewi.

"Dewi..." gumamnya.

Bu Dewi mengangguk, suasana jadi semakin haru. Mereka saling menggenggam, seperti sudah sangat lama mereka tidak berjumpa. Padahal empat bulan lalu Bu Dewi dan suaminya baru saja datang untuk melayat pada saat suaminya Bu Rahman meninggal dunia.

"Apa kabar Wi? Lama tidak bertemu," kata Bu Rahman.

Bu Dewi ikut meneteskan air matanya. "Alhamdulillah baik, cepat sembuh. Biar nanti kita bisa ikutan balap karung lagi."

"Ini..." Bu Rahman menoleh ke arah Sekar. "Ini Sekar? Anakmu?"

Bu Dewi mengangguk. "Iya, Sekar yang dulu kamu temukan di panti asuhan. Berkat kamu, aku bisa kembali bertemu dengan putriku yang hilang."

Langit di luar jendela mulai berubah gelap. Cahaya senja perlahan tenggelam dibalik perbukitan Garut, meninggalkan semburat jingga tipis yang masuk melalui celah tirai kamar.

"Dewi..." suaranya serak hampir tak terdengar.

Bu Dewi langsung bergerak cepat mendekat. "Iya...iya, saya di sini."

Tatapan Bu Rahman tampak lebih sadar dibanding tadi. Meski samar, matanya seperti sedang berusaha mengumpulkan sesuatu yang penting sebelum terlambat.

"Dewi..." napasnya tersendat. "Saya takut..."

"Jangan ngomong begitu."

"Saya takut Galang sendirian."

Kalimat itu membuat dada Bu Dewi sesak.

Bu Rahman menoleh pelan ke arah pintu kamar seolah mencari putra bungsunya.

"Anak itu...hatinya terlalu lembut..." bisiknya lirih. "Tapi hidupnya keras..."

Air mata jatuh perlahan dari sudut mata Bu Dewi.

Ia tahu persis bagaimana Galang tumbuh setelah kepergian Pak Rahman. Lelaki itu selalu terlihat kuat di depan orang lain, tetapi diam-diam memikul semuanya sendiri.

Bu Rahman kembali mengalihkan pandangan pelan. Tatapannya berhenti pada Sekar. Perempuan muda itu langsung membeku ketika mata renta itu menatapnya.

"Neng..." panggil Bu Rahman lemah. "Neng Sekar mau menikah dengan putra ibu?" tanyanya.

Sekar seketika pias, wajah cantiknya refleks menoleh ibunya yang menangis.

"Wi, aku belum bisa ninggalin Galang sendirian..." ucapnya.

Sekar tertunduk lama. Wanita ini adalah orang yang sudah membantunya mencari keluarga kandungnya. Saat itu, panti asuhan menemukan Sekar di pintu mesjid di Bogor. Ia tumbuh remaja di sana, sekolah di biayai oleh wanita berhati malaikat yang saat ini tengah terbaring lemah. Sampai ia kuliah, akhirnya ia bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungnya berkat wanita ini.

Sekar menelan ludahnya, "ya. Saya bersedia menikah dengan A Galang." Jawab Sekar membuat ibunya menoleh.

"Se-Sekar..."

"Mi, Sekar ikhlas. Tolong ridhoi keputusan Sekar." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Bu Dewi mengerti maksud dari ucapan putri semata wayangnya. Ia tahu, hati anak gadisnya ini memiliki hati yang luas, ia tahu jika mungkin saat inilah putrinya membalas semua kebaikan orang yang sudah mempertemukan dirinya dengan keluarga utuhnya.

Meskipun demikian, Bu Dewi pun senang jika berbesan dengan sahabatnya. Bu Dewi tahu, Galang adalah pria matang yang memiliki hati lembut. Sopan santun yang sangat ia sukai sejak ia mengenal Galang.

Bu Rahman meminta kepada indah agar memanggilkan adik bungsunya. Tak lama kemudian, Galang datang dan menghampiri ibunya.

"Galang anak ibu..., ibu akan sangat lega saat pulang jika ibu melihatmu menikah dengan Sekar. Kamu mau kan, Nak? Menikahi Sekar sekarang?" tanya Bu Rahman seraya menatap putranya.

Sekar saat ini berdiri di sudut kamar, menunduk seraya memelintir ujung kerudungnya.

Galang tertunduk, ia tahu kemungkinan besar akan terjadi hari ini. Ia menghapus air matanya yang meleleh di pipinya dengan gerakan cepat.

"Baiklah, Galang akan menikahinya sekarang." Ucap Galang.

°°°°°°°°

Hallo, apa kabar??????? jawab dong 🥹

Bantu naikin performa novel Yehppee ini ya dengan komen, like, vote, subscribe dan bintang lima 🫶

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!