Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat
#26
Anjani mondar-mandir dengan gelisah di kamarnya, pikirannya terus tertuju pada momen kedekatan Biru dan Miranda ketika di Mall.
Miranda nampak bergelayut manja di lengan Biru, walau wajar bagi kawula muda, namun, tetap saja, Anjani tak bisa menutupi rasa gelisah di hatinya.
Hingga suara kedatangan Miranda, membuat Anjani keluar dari kamarnya. “Mami mau bicara,” kata Anjani menghentikan langkah Miranda, yang sedang berjalan sambil menari dan bersenandung riang. Benar-benar serupa dengan orang yang sedang dilanda kasmaran.
Wajah Miranda yang semula ceria, berubah jadi kusut menyebalkan manakala berhadapan dengan sang mami. “Mau bicara apa? Aku ngantuk, nih.”
“Apa hubunganmu dengan
tadi?”
“Mami mulai memata-matai aku?” tuduh Miranda dengan dengusan kesalnya.
“Anggap saja begitu.”
“Apa hak Mami?!” pekik Miranda, ia tak suka jika kebebasannya dibatasi, karena Miranda merasa sudah berusaha maksimal menjaga pergaulannya.
“Mami ini, mami kamu, jelas saja Mami berhak mengawasi dan bertanya tentangmu.”
Miranda tersenyum sinis sambil bersedekap, tak pernah berkomunikasi, membuat keduanya tak bisa bicara baik-baik. Bila kebetulan saling bertegur sapa, pada akhirnya hanya amarah yang terlontar.
“Nggak usah sok peduli, deh. Biasanya juga Papi hidup dengan kesibukannya, Mami dengan segala keruwetan hidup Mami, dan aku dengan diriku. Hal semacam itu memang paling cocok dengan kehidupan di rumah ini, Mi.”
“Kamu, tuh, ya. Kalau Mami ngomong, ada aja sahutannya, bisa, nggak, kalau berpikir positif pada sikap Mami?”
“Nggak, bisa.” jawab Miranda yang membuat Anjani tercengang.
“Ah, sudah, sudah, terserah. Mami hanya mau tanya siapa lelaki tadi?”
“Oh, dia pacarku, kenapa? Mami melarang kami berhubungan?”
“Apa kau sudah tahu latar belakangnya?”
“Duh, Mami berisik, deh. Buatku itu nggak penting, lebih tepatnya belum penting, kami yang pacaran aja happy, kok. Belum juga mikir ke pernikahan, ini malah Mami yang rempong nanyain latar belakangnya segala, Mami hidup di era kolonial? ” jawab Miranda begitu panjang membentang seperti garis khatulistiwa.
Kicep, Anjani tak lagi bisa membalas ucapan putrinya, karena sikap dan tabiat Miranda memang serupa dengannya ketika masih seusia Miranda.
Tak lama kemudian, Gunawan pun tiba, tumben-tumbenan pria itu pulang cepat, karena biasanya ia selalu pulang hampir larut malam. “Ada apa, sih, kalian ini kalau bertemu selalu saja ribut?” tegur Gunawan.
“Anakmu ini, loh, Pap. Aku nasehati A dia jawabnya C. Padahal semua demi kebaikannya,” adu Anjani pada suaminya.
“Apaan, sih, Mami lebay aja, Pi. Orang aku cuma jalan sama Biru di mall, Mami udah paranoid aja.” Bukannya diam, Miranda justru kembali menyahuti ucapan Anjani, terkesan saling mengadu pada Gunawan.
“Oh, jadi lelaki itu namanya Biru?”
“Iya, dia juga teman kuliahku, sekarang magang di tempat Papi.”
“Mas, benar, apa yang dikatakan Miranda?”
Gunawan memijat pelipisnya, lelah di tempat kerja, ditambah istri dan anaknya berdebat. Makin pusing saja kepalanya. Hingga Gunawan justru masuk ke kamarnya sendiri, tanpa berucap apa-apa lagi.
Melihat sang papi yang cuek, Miranda ikut tersenyum puas. Gadis itu pun pergi meninggalkan Anjani seorang diri. “Kok, pada pergi, sih?” gerutunya geram, lalu kembali ke kamar sambil menghentakkan kedua kakinya.
Sementara Gunawan langsung mengepalkan tangan dengan perasaan geram yang tak bisa digambarkan, setelah menerima laporan dari orang suruhannya.
•••
Giana, Ayu, dan tim mereka, bekerja sangat cepat menggarap pakaian seragam untuk Pak Menteri sekeluarga. Alih-alih Giana yang mengerjakan, justru sebagian besar proyek tersebut dikerjakan oleh Ayu beserta anak buah Giana.
Hasil imajinasi Ayu, dipadukan dengan kreativitas anak buah Giana, mampu menghasilkan gaun serta pakaian yang memukau, desain trendy, dengan ornamen yang mampu menonjolkan kesan glamour yang tidak mencolok.
Indah, perpaduan warna pastel dan fuchsia, nampak memukau, melengkapi tema lokasi tempat resepsi pernikahan diadakan. Tentunya sang desainer, pun, kelak turut serta diundang untuk menghadiri acara tersebut.
Sementara aktivitas sehari-hari terus berjalan, perseteruan tanpa suara pun terus berlangsung, pihak Gunawan terus melenggang dengan bebas. Dan pihak Ayu serta Giana terus berupaya mengumpulkan kembali serpihan bukti yang masih bertebaran di luar pengetahuan mereka.
Bisa dimaklumi, karena Gunawan dan para antek-antek, serta atasannya, bekerja secara terkoordinasi. Jadi kemungkinan untuk melenyapkan bukti pun sangatlah mudah, karena semua sudah duduk di pos masing-masing.
Namun, bagi Giana yang sudah sangat lama memantau setiap gerak gerik Gunawan, mulai merasa resah dan tak sabar, karena rencananya menjebloskan Gunawan serta seluruh jajarannya terkesan jalan di tempat, tanpa ada kejelasan atau kemajuan yang berarti.
Hingga hari itu ia bertanya pada Mahar tentang perkembangan terbaru. “Bagaimana perkembangan terbaru?” tanya Giana ketika Mahar masuk hendak menyerahkan tumpukan dokumen dan berkas pekerjaan lain.
“Kemarin, Detektif mengendus adanya transaksi baru yang masuk ke rekening Gunawan.”
“Jadi, mereka sedang mengerjakan proyek baru?”
“Benar, Nyonya.”
“Sudah kau temukan untuk kasus apa kali ini?” tanya Giana makin penasaran.
“Sebuah kasus peme rkosaan serta pembunuhan, dan pelakunya adalah seorang kurir.”
Giana kembali duduk tegak, “Semoga kali ini kita berhasil menghalangi mereka memutar balikkan fakta seperti biasa,” harap Giana.
Di tengah pembicaraan antara Giana dan Mahar, Ayu tiba-tiba mendatangi rumah Giana dengan wajah panik.
“Kak!” seru Ayu.
Giana berjingkat kaget, “Ada apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?”
“Kak, gawat, sepertinya ada yang tak suka dengan Biru.” Ayu pun menunjukkan ponselnya.
Beberapa saat lalu, Ayu sedang membaca berita dari lapak berita online, kemudian menemukan berita tentang Biru dengan headline berita yang cukup menggelitik rasa penasaran para pembaca. Terutama sekali karena Biru terdaftar sebagai salah satu atlet basket nasional.
— SALAH SATU ANGGOTA TIM BASKET NASIONAL ADALAH PUTRA MANTAN NARAPIDANA??? —
Spekulasi seketika merebak, sang narator bahkan terang-terangan menyebut bahwa Biru-lah orangnya. Komentar netizen pun beragam, ada yang cuek saja, ada yang mencibir, ada yang mementingkan prestasi ketimbang sensasi.
Suasana pun hening seketika, “Menurut Kakak, ini ulah siapa? Selama ini tak ada yang tahu perihal identitas asli Biru. Tapi, sekarang semua orang jadi curiga.”
“Siapa saja bisa melakukannya, karena Biru cukup terkenal di kalangan kawula muda.” Giana memijat pelipisnya.
“Aku akan menanyakannya pada Pak Rasya.”
Mahar segera menghubungi Pak Rasya, sang reporter yang sering pro dengan mereka. Karena dulu ia pun hampir menjadi salah satu korban Gunawan. Maka kini Pak Rasya menjadi salah satu orang yang memegang peranan penting dalam misi mengumpulkan bukti kejahatan Gunawan dan seluruh jajarannya.
Sementara itu, di jalanan yang cukup jauh dari keramaian. Motor Biru melaju kencang, tujuannya adalah mendatangi lokasi rumah klien Guns.
Namun, motor sebuah truk melaju dari arah berlawanan, lalu—
Tiit tiit!
Klakson dibunyikan dengan suara kencang, tapi Biru terlambat menyadarinya, hingga—
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan