Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Suasana di dalam kabin taksi online Avanza putih itu mendadak sunyi begitu mobil mulai memasuki kawasan perumahan elit Menteng. Zara terus meremas saputangannya, menatap layar ponsel yang baru saja menggelap setelah panggilan sepihak dari ayahnya terputus. Wajahnya pucat pasi, membayangkan drama besar yang akan ia hadapi di rumah masa kecilnya.
Fahri yang duduk di sampingnya, dengan setelan baju koko sederhana dan peci hitam yang sudah kembali miring ke kanan, melirik sang istri. Melihat bahu Zara yang tegang, jiwa usil sekaligus pelindung cowok Tasik itu langsung bergolak.
"Zar... eh, maksud saya, Love," panggil Fahri santai, menyenggol pelan lengan Zara dengan sikunya.
Zara menoleh dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Fahri, aku lagi jantungan, jangan bercanda dulu dong."
"Lho, siapa yang bercanda? Saya cuma mau nanya," Fahri memajukan wajahnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata bulat Zara yang panik. "Nanti kalau sampai di rumah ayahmu, kamu mau tetap cemberut kayak bebek begini, atau mau pasang muka garang ala Neng Jakarta? Soalnya kalau kamu lemes begini, nanti dikira saya kurang kasih makan kamu selama di hotel."
"Fahri Ahmad! Rumah Ayah mau disita Reza, kok kamu kepikirannya ke sana sih?!" omel Zara kesal, namun rasa sesak di dadanya sedikit berkurang akibat pancingan konyol suaminya.
Fahri tertawa kecil, lalu meraih jemari tangan kanan Zara dan menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat. "Dengerin saya, Love. Uang dua miliar yang dituntut sama pengacara Reza itu, buat Haji Sulaiman atau buat perusahaan saya, itu cuma seujung kuku. Gak ada artinya. Detik ini juga saya bisa suruh Pak Darma transfer ke rekening mantan suami sejammu itu biar dia bungkam."
Zara tertegun, menatap Fahri tidak percaya. "Terus, kenapa kamu gak bayar aja sekarang? Kenapa kita harus repot-repot ke rumah Ayah dengan penampilan kayak gini?"
Fahri menarik napas dalam, sorot matanya berubah menjadi sangat bijaksana dan dewasa. "Saya bisa bayar uang itu dalam hitungan detik, Zar. Tapi kalau saya bayar sekarang dari balik layar, ayah kamu gak akan pernah sadar atas kesalahannya. Beliau gak akan pernah tahu bagaimana rasanya mengemis keadilan setelah dengan teganya mengusir anak kandungnya sendiri hanya karena sebuah video fitnah."
Fahri mengelus punggung tangan Zara lembut. "Saya mau ayah kamu sadar, bahwa harga diri anak perempuannya ini gak bisa diukur dengan materi. Saya ingin kamu tetap kuat di depan beliau nanti. Jangan menangis karena merasa bersalah, karena yang salah di sini bukan kamu. Paham, Teteh Jakarta?"
Zara menatap suaminya dengan rasa haru yang luar biasa. Di balik peci miring dan candaan tengilnya, Fahri ternyata sedang merancang sebuah pelajaran hidup yang besar untuk keluarganya. "Iya, Love... aku paham."
Taksi online akhirnya berhenti tepat di depan pagar hitam tinggi rumah Pak Rahmad. Namun, pemandangan di sana sangat berbeda dari apa yang dibayangkan Zara sepanjang jalan.
Tidak ada sirine mobil polisi. Tidak ada barisan petugas pengadilan, tidak ada Reza, maupun pengacaranya yang membawa papan segel. Suasana halaman rumah megah itu justru tampak sepi, hanya ada mobil sedan tua milik Pak Rahmad yang terparkir di garasi.
Zara mengernyitkan dahi bingung saat turun dari mobil bersama Fahri. "Lho... katanya ada polisi sama pengacara Reza?"
"Ayo masuk dulu," ajak Fahri tenang, melangkah tegap mengimbangi langkah Zara yang terburu-buru menuju teras.
Begitu pintu utama rumah diketuk, pintu langsung terbuka lebar. Pak Rahmad berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sangat kusut, rambutnya berantakan, dan matanya menyiratkan kepanikan yang mendalam. Di tangannya, ia memegang selembar surat somasi berlogo firma hukum.
"Zara! Kamu..." Kalimat Pak Rahmad mendadak terhenti saat matanya beralih menatap Fahri yang berdiri di samping Zara dengan pakaian koko sederhana dan jaket kain, tampak seperti ustadz kampung biasa yang tidak punya kuasa apa-apa.
Pak Rahmad langsung mengacungkan surat somasi itu tepat di depan wajah Fahri dengan tangan gemetar. "Mana uangnya, hah?! Kenapa kamu malah datang pakai baju ginian?! Pengacara Reza tadi menelepon, mereka kasih waktu sampai jam dua siang ini atau rumah ini beneran digeledah polisi! Mana tanggung jawab kamu sebagai laki-laki yang sudah bawa kabur anak saya?!"
Zara maju satu langkah, hendak membela suaminya, namun Fahri dengan cepat menahan pundak Zara. Cowok berpeci miring itu maju menghadap mertuanya, wajahnya begitu tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Pak Rahmad," ucap Fahri, suaranya terdengar sangat santai namun bergaung berat di teras rumah yang sunyi. "Reza dan polisinya memang gak ada di sini sekarang, karena mereka tahu mereka gak punya hak untuk menyentuh rumah ini. Tapi sebelum kita bicara soal dua miliar saya mau tanya satu hal sama Bapak."
Fahri menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata sang mertua. "Bapak lebih takut kehilangan rumah mewah ini atau lebih takut kehilangan kehormatan anak kandung Bapak yang sudah difitnah keji oleh laki-laki brengsek itu?"
Mendengar pertanyaan menohok dari menantu yang dianggapnya melarat itu, Pak Rahmad seketika membeku, lidahnya mendadak kelu di tengah embusan angin siang Jakarta yang mencekam.
"Heh, orang kampung! Jangan sok mengajari saya!" bentak Pak Rahmad, suaranya menggelegar di teras rumah yang sunyi, telunjuknya mengacung tepat beberapa senti di depan wajah Fahri.
"Kamu itu tahu apa soal dunia saya?! Kamu cuma santri melarat yang kebetulan lewat lalu memanfaatkan situasi buat menikahi anak saya!"
"Ayah! Cukup! Jaga ucapan Ayah!" potong Zara, air matanya menetes bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit hati yang teramat dalam melihat suaminya dihina sedemikian rupa.
Namun Pak Rahmad sama sekali tidak memedulikan pembelaan putrinya. Sorot matanya yang penuh rasa angkuh dan keputusasaan tertuju lurus pada Fahri.
"Dengar ya, Fahri! Kemewahan, koneksi, dan nama baik keluarga saya di Jakarta ini sedang dipertaruhkan! Dan itu semua hancur gara-gara kamu pasang badan sok jadi pahlawan!" seru Pak Rahmad dengan napas memburu. "Sekarang, saya cuma minta satu hal dari kamu. Ceraikan Zara hari ini juga! Lepaskan dia!"
Suasana di teras itu mendadak hening seketika. Zara membeku, dadanya naik turun menahan sesak yang luar biasa. Ia menoleh ke arah Fahri dengan tatapan mata yang dipenuhi ketakutan.
"Ayah... Ayah gila ya?" bisik Zara bergetar. "Aku ini anak Ayah, bukan barang dagangan!"
"Kamu yang diam, Zara! Ini demi kebaikan kamu dan keluarga kita!" kilat Pak Rahmad, sebelum kembali menatap Fahri dengan pandangan meremehkan.
"Biarkan Zara kembali pada Reza. Tadi malam Reza sudah menghubungi saya. Dia bilang, dia sebenarnya masih sangat mencintai Zara. Dia mau mencabut semua tuntutan hukum dan somasi dua miliar ini, asalkan Zara kembali ke pelukannya dan pernikahan salah kaprah kalian ini selesai!"
Pak Rahmad tertawa sinis, menatap baju koko sederhana dan jaket kain yang dikenakan Fahri.
"Reza itu masa depan yang nyata buat Zara. Dia punya uang, punya kuasa. Sedangkan kamu? Kamu mau kasih makan anak saya pakai apa? Pakai air doa dari pesantren? Sadar diri kamu, Ustadz kampung!"
Mendengar rentetan makian dan tuntutan gila dari mertuanya, Fahri Ahmad sama sekali tidak berkedip. Posisi berdirinya tidak bergeser satu senti pun. Jangankan takut atau membalas dengan bentakan, Fahri justru mengulas sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan wibawa yang sangat pekat, sangat kontras dengan pakaian bersahaja yang dikenakannya.
Perlahan, Fahri mengangkat tangan kanannya, membetulkan letak peci hitamnya yang miring dengan gerakan yang sangat santai, seolah makian Pak Rahmad barusan hanyalah embusan angin lalu yang tidak berarti.
"Meminta saya menceraikan Zara agar dia bisa kembali pada laki-laki yang sudah menaruh racun di dalam hidupnya?" ucap Fahri, nadanya sangat rendah, datar, namun sanggup membungkam tawa sinis Pak Rahmad seketika.
Fahri melangkah maju satu kali, mengikis jarak di antara mereka, membuat Pak Rahmad refleks mundur selangkah karena mendadak terintimidasi oleh sorot mata hitam Fahri yang begitu tajam.
"Pak Rahmad yang terhormat," bisik Fahri, suaranya terdengar begitu dingin di sepertiga siang itu. "Hari ini Bapak meminta saya melepaskan Zara demi uang dua miliar dan rasa aman yang semu. Maka demi Allah, hari ini juga saya pastikan, Bapak akan melihat bagaimana uang dua miliar yang Bapak agungkan itu berubah menjadi seonggok kertas sampah yang tidak ada harganya di depan kaki istri saya."
Deg!