NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 Dinding Es di Menit Akhir

BAB 35: Dinding Es di Menit Akhir

Gemuruh tabuhan drum dari suporter hitam-emas semakin bertalu-talu, mengiringi amukan Arya yang merangsek maju seperti badak terluka. Keunggulannya secara fisik—tinggi 172cm dan kecepatan di atas rata-rata—membuatnya berhasil melewati garis pertahanan pertama Merah Marun. Kini, koridor tengah menyisakan Danu dan Velix sebagai benteng terakhir sebelum kotak penalti.

"Minggir lu semua!" teriak Arya lantang, mendorong bola sedikit lebih kencang ke depan untuk memancing duel fisik.

Danu mencoba bergerak menutup celah, namun Arya melakukan sebuah gerakan step-over cepat yang dipadukan dengan dorongan bahu yang kasar. Danu kehilangan keseimbangan dan terpaksa melebar, meninggalkan ruang tembak yang cukup terbuka bagi Arya tepat di menit ke-37.

Tepat di saat Arya menarik kaki kanannya ke belakang untuk melepaskan tembakan keras, Velix bergerak.

Sisi serius dan fokusnya telah rampung membaca niat Arya melalui Analisis Lawan. Velix tidak melakukan sliding tackle sembrono yang bisa berujung penalti atau pelanggaran berbahaya di depan kotak. Menggunakan atribut kecepatannya yang kini berada di angka 51.0, dia melakukan akselerasi dua langkah pendek dan menempatkan posisi tubuh 165cm-nya tepat di jalur ayunan kaki Arya.

Bum!

Bukan bola yang terpukul, melainkan dada dan lengan bagian atas Velix yang menahan hantaman bola hasil tendangan keras Arya dari jarak dekat. Benturan keras itu membuat Velix terdorong mundur satu langkah, namun struktur ototnya yang telah diperkuat hadiah Sistem mampu menyerap momentum hantaman tersebut dengan sangat baik.

[Pemberitahuan Sistem: Blokade Tembakan Berhasil!] [Efek Fisik: Struktur otot dada menahan benturan dengan sukses. Stamina: 47.0 -> 45.0] [Tingkat Frustrasi Arya: Melonjak ke 80% (Kritis)]

Bola memantul liar kembali ke kaki Arya yang masih terkejut melihat tendangannya diblok murni menggunakan badan. Sebelum Arya sempat menguasai bola kembali, Velix yang menjaga detak jantungnya tetap di angka 72 BPM berkat Cold-Blooded Mentor langsung menjulurkan kaki kirinya.

Sret!

Sebuah poke tackle yang sangat cepat dan presisi menyenggol bola keluar dari jangkauan Arya, bergulir manis ke arah Danu yang sudah kembali bangkit berdiri.

"Danu, buang ke sayap! Ryan, lari!" teriak Velix dengan suara baritonnya yang mantap dan berwibawa, memutus kepanikan di lini belakang.

Danu langsung menyapu bola sekuat tenaga menuju lini depan, memaksa sisa pemain bertahan Cendrawasih Pusat mundur teratur untuk mengamankan wilayah mereka. Tekanan brutal tuan rumah di menit-menit akhir babak pertama resmi diredam sepenuhnya oleh dinding es bernama Velix Purnama.

Prreeettt! Prreeettt!

Wasit meniup peluit panjang dua kali, menandakan babak pertama yang melelahkan dan penuh tensi tinggi ini resmi berakhir. Papan skor elektronik raksasa di sudut Stadion Cendrawasih masih memampang angka yang tak terbayangkan oleh siapa pun sebelum laga dimulai: SMP Cendrawasih Pusat 1, SMP Merah Marun 2.

Para pemain Cendrawasih berjalan menuju terowongan dengan wajah tertunduk dan rahang mengeras. Arya memegangi lututnya di pinggir lapangan, napasnya memburu cepat, menatap Velix dengan pandangan yang bercampur antara amarah, tidak percaya, dan sedikit rasa ngeri atas ketenangan bocah nomor 11 itu.

Di kubu Merah Marun, atmosfer ruang ganti sementara di pinggir lapangan meledak dalam kebahagiaan. Ryan langsung merangkul leher Velix, sementara Pak Joko berulang kali menepuk punggung Velix dengan mata yang berkaca-kaca.

"Dua puluh menit yang luar biasa, Velix! Kamu bener-bener mematikan kreativitas Arya di tengah," puji Pak Joko dengan suara bergetar bangga, tangannya sibuk mencoret-coret papan strategi untuk persiapan babak kedua.

Velix melepaskan mode monsternya sejenak, menampilkan senyuman hangat dan suportif kepada rekan-rekan setimnya yang kelelahan. Dia membagikan botol air mineral dan membantu Danu mengompres memar di kakinya.

Namun, begitu dia duduk di bangku kayu dan memejamkan mata, pikiran dewasanya kembali menganalisis sisa 40 menit laga ke depan.

'Babak kedua akan jauh lebih kejam,' batin Velix, menatap layar Sistem yang menampilkan grafik stamina timnya yang mulai menurun di angka 68%. 'Pelatih mereka pasti akan melakukan pergantian pemain massal untuk menguras fisik kami. Aku harus memikirkan cara untuk mengunci kemenangan ini sebelum stamina anak-anak habis total.'

Cetak biru sang legenda kini berdiri di paruh jalan menuju sensasi terbesar di regional Jakarta. Velix Purnama bersiap menyusun strategi terakhirnya untuk membungkam sang juara bertahan di babak kedua.

1
Riyanganz
semangat thor💪
Riyanganz
bagus 👍
Riyanganz
ringan ceritanya mengalir, semoga aja kedepannya ga boring ceritanya
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!