Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Hangat Di Tengah Badai
Malam itu, gedung kantor polisi markas pusat kepolisian NYPD berubah menjadi sebuah tempat yang terasa jauh berbeda dari atmosfer ketegangan yang biasanya menyelimuti ruangan tersebut. Rangkaian lampu lampu kecil berwarna warni tampak digantung dengan rapi di sepanjang area ruang serbaguna yang berukuran besar, sementara deretan meja meja panjang telah dipenuhi oleh berbagai macam hidangan makanan, minuman segar, serta sebuah kue ulang tahun berukuran raksasa dengan lilin lilin yang sudah menyala cerah. Alunan musik pelan terdengar mengalir lembut dari sudut pengeras suara, menyajikan perpaduan antara lagu pop berirama santai dan musik jazz yang ringan.
Seluruh anggota tim investigasi khusus Arthur, jajaran detektif, perwakilan agen federal, para teknisi laboratorium forensik, hingga beberapa informan tepercaya kepolisian yang sengaja diundang tampak berkumpul bersama untuk merayakan tiga momentum besar sekaligus, yaitu keberhasilan penuntasan kasus kematian Jennifer Cartter dan penangkapan Mia Thompson, perayaan menyambut pergantian tahun baru, serta hari ulang tahun yang ke-35 bagi salah satu informan kepolisian yang paling dihormati oleh tim, seorang pria bernama Marcus Rick Reilly.
Ruangan serbaguna itu kini dipenuhi oleh riuh suara tawa dan obrolan akrab. Aroma sedap dari hidangan daging panggang, wangi mentega popcorn, serta sedikit aroma minuman beralkohol tampak mengisi seluruh udara ruangan. Manuel Vin terlihat berdiri santai di dekat area meja minuman, mengenakan setelan kemeja berwarna biru gelap yang sangat jarang ia pakai dalam kesehariannya, sambil mengulas sebuah senyuman lebar saat sedang asyik mengobrol bersama Kapten Lopez.
Di sudut lain, Elena Kuznetsova tampak sangat anggun mengenakan gaun dress hitam sederhana namun memberikan kesan yang sangat elegan. Rambut pirangnya yang indah dibiarkan tergerai lembut di atas bahu, membuat penampilannya terlihat sangat cantik dan santai untuk pertama kalinya setelah sekian lama terjebak dalam rutinitas kasus yang melelahkan. Ia berdiri tenang di dekat meja makanan, sesekali terdengar tertawa kecil saat mendengarkan cerita jenaka dari salah satu rekan teknisi forensik.
Arthur Rutherford sendiri datang melangkah masuk agak terlambat ke dalam ruang pesta. Pria asal Wales itu memilih untuk tetap mengenakan jaket hoodie hitam favoritnya yang dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap, penampilannya terlihat sangat santai namun tidak bisa menyembunyikan kesan tampan yang melekat kuat di dalam dirinya. Saat langkah kakinya mulai memasuki area ruangan, beberapa pasang mata petugas sempat melirik ke arah kedatangannya dengan tatapan mata yang campur aduk. Masih ada sebagian kecil petugas yang menaruh rasa tidak suka karena rekam jejak masa lalunya, namun keberhasilan luar biasa dalam memecahkan misteri kasus terakhir membuat sebagian besar orang di dalam ruangan itu mulai menaruh rasa hormat yang besar kepada kemampuan otaknya.
Manuel yang menyadari kehadiran rekannya langsung bergerak melangkah menghampiri. "Akhirnya kau memutuskan untuk memunculkan batang hidungmu juga di tempat ini. Rick sejak tadi sudah menanti nantikan kehadiranmu untuk melakukan prosesi pemotongan kue bersama sama."
Arthur mengulas sebuah senyuman tipis menanggapi sambutan hangat Manuel. "Kau tahu sendiri bahwa aku sebenarnya bukan tipe orang yang suka menghadiri acara pesta keramaian seperti ini. Namun khusus untuk merayakan hari penting bagi Rick, aku pasti akan mengusahakan diri untuk datang."
Marcus Rick Reilly, sosok informan kepolisian yang tercatat sudah mendedikasikan waktu selama 12 tahun lamanya untuk bekerja membantu tim detektif, adalah seorang pria berusia 35 tahun yang selalu memiliki pembawaan ramah beriringan dengan sebuah senyuman lebar serta guratan bekas luka goresan kecil di bagian pipi kirinya. Ia langsung melangkah mendekat ke arah posisi Arthur lalu memberikan sebuah pelukan hangat yang bersahabat.
"Terima kasih banyak karena kau sudah sudi meluangkan waktu untuk datang ke acaraku, monster tampan," kata Rick melontarkan sebuah candaan akrab. "Tanpa adanya bantuan dari kejeniusan otakmu, misteri dari pusaran kasus Mia Thompson mungkin sampai detik ini masih akan berstatus gelap gulita."
Arthur tertawa kecil mendengar pujian tersebut. "Aku hanya bertugas untuk membantu menganalisis sedikit pecahan bukti yang ada di lapangan. Kaulah sosok yang jauh lebih berani karena mau mengambil risiko besar untuk masuk ke dalam lingkaran jaringan informan yang berbahaya."
Jalannya acara pesta malam hari itu berlangsung dengan suasana yang sangat santai dan menyenangkan. Volume musik perlahan mulai dinaikkan sedikit, memicu beberapa orang di dalam ruangan untuk mulai menggerakkan tubuh berdansa ringan mengikuti ritme lagu. Manuel dengan gestur jenaka tampak menarik lengan Elena menuju ke arah tengah lantai dansa untuk mengikutinya bergerak dalam satu putaran lagu, sebuah tindakan spontan yang seketika membuat Elena tertawa keras karena geli.
Sementara itu, Arthur memilih untuk tetap berdiri tenang di area pinggir ruangan sambil memegang sebuah gelas berisi soda dingin, menikmati pemandangan kebersamaan tersebut dengan seulas senyuman kecil yang tulus di bibirnya.
Elena melangkah mendekat kembali ke arah Arthur setelah lagu dansa tersebut selesai, ritme napasnya masih terdengar sedikit tersengal sengal karena lelah bergerak. "Mengapa kau hanya berdiri diam di sudut ini dan tidak ikut bergabung bersama kami untuk berdansa?"
Arthur menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku merasa jauh lebih suka untuk menikmati pemandangan indah ini dari posisi berdiri di sini. Lagipula, aku memiliki rasa khawatir yang besar bahwa gerakan kakiku yang kaku justru akan menginjak permukaan sepatumu yang bagus itu."
Elena tersenyum manis mendengar jawaban Arthur, sepasang mata birunya tampak berkilat indah terpapar pendaran cahaya lampu pesta. "Kau ternyata adalah seorang pengecut dalam urusan berdansa, Rutherford."
Wanita Rusia itu kemudian meraih gelas soda dingin dari dalam genggaman tangan Arthur tanpa izin, menyesap isinya sedikit demi sedikit, lalu mengembalikan gelas tersebut ke posisi semula. Sebuah gestur gerakan tubuh berukuran kecil namun memberikan sebuah kesan yang sangat intim dan sarat akan kehangatan di tengah tengah ramainya situasi keramaian orang.
Suasana di dalam ruangan serbaguna kini terasa semakin ramai dan meriah. Kapten Lopez tampak mulai melangkah naik ke atas sebuah panggung berukuran kecil untuk memberikan untaian pidato singkat di depan seluruh anggotanya.
"Malam hari ini, kita semua berkumpul di tempat ini untuk merayakan sebuah pencapaian keberhasilan yang luar biasa dari tim investigasi kita, khususnya untuk tim khusus yang digawangi oleh Arthur, Manuel, dan Elena. Penanganan misteri kasus pembunuhan Senator Grant serta pengungkapan kasus pelik Jennifer dan Mia adalah dua buah kemenangan besar yang sangat membanggakan bagi institusi kita. Momentum pergantian tahun baru juga sudah berada di depan mata kita semua. Mari kita bersama sama menyambut datangnya tahun yang baru dengan untaian harapan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya."
Gemuruh suara sorak sorai dan tepuk tangan meriah seketika memenuhi seluruh penjuru ruangan serbaguna tersebut. Kue ulang tahun milik Rick perlahan mulai dipotong bersamaan dengan ditiupnya lilin lilin ulang tahun secara serentak, memicu seluruh pengunjung untuk memberikan apresiasi tepuk tangan yang meriah.
Di tengah tengah kemeriahan itu, Arthur memilih untuk melangkah keluar menuju ke sebuah balkon kecil yang terhubung dengan ruang pesta, berdiri tenang memandangi hamparan lampu lampu kota New York yang berkelap kelip indah di bawah kegelapan malam. Elena tidak lama kemudian tampak berjalan keluar menyusul posisi Arthur, kedua belah tangannya terlihat membawa dua buah gelas baru yang berisi soda dingin.
"Kau terlihat lebih banyak memilih untuk diam membisu sejak acara pesta ini dimulai," kata Elena dengan nada suara yang terdengar sangat pelan sambil memposisikan dirinya untuk berdiri tepat di samping tubuh Arthur. "Apa sebenarnya hal penting yang sedang berkecamuk di dalam pikiranmu saat ini?"
Arthur mengulas sebuah senyuman tipis, pandangan matanya menatap lurus ke depan. "Aku hanya sedang memikirkan mengenai betapa anehnya alur roda kehidupan yang kujalani ini, Elena. Beberapa tahun yang lalu, aku hanya bisa terduduk sendirian di dalam keheningan sel penjara yang dingin. Namun sekarang, aku justru bisa berada di dalam acara pesta milik institusi kepolisian, memiliki sebuah tim kerja yang solid, menerima upah gaji resmi, dan memiliki beberapa orang teman yang berharga."
Elena terdiam membisu untuk beberapa saat meresapi untaian kata Arthur, sebelum akhirnya ia memberikan respons dengan nada suara yang sangat lembut. "Kau harus sadar bahwa kau bukan lagi sesosok monster kejam seperti yang dipikirkan orang lain, Arthur. Kau sudah berhasil membuktikan perubahan itu secara nyata melalui tindakanmu di berbagai kasus kita."
Arthur seketika menolehkan kepalanya, menatap lurus ke arah garis wajah Elena yang terlihat sangat cantik terpapar oleh pendaran cahaya sinar rembulan malam. Untuk beberapa detik yang singkat, atmosfer di sekitar mereka terasa seolah olah berhenti berputar. Arthur perlahan mengangkat tangan kanannya, mengulurkan jemarinya untuk menyentuh dan merapikan helaian rambut pirang Elena yang tergerai lembut dengan gerakan tangan yang sangat halus penuh kasih sayang.
"Terima kasih banyak atas ucapanmu, Elena," kata Arthur dengan nada suara yang rendah dan terasa sangat hangat.
Kedua belah pipi Elena seketika merona merah muda karena tersipu malu, namun ia sama sekali tidak mengambil langkah untuk menjauhkan posisinya dari Arthur. Malahan, ia tampak menggeser posisi berdirinya menjadi sedikit lebih dekat lagi, hingga kedua belah bahu mereka kini saling bersentuhan secara fisik, menikmati kedekatan tersebut.
Di dalam ruangan serbaguna, Manuel yang sedang memegang gelas minumannya tidak sengaja melihat momen kedekatan romantis di antara kedua rekannya tersebut dari kejauhan. Pria itu tampak mengulas sebuah senyuman kecil penuh arti, lalu mengangkat gelasnya tinggi tinggi ke arah balkon sebagai sebuah bentuk salam penghormatan diam diam yang penuh dukungan bagi mereka berdua.
Acara kemeriahan pesta tersebut terus berlanjut hingga waktu beranjak semakin larut malam. Orang orang di dalam ruangan tampak asyik saling berbagi cerita, tertawa bersama, menari, dan merayakan momentum kebahagiaan mereka dengan sukacita. Sementara itu, Arthur dan Elena lebih memilih untuk menghabiskan sisa waktu mereka di area balkon luar, terlibat dalam obrolan obrolan ringan mengenai hal hal kecil dalam hidup mereka, mulai dari membicarakan perihal impian masa depan, menu makanan favorit masing masing, hingga untaian harapan pribadi mereka untuk menyambut datangnya tahun baru. Manuel sempat datang bergabung bersama mereka untuk beberapa menit, sebelum akhirnya memilih kembali ke dalam ruangan untuk berbaur bersama rekan rekan polisi yang lain.
Malam hari itu pun resmi bertransformasi menjadi sebuah malam yang dipenuhi oleh memori hangat bagi seluruh anggota tim khusus Arthur. Di tengah tengah pekatnya kegelapan dari misteri kasus kasus pembunuhan berantai yang masih belum terungkap di luar sana, mereka akhirnya berhasil menemukan secercah cahaya kebahagiaan kecil yang berwujud sebuah ikatan persahabatan, rasa kekaguman, dan mungkin saja menjadi sebuah titik awal dari lahirnya suatu perasaan emosional yang jauh lebih dalam di antara Arthur dan Elena.
Momentum pergantian tahun baru kini dirasakan semakin dekat untuk menyapa kota. Dan untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan hidupnya yang kelam, Arthur Rutherford akhirnya bisa merasakan sebuah keyakinan di dalam hatinya bahwa ia mungkin saja sudah berhasil menemukan tempat bernaung yang sesungguhnya di dalam dunia yang luas ini.