NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ekspedisi Alpen dan Jebakan Salju Elena

Pagi itu, Munich diselimuti kabut tipis yang membuat gedung-gedung tua terlihat seperti dekorasi di dalam bola salju kaca. Di apartemen 402, suasana sedang kacau balau. Arlan sedang memeriksa peralatan sensor di dalam tas ranselnya, sementara Ghea sedang sibuk memasukkan enam lapis kaus kaki ke dalam sepatunya.

"Ghe, lo mau naik gunung atau mau jadi mumi kaki?" tanya Arlan sambil memperhatikan Ghea yang kesulitan memakai sepatunya sendiri.

"Ar, Alpen itu tingginya ribuan meter! Gue nggak mau pas sampe sana jempol kaki gue membeku terus copot pas gue lagi jalan! Lo bayangin betapa horornya itu!" jawab Ghea sambil mendengus kelelahan.

Juna, yang statusnya sekarang adalah 'Objek Riset' ilegal, sedang asyik makan roti gandum pakai selai kacang di sofa. "Tenang Ghe, kalau kaki lo copot, nanti gue bikinin kaki palsu pakai bambu jepang. Tetap semangat!"

"Diem lo, Juragan Lele!" Ghea melempar syal ke arah Juna.

Arlan menarik napas panjang. "Ghe, dengerin. Slot riset ke Alpen ini cuma ada dua. Profesor Hans secara resmi nunjuk gue dan Elena. Tapi gue udah bilang kalau gue butuh bantuan teknis dari asisten gue. Profesor Hans setuju, tapi lo harus bisa buktiin kalau lo bukan beban di lapangan."

"Gue bakal buktiin, Ar! Gue bakal jadi asisten paling tangguh se-Alpen!" seru Ghea sambil akhirnya berhasil memasukkan kakinya ke sepatu.

Perjalanan menuju Pegunungan Alpen ditempuh dengan bus khusus universitas. Di dalam bus, Elena duduk di baris paling depan dengan peralatan navigasi canggih di pangkuannya. Dia memakai jaket merk outdoor ternama yang harganya mungkin setara dengan gaji Juna jualan siomay selama lima tahun.

"Arlan, I've calculated our hiking route. Kita akan mendaki sampai ketinggian 2.500 meter untuk ambil sampel salju murni," ucap Elena dengan aksen yang dibuat sesempurna mungkin. Dia menoleh ke arah Ghea yang duduk di belakang Arlan. "Ghea, are you sure you can do this? Udara di atas sana tipis, oxygen is limited."

Ghea langsung memakai kacamata hitamnya (meskipun di dalam bus). "Elena, gue ini alumni pendakian tangga darurat SMA Garuda setiap kali telat masuk kelas. Oksigen tipis bukan masalah, yang masalah itu kalau hati yang tipis karena kebanyakan gengsi!"

Arlan cuma bisa geleng-geleng kepala. "Udah, jangan berantem. Fokus ke tujuan riset."

Begitu sampai di kaki pegunungan Alpen, pemandangannya luar biasa indah. Puncak-puncak gunung yang putih tertutup salju abadi berdiri megah di bawah langit biru yang bersih. Namun, udaranya... Brrr! Rasanya seperti masuk ke dalam gudang es batu raksasa.

"Oke, tim. Kita mulai pendakian," instruksi Profesor Hans.

Elena mulai memimpin di depan bersama Arlan. Mereka terlihat sangat serasi: dua jenius Fisika yang sedang berdiskusi soal struktur molekul es sambil melompati batu-batu kecil. Ghea, di sisi lain, mulai merasa napasnya tersengal-sengal. Enam lapis kaus kakinya ternyata membuat kakinya terasa seberat beton.

"Ar... tunggu..." keluh Ghea dari belakang.

Elena menoleh dengan senyum licik. "Oh, is the 'official assistant' tired already? Mungkin lo harus tunggu di pos bawah saja bareng sopir bus."

"Enggak! Gue tetep lanjut!" Ghea memaksakan langkahnya.

Setengah jam kemudian, mereka sampai di sebuah jalur yang bercabang. Elena menunjuk ke arah jalan setapak yang tertutup salju tebal dan terlihat sangat curiga. "Arlan, menurut GPS gue, jalur ini lebih cepat menuju titik koordinat sampel. Profesor Hans dan tim lain lewat jalur utama, tapi kita bisa ambil jalur ini buat dapet sampel yang lebih murni."

Arlan melihat peta fisiknya. "Tapi Elena, jalur ini kelihatan tidak stabil. Bahaya longsor salju kecil (sluff) bisa terjadi."

"Trust me, Arlan. Gue udah sering mendaki di sini. It's safe," Elena meyakinkan Arlan.

Ghea, yang insting 'bertahan hidup di pasar malam'-nya sangat kuat, merasa ada yang tidak beres. "Ar, gue nggak suka jalur itu. Kelihatan licin banget. Mending kita lewat jalur yang Profesor Hans lewati aja."

"Ghea, don't be a coward," ejek Elena. "Arlan, ayo. Kita harus tunjukkan kalau tim kita paling cepat."

Arlan akhirnya setuju karena dikejar waktu sebelum matahari terbenam. Mereka bertiga masuk ke jalur sempit itu. Elena memimpin di depan, Arlan di tengah, dan Ghea di belakang.

Tiba-tiba, Elena melakukan gerakan yang sangat cepat. Dia berpura-pura terpeleset, namun kakinya sengaja menendang tumpukan salju di pinggir tebing setapak yang membuat tumpukan es di atas mereka menjadi tidak stabil.

CRACKKK!

"ARLAN, LOOK OUT!" teriak Elena sambil melompat ke arah depan, menjauhi area longsor.

Namun, longsoran salju kecil itu justru jatuh tepat di antara Arlan dan Ghea. Ghea yang kakinya berat karena enam lapis kaus kaki, tidak sempat menghindar.

"GHEAAAA!" teriak Arlan.

Arlan mencoba menarik tangan Ghea, tapi es di bawah kaki mereka pecah. Mereka berdua tergelincir jatuh ke sebuah celah kecil di lereng bukit. Untungnya, celah itu tidak dalam, tapi mereka terjebak di dalam lubang salju yang dalamnya sekitar dua meter dengan dinding es yang sangat licin.

Elena berdiri di pinggir lubang, melihat ke bawah dengan ekspresi yang sulit diartikan—setengah panik, setengah puas. "Oh my god! Arlan! Are you okay?!"

"Ghea pingsan, Elena! Bantu gue tarik dia ke atas!" seru Arlan sambil memangku kepala Ghea yang terbentur dinding es.

"Wait, I... I need to find help! GPS gue mendadak mati di sini! Gue bakal cari Profesor Hans!" Elena berteriak, lalu dia justru berlari menjauh. Sebenarnya, Elena tidak mencari bantuan, dia hanya ingin Arlan "terjebak" sebentar bersama Ghea agar mereka ketinggalan momen riset penting, atau setidaknya membuat Ghea kapok ikut ke lapangan.

Di dalam lubang es yang dingin, Arlan mulai panik. Suhu tubuh Ghea mulai turun. Ghea mengerang pelan, perlahan membuka matanya.

"Ar... kita udah di surga ya? Kok adem banget..." igau Ghea.

"Ghea! Sadar, Ghe! Kita jatuh ke lubang. Lo nggak apa-apa?" Arlan memeluk Ghea erat untuk memberikan kehangatan.

Ghea mulai sadar sepenuhnya. "Aduh, kepala gue... Ar, si Noni Pirang mana? Dia yang bikin saljunya runtuh tadi! Gue liat kakinya nendang itu tebing es!"

Arlan terdiam. Dia sebenarnya juga merasa ada yang aneh dengan gerakan Elena tadi. "Sekarang bukan waktunya bahas itu. Kita harus keluar dari sini sebelum kita kena hipotermia."

Arlan mencoba memanjat dinding es, tapi permukaannya terlalu licin. Dia jatuh lagi ke bawah.

"Gue nggak bisa manjat, Ghe. Dindingnya terlalu rata."

Ghea mencoba berpikir keras. Dia meraba-raba tas kecilnya. "Tunggu... gue bawa sesuatu."

Ghea mengeluarkan benda-benda dari tasnya: botol air mineral (yang sudah jadi es), catokan rambut (entah kenapa masih dibawa), dan... SAMBAL ULEK JUNA.

"Ghe, lo mau makan sambal di saat kayak gini?!" Arlan melongo.

"Bukan buat dimakan, Robot! Dengerin teori gue," Ghea berdiri dengan semangat yang tiba-tiba bangkit. "Sambal ulek ini mengandung capsaicin tingkat tinggi dan minyak. Minyak dan zat kimia di dalamnya bisa bikin es sedikit meleleh atau setidaknya jadi kasar kalau bereaksi dengan tekanan. Dan catokan ini... meskipun nggak ada listrik, ujungnya tajam!"

Ghea merobek sachet sambal uleknya, lalu dia mengoleskan sambal itu ke dinding es dalam pola zigzag sebagai pijakan. Aroma terasi dan cabai yang tajam langsung menusuk hidung mereka di tengah dinginnya Alpen.

"Ar, cepet pake catokan ini sebagai pengait di bagian yang udah gue kasih sambal. Sambalnya bakal bikin esnya jadi nggak terlalu licin karena ada tekstur biji cabainya!"

Arlan melihat Ghea dengan tatapan takjub. "Ghea... lo bener-bener gila. Tapi ini jenius dalam cara yang sangat absurd."

Arlan mulai memanjat. Dia menancapkan ujung catokan ke dinding es, menginjak area yang sudah diolesi sambal ulek. Dan benar saja! Tekstur minyak dan biji cabai itu memberikan sedikit friction (gesekan) yang dibutuhkan sepatunya untuk menumpu.

Dengan perjuangan luar biasa (dan tangan yang bau sambal), Arlan berhasil mencapai bibir lubang. Dia lalu menarik Ghea ke atas dengan tali tas ranselnya.

"HUP!"

Mereka akhirnya berhasil keluar dari lubang maut itu. Mereka berdiri di atas salju, napas mereka terengah-engah, dengan baju yang penuh noda merah sambal ulek.

"Kita selamat, Ar!" Ghea langsung memeluk Arlan.

Tiba-tiba, dari arah jalur utama, Profesor Hans dan tim keamanan datang berlari. Di belakang mereka, Elena tampak pura-pura menangis. "Professor! I found them! They fell into the hole!"

Elena berlari ke arah Arlan. "Arlan! Mein Gott, are you hurt?!"

Arlan melepaskan tangan Elena dengan kasar. Dia menatap Elena dengan tatapan yang sangat dingin, lebih dingin dari es Alpen. "Gue nggak apa-apa, Elena. Berkat asisten gue dan 'teknologi' Indonesia yang lo anggap sampah tadi."

Arlan menunjukkan tangannya yang masih berlumuran sambal ulek ke depan muka Elena. "Lo mau tahu apa yang menyelamatkan gue? Sambal ulek ini. Sesuatu yang nggak akan pernah ada di dalam perhitungan GPS lo."

Profesor Hans melihat ke arah lubang dan noda merah di dinding es. "Is that... chili sauce? On the ice?"

Ghea maju ke depan, membetulkan kacamatanya yang pecah sebelah. "Yes, Professor! Itu adalah riset terbaru saya: The Application of Capsaicin for Emergency Ice Climbing. Sangat efektif untuk menghadapi pengkhianat di medan salju."

Elena terdiam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi. Profesor Hans tampak sangat terkesan. "Unbelievable! Innovation out of necessity! Arlan, Ghea, kalian berdua adalah tim yang luar biasa. Elena, saya butuh penjelasan kenapa kalian bisa keluar dari jalur utama."

Malam harinya di penginapan kayu di kaki gunung. Arlan dan Ghea duduk di depan perapian. Juna mendadak menelepon video call karena kangen.

"GHE! GIMANA ALPEN?! LO JADI ES MAMBO NGAK?!" teriak Juna dari layar HP.

"Jun! Sambal lo jadi pahlawan di Alpen!" Ghea menceritakan semuanya dengan menggebu-gebu.

Juna ketawa sampai guling-guling. "Gila! Besok gue bakal tulis di gerobak gue: 'Siomay Juna, Teruji di Pegunungan Alpen!'"

Setelah menutup telepon, Arlan menatap Ghea yang sedang menghangatkan tangannya di depan api.

"Ghe," panggil Arlan.

"Ya?"

"Gue baru sadar satu hal. Gue ke Jerman buat belajar dari profesor-profesor hebat. Tapi ternyata, pelajaran paling penting tentang bertahan hidup justru gue dapet dari cewek yang bawa catokan ke gunung salju."

Arlan mendekat, lalu mencium kening Ghea dengan lembut. "Makasih ya, udah nggak menyerah tadi."

Ghea tersenyum malu, wajahnya memerah bukan lagi karena kedinginan. "Sama-sama, Ar. Tapi janji ya, nanti pas balik ke Munich, kita beli mesin cuci yang bagus. Jaket gue bau terasi semua nih!"

Mereka berdua tertawa di depan perapian. Di kejauhan, Elena sedang dimarahi habis-habisan oleh Profesor Hans di ruang sebelah. Kemenangan telak untuk tim Indonesia.

Namun, saat Ghea sedang asyik tertawa, dia melihat sebuah pesan masuk di HP Arlan dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu berisi: "Arlan, jangan senang dulu. Keberangkatan kalian ke Jerman sebenarnya punya tujuan lain yang tidak kalian ketahui. Tanya ayahmu tentang 'Proyek 1995'."

Senyum Ghea memudar. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apa itu Proyek 1995?

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!