Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cawan Beracun di San Gimignano
Vila itu berdiri angkuh di atas bukit Tuscany, dikelilingi oleh hamparan kebun anggur yang seharusnya tampak puitis, namun di mata Rebecca, tempat itu tak lebih dari kandang ular yang berlapis emas. Langit San Gimignano yang berwarna jingga kemerahan seolah terbakar, mencerminkan api amarah yang kini mengkristal di dada Rebecca.
Maximilian dan tim taktis Vargo telah mengepung area perimeter, melumpuhkan penjaga luar d'Angelo dengan kesenyapan yang mengerikan. Namun, sesuai janji Max, Rebecca melangkah masuk ke dalam vila itu sendirian. Ia hanya membawa Glock 17 di pinggangnya dan luka menganga di hatinya.
Lantai marmer kuno itu bergema saat Rebecca melangkah masuk ke ruang tamu utama yang luas. Di sana, duduk di sofa kulit mahal dengan segelas wine di tangan, adalah Arthur Sinclair. Pria itu tampak lebih kurus, rambutnya memutih sepenuhnya, namun matanya masih memancarkan aura manipulatif yang dulu Rebecca anggap sebagai kewibawaan.
"Rebecca... putriku sayang," suara Arthur terdengar parau, seolah-olah ia adalah korban yang merindukan kepulangan anaknya. "Kau datang tepat waktu untuk melihat matahari terbenam."
Rebecca berhenti lima langkah di depan ayahnya. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Berhenti bersandiwara, Papa. Aku sudah melihat datanya. Aku sudah melihat kode enkripsi perusahaan cangkangmu yang mematikan sistem keamanan Moretti."
Arthur meletakkan gelasnya dengan perlahan. Wajahnya berubah layu, matanya mulai berkaca-kaca—sebuah trik yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Rebecca saat ia masih kecil. "Kau tidak mengerti, Nak. Valenti... mereka akan membunuhku. Aku melakukan ini demi kita. Jika Max mati, kekuasaan Moretti akan runtuh, dan d'Angelo berjanji akan mengembalikan seluruh aset Sinclair. Kita bisa kembali ke London, kita bisa memulai hidup baru yang bersih. Tidak ada lagi darah, tidak ada lagi mafia."
"Bersih?" Rebecca tertawa getir, suaranya pecah oleh rasa mual. "Kau mencoba membunuh pria yang menyelamatkanku saat kau membiarkan Valenti menyeretku! Kau menjual kunci rumah tempatku tidur hanya agar kau bisa berjudi lagi dengan uang d'Angelo? Kau menyebut itu hidup bersih?"
Arthur tiba-tiba berdiri, langkahnya gontai saat ia mendekati Rebecca. "Dengar, Rebecca! Maximilian Moretti adalah iblis! Dia tidak mencintaimu, dia hanya memanfaatkan namamu untuk memperkuat legitimasinya di pelabuhan. Dia meracuni pikiranmu hingga kau tega mengacungkan senjata pada ayahmu sendiri!"
Arthur meraih tangan Rebecca, mencoba memeluknya dengan paksa. "Ikutlah dengan Papa sekarang. Ada jalan rahasia di bawah vila ini. Helikopter d'Angelo menunggu di balik bukit. Jika kau membantuku melarikan diri, aku akan memberimu kode akses ke rekening rahasia Valenti yang bisa menghancurkan Max seketika. Kita bisa bebas, Rebecca. Kau tidak harus menjadi budak di ranjang Moretti selamanya."
Inilah dilema moral yang menghantam Rebecca seperti badai. Di depannya berdiri pria yang memberinya kehidupan, pria yang darahnya mengalir di nadinya. Arthur menawarkan kebebasan dari dunia gelap Maximilian—sebuah tawaran untuk kembali menjadi Rebecca Sinclair yang biasa. Namun, di baliknya ada pengkhianatan total terhadap Maximilian, pria yang telah mengajarinya cara berdiri tegak dan memberikan jantungnya sebagai jaminan.
"Papa sedang menawariku untuk mengkhianati pria yang memberiku mahkota ini demi seorang pria yang menjualku untuk membayar hutang judi?" bisik Rebecca, matanya menatap tajam ke arah Arthur.
"Dia bukan duniamu, Nak! Darah lebih kental dari wiski yang diminum Max!" Arthur berteriak, wajahnya kini memerah. "Jika kau tidak membantuku, d'Angelo akan meledakkan tempat ini! Mereka sudah memasang bom di fondasi vila ini sebagai rencana cadangan jika penyusupan semalam gagal. Pilih sekarang, Rebecca! Ayahmu, atau monster itu?!"
Telinga Rebecca berdenging. Bom. Ia melirik ke arah jendela, di mana ia tahu Maximilian sedang menunggu sinyalnya. Jika ia memilih ayahnya, ia bisa menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia miliki, namun ia akan menghancurkan Maximilian. Jika ia memilih Maximilian, ia harus membiarkan ayahnya membusuk atau bahkan tewas dalam konfrontasi ini.
Arthur melihat keraguan di mata Rebecca dan segera mengeluarkan sebuah pemantik api kecil yang tampak aneh. "Ini adalah pemicunya, Rebecca. d'Angelo memberikannya padaku. Jika kau tidak segera pergi bersamaku melalui jalur bawah, aku akan menekan tombol ini. Kita mati bersama, atau kita bebas bersama. Pilih!"
Manipulasi Arthur mencapai puncaknya. Ia menggunakan nyawa mereka berdua sebagai taruhan untuk memaksa Rebecca berpihak padanya. Rebecca merasa sesak. Kenangan masa kecil saat Arthur mengajarinya berkuda di London berkelebat, beradu dengan kenangan saat Maximilian mengajarinya menembak di bawah salju pegunungan.
"Kau benar, Papa," ucap Rebecca pelan, air mata mengalir tenang di pipinya. "Darah memang lebih kental dari wiski."
Arthur tersenyum penuh kemenangan, mengira ia telah memenangkan kembali putrinya. "Bagus, Nak. Ayo, cepat—"
"Tapi darah Moretti sudah bercampur dengan darahku malam saat aku menarik pelatuk untuk melindunginya," potong Rebecca dengan suara yang kini sedingin es utara.
Dalam satu gerakan kilat yang ia pelajari dari Erica, Rebecca tidak menarik senjatanya. Ia justru menerjang maju, mencengkeram pergelangan tangan Arthur dan menghantamkannya ke pinggiran meja marmer. KRAK! Tulang pergelangan tangan Arthur patah, dan pemantik pemicu itu jatuh ke lantai.
"Aaaarrgh! Kau... kau anak durhaka!" raung Arthur sambil memegangi tangannya.
Rebecca memungut pemicu itu, lalu menatap ayahnya dengan tatapan yang sudah tidak lagi mengandung cinta, hanya ada kehampaan. "Kau tidak pernah mencintaiku, Papa. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Kau menggunakan aku sebagai chip judi terakhirmu."
Rebecca menekan interkom di kerahnya. "Max, Vargo... masuk. Amankan area bawah tanah. Ada ancaman bahan peledak. Ayahku... dia sudah selesai."
Pintu vila didobrak terbuka. Maximilian masuk dengan senapan serbu di tangan, diikuti oleh tim taktis. Max segera menghampiri Rebecca, memeriksa keadaannya. Ia melihat Arthur yang meringkuk di lantai, lalu menatap pemicu di tangan Rebecca.
"Kau baik-baik saja?" tanya Maximilian, suaranya penuh kekhawatiran yang tulus.
Rebecca tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dada Maximilian, membiarkan senjatanya tetap di pinggang. Ia telah membuat pilihannya. Ia telah memutus tali terakhir yang mengikatnya pada masa lalu yang beracun.
"Bawa dia, Vargo," perintah Maximilian dingin. "Pastikan dia tidak mati dulu. Dia punya banyak penjelasan yang harus diberikan tentang d'Angelo."
Saat Arthur diseret keluar oleh pengawal Moretti, ia masih terus berteriak, menyebut Rebecca sebagai pengkhianat bangsa Sinclair. Rebecca hanya diam, menutup telinganya di dalam dekapan Maximilian.
"Aku sudah kehilangan ayahku, Max," bisik Rebecca.
"Tidak," sahut Maximilian, mencium puncak kepala Rebecca dengan lembut. "Kau baru saja membuang benalu yang menghambatmu menjadi penguasa yang sebenarnya. Hari ini, kau bukan lagi seorang Sinclair yang malang. Kau adalah Moretti seutuhnya."
Di bawah langit Tuscany yang kini sepenuhnya gelap, vila itu tidak meledak—tim Vargo berhasil menjinakkan ancaman d'Angelo tepat waktu. Namun, di dalam batin Rebecca, sebuah ledakan besar telah terjadi. Ia telah memilih jalannya, memilih rajanya, dan memilih untuk meninggalkan moralitas lama demi keadilan baru yang ditulis dengan darah dan kesetiaan.
Konfrontasi itu mengakhiri dilema moralnya selamanya. Rebecca Moretti kini berdiri tegak, siap menghadapi dunia bawah tanah yang jauh lebih rumit, karena ia tahu bahwa pengkhianatan terdalam pun tidak akan sanggup meruntuhkan mahkota yang kini ia pakai dengan bangga.
𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨
𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪
𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘