Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Cemburu Dan Posesif
Nyatanya, prasangka Samira tentang keterdiaman Samudra itu salah.
Pria itu… tidak kembali menjadi dingin.
Saat ini, Samudra masih tetap menjadi sosok yang sama seperti beberapa hari terakhir lebih hangat, lebih hadir, dan perlahan benar-benar mencair untuk keluarganya.
@@@
Malam itu, keluarga kecil mereka berada di restoran hotel untuk makan malam.
Suasana restoran cukup tenang dengan pencahayaan hangat. Beberapa tamu terlihat menikmati hidangan mereka, sementara alunan musik lembut mengisi ruang.
Di meja mereka, Binar sedang makan dengan penuh semangat. Sesekali ia menggerakkan kaki kecilnya di bawah kursi, tanda ia benar-benar menikmati suasana.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada meja prasmanan di seberang. Warna merah segar dari potongan buah menarik perhatiannya.
“Mama, Bibi mau semangka…” ujarnya polos.
Samira menoleh, lalu tersenyum tipis melihat ekspresi putrinya.
“Iya, sayang.”
Ia baru saja hendak berdiri untuk mengambilkan—
Namun—
“Biar aku saja yang ambil, Ra,” ujar Samudra lebih dulu.
Samira sedikit terkejut, lalu menatapnya.
Beberapa detik.
Kemudian ia mengangguk pelan.
“Iya, Mas.”
Senyum tipis masih tergambar di bibirnya. Dan entah kenapa…
Senyum sederhana itu justru menjadi hal yang paling ingin Samudra lihat setiap hari.
Samudra berdiri, lalu sebelum beranjak, ia bertanya lagi,
“Kamu mau aku ambilkan apa sekalian?”
Samira menoleh ke arah meja prasmanan, memperhatikan satu per satu makanan yang tersaji.
Matanya berhenti pada bagian dessert.
“Aku mau cake, Mas,” jawabnya pelan.
Samudra tersenyum tipis.
“Iya.”
Lalu ia berjalan menuju meja prasmanan.
@@@
Ia mengambil piring, mulai mengambil potongan semangka untuk Binar.
Namun di tengah aktivitasnya—
Tanpa sengaja, pandangannya teralihkan. Ke arah meja mereka. Dan di sanalah... Seorang pria. Duduk tidak jauh dari posisi Samira.
Awalnya Samudra tidak terlalu memperhatikan. Posisi duduk pria itu membelakanginya sejak tadi.
Namun sekarang sudut pandangnya berubah. Dan ia melihatnya dengan jelas.
Pria itu…
Sedang menatap Samira. Bukan sekadar melihat. Tapi menatap. Cukup lama.
Cukup intens. Samudra sedikit mengernyit.
Kenapa dia lihat Samira terus?
Ia memperhatikan lebih seksama. Tatapan itu…
Tidak salah lagi.
Itu bukan tatapan biasa. Ada ketertarikan di sana. Jelas. Rahasia yang bahkan orang awam pun bisa membaca. Rahang Samudra sedikit mengeras.
Wah… ini nggak bisa dibiarkan.
Dia nggak tahu apa ya… kalau perempuan yang dia lihat itu sudah punya suami dan anak?
Ada sesuatu yang bergerak di dalam diri Samudra. Sesuatu yang selama ini jarang muncul. Rasa… tidak suka. Atau mungkin— Lebih dari itu.
Ia sempat terpikir untuk menghampiri pria itu. Memberi peringatan. Menegaskan batas.
Namun—
Samudra bukan tipe orang yang gegabah. Ia menarik napas pelan. Menahan diri. Bagaimanapun, ia tidak ingin membuat keributan.
Tidak di tempat umum seperti ini. Tidak di depan keluarganya.
Dan tentu saja—
Ia tidak ingin merusak citra dirinya sendiri hanya karena emosi sesaat.
Samudra akhirnya mengalihkan pandangannya. Mengambil potongan cake untuk Samira.
Lalu kembali ke meja mereka.
@@@
Ia meletakkan piring di depan Binar.
“Nih, semangkanya.”
“Yeay, semangka!” seru Binar begitu melihat papanya kembali dengan piring berisi potongan buah segar.
Wajah kecil itu langsung berseri-seri.
Samira pun tersenyum, matanya beralih pada potongan cake yang dibawa Samudra.
“Makasih ya, Mas,” ujarnya pelan sambil menerima piring itu.
Samudra mengangguk tipis. Sementara itu, Samira menoleh ke arah Binar.
“Bibi bilang apa sama Papa?”
Binar langsung tersenyum lebar.
“Terima kasih, Papa!”
Samudra tertawa kecil mendengarnya.
“Sama-sama, sayang.”
Namun—
Sebelum benar-benar duduk, langkah Samudra sedikit terhenti.
Pandangannya kembali tertuju ke arah pria yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Samira.
Tatapan itu… Masih ada. Masih sama. Samudra menghela napas pelan. Rahangnya sedikit mengeras.
“Ada apa, Mas? Ada yang kamu cari?” tanya Samira, mulai menyadari gelagat suaminya.
Samudra langsung menoleh.
“Ah, nggak apa-apa,” jawabnya cepat.
Lalu, seolah spontan, ia berkata,
“Gimana kalau kita tukar tempat duduk?”
Samira mengernyit.
“Tukar tempat duduk? Kenapa emang, Mas?”
Samudra menarik kursi di samping Binar.
“Aku pengin duduk dekat Bibi,” jawabnya, mencoba terdengar santai.
Samira tersenyum tipis.
Ya ampun… ternyata lagi bucin sama anak, batinnya.
“Iya sudah,” ujarnya sambil bergeser.
Kini posisi mereka berubah. Samudra duduk di antara Samira dan Binar.
Seolah…
Menjadi batas.
Beberapa menit berlalu. Mereka mulai makan seperti biasa.
Namun—
Samira kembali melirik sekilas ke arah Samudra. Ada yang berbeda. Pria itu memang terlihat tenang. Tapi terlalu fokus sesuatu.
“Mas…” panggil Samira pelan.
“Iya?”
“Kamu kenapa sih?”
Samudra terdiam sebentar. Seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu akhirnya—
Ia menoleh ke arah Samira. Tatapannya lurus.
“Dari tadi ada yang lihat kamu.” Ujar Samudra.
Kalimat itu keluar begitu saja. Samira langsung terdiam.
“Lihat aku?”
Samudra mengangguk kecil.
“Iya.”
Samira refleks menoleh ke sekeliling.
“Yang mana?”
Samudra sedikit mendekat, suaranya lebih pelan.
“Nggak usah dicari.”
Samira kembali menatapnya, kali ini dengan ekspresi campur aduk.
“Terus…?”
Samudra menghela napas.
“Aku nggak suka.”
Jujur.
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Samira membeku beberapa detik. Tidak menyangka.
“Mas… cemburu?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.
Samudra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Samira. Lama.
Lalu—
“Iya.”
Jawaban itu sederhana. Tapi cukup membuat jantung Samira berdetak lebih cepat.
Bukan karena takut. Tapi karena… Ini pertama kalinya. Samudra mengakuinya.
@@@
Samira menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang mulai muncul.
“Mas ini… lebay,” gumamnya pelan.
Samudra mengangkat alis.
“Lebay?”
Samira mengangguk kecil.
“Aku kan cuma duduk diam.”
“Justru itu,” balas Samudra.
“Diam saja sudah ada yang lihat.”
Samira langsung kehabisan kata. Pipinya mulai terasa hangat.
Di samping mereka, Binar yang tidak paham apa-apa hanya sibuk makan semangka.
“Papa, manis!” serunya.
Samudra langsung menoleh, ekspresinya kembali melunak.
“Iya? Enak?”
“Iya!”
Samudra tersenyum, lalu mengusap kepala putrinya.
Namun—
Tangannya yang lain tanpa sadar menyentuh tangan Samira di atas meja.
Sekilas.
Singkat.
Tapi cukup untuk membuat Samira kembali diam.
“Mas…” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Terima kasih ya…”
Samudra menoleh.
“Untuk apa lagi?”
Samira tersenyum kecil.
“Nggak tahu…”
Ia menatapnya sejenak.
“…pokoknya terima kasih.”
Samudra tidak membalas dengan kata. Ia hanya tersenyum tipis. Namun kali ini—
Tatapannya lebih hangat.
Di sudut lain—
Pria tadi akhirnya benar-benar berhenti menatap. Seolah mengerti. Bahwa wanita itu sudah memiliki seseorang.
Dan seseorang itu—
Tidak akan membiarkannya begitu saja.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!