Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Gedung pencakar langit yang menjadi tempat pertemuan bagi orang-orang penting di dalam organisasi Blade. Dari banyaknya orang yang datang ada wajah-wajah baru muncul di antara kerumunan tersebut.
Pakaian serba hitam yang mereka kenakan menambah kesan menyeramkan sesuai dengan predikat yang melekat di dalam diri mereka.
"Di mana ketua?" Tanya salah satu orang di sana.
"Masih dalam perjalanan ke sini, apa kau tidak datang bersamanya?" Pria bernama Norman itu bertanya balik.
Lucian pria yang tadi bertanya menggelengkan kepala pelan. "Tidak, ketua menyuruhku untuk datang ke sini secara langsung."
"Wah, tumben sekali. Menurutmu apa hari ini akan ada berita besar?"
"Mungkin, kalo tidak salah ketua akan memperkenalkan anak bungsunya yang akan mewarisi Blade." Kata Lucian.
Hening sejenak sebelum akhirnya Norman kembali bertanya. "Kenapa anak bungsu? Bukannya pewaris harus anak sulung?"
Lucian mengangkat kedua bahunya acuh. "Mana aku tahu, itu berita yang bocor belakangan ini."
Langkah mereka menggema di lorong menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai 17, acara kali ini masih menjadi rahasia karena tidak ada satu pun orang yang tahu jika ketua mereka akan membawa anak bungsunya kecuali Lucian dan Norman.
Lift berdenting dan terbuka, Lucian serta Norman berjalan keluar sambil mengamati sekelilingnya. Beberapa pasukan bersenjata sudah bersiap di posisi masing-masing, keamanan Blade benar-benar di bhat sebaik mungkin setelah kepergian Clara.
"Luc, kau masih suka mengunjungi makam Clara?" Tanya Norma tiba-tiba.
Mendengar nama itu, raut Wajah Lucian berubah pucat. Dia buru-buru mengangguk dan memperbaiki ekspresi wajahnya agar tidak di curigai.
"Masih, aku selalu ke sana setiap akhir pekan."
"Kau memang sahabat yang baik," ujar Norman. "Aku masih tidak menyangka jika Clara sudah meninggal."
"Kenapa kau masih ragu?"
Nada penasaran terdengar jelas dalam suara Lucian, baru kali ini dia mendengar bahwa ada orang yang tidak mempercayai Clara sudah meninggal.
"Semua sangat janggal, bisa-bisanya dia meninggal setelah terkena peluru nyasar di jalan." Norman menoleh ke arah Lucian. "Bukankah itu aneh? Clara bukan wanita bodoh, dan instingnya sangat tajam."
Dia sangat yakin jika ada yang tidak beres, meski dirinya tak bisa di bilang kenal dekat dengan Clara tapi dia tahu jika wanita itu tidak mungkin mati segampang itu.
"Mungkin saja saat itu Clara sedang tidak fokus, insting yang tajam juga memerlukan daya fokus yang tinggi." Kata Lucian santai.
Norman menghela napas pelan. "Tetap saja terasa janggal. Tapi sudahlah, orang mati tidak bisa ditarik kembali."
Lucian tidak menjawab. Langkahnya melambat sepersekian detik sebelum kembali menyamai langkah Norman. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergejolak. Nama Clara selalu menjadi duri tajam dan tak pernah benar-benar hilang dari kepalanya.
Pintu ruang pertemuan utama terbuka perlahan.
Ruangan itu luas, didominasi meja oval panjang dari kayu hitam mengilap. Lampu gantung kristal menggantung rendah, memantulkan cahaya dingin ke wajah-wajah yang hadir. Satu per satu kursi telah terisi oleh orang-orang dengan reputasi kelam di dunia bawah. Tidak ada percakapan keras, hanya bisik-bisik rendah dan tatapan saling mengukur.
Lucian dan Norman mengambil tempat di sisi kanan meja. Beberapa menit berlalu.
Ketukan sepatu terdengar dari arah pintu.
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Dua pria bersenjata masuk lebih dulu, berdiri di sisi pintu sebagai pengawal. Setelah itu, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.
Ketua Blade. Danton Salvatore.
Pria berusia lima puluhan dengan rambut perak yang disisir rapi itu melangkah masuk dengan aura dominan yang menekan. Jas hitamnya sederhana, tanpa hiasan mencolok, namun kehadirannya saja sudah cukup membuat siapa pun menunduk.
Semua orang berdiri.
"Duduk," ucapnya singkat. Suara itu rendah, berat, dan penuh otoritas.
Ketua Blade duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ruangan satu per satu, seolah menghitung kepala dan menilai kesetiaan. Saat matanya melewati Lucian, ada jeda sepersekian detik. Sangat singkat, hampir tak terdeteksi namun cukup membuat jantung Lucian berdetak lebih cepat.
"Terima kasih sudah datang," ujar ketua Blade. "Pertemuan hari ini bersifat tertutup. Apa pun yang dibahas di ruangan ini, tidak boleh terdengar sampai keluar."
Beberapa orang mengangguk.
"Kalian pasti sudah mendengar rumor," lanjutnya tanpa basa-basi. "Dan seperti biasa, rumor itu tidak sepenuhnya salah."
Desiran napas terdengar di beberapa sudut ruangan.
Norman melirik Lucian cepat, jelas menahan rasa penasaran.
"Aku tidak akan bertele-tele," kata ketua Blade. "Blade membutuhkan penerus."
Beberapa orang saling berpandangan. Ada yang tampak tenang, ada pula yang jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.
"Anak sulungku telah memilih jalannya sendiri," lanjutnya dingin. "Dan aku menghormatinya. Namun Blade tidak bisa dipimpin oleh seseorang yang setengah hati."
Lucian menegakkan punggungnya. Jari-jarinya mengepal di bawah meja. Ketua Blade memberi isyarat kecil. Pintu di sisi ruangan terbuka kembali. Langkah kaki terdengar ringan, terukur, namun penuh kepercayaan diri.
Seorang pria muda baru saja masuk. Untuk sepersekian detik, waktu seolah berhenti bagi Lucian.
Rambut hitam pendek di potong rapi, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebih. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh kendali. Dia mengenakan setelan hitam sederhana, tanpa hiasan mencolok, namun auranya langsung mencengkeram ruangan.
Lucian membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir.
"Itu…" Norman berbisik tanpa sadar.
Pria itu berhenti di samping ketua Blade.
"Perkenalkan," ujar ketua Blade dengan suara mantap. "Ini anak bungsuku."
Beberapa orang menahan napas.
"Namanya Aldric Salvatore."
Seketika ruangan bergemuruh oleh bisikan tertahan.
Lucian menatap pria itu tanpa berkedip. Wajahnya memucat, pupil matanya mengecil. Tidak. Ini mustahil.
Bagaimana bisa? Seorang pebisnis handal dan memiliki label bersih justru anak dari pria paling kejam di dunia bawah, Danton Salvatore.
"Mulai hari ini Aldric resmi masuk ke dalam struktur organisasi Blade," Danton mengamati anak buahnya. "Apa ada pertanyaan