NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29 Sudah Mengingatmu

Happy reading

Hawa menatap lekat foto Dzaki kecil dan mengusapnya lembut. Bibirnya melengkung tipis, diiringi setetes air bening yang jatuh dari sudut netra.

Ia sungguh tidak menyangka, jika lelaki yang menasbihkan diri sebagai calon suami adalah sahabatnya di masa kecil. Bocah laki-laki yang pernah berjanji akan kembali untuk menjaga dan melindunginya.

"Rama, jadi kamu... Dzaki?" Hawa berbisik lirih.

Ia mendekap album foto berwarna biru muda miliknya sembari memejamkan mata. Membawa memorinya berkelana ke masa lalu, sebelum Dzaki terbang ke luar negeri bersama kedua orang tuanya, sementara kakak perempuannya tinggal di pesantren.

Dua belas tahun silam....

"Dzaki!" Hawa berteriak sambil berlari kencang ke arah mobil yang sudah siap berangkat.

"Tunggu! Jangan pergi!" serunya memohon, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Dzaki dengan napas yang memburu.

"Hawa..." Dzaki menatap sendu. Hatinya serasa diremas kuat saat pandangan matanya terkunci pada manik indah Hawa yang mulai terbingkai embun. Ada beban berat yang tiba-tiba menghimpit dada, membuatnya nyaris tak tega meninggalkan sahabat kecilnya itu.

"Kamu beneran mau pergi?" tanya Hawa parau. Pandangan matanya tak lepas dari wajah sahabat yang sangat ia kasihi.

"Iya, aku harus pergi, Wa," jawabnya pelan. "Tapi aku janji, aku akan kembali untuk menjaga dan melindungimu."

"Kapan?"

"Semoga nggak lama."

"Aku pegang janjimu." Hawa menyodorkan jari kelingking dengan tangan yang sedikit bergetar.

Dzaki mengulas senyum tipis, lalu menautkan kelingkingnya.

Bayu berhembus pelan, seolah semesta turut menjadi saksi bisu atas janji yang diucapkan sepasang sahabat di pagi itu

"Dzaki, simpan topi ini!" Hawa mengulurkan topi bertuliskan inisial H & D. Ia sengaja memberikan tanda persahabatan itu, berharap agar Dzaki selalu menggenggam kenangan tentangnya di mana pun ia berada.

"Aku akan menyimpan dan menjaganya," sahut Dzaki tulus sembari menerima topi itu dari tangan Hawa.

Sejenak, Dzaki terdiam menatap Hawa. "Mulai hari ini, jangan pakai baju yang memperlihatkan bahu lagi," sambungnya. Ia melepas kemeja luar yang dikenakannya, lalu menyampirkannya dengan hati-hati di pundak Hawa.

"Bukan karena tanda di bahumu, tapi karena sayang jika keindahan itu dilihat oleh banyak mata," bisiknya lembut, memastikan pundak sahabatnya tertutup sempurna.

"Hawa, Dzaki!" suara Damar seketika mengalihkan atensi. Dzaki dan Hawa serentak menoleh, mendapati sahabat mereka itu tengah berlari mendekat dengan napas yang memburu.

"Jendral, kamu beneran mau pergi?" tanya Damar terengah-engah sembari memegangi perutnya yang kram.

"Iya," jawab Dzaki dengan anggukan samar. Tatapannya mendalam saat ia menatap Damar. "Aku titip Hawa, ya. Jaga dan lindungi dia sampai aku kembali."

"Sebagai Wakil Jendral, aku berjanji akan menjaga dan melindungi Hawa!" seru Damar mantap, memberikan penghormatan kecil layaknya prajurit sejati.

Dzaki menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan senyum. Ia menepuk pelan pundak Damar, merengkuh tubuh sahabatnya itu lalu memeluknya singkat--sarat akan makna perpisahan.

"Dzaki, ayo kita berangkat, Nak," suara lembut Almira memecah suasana. Ia lantas memandu putra bungsunya untuk segera masuk ke dalam mobil.

Sebelum menyusul, Almira sempat menyapa Hawa dan Damar, memberi pelukan hangat yang menenangkan bagi kedua sahabat putranya itu.

"Dzaki, jangan lama-lama di sana, ya! Cepat pulang, aku menunggumu!" Hawa kembali berlari kecil, berusaha mengejar mobil yang perlahan menjauh, membawa separuh dunianya pergi hingga benar-benar lenyap dari cakrawala.

Kala itu, tak ada kosa kata cinta antara anak laki-laki dan perempuan di antara mereka. Yang ada hanyalah rasa saling mengasihi dan menyayangi yang murni. Mereka hanya tahu cara menjaga janji sebagai bukti ketulusan, tanpa sedikit pun pamrih perasaan.

Lamunan Hawa buyar, bersamaan air langit yang mulai tumpah menghantam bumi dan suara gelegar guntur yang memekakkan telinga.

"Dzaki..." Ia kembali bergumam lirih. Dekapannya pada album foto itu semakin mengerat seiring potongan memori tentang Dzaki--sahabat kecilnya kian utuh di kepala.

Pertahanan Hawa runtuh; air matanya mengalir semakin deras, membasahi permukaan album foto yang masih ia peluk--seakan sedang memeluk sosok Dzaki itu sendiri. 

Ada rasa sesak sekaligus lega yang membuncah di dadanya. Kepastian yang selama ini ia cari mulai menemukan muaranya.

Hawa menghapus sisa tangisnya dengan jemari yang masih bergetar, lalu menatap lurus ke depan dengan keyakinan baru.

Ia berjanji, esok ia akan mengunjungi rumah Rama--atau Dzaki--untuk memastikan kebenaran yang sesungguhnya. Ia harus tahu, apakah lelaki yang menasbihkan diri sebagai calon suaminya benar-benar bocah laki-laki yang dulu berjanji akan menjaga dan melindunginya.

.

.

Langit pagi ini membentang cerah, secerah paras Hawa yang terhias riasan tipis. Rikmanya terbalut anggun oleh pasmina biru muda--warna kesukaannya yang juga pemberian dari Rama.

Ia mulai melajukan motor matiknya dengan jemari yang sedikit bergetar. Ada debar yang tak biasa di balik dadanya; debar yang lahir karena sebuah kesadaran baru. Bahwa sosok yang akan ditemuinya pagi ini bukan sekadar lelaki yang menasbihkan diri sebagai calon suami, melainkan juga separuh nyawanya di masa kecil yang sempat hilang.

"Aku datang, Dzaki," bisiknya pelan, membiarkan angin pagi membawa harapannya terbang lebih dulu menuju rumah itu.

Seketika, Hawa menghentikan laju motornya saat tanpa sengaja pandangannya jatuh pada sosok yang teramat ia kenali.

"Rama?" gumamnya pelan sembari mempertajam penglihatan.

Tak jauh darinya, Rama--atau Dzaki--terlihat sedang memanggul karung beras lalu menaruhnya di atas becak. Lelaki bermata teduh itu tampak bercakap-cakap dengan seorang wanita paruh baya.

Wanita itu mengulurkan selembar uang dua puluh ribuan, namun Rama menolaknya dengan halus.

"Saya yakin, Mas ganteng ini bekerja jadi kuli panggul demi membantu orang tua. Tolong terima uang ini, jangan menolak rezeki," bujuk wanita itu.

Rama tampak menarik napas panjang, lantas mengangguk pelan dengan senyum tipis yang tulus. "Iya, Bu, saya terima. Terima kasih banyak. Semoga Allah menganugerahi rezeki yang berkah dan berlimpah untuk Ibu," doanya.

"Aamiin. Nah, harus begitu, Mas. Jangan pernah menolak rezeki dari Gusti Allah. Semoga bermanfaat untuk keluarga, ya."

Selepas becak yang membawa si ibu berlalu, Rama menghampiri seorang kakek penjual balon. Ia memberikan uang hasil membantu memanggul beras tadi secara cuma-cuma. Namun, sang kakek menolak menerima pemberian itu dengan tangan kosong; ia justru menyodorkan satu balon berbentuk hati.

"Untuk gadis yang dicinta, Mas," ucap kakek itu, membuat Rama tak kuasa menolak.

Sebaris senyum terbit menghiasi paras cantik Hawa. Menyaksikan adegan yang tersuguh itu membuat hatinya dipenuhi rasa haru sekaligus bangga.

"Rama!" panggilnya sedikit berseru.

Refleks, Rama menoleh. Bibirnya melengkung tipis saat menemukan sosok pemilik suara. Ia berjalan dengan langkah lebar menghampiri Hawa, lantas mengulurkan balon di genggamannya pada sang tambatan hati.

"Terima kasih, ya," ucap Hawa sembari menerima balon dari tangan Rama.

"Kembali kasih," balas Rama cepat, diiringi senyum khasnya.

"Lagi menyamar jadi kuli panggul, ya, Pak?" seloroh Hawa sambil terkekeh.

"Bukan menyamar, tapi sedang belajar mengangkat beban."

"Wah, boleh dong minta tolong diangkatkan beras belanjaan Bi Ijah?"

"Boleh. Jangankan beras, nonanya Bi Ijah pun sanggup aku panggul sampai ke pelaminan," balas Rama diiringi tawa kecil, melukis semburat merah di pipi hawa.

"Mau ke mana, Wa?" tanyanya kemudian.

"Mau ke rumah calon mertua."

Dahi Rama mengernyit, tatapannya menyiratkan tanda tanya yang nyata. "Siapa?"

"Om Arya dan Tante Almira."

Rama seketika mengembangkan senyum. Ia mendengus geli, menyadari dirinya sempat dihinggapi rasa cemburu sesaat karena jawaban Hawa. "Jadi... kamu sudah mengingatku?"

Hawa mengejapkan mata, menatap wajah Rama dengan binar yang mewakili seluruh rasa di dada.

"Iya, aku udah mengingatmu, Dzaki," ucapnya dengan suara bergetar dan manik yang mulai berkaca-kaca.

Sejenak, dunia seolah berhenti berputar. Membiarkan hening mengamini rasa syukur yang terlafaz di dalam benak atas pertemuan yang teramat indah ini.

🍁🍁🍁

Bersambung

Alhamdulillah, tanpa terasa kita sudah tiba di penghujung Bulan Ramadhan, semoga amalan kita di bulan suci ini diterima Allah SWT. Aamiin.

Yuk, semangat bersiap menyambut hari kemenangan ❤️

1
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!