seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 4
Nabila masih menatap Kevin dengan mata bulatnya yang penuh rasa selidik.
Tangan kecilnya masih memegang ujung jaket ojol Kevin, seolah takut pahlawan dadakannya ini tiba-tiba menghilang terbang ke langit Depok.
"Anu... itu, Nab," Kevin memutar otaknya sampai terasa berasap.
Kemampuan berkendara dewa dari Sistem ternyata tidak otomatis memberikan kemampuan berbohong tingkat dewa.
"Kak Kevin utang penjelasan ya!"
"Tadi itu keren banget, tapi aneh."
"Kakak biasanya kan cuma kuat ngangkat jemuran Mpok Lela, kok tadi bisa banting penjahat sampai tangannya bunyi kretek gitu?"
cecar Nabila lagi, wajahnya makin mendekat. Aroma parfum melati yang samar dari rambut Nabila membuat Kevin makin salah tingkah.
"Oh, itu! Anu..."
"Mas Kevin sebenarnya diam-diam ikut kelas beladiri online di YouTube, Nab! Iya, bener, video tutorial Self-Defense dari pensiunan Kopassus."
"Nah, pas banget tadi momentumnya dapet, refleks aja,"
Kevin sambil tertawa cengengesan, mencoba mengembalikan persona 'beban keluarga' yang santai.
Nabila menyipitkan matanya, tampak tidak sepenuhnya percaya.
"Terus... motor item gede ini? Ini kan motor mahal, Kak."
"Cicilannya aja sebulan bisa buat bayar kontrakan 3 bulan."
"Wah, kalau ini mah motor pinjaman dari sepupu jauh Mas Kevin yang di Citayam!"
"Dia kasihan liat Mas nganggur mulu, makanya dipenjemin buat modal narik ojol. Biar Mas gak kuper di warkop terus,"
bohong Kevin lagi, kali ini dengan lancar sembari menepuk jok motornya yang empuk.
Ding!
[Sistem Mendeteksi Kebohongan Pengguna. Nilai Kreativitas Alibi: 65/100 (Agak maksa, tapi target tampaknya cukup polos untuk percaya).]
"Sialan lu, Sistem," umpat Kevin dalam hati.
Nabila akhirnya mengembuskan napas lega, senyum manisnya kembali merekah.
"Oh, kirain Kak Kevin ikut pesugihan yang lagi rame di Twitter itu."
"Bagus deh kalau Kakak udah mau mulai kerja. Nabila dukung banget!"
Mendengar kata 'dukung', Kevin merasa ada kehangatan yang menjalar di dadanya.
Di saat seluruh warga pinggiran Depok mencibirnya, Nabila selalu punya cara untuk menghargainya.
Sebelum obrolan mereka berlanjut, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan.
Rupanya, beberapa warga di ujung gang yang sempat melihat keributan tadi langsung melapor ke pos polisi terdekat.
"Wah, polisi dateng, Nab."
"Mas Kevin gak bisa lama-lama, urusan ojol ini dikejar setoran."
"Kamu gak apa-apa kan kalau Mas tinggal di sini bareng warga? Masih ada orderan yang musti Mas ambil,"
kata Kevin agak panik. Dia tidak mau diinterogasi polisi dan menunda misinya mengejar ruko di Margonda.
"Eh? Iya, Kak, gak apa-apa. Biar Nabila aja yang jelasin ke pak polisi nanti,"
jawab Nabila pengertian.
"Makasih ya, Nab."
"Kamu hati-hati pulangnya. Jangan lewat gang sepi lagi!"
Kevin segera memakai helm inkognitonya, menghidupkan mesin NMAX-nya yang bersuara sehalus angin malam, dan melesat pergi meninggalkan gang sebelum mobil patroli polisi masuk.
Nabila berdiri memandangi kepergian Kevin yang begitu cepat.
Dia memeluk tas selempangnya yang berhasil diselamatkan.
Jantungnya masih berdegup kencang, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun mengenal Kevin, dia melihat cowok itu dengan cara yang sepenuhnya berbeda.
Sementara itu, Kevin kembali membelah aspal Margonda. Dia menghidupkan kembali aplikasi ojolnya.
Ding!
[Orderan Baru Masuk!]
[Nama Penumpang: Ibu Lidya.]
[Lokasi Penjemputan: Supermarket Detos (Depok Town Square).]
[Tujuan: Perumahan Grand Depok City.]
[Catatan: "Bawa belanjaan agak banyak ya Mas, tolong dibantu."]
"Siap, laksanakan! Ruko Margonda, tunggu abang datang!"
seru Kevin penuh semangat.
Dia memacu motornya menuju Detos.
Sesampainya di titik penjemputan, Kevin melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian sosialita modis lengkap dengan
kacamata hitam besar dan perhiasan emas yang cukup mencolok sedang berdiri di samping troli yang penuh dengan kantong belanjaan bermerek.
"Mas Kevin ya?"
tanya Ibu Lidya sambil menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap motor Kevin dengan pandangan menilai.
"Iya, betul Bu Lidya"
" Mari belanjaannya saya bantu rapihin di bagasi dan gantungan depan,"
ujar Kevin ramah, langsung turun dengan sigap.
Ibu Lidya tersenyum puas melihat kesigapan Kevin.
"Nah, gitu dong. Ojol zaman sekarang harusnya kayak kamu, rapi dan motornya bagus."
"Gak kayak ojol yang kemarin, motornya mogok pas bawa belanjaan saya."
Namun, saat Kevin sedang menata belanjaan Ibu Lidya yang super banyak itu ke bagasi bawah joknya yang entah bagaimana bisa muat segalanya berkat ruang dimensi tersembunyi dari Sistem,
telinga Kevin menangkap suara bisik-bisik mencurigakan dari arah koridor parkiran yang agak gelap.
"Target terpantau, Bro. Ibu-ibu kaya yang emasnya gede-gede."
"Dia naik ojol NMAX item. Kita buntuti pas jalanan agak lengang menuju GDC,"
bisik sebuah suara berat lewat walkie-talkie.
Kevin menghentikan gerakannya sesaat. Berkat Refleks Dewa, indra pendengarannya pun ikut meningkat tajam.
Dia melirik lewat kaca spion motornya.
Dua orang pria berbadan tegap dengan jaket hitam ketat dan motor sport modifikasi sedang mengamatinya dari jarak dua puluh meter.
Kevin menyeringai tipis di balik helmnya.
"Wah, baru juga kelar satu kriminalitas,"
"ini udah disiapin mangsa kedua sama Sistem."
"Panjang umur para kriminal," batin Kevin girang.