NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 : Rahasia di balik dunia medis

Wajah sang dokter memucat, ia mundur terburu-buru, menatap Victoria seolah gadis itu baru saja menyingkap sesuatu yang seharusnya tak ia ketahui. “J-jangan main-main, Victoria! Aku tanya sekali lagi, apa gadis itu menceritakan sesuatu padamu!”

Namun Victoria tak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, menyisir rambut panjangnya dengan jari-jari yang halus, membiarkan ujung rambutnya tergerai diterpa angin. Ekspresinya tetap tenang.

“Tidak,” ujarnya akhirnya, “dia hanya bilang ingin pulang ke rumahnya.”

Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi justru membuat pria di depannya semakin curiga. Dokter itu mengepalkan tangan, tubuhnya menegang, wajahnya memerah karena amarah dan rasa takut yang bercampur.

“Jangan coba-coba membohongiku, Victoria! Gadis itu adalah sumber penghasilanku—”

Sebuah suara tamparan keras memotong kalimatnya. Pipi kirinya langsung berbalik arah akibat hantaman tangan Victoria yang begitu cepat dan tegas. Suara itu menggema di bawah rindang pohon, disertai keheningan tajam setelahnya.

Dokter itu memegangi wajahnya, matanya melebar tak percaya. “Kau—berani memukulku?! Aku akan melaporkan ini ke Manager Henry!!” teriaknya, meski suaranya goyah.

Victoria tidak bergeming. Sorot matanya tak lagi seperti seorang mahasiswi, melainkan seseorang yang menatap dari kedalaman keyakinannya sendiri.

“Dokter sepertimu…” suaranya tenang tapi menusuk, “…tidak pantas berbicara tentang pasien seolah dia barang yang bisa di tukar uang.” Tangannya masuk ke saku jas putihnya, gerakannya lambat namun penuh makna. “Apalagi sampai menyebut seorang anak kecil sebagai sumber penghasilan.”

Wajah sang dokter menegang, tapi tiba-tiba ia tertawa kecil, tawa gugup yang terdengar seperti pelindung. “Jangan sok tahu, Victoria. Kau hanya mahasiswa kedokteran yang baru belajar istilah medis, bukan dunia sebenarnya.”

Victoria menatapnya lama, membiarkan tawa itu menguap di antara mereka. “Mungkin kau benar,” katanya lirih, “tapi aku tahu sesuatu sedang kau sembunyikan.”

Angin berhembus, menyibak sebagian rambutnya, memperlihatkan ekspresi serius di balik wajah yang biasanya tampak tenang. “Dan aku akan mencari tahu,” lanjutnya pelan, “karena pasien itu… tidak seharusnya menanggung kesalahan orang lain.”

Ucapan itu menggantung. Victoria berbalik, langkahnya pelan tapi pasti, meninggalkan dokter yang kini berdiri mematung di tempat. Bayangan tubuhnya perlahan menjauh, tertelan cahaya sore yang mulai redup.

Sementara pria itu menatap punggung Victoria yang semakin menjauh, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. “Hati-hati, Victoria…” gumamnya rendah, suaranya nyaris tenggelam dalam angin yang berdesir di antara dedaunan.

“Dunia medis tidak sebersih yang kau kira. Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau sentuh… kalau kau masih ingin hidup.”

Suara heels yang mengetuk lantai keramik terdengar jelas di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi. Setiap langkah Victoria bergema, cepat, terburu, penuh tekanan yang tak terlihat. Rambut panjangnya melambai mengikuti gerakan tubuhnya, seolah terbawa arus emosi yang belum sempat reda.

Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tajam. Aura tegasnya membuat siapa pun yang berpapasan enggan menyapanya. Beberapa perawat yang lewat hanya saling pandang dan menunduk; wajah gadis itu tampak berbeda dari biasanya, tak ada lagi sisa senyum yang biasa menghiasi ekspresinya.

Saat berbelok di persimpangan, langkah cepatnya terhenti mendadak. Kepalanya menabrak dada seseorang, cukup keras hingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Sebelum sempat jatuh, sepasang tangan menahan lengannya dengan refleks.

“Aduhh!!” serunya spontan, masih dengan nada tinggi.

Victoria menatap tajam ke depan, napasnya memburu karena sisa emosi yang belum reda. Ia siap menegur siapa pun yang berani menghalangi jalannya, namun suaranya tertahan begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Tangan yang memegang lengannya itu milik Rico, dan di sisi pria itu berdiri seseorang dengan aura yang jauh lebih tenang tapi menekan Alexander. Tatapan matanya menusuk, bukan marah, tapi penuh penilaian.

“Kemana matamu melihat, hah?” tanya Alexander datar, suaranya pelan tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka menegang. Tatapannya berpindah ke arah tangan Rico yang masih menggenggam lengan Victoria, lalu kembali menatap wajahnya yang tertunduk.

Biasanya, pertanyaan seperti itu akan dibalas dengan senyum kecil polos atau gurauan dari Victoria. Tapi kali ini tidak. Ia hanya menunduk lebih dalam, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya.

Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Rico menatapnya cemas, jemarinya masih menahan lengan gadis itu. “Nona Victoria… kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada lembut, berbeda jauh dari ketegangan di udara. Ia mencondongkan tubuh sedikit, berusaha mencari wajah di balik tirai rambut itu.

Namun Victoria tetap diam. Nafasnya berat, dan jemari tangannya mengepal pelan, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rasa kesal karena tabrakan kecil

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!