Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29_RASA CEMBURU YANG BERAKHIR DIRUANG BK
Pagi itu, ruang makan rumah Mahendra kembali diselimuti suasana yang dingin.
Azka duduk di kursinya seperti biasa. Punggungnya tegak, tatapannya lurus ke piring di depannya. Ia makan dengan tenang, tapi sikapnya tertutup. Tidak ada sapaan. Tidak ada obrolan kecil seperti kemarin pagi. Seolah Nayla tidak ada di ruangan itu.
Nayla duduk di seberangnya. Sendok di tangannya bergerak pelan, nyaris tanpa selera. Sejak Azka masuk tadi, tidak satu pun tatapan atau kata yang diberikan padanya.
"Kenapa lagi dia?" pikir Nayla.
Kepalanya dipenuhi pertanyaan. Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi kemarin. Setiap detail ia ulangi. Jogging. Es krim. Sarapan. Pulang. Tidur.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kesalahan. Tidak ada ucapan yang berlebihan. Tapi sikap Azka berubah begitu saja.
Nayla menghela napas kecil. Ia ingin bertanya. Ingin tahu. Tapi keinginannya kalah oleh rasa takut. Takut salah bicara. Takut Azka tersinggung. Takut suasana justru semakin buruk.
Akhirnya, ia memberanikan diri.
"Azk—"
"Makan." Satu kata. Dingin. Tanpa menoleh.
Nayla terdiam. Sendoknya berhenti di udara. Dadanya terasa nyeri, tapi ia menahannya. Ia menunduk, melanjutkan makan meski rasa pahit menjalar di tenggorokannya.
"Baik," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Di balik wajah datarnya, Azka mengepalkan tangan di bawah meja.
Beberapa menit berlalu.
Selesai sarapan, Azka meletakkan sendoknya ke atas piring. Ia berdiri tanpa banyak gerak, suaranya datar seperti udara pagi tadi.
"Aku duluan. Kamu diantar sopir."
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Nayla, Azka langsung melangkah pergi. Langkahnya cepat, seolah tak ingin memberi celah untuk percakapan lain.
Nayla hanya mengangguk pelan. Tidak ada protes. Tidak ada pertanyaan. Ia kembali menunduk dan melanjutkan sarapannya, meski rasa makanannya terasa hambar.
***
Di sekolah, Azka baru saja turun dari mobil. Ia melangkah menuju kelas dengan raut wajah kusut, pikirannya penuh tapi kosong di saat yang sama.
Belum jauh dari parkiran, sebuah suara memanggilnya.
"Woi, Azka. Tunggu!"
Raka berlari kecil menghampirinya, disusul Devan dan Dion. Azka tidak berhenti, hanya memperlambat langkah.
"Pagi, bro," sapa Dion santai. "Lo kenapa? Pagi-pagi muka lo kusut amat."
"Kenapa? Belum ada transferan dari bokap?" ledek Raka sambil terkekeh.
Azka berdecak kesal. "Berisik."
"Halah. Kalau nggak berisik, bukan kita namanya," sahut Dion, melirik Devan. "Iya nggak, Van?"
Devan hanya mengangkat bahu, malas ikut nimbrung.
***
Di sisi lain sekolah, Nayla baru saja melangkah di koridor ketika seseorang menghentikannya.
"Hay, Nayla."
Nayla menoleh dan mendapati Arvin berdiri di hadapannya dengan senyum lebar.
"Hay," balas Nayla singkat.
Arvin melangkah sedikit lebih dekat hingga mereka berhenti saling berhadapan.
"Ketemu lagi ya kita?" ucap Arvin ringan.
Nayla terkekeh kecil, agak canggung. "Iya."
Arvin menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya, lalu tersenyum miring. "Tanda-tanda jodoh kali."
"Eh, haha… nggak mungkin lah," Jawab Nayla cepat.
"Nggak ada yang nggak mungkin," Ujar Arvin, kali ini nadanya terdengar serius.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.
Azka.
Langkahnya terhenti. Dadanya terasa panas seketika. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras. Sorot matanya tajam, menatap pemandangan di hadapannya.
Raka, Dion, dan Devan ikut berhenti.
"Kenapa, Ka?" Tanya Devan heran, lalu mengikuti arah pandang Azka. Seketika ia terdiam. "Lah…"
"Wah…" gumam Raka.
"Itu Arvin dan Nayla, kan?" ucap Dion memastikan.
"Iya..." sahut Raka. “...Tapi mereka ada hubungan apa ya? Kok kayaknya dekat banget.”
Azka tidak menjawab. Tatapannya masih terkunci pada Nayla dan Arvin.
***
Tak butuh waktu lama.
Azka tiba-tiba melangkah cepat mendekat ke arah Nayla dan Arvin. Langkahnya tegas, auranya dingin dan menekan. Raka, Dion, dan Devan otomatis ikut menyusul di belakang, meski wajah mereka penuh ekspresi antara penasaran dan waswas.
Nayla sama sekali tidak menyadari kedatangan Azka. Sampai... Tangannya ditarik tiba-tiba.
"Ayo!" Nada itu tegas.
"Ehh—" Nayla terkejut, refleks menoleh.
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, tangan satunya justru tertahan. Arvin dengan spontan menahan Nayla, seolah tak mau gadis itu ditarik begitu saja.
Nayla membeku. Bingung.
Azka langsung menghentikan langkahnya. Sorot matanya mengeras saat melihat tangan Arvin yang masih menggenggam Nayla.
"Lepas tangan Nayla!" Bentak Azka dingin, namun jelas penuh tekanan.
Arvin tidak mundur sedikit pun. Ia justru balik menatap Azka tajam, rahangnya mengeras.
"Lo yang lepas," balasnya. "Lo tiba-tiba datang dan narik tangan Nayla. Lo nggak jelas."
Ucapan itu seperti bensin yang disiram ke api.
"Lo—" Azka maju selangkah, emosinya naik tanpa bisa ditahan.
"Wow…" gumam Raka pelan.
"Apa ini?" sahut Dion, matanya melebar.
"Kayak ada bom waktu," tambah Devan lirih.
Di tengah ketegangan itu, Nayla semakin panik. Ia mencoba menarik kedua tangannya, tapi genggaman mereka terlalu kuat.
“Kalian berdua kenapa sih?” suara Nayla mulai bergetar. “Lepas!”
Tak ada yang melepas.
Azka menatap Arvin dengan sorot mata yang semakin gelap. "Lo denger apa kata Nayla?" ucapnya rendah, menekan. “LEPAS.”
Beberapa siswa mulai memperhatikan. Bisik-bisik pelan terdengar, semakin lama semakin ramai.
"Wah… Nayla diperebutkan?"
"Mimpi apa gue semalam?"
"Gue nggak salah lihat kan? Itu Arvin sama Azka!"
"Oh my gosh!"
Nayla menelan ludah. Dadanya sesak. Ia merasa seperti pusat badai yang tak ia pahami.
Dan tepat saat suasana makin panas—
"ADA APA INI RIBUT-RIBUT?"
Suara tajam itu membuat semuanya terdiam seketika.
Seorang guru killer berdiri tak jauh dari mereka, tatapannya menyapu satu per satu wajah yang terlibat. Suasana koridor mendadak sunyi, seolah waktu berhenti.
Azka dan Arvin refleks melepaskan tangan Nayla.
Nayla langsung menarik kedua tangannya ke dada, napasnya tak beraturan.
"Kenapa pagi-pagi sudah bikin keributan?" suara guru itu dingin dan penuh ancaman. "Kalian bertiga… ikut saya ke ruang BK. Sekarang."
Tak ada yang membantah.
Azka menatap lurus ke depan. Arvin menghela napas pendek. Nayla menunduk, masih mencoba mencerna semuanya.
***
Langkah kaki mereka bergema di koridor yang tiba-tiba terasa lebih panjang dari biasanya. Nayla berjalan di tengah, sedikit tertinggal, sementara Azka di depan dengan rahang mengeras dan Arvin di sisi lain dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tak ada satu pun yang bersuara. Bahkan bisik-bisik siswa yang tadi riuh kini lenyap, tergantikan tatapan penasaran yang mengiringi kepergian mereka.
Di depan ruang BK, guru itu berhenti. Pintu dibuka, lalu ditutup kembali setelah mereka masuk. Ruangan itu berbau khas kertas dan kopi dingin. Kursi-kursi berderet rapi, seolah menunggu pengakuan yang tak ingin keluar dari mulut siapa pun.
"Duduk," perintah sang guru singkat.
Nayla duduk paling ujung. Tangannya saling menggenggam, jari-jarinya dingin. Ia menunduk, mencoba menenangkan napas. Jantungnya masih berdetak cepat, bukan hanya karena kejadian barusan, tapi juga karena sorot mata Azka yang tadi sempat bertemu dengannya. Tajam. Marah. Dan entah kenapa… terluka.
Guru itu menyilangkan tangan. "Sekarang jelaskan. Ada apa?"
Tak ada jawaban.
Beberapa detik berlalu. Terasa lama. Terlalu lama.
Azka akhirnya angkat bicara. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. "Salah paham, Bu."
Guru itu mengernyit. "Salah paham sampai tarik-menarik tangan di koridor?"
Arvin menghela napas pelan. "Saya cuma ngobrol sama Nayla, Bu. Tiba-tiba dia datang dan—". Ia melirik Azka sekilas, "—narik Nayla tanpa alasan."
Sorot mata Azka langsung mengeras. "Gue punya alasan."
Guru itu menatap Azka. "Bahasa."
Azka mendecih pelan, lalu merapikan nada suaranya. "Saya punya alasan, Bu."
"Alasan apa?" tanya guru itu, menekan.
Azka terdiam. Pandangannya bergeser ke Nayla, sekilas saja, lalu kembali lurus ke depan. "Pribadi."
Jawaban itu jelas tidak memuaskan.
Guru itu menghela napas panjang. "Kalian ini siswa, bukan sedang syuting drama. Saya tidak mau dengar alasan yang setengah-setengah." Tatapannya beralih ke Nayla. "Kamu, Nayla. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Nayla terkejut. Ia mengangkat kepala perlahan. Suaranya keluar pelan, tapi jelas. "Kami cuma ngobrol, Bu. Nggak ada apa-apa."
"Dan kamu ditarik?"
Nayla mengangguk kecil. "Iya."
Ruangan kembali sunyi.
Guru itu mengetuk meja pelan. "Baik. Saya anggap ini peringatan pertama. Tidak ada hukuman hari ini. Tapi kalau kejadian seperti ini terulang, saya tidak segan memanggil orang tua kalian. Mengerti?"
"Mengerti, Bu," Jawab mereka hampir bersamaan.
"Keluar. Dan langsung ke kelas."
Pintu terbuka. Nayla berdiri lebih dulu, lalu melangkah keluar tanpa menoleh. Dadanya terasa berat. Ia berjalan cepat, ingin segera menjauh dari suasana yang membuat kepalanya penuh.
Azka menyusul. Saat melewati Nayla, langkahnya melambat. Sejenak saja. Cukup untuk membuat Nayla menyadarinya.
"Nanti kita bicara," Ucap Azka rendah, nyaris berbisik.
Nayla berhenti. Menoleh. "Bicara soal apa?"
Azka tak menjawab. Ia hanya menatap Nayla, tatapan yang membuat gadis itu tak bisa membaca apa pun, lalu melangkah pergi.
Arvin keluar paling akhir. Ia menatap Nayla sekilas, raut wajahnya berubah lembut. "Maaf," katanya singkat. "Kalau bikin kamu nggak nyaman."
Nayla mengangguk kecil. "Nggak apa-apa."
Saat Arvin pergi, Nayla berdiri sendiri di koridor. Ia menarik napas panjang. Pikirannya kacau. Perasaan di dadanya makin sulit dijelaskan.
Dan dari kejauhan, Azka berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, memastikan Nayla masih berdiri di sana.
Entah sejak kapan, rasa cemburu itu tak lagi bisa ia kendalikan.