DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
DUA NIAT DALAM SATU NAMA
Hujan turun seperti biasa.
Tidak deras, tidak juga reda.
Seolah tahu, malam ini bukan tentang badai, melainkan tentang sesuatu yang ditahan terlalu lama.
Aira berdiri di bawah atap halte, memeluk tasnya erat. Ponselnya bergetar sejak tadi. Nama yang sama. Tidak ia buka. Tidak juga ia matikan.
“Aira.”
Suara itu datang dari samping.
Tenang. Terlalu tenang.
Langit berdiri beberapa langkah darinya. Jaket hitamnya basah di bahu. Rambutnya sedikit kusut. wajahnya tidak membawa senyum yang rapi.
“Aku boleh duduk?” tanyanya.
Aira mengangguk pelan. Mereka duduk berjajar, jarak satu lengan, jarak aman yang kini terasa seperti jurang.
“Kamu kelihatan menjauh,” ujar Langit akhirnya.
Aira menatap lurus ke depan. “Aku belajar berhenti mendekat.”
Langit tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Aku tahu kamu cari tahu tentang keluargaku.”
Aira menoleh cepat. “Aku nggak menyangkal.”
“Dan kamu pikir aku datang ke hidupmu karena itu,” lanjut Langit. Bukan bertanya. Tapi Menyimpulkan.
Aira menghela napas. “Aku pikir… aku perlu jujur sama diriku sendiri.”
Langit terdiam. Lalu berkata pelan, sangat pelan, seolah takut salah kata akan menghancurkan sesuatu yang rapuh.
“Aira… aku jatuh cinta sama kamu sebelum aku tahu kamu anak siapa.”
Kalimat itu tidak meledak. Tidak dramatis. Tapi justru karena itu, dada Aira terasa sesak.
“Kapan?” tanyanya lirih.
“Hari pertama,” jawab Langit tanpa ragu.
“Di halte ini. Kamu berdiri sambil baca catatan, alismu berkerut, kamu seakan lupa kalau hujan sedang membasahi bumi, Aku ingat aku mikir… orang ini hidupnya sangat serius sekali, tapi matanya kelihatan kesepian.”
Aira menunduk.
“Aku nggak rencanain itu,” lanjut Langit. “Aku nggak nyari kamu. Aku bahkan nggak tahu kamu anak dari...”
Ia berhenti. Menelan kata yang hampir keluar.
“Ayahku,” Aira melanjutkan dingin.
Langit mengangguk. “Iya.”
Hening lagi.
Hujan mengetuk atap halte, seperti hitungan waktu.
“Kalau begitu,” kata Aira pelan, “kapan kamu mulai tahu?”
Langit tidak langsung menjawab.
“Langit.”
“Setelah beberapa bulan,” katanya akhirnya. “Setelah aku lihat nama lengkapmu di dokumen proyek. Aku pulang malam itu… dan aku nggak tidur.”
Aira memejamkan mata. “Dan kamu tetap di dekatku.”
“Karena aku sudah terlanjur jatuh,” balas Langit cepat. “Dan karena aku bodoh mengira aku bisa memisahkan dua hal itu.”
Aira tertawa kecil, pahit. “Cinta dan dendam?”
Langit tidak menyangkal.
“Aku nggak nyakitin kamu,” katanya, nyaris memohon. “Aku nggak pernah berniat nyakitin kamu.”
Aira menatapnya. “Tapi kenapa kamu tutupin semua nya dari aku, langit aku sangat percaya padamu, apapun itu, entah tentang keluarga, teman-teman ku, kulia, bahkan proyek ini, tapi kamu....”
Langit menunduk.
Itu jawaban yang lebih jujur dari kata apa pun.
“Aku cuma mau kamu tahu,” katanya akhirnya, “perasaanku ke kamu nyata. Apa pun yang kamu curigai… jangan ragukan itu.”
Aira berdiri. “Perasaan yang tumbuh di atas kebohongan… tetap menyakitkan, Langit.”
Ia melangkah pergi. Tidak berlari. Tidak menoleh.
Langit tidak mengejarnya.
Karena ia tahu, mengatur rencana ke plan B ia tidak mau kehilangan kendali atas rencana yang sudah ia susun terlalu lama.
...####...
Aku dulu percaya dendam itu sederhana.
Aku salah.
Dendam bukan tentang teriakan atau balas pukul.
Dendam adalah kesabaran yang dingin.
Aku melihat ayahku dipulangkan lebih awal setiap hari.
Melihat ibu menghitung uang receh di meja makan.
Melihat kakakku menahan sakit, tapi tetap bilang “nggak apa-apa” sampai tubuhnya menyerah.
Dan aku melihat satu nama, berulang kali, di dokumen yang tidak pernah berubah.
Nama yang hidupnya tetap rapi.
Awalnya Aku tidak ingin membawa Aira ke rencana ini, tapi Salman Maheswari, harus merasakan penderitaan dan kehilangan yang sama denganku, dengan mematahkan hati anak kesayangan nya, aku tau, Salman Maheswari selalu dingin, kaku, dan menuntut kesempurnaan untuk Aira, itu semua agar Aira tidak bergantung ke siapa-siapa dan bisa hidup mandiri, Itu hal pertama yang harus kupahami. Aku ingin menghancurkan narasi.
Salman Maheswari, membangun hidup di atas citra, keberhasilan, integritas, keluarga teladan.Maka rencanaku bukan merusak dengan kasar.
Melainkan membuka satu demi satu celah yang selama ini disembunyikan rapi.
Sesuai dengan yang ku katakan tadi Aku mendekati Aira bukan untuk menjadikannya korban.
Aku mendekatinya karena aku tahu,
tidak ada pintu yang lebih dekat ke reputasi seorang ayah selain kepercayaan anaknya.
Rencanaku sederhana tapi mematikan,
Membuat Aira percaya padaku.
Bukan pura-pura. Aku harus sungguh-sungguh. Karena kebohongan paling kuat adalah yang bercampur kebenaran.
Menjadi saksi hidup bahwa dampak proyek itu nyata.
Bukan lewat tuduhan. Lewat cerita. Lewat luka yang tidak bisa dibantah.
Membiarkan Aira yang menarik benang-benang itu sendiri.
Karena jika ia yang menemukan, maka ia yang akan bertanya.
Dan pertanyaan dari anak… jauh lebih menghancurkan daripada tuduhan dari orang luar.
Menunggu momen publik yang tepat.
Bukan aku yang bicara.
Bukan keluargaku.
Tapi data, arsip, dan suara-suara kecil yang selama ini ditenggelamkan.
Dan jika semua berjalan sesuai rencana,
ayah Aira tidak akan jatuh karena skandal.
Ia akan jatuh karena masalah lalu nya yang akhirnya dipercaya orang.
Aku tidak pernah berniat membuat Aira jatuh cinta.
Itu kesalahanku.
Tapi sekarang ia sudah terlanjur di tengah.
Dan aku… tidak lagi yakin aku sanggup menarik diri.
Karena dendam mengajarkanku banyak hal.
Tapi cinta, cinta mengacaukan segalanya.
...####...
Malam itu, Aira tidak menangis.
Ia duduk di kamarnya, menatap layar ponsel yang gelap, dan menyadari sesuatu yang lebih menakutkan dari kebohongan.
Jika Langit benar-benar merencanakan semuanya,
maka ia adalah musuh yang rela menghancurkan dirinya sendiri demi membalas masa lalu.
Tapi jika sebagian dari perasaannya nyata, maka Aira sedang berharap bahwa itu nyata
Dan di antara dua kemungkinan itu,
Aira sadar, apa pun yang ia pilih,
tidak ada jalan keluar tanpa luka.
Ia menutup mata.ia tidak tahu harus percaya pada siapa
pada darah yang membesarkannya,
atau pada luka yang memilih mencintainya.
...####...
Penangguhan proyek itu seharusnya menjadi akhir.
Atau setidaknya jeda.
Tapi bagi Langit, jeda hanyalah waktu untuk mengatur ulang arah.
Ia duduk di kamar, Jam dinding berdetak pelan. Laptop terbuka. Tidak ada foto Aira di layar. Tidak ada kenangan. Hanya arsip.
Judul-judul lama.
Tanggal-tanggal yang hampir dilupakan orang.
Nama yang sama, berulang kali.
Artikel ayah Aira.
Tulisan yang dulu pernah dipuji, tajam, berani,
“berpihak pada publik”.
Tulisan yang kemudian menjadi kontroversi, lalu perlahan menghilang dari percakapan.
Langit menatap satu kalimat yang dulu ia baca sambil duduk di lantai rumah lama mereka
“Seluruh warga terdampak telah menerima kompensasi sesuai prosedur.”
Kalimat itu tidak salah secara bahasa.
Hanya salah secara kenyataan.
Ia menutup laptop sejenak. Menarik napas panjang.
Lalu membuka kembali, kali ini bukan arsip, melainkan aplikasi pesan.
Nama kontaknya tidak banyak.
Satu di antaranya tersimpan tanpa foto, tanpa nama lengkap.
Hanya satu kata: Mediator.
Langit
Aku mau cerita lama dinaikkan lagi.
Bukan gosip.
Balasan datang cepat.
Mediator:
seberapa lama?
Langit tersenyum tipis.
Langit:
Yang sengaja ditenggelamkan.
Ia mengirimkan dokumen.
Potongan laporan distribusi.
Daftar relokasi.
Artikel lama ayah Aira, versi cetak dan daring.
Dan satu catatan kecil yang tak pernah dipublikasikan
Daftar “pindah mandiri”
Mediator:
Nama ini sensitif.
Langit:
Justru itu, aku tau kau penerima suap, dan aku punya buktinya kalau kau tidak mau menaikan berita ini, kau tau apa yang terjadi, melanggar kode etik jurnalistik, bisa di pecat dan... Bisa di penjara
Mediator:
Mau dibungkus bagaimana?
Langit menatap layar lama sebelum mengetik.
Langit:
Jangan bilang ini serangan.
Angkat sebagai pertanyaan.
Keraguan.
Inkonsistensi.
Ia berhenti sejenak.
Mengetik lagi.
Langit:
Tekankan satu hal:
bagaimana seseorang bisa menulis artikel kritis tentang proyek…
sementara namanya tercatat sebagai penandatangan proyek itu sendiri.
Mediator tidak langsung membalas.
Langit tahu
pertanyaan seperti itu jauh lebih berbahaya daripada tuduhan.
Berita pertama muncul dua hari kemudian.
Bukan di media besar.
Akun regional.
Akun “pengamat kebijakan”.
Nada netral. Bahasa hati-hati.
“Mengulang Proyek Sungai Selatan: Benarkah Semua Kompensasi Telah Disalurkan?”
Tidak ada nama yang diserang langsung.
Hanya data.
Kutipan.
Dan satu kalimat yang diulang-ulang oleh akun lain:
“Konflik kepentingan dalam jurnalisme sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata.”
Hari berikutnya, berita kedua naik.
“Jejak Lama Proyek Sungai Selatan: Ketika Artikel dan Dokumen Tak Lagi Sejalan.”
Nama ayah Aira mulai disebut.
Bukan sebagai pelaku.
Melainkan sebagai bagian dari sistem yang “perlu diklarifikasi”.
Lalu yang ketiga.
“Ke Mana Perginya Kompensasi? Warga Bantaran Sungai Selatan Masih Menunggu Jawaban.”
Kali ini, narasi berubah.
Bukan lagi soal kesalahan administratif.
Melainkan soal uang.
“Dana yang seharusnya diterima warga diduga tidak sepenuhnya sampai.”
“Dokumen ditandatangani, tetapi distribusi tidak merata.”
“Upaya klarifikasi di masa lalu disebut-sebut terhenti secara tiba-tiba.”
Dan kalimat paling tajam itu muncul, diulang oleh banyak akun
“Mengapa isu ini meredup begitu cepat?
Apakah ada upaya sistematis untuk menutupnya?”
Langit membaca semuanya tanpa ekspresi.
Ia tidak menambahkan opini.
Tidak memberi pernyataan pribadi.
Ia hanya memastikan satu hal:
berita-berita itu muncul bersamaan,
dengan gaya berbeda,
dari sumber berbeda.
Bukan serangan tunggal.
Melainkan gelombang.
...####...
Di rumah Aira, televisi menyala tanpa suara.
Ayah Aira berdiri di depan layar laptop, membaca cepat. Terlalu cepat. Tangannya gemetar, tapi ia menyembunyikannya dengan menggenggam tepi meja.
“Ayah,” panggil Aira pelan dari belakang.
Ayahnya tidak menoleh. “Kamu jangan ikut campur dulu.”
Kalimat itu bukan perintah.
Itu refleks.
Aira melangkah mendekat. Melihat judul-judul yang terbuka di layar.
“Ini… naik lagi,” gumamnya.
Ayahnya menutup laptop dengan cepat.
“Ini lama,” katanya singkat. “Sudah selesai.”
“Tapi orang-orang membicarakannya lagi,” jawab Aira. “Dan mereka bilang”
“Ayah tahu apa yang mereka bilang,” potong ayahnya. Suaranya meninggi sedikit, lalu turun lagi. “Dan ayah juga tahu siapa yang menggerakkan ini.”
Aira menahan napas. “Langit?”
Ayahnya menatap Aira lama.
Tatapan yang dulu dingin, kini diisi sesuatu yang lain, kewaspadaan.
“Kalau dia salah satu keluarga terdampak,” kata ayahnya pelan, “maka dia punya motif.”
“Dan kalau yang dia angkat itu benar?” tanya Aira lirih.
"ayah sudah menunjukan kebenaran di malam kamu bertanya pada ayah, ayah tidak mau menjelaskan nya berkali-kali itu hanya membuat ayah memang pelakunya" Ayahnya menjawab.
...####...
Aku tidak menuduh ayah Aira mencuri.
Aku membiarkan orang lain bertanya:
mengapa ia diam saat sistem mencuri atas namanya.
Aku tidak bilang ia menyuap.
Aku hanya mengangkat fakta
isu itu pernah hilang terlalu cepat.
lalu dibiarkan bekerja sendiri.
Dan jika Aira membaca semua ini,
aku tahu ia akan mulai meragukan dua hal sekaligus
ayahnya,
dan aku.
Itu risiko yang harus dia terima terima.
Karena balas dendam yang paling berhasil
bukan yang membuat musuh berteriak,
melainkan yang memaksa mereka
menjelaskan diri berulang kali… sampai kelelahan.
Malam itu, Aira membuka ponselnya.
Nama Langit muncul lagi.
Kali ini bukan pesan.
Panggilan.
Aira menatap layar lama.
Sangat lama.
Aira menekan terima.
“Halo,” katanya pelan.
Di seberang, Langit terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Aira, Aku nggak minta kamu percaya aku.
Aku cuma minta kamu lihat… apa yang selama ini nggak pernah dikasih kesempatan buat terlihat.”
Bersambung.