Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sonya merasakan kepalanya berdenyut nyeri, rasa sakit itu semakin tajam ketika bayangan bayi kembar mungil melintas di benaknya. Suara nyaring seorang pria pun tiba-tiba menggema di pikirannya, tajam dan penuh amarah.
"Anak itu hanya pembawa petaka. Aku akan mengambilnya."
Degup jantungnya berpacu liar. Pandangannya mulai kabur, bergantian dengan kilatan gelap yang membuatnya sulit fokus. Tubuhnya limbung, namun ia berusaha keras untuk bertahan, menjejakkan kaki di lantai agar tidak jatuh. Tangannya sesekali meremas rambut dan memukul pelan sisi kepalanya, seolah ingin mengusir rasa sakit yang menyengat.
“Bunda! Bunda, kenapa?” teriak Sasa panik, suaranya serak dengan nada cemas saat ia melihat ibunya mulai kehilangan keseimbangan.
Arya, yang tubuhnya lebih besar dari Sasa, segera melompat turun dari ranjang. Wajah kecilnya memancarkan ketakutan, namun ia tetap mencoba terlihat sigap dan membantu Sasa turun dari Ranjang. Keduanya gegas mendekati Sonya dengan langkah tergesa-gesa.
“Tante, Tante nggak apa-apa?” tanya Arya, suaranya bergetar, namun ia tidak mendapat jawaban. Sonya hanya mengerang pelan, matanya terpejam menahan sakit.
Keadaan menjadi semakin tegang hingga Intan muncul, ia baru saja selesai mengurus administrasi di luar ruangan. Langkahnya terhenti ketika melihat Sonya hampir terjatuh dengan kedua anak kecil yang terlihat bingung dan putus asa.
“Sonya!” serunya, dengan cepat bergegas mendekat.
Tanpa ragu, Intan menopang tubuh Sonya dan membimbingnya ke ranjang rumah sakit. “Tenang, aku panggil dokter,” ujarnya cepat, suaranya terdengar mantap meskipun raut wajahnya tak mampu menyembunyikan kekhawatiran.
Sementara itu, Sasa memegang erat tangan Arya, air mata menggenang di matanya. Mereka hanya bisa menatap saat Intan berusaha menenangkan Sonya yang kini terkulai lemah di ranjang.
Tak lama kemudian, seorang dokter masuk dengan langkah tergesa, membawa peralatan medis. Aroma antiseptik yang khas menyeruak di udara, memenuhi ruangan dengan kesan dingin dan mendesak. Intan segera menggandeng Arya dan Sasa, membimbing mereka keluar ruangan agar dokter dapat memeriksa Sonya dengan leluasa.
“Mama, apa yang terjadi sama Bunda?” suara Sasa pecah, nyaris berbisik di tengah kegelisahannya.
“Iya, Tante, apa yang terjadi?” tanya Arya, suaranya terdengar lebih tegas, meski ada nada gemetar yang tak bisa ia sembunyikan.
Keduanya menatap Intan dengan wajah penuh ketakutan, seolah-olah mereka berbagi perasaan yang sama, takut kehilangan seseorang yang mereka cintai.
Intan berjongkok, mencoba menyamakan tinggi dengan kedua anak itu. Tatapannya berpindah dari Sasa ke Arya, memperhatikan wajah mereka yang mirip bak pinang dibelah dua. Namun, ia menahan diri untuk tidak mengungkapkan pertanyaan yang menggelitik benaknya. Sekarang bukan waktu yang tepat, prioritasnya adalah menenangkan kedua anak itu dan memastikan Sonya baik-baik saja.
“Sasa, Arya, tenang ya. Mungkin orang yang kalian sayangi saat ini hanya kecapekan. Dia butuh istirahat supaya bisa pulih kembali,” ujar Intan dengan lembut, sambil mengelus kepala Sasa.
“Tapi tadi Bunda baik-baik saja, Ma!” protes Sasa, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Iya, benar! Tante Sonya baik-baik saja tadi. Kenapa tiba-tiba jatuh sakit?” Arya menimpali, nada suaranya menunjukkan kepintaran dan rasa ingin tahu yang khas dari anak seusianya.
Intan menelan ludah. Ia mulai kewalahan mencari jawaban yang masuk akal, terutama dengan Arya yang terlihat semakin kritis. Jika benar Arya adalah anak Sonya juga, ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti menghadapi bocah empat tahun yang cerdas seperti ini.
“Hmm… bagaimana Mama menjelaskannya ya?” Intan berpikir cepat. “Sasa, Bunda pernah membacakan buku tentang kesehatan, kan? Yang menjelaskan kalau setiap orang punya antibodi sendiri-sendiri?”
“Iya, Ma,” jawab Sasa sambil mengangguk kecil, terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu.
“Nah, antibodi itu seperti tentara di dalam tubuh kita. Kadang-kadang, kalau tubuh terlalu lelah, tentara itu jadi lemah dan butuh istirahat supaya bisa kuat lagi. Bunda mungkin seperti itu sekarang. Jadi, kita doakan Bunda cepat sembuh, ya?” Intan berusaha menjelaskan dengan cara sederhana yang bisa dipahami oleh anak-anak.
Arya dan Sasa saling pandang, lalu mengangguk perlahan. Meskipun raut khawatir belum sepenuhnya hilang, mereka tampak sedikit lebih tenang.
“Kalau begitu, kita harus doain Tante biar antibodinya kuat lagi,” gumam Arya, suaranya lirih tapi penuh tekad.
“Iya, Bunda pasti sembuh,” Sasa menambahkan, menggenggam erat tangan Arya seolah mencari kekuatan disana yang terasa begitu nyaman.
Intan menarik napas lega, meski hatinya masih berat memikirkan keadaan Sonya. Ia hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja, terutama untuk kedua anak kecil yang polos namun begitu peduli ini.
"Sonya, kamu harus kuat. Jangan terpuruk lagi. Aku tahu pasti ada sesuatu yang sudah kamu ingat," gumam Intan pelan, sekilas melirik ke arah ruangan yang kini tertutup rapat.
Selama ini, setiap kali Sonya melihat sosok anak kembar, reaksinya selalu sama, kepalanya terasa berat, pikirannya kacau, dan emosinya tidak terkendali. Intan tahu itu adalah trauma mendalam yang belum sepenuhnya pulih. Demi menjaga kewarasan adiknya, Intan selama ini menutupi semuanya, mengalihkan perhatian Sonya agar tidak terpicu. Namun kini, dengan kehadiran Arya, mungkin ada secercah harapan baru untuk kesembuhan Sonya.
Beberapa saat berlalu. Dokter yang memeriksa Sonya keluar dari ruangan. Wajahnya tampak serius, namun tidak menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Intan langsung menghampirinya, tapi ia menahan diri sejenak, menatap Arya dan Sasa yang masih berdiri di dekatnya.
Intan kembali berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan kedua anak itu. Ia menatap mereka dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan. "Sasa, Arya, kalian bisa masuk dulu dan temani orang yang kalian sayangi? Pastikan dia tahu kalian ada di sana untuknya."
Keduanya saling pandang, lalu mengangguk serempak. Dengan langkah hati-hati, mereka masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Intan yang kini fokus pada dokter di hadapannya.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Intan, suaranya penuh harap namun tetap tenang.
"Secara fisik, kondisi adik Anda stabil. Tidak ada masalah serius. Tapi kami menemukan ada rangsangan di otaknya yang memicu stres berlebihan. Ini kemungkinan besar berkaitan dengan trauma yang belum teratasi," jelas dokter, suaranya lembut namun tegas.
Intan mengangguk pelan, pikirannya sibuk memproses informasi itu. "Trauma itu... apakah akan terus berulang?"
"Jika pemicunya tidak dihindari atau jika trauma itu tidak ditangani dengan tepat, kemungkinan besar iya," jawab dokter sambil menatap Intan dengan empati. "Saya sarankan untuk mempertimbangkan konseling psikologis. Adik Anda butuh bantuan profesional untuk menghadapi apa pun yang dia pendam selama ini."
Intan menunduk, rasa bersalah melintas di hatinya. Selama ini ia berpikir bahwa menutupi masalah adalah cara terbaik, tetapi mungkin itu hanya memperburuk keadaan. "Baik, Dok. Saya akan usahakan yang terbaik untuk adik saya."
Sementara itu, di dalam ruangan, Sasa memegang tangan Sonya yang terkulai lemah. "Bunda, aku di sini," bisiknya dengan suara pelan, matanya yang kecil dan bening penuh harapan. Arya berdiri di sisi lain, menatap wajah Sonya dengan tatapan yang lebih tenang namun sarat perhatian.
"Tante, jangan sakit lagi ya. Kami butuh Tante," ujar Arya, suaranya terdengar dewasa untuk usianya yang masih belia.
Mata Sonya perlahan terbuka. Pandangannya kabur, tapi senyum kecil muncul di wajahnya saat melihat kedua anak itu. Meski lemah, ia berusaha berbicara. "Maaf, sudah membuat kalian khawatir."
Air mata menetes dari mata Sasa. "Bunda nggak perlu minta maaf. Kami di sini buat Bunda."
Sonya merasakan kehangatan yang lama hilang. Mungkin, bersama mereka, ia bisa melangkah keluar dari bayang-bayang kelam yang selama ini menghantuinya.
Di luar, Intan berdiri dengan wajah penuh tekad. Ini adalah waktunya untuk berhenti menghindar dan mulai menghadapi kenyataan, demi Sonya dan dua anak kecil yang pantas mendapatkan kebahagiaan. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya, lalu masuk ke ruangan Sonya.