Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31.Siang di warung
Sore itu warung tidak seramai biasanya. Beberapa meja tampak kosong, memberi ruang pada udara yang terasa lebih longgar, seolah sengaja menyediakan jeda dari rutinitas yang kerap berisik. Bu Sri sudah selesai memasak sejak tadi; aroma masakan masih menggantung samar di udara, bercampur dengan bau sabun cuci piring dari dapur.
Di bagian belakang, Silfi merapikan piring dan alat masak yang telah dicuci, menyusunnya ke rak dengan gerakan cekatan. Pak Tarno membantu dari sisi lain, mengelap rak, memindahkan keranjang, dan sesekali mengecek stok bahan yang tersisa.
Raina duduk santai di kursi kasir. Punggungnya bersandar malas, satu kaki disilangkan ke kaki lain. Jemarinya sibuk menelusuri layar ponsel, wajahnya tampak fokus, kadang mengernyit kecil. Ia sedang mengurus affiliatenya—membalas pesan, mengecek data penjualan, menghitung angka, lalu berhenti sejenak untuk menimbang langkah berikutnya.
Dunia di sekitarnya seperti mengecil. Suara piring, langkah kaki, dan obrolan ringan di dapur hanya lewat sepintas di telinganya.
Namun perlahan, ada sesuatu yang mengusik.
Bukan suara. Bukan panggilan. Hanya perasaan samar—seperti ada sepasang mata yang tertahan terlalu lama padanya.
Raina mengangkat wajahnya.
Dan di saat yang hampir bersamaan, pandangannya bertemu dengan pandangan Julian.
Pria itu duduk tidak jauh darinya, posisinya santai, bersandar di sandaran punggung kursi sambil melipat tangannya di dada. Matanya tertuju lurus pada Raina, tanpa niat menyembunyikan apa pun. Tidak tergesa menoleh. Tidak pula berpura-pura sibuk. Ia justru membiarkan tatapan itu ada, seolah mengakui bahwa iya—ia memang sedang memperhatikannya.
Julian mengangkat sebelah alisnya seperti sedang bertanya "Ada apa?"
Raina tercekat.
Refleks, ia menunduk kembali ke ponselnya. Gerakannya terlalu cepat untuk disebut wajar. Layar yang tadi begitu ia pahami kini mendadak terasa asing. Huruf-huruf berderet tanpa makna. Fokusnya buyar.
"Ya Allah Kenapa jantungku begini?"
Detaknya terasa terlalu keras di telinga sendiri. Raina menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri, tapi justru semakin sadar bahwa pipinya mulai terasa hangat.
"Perasaan apa ini?" Batin Raina bingung
Ia tidak berani menoleh lagi.
Di sisi lain, Julian akhirnya mengalihkan pandangannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, lalu ia terkekeh kecil—bukan tawa keras, hanya senyum tipis yang lolos tanpa suara.
di mata orang lain mungkin hanya terlihat wajah datar yang dingin,tapi bila Daniel yang melihat aku yakin dia pasti akan terkejut.
karena Julian sangat amat jarang berekpresi.
Dari tempat duduknya, ia bisa melihat jelas bagaimana Raina merona dan berpura-pura sibuk, dan untuk pertama kalinya sejak ia ada di warung itu, ada sesuatu yang terasa… ringan.
Namun senyum itu cepat ia redam. Julian memalingkan wajahnya, menahan diri agar tidak terus menatap.
Perasaan ini tidak seharusnya tumbuh. Tidak saat ia masih menyembunyikan kebenaran. Tidak saat ada Vivienne tunangannya.
nama yang masih ia simpan rapat,yang bahkan belum tahu di mana ia berada sekarang.
Untuk sementara, Julian memilih diam. Bersembunyi di balik peran yang ia ciptakan sendiri. Dan berharap,entah pada siapa—agar ia tidak melangkah terlalu jauh sebelum semuanya menjadi lebih rumit.
Silfi mendekati Raina setelah memastikan tak ada pelanggan mendekat, ia melangkah ke arah kasir, wajahnya penuh selidik.
“Rain,” katanya, menurunkan suara,
“Nanti malam kan malam Minggu.”
Raina mendongak. “Terus?”
“Warung juga lagi nggak rame rame banget” lanjut Silfi.
“Kenapa kamu nggak ajak Julian jalan-jalan aja?”
Raina tercekat. “Silfi…”
“Serius,” Silfi mengangkat bahu. “Sejak aku kenal dia, hidupnya kayak muter di kamu. Kostan sama warung. Udah.”
Raina menghela napas pelan. “Kamu kebanyakan mikir.”
“Aku justru jarang mikir,” balas Silfi cepat. “Makanya kelihatan jelas. Apa nggak sumpek, Rain? Orang normal aja bisa jenuh.”
“Dia lagi—”
“Masa pemulihan, iya aku tahu,” potong Silfi. “Tapi justru itu. Mungkin kamu bisa ajak dia ke taman, atau ke mana gitu. Siapa tahu ada yang ke-trigger.”
Raina terdiam. Jemarinya saling bertaut di atas meja kasir. Bukan karena ia setuju, tapi karena kalimat itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Silfi melirik ke arah Julian yang sedang sibuk membantu tukang galon memasukkan beberapa galon ke dapur, lalu kembali menatap Raina dengan senyum kecil yang sulit diartikan.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “kalau warung sepi itu enaknya buat gosip.”
Raina mendengus. “Gosip apaan?”
“Belum ada,” jawab Silfi santai. “Tapi kayaknya bentar lagi ada.”
“ Ck...mbak kamu itu kebanyakan nonton sinetron,” gumam Raina.
Silfi terkekeh. “Biar hidup rame dikit.”
Raina menggeleng pelan, lalu bangkit dari kursi kasir. Duduk terlalu lama hanya membuat pikirannya ke mana-mana. Ia melangkah ke arah depan warung, tempat Pak Tarno sedang duduk bersantai di samping pintu dapur.
“Pak,” panggil Raina, berusaha terdengar biasa, “buat belanja besok, kira-kira apa aja yang perlu ditambah?”
Pak Tarno menoleh. “Sayur pasti. Wortel sama kol tinggal dikit. Ayam juga besok harus beli lagi.”
“Beras masih aman?” tanya Raina sambil membuka catatan di ponselnya.
“Masih buat dua hari. Minyak juga.”
Raina mengangguk, mencatat cepat. Tak lama kemudian,
Bu Sri menghampiri mereka sambil membawa secangkir kopi untuk pak Tarno .
“Bu,” panggil Raina, “stok dapur ada yang harus ditambah?”
Bu Sri berpikir sejenak. “Bumbu masih cukup. Bawang merah sama putih aman. Cuma telur sama tahu tempe besok perlu diambil.Daging juga kayanya deh”
“Baik, Bu,” jawab Raina. “Nanti aku masukin ke daftar.”
Bu Sri mengangguk puas. “Kamu jangan kebanyakan mikir, ya. Warung lagi santai,kamu juga harus santai.”
Raina tersenyum kecil. “Iya, Bu.”
Namun pikiran Raina tidak benar-benar santai.
Mereka tak tahu,dan Raina memang tidak pernah berniat menceritakannya.
Yang mereka ketahui hanyalah versi aman dari kisah Julian. Bahwa ia mengalami kecelakaan. Bahwa ia ditemukan dalam kondisi tidak sadar. Bahwa dokter di rumah sakit menyebut ada trauma yang menyebabkan ingatannya hilang untuk sementara.
Itu saja.
Raina selalu menceritakan bagian itu dengan kalimat yang sama, seolah telah ia hafalkan. Tanpa detail. Tanpa emosi berlebihan. Seakan semuanya hanyalah rangkaian peristiwa wajar, bukan sesuatu yang pernah membuat tangannya gemetar saat pertama kali mengalaminya.
Padahal kenyataannya, Raina menyaksikan sendiri momen ketika hidup Julian hampir berakhir.
Sejak hari itu, ia belajar memilih kata. Belajar menyederhanakan kenyataan agar bisa dicerna orang lain—dan agar ia sendiri bisa tetap bernapas.
Di rumah sakit, dokter hanya menyebut satu hal yang terus ia ingat: pasien mengalami kehilangan ingatan akibat benturan keras. Tidak ada kepastian kapan ingatan itu kembali. Tidak ada jaminan apa pun.
Maka pada Bu Sri, pada Silfi, pada Pak Tarno, Raina hanya mengatakan bahwa Julian sedang dalam pemulihan. Bahwa ia butuh waktu. Bahwa mereka tidak boleh bertanya terlalu jauh.
Dan mungkin—tanpa Raina sadari—itulah alasan ia begitu berhati-hati pada Julian.
Bukan hanya karena pria itu kehilangan masa lalunya, tetapi karena Raina adalah satu-satunya orang yang tahu betapa dekatnya Julian dengan kematian.