Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Pak Sasongko
Nina langsung menutup mulutnya ketika melihat Tasya mulai tak stabil. Ia memilih diam, memberi ruang, sambil perlahan menghabiskan makanan yang tadi dipesan.
“Sorry, Na. Gue nggak maksud—” Tasya menggantung kalimatnya, menatap Nina dengan mata yang mulai memerah.
Nina menyentuh punggung tangan Tasya, menenangkannya. “Gue ngerti, Sya. Tapi sekarang yang penting, lo harus mikirin gimana caranya batalin pertemuan sama si bandot itu.” Tatapan Nina melirik jam di dinding. Waktunya makin sempit.
Tasya mondar-mandir di kamar, jemarinya sibuk meremas ujung kaus. Otaknya bekerja keras mencari alasan untuk membatalkan janji itu.
PING
Ponselnya bergetar.
"Saya sudah di lokasi ya, Sya."
“Argh… brengsek!” Tasya mengumpat, menggenggam ponselnya erat.
“Udah, lo bilang aja batal,” ujar Nina sambil menarik ponsel dari tangan Tasya.
Namun baru beberapa detik menatap layar, tubuh Nina membeku.
Sebuah foto muncul—lembar pengesahan sidang, lengkap dengan tanda tangan yang menentukan masa depan Tasya.
Ancaman tanpa kata.
“Brengsek!” Tasya memekik begitu melihatnya. Dadanya sesak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu dengan langkah berat berjalan ke kamar mandi. Tak ada pilihan lain.
Jam menunjukkan setengah lima sore.
Nina mengantar Tasya ke restoran yang sudah dipesan Pak Sasongko. Dari dalam mobil, pria itu terlihat duduk santai di balik kaca, menikmati secangkir kopi seolah tak ada beban di dunia.
“Lo yakin mau turun?” tanya Nina. Rahangnya mengeras, jelas menahan emosi.
“Hidup gue udah terlanjur sial,” jawab Tasya getir. Ia membuka pintu mobil. Nina refleks ikut turun.
“Biar gue urus dia sendiri,” kata Tasya cepat sambil menahan lengan Nina. Ia menyodorkan ponselnya, memperlihatkan pesan terakhir.
Janjimu makan berdua dengan saya. Jangan sampai kamu ndak bisa lulus taun ini.
Nina mengembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak saat menatap Tasya yang perlahan melangkah masuk ke dalam restoran.
Perasaan tak enak mencengkeramnya.
Ia tahu betul reputasi pria tua itu—dan masa lalu kelam yang selalu menyeret nama mahasiswi-mahasiswi di sekitarnya.
“Tasya,” sapa Pak Sasongko sambil berdiri, wajahnya menyunggingkan senyum yang membuat bulu kuduk merinding.
Tasya hanya mengangguk, tanpa senyum sedikit pun.
“Kamu turun sendiri, kan?” tanya Pak Sasongko sambil melirik ke arah Nina yang masih berdiri di samping mobil.
“Ingat, Sya,” katanya merendahkan suara, “masa depan kamu ada di tangan saya.” Ia terkekeh kecil, lalu mendorong segelas teh ke arah Tasya. Teh itu sudah tampak dingin.
“Saya permisi sebentar,” lanjutnya sambil menepuk pundak Tasya ringan, lalu melangkah menjauh.
Dari kejauhan, Pak Sasongko diam-diam memperhatikan. Tasya sibuk dengan ponselnya, lalu perlahan meraih gelas dan meneguk isinya sedikit demi sedikit.
Senyum Pak Sasongko melebar. Ia berbalik menuju toilet.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Nina.
"Pulang saja. Jangan sampai hidup Tasya makin tersiksa gara-gara kamu terlalu ingin tahu urusan kami."
Nina mengepalkan tangan. Namun saat Pak Sasongko keluar dari toilet, Nina sudah tak terlihat lagi. Begitu pula Tasya—kursinya kosong.
Pak Sasongko panik. Ia bergegas keluar restoran.
Di seberang jalan, seorang pria tampak membopong tubuh Tasya yang terkulai lemas menuju sebuah mobil. Pria itu sempat mengacungkan jempol ke arahnya.
“Bagus,” gumam Pak Sasongko. “Obatnya bekerja cepat juga.”
Ia segera membayar pesanannya di kasir, lalu menyusul ke dalam mobil. Kendaraan itu melaju menuju sebuah hotel yang sudah ia pesan sebelumnya.
“Man, bawa dia ke lantai tiga,” katanya sambil menyerahkan kartu kamar.
Tubuh Tasya yang tak sadarkan diri dipapah menuju lift. Sementara itu, Pak Sasongko sempat mampir ke minimarket di samping hotel, keluar dengan sekotak alat kontrasepsi di tangan.
“Akhirnya,” katanya sambil tersenyum pongah, lalu masuk ke dalam lift.
BAM!
Sebuah tinju mendarat telak di rahangnya. Tubuh Pak Sasongko ambruk ke lantai.
“Sya! Bangun!” Dimas menepuk pipi Tasya panik, tapi Tasya masih tak sadarkan diri.
“Dim, bawa ke mobil gue aja,” bisik Nina dari balik dinding, wajahnya pucat karena takut ketahuan oleh petugas keamanan hotel.
Pukul sepuluh malam.
Tasya membuka mata perlahan. Pandangannya buram, lalu fokus pada sosok Dimas yang berdiri di hadapannya.
“Heh! Lo ngapain gue!” pekik Tasya refleks, langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
Dimas mendengus kesal. “Temen lo tuh emang bebal. Bukannya bilang makasih, malah nuduh gue aneh-aneh.”
Ia berbalik, lalu keluar kamar, meninggalkan Nina dan Tasya yang masih terduduk gemetar di dalam kamar kos.
"Kenapa gue bisa ada di sini," tanya Tasya heran sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berat karena efek obat yang di bius yang di teteskan ke dalam minuman oleh Pak Sasongko.
POV 4 JAM SEBELUM KEJADIAN
Siang itu, Dimas sengaja datang diam-diam ke kostan Tasya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi—apa yang membuat Tasya berubah begitu keras dan mudah tersulut emosi.
Tangannya hampir mengetuk pintu ketika suara Nina terdengar dari balik dinding tipis.
“Pokoknya lo batalin, Sya. Gimanapun caranya,” desak Nina.
Dimas refleks menarik tangannya, mundur setengah langkah.
“Lo tau kan Pak Sasongko itu pernah ada kasus sama mahasiswi Fakultas ILKOM,” lanjut Nina dengan nada ditekan. “Cewek itu sampe dikeluarin, dituduh ngajak tidur sama dosennya. Padahal faktanya, si bandot itu yang ngasih obat bius ke dia.”
Dimas membeku.
“Gue kepepet, Na,” suara Tasya terdengar lirih tapi tegas. “Gue janjiin makan sama dia karena gue nggak mau Dimas telat seminar. berimbas ke penelitian gue yang bakalan ikut ketunda, semuanya bisa berantakan.”
Kalimat itu menghantam Dimas telak.
Dadanya terasa sesak. Tanpa disadari, Tasya telah menaruh dirinya sendiri di situasi berbahaya—demi dia.
Dimas menjauh perlahan sebelum keberadaannya ketahuan.
Pukul empat sore, ponselnya bergetar.
Nina:
"Dim, gue khawatir sama Tasya. Dia jadi makan malam sama si bandot brengsek itu. Lo pasti tau kasusnya, kan?"
Dimas membaca pesan itu lama, tanpa membalas.
Matanya menatap kosong layar ponsel, lalu beralih ke arah resto yang mulai ramai.
Tak lama kemudian, Tasya terlihat keluar dari dalam mobil Nina.
Dimas berdiri di seberang jalan, tersembunyi di balik bayangan pohon.
Ia mengirim pesan singkat ke Nina, bersamaan dengan notifikasi pesan dari Pak Sasongko yang masuk ke ponselnya.
"Lo mending pergi sekarang. Urusan Tasya serahin ke gue."
Dimas tak mengalihkan pandangan dari Tasya.
Dari kejauhan, ia melihat Tasya duduk di restoran. Beberapa menit kemudian, kedua tangan Tasya mulai memijat dahinya setelah meneguk teh yang disodorkan Pak Sasongko.
Jantung Dimas berdegup kencang.
Saat Tasya bangkit, seorang pria lebih dulu mendekat—menahan tubuhnya yang oleng sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
“Bajingan,” gumam Dimas geram saat mengenali wajah pria itu. “Pantesan… ternyata lo orang suruhan si bangsat.”
Pria itu—Rahman, mantan teman sekelasnya—membopong Tasya menuju mobil.
“Dim!”
Dimas tersentak.
“Goblok!” pekiknya tertahan saat Nina muncul di sampingnya.
“Ayo cepet, tolongin dia!” Nina mendorong lengannya panik.
“Gue tau mereka bakal bawa Tasya ke mana,” jawab Dimas singkat.
Mereka menuju hotel yang selama ini dikenal sebagai tempat langganan Pak Sasongko.
Dimas meminta Nina menunggu di lobi, mengenakan masker dan berpura-pura sibuk dengan ponsel. Ia sendiri mengikuti Rahman dari kejauhan.
Di dalam lift, Dimas berdiri tepat di samping Rahman. Wajahnya tertutup masker, topinya ditarik rendah.
Begitu pintu kamar terbuka—
BRAK!
Pukulan Dimas menghantam kepala Rahman. Tubuh pria itu langsung ambruk tak sadarkan diri.
Dimas sigap menangkap tubuh Tasya sebelum terjatuh, lalu membaringkannya di atas kasur. Napas Tasya masih ada—lemah, tapi stabil.
Tanpa menunda, Dimas menyeret tubuh Rahman ke kamar mandi dan menguncinya di sana.
Tangannya bergetar.
Tapi matanya tajam—penuh tekad.
POV END
Namun semua itu belum berakhir.
Saat Tasya meraih ponselnya, layar menyala menampilkan deretan pesan masuk—semuanya dari satu nama yang membuat perutnya langsung mengeras.
Pak Sasongko.
Jarum jam berdetak pelan, sementara napas Tasya terasa semakin pendek. Tangannya gemetar saat membuka notifikasi itu, seolah ada sesuatu di balik kata-kata yang siap kembali menyeretnya ke jurang yang sama.
Dan firasat buruk itu… tidak pernah meleset.