NovelToon NovelToon
MAS BAHLIL GANTENG

MAS BAHLIL GANTENG

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Konglomerat berpura-pura miskin / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.

Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.

Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.

Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Capek Jadi Suami Miskin?

Puann menahan napas sekuat tenaga. Matanya terbelalak melihat tangan Citra masih erat memegang pergelangan tangan Bahlil. Hatinya terasa diremas hingga nyeri, dan ia ingin sekali berlari memisahkan mereka. Namun, kakinya terasa berat sehingga ia memilih diam bersembunyi.

Ia bersembunyi di balik tumpukan barang sambil berharap mendengar suara suaminya.

"Kamu ini hebat banget sih, Mas. Pintar, rajin, dan ganteng pula. Sayang banget ya, kemampuan sebesar ini cuma dipakai buat kerja serabutan dan hidup pas-pasan," ucap Citra dengan nada lembut namun penuh makna.

Citra mengusap pelan kulit tangan Bahlil dengan ibu jarinya. Senyum di bibirnya makin melebar, dengan tatapan yang penuh kekaguman sekaligus keberanian.

"Setiap orang kan punya jalan hidupnya masing-masing, Mbak Citra. Aku sudah cukup bersyukur sama apa yang aku punya sekarang," jawab Bahlil pelan, tapi tangannya masih belum ditarik mundur.

Jawaban itu membuat air mata Puann hampir tumpah. Kalimat itu bukan penolakan, melainkan jawaban yang menggantung dan memberi harapan baru.

"Bersyukur sih boleh, Mas. Tapi apa nggak capek sih hidup susah terus? Lihat istrimu itu, sampai kapan kamu mau biarin dia hidup di kontrakan sempit dan sering dihina orang gara-gara keadaan kalian yang begini?" tanya Citra makin berani, suaranya sedikit meninggi namun tetap terdengar manis.

Citra mendekatkan wajahnya sehingga jarak di antara keduanya makin tipis. Ia menatap tajam tepat ke manik mata Bahlil.

"Denger ya Mas, aku bilang begini bukan mau ngajak kamu macem-macem. Tapi kalau kamu capek jadi suami miskin, kalau kamu pengen hidup enak, mewah, dan dihargai orang ... nikahi aku aja. Semua yang kamu dan keluarga kamu butuhin, aku bisa penuhi semuanya," ucap Citra terang-terangan.

Puann menutup mulutnya rapat-rapat untuk menahan isak tangis. Tubuhnya gemetar hebat mendengar tawaran yang begitu berani.

Ia tidak menyangka wanita itu berani mengajak suami orang meninggalkan istrinya sendiri. Yang paling menyakitkan, Bahlil masih diam saja dan tidak langsung menolak atau pergi menjauh.

"Kamu serius ngomong begitu?" tanya Bahlil pelan, nada suaranya sulit dimengerti, entah senang atau terkejut.

"Serius banget. Aku punya harta, aku punya jabatan. Tinggal kamu mau atau nggak aja. Daripada kamu buang waktu sama hidup kamu yang susah, mending sama aku, dijamin hidup kamu berubah seratus delapan puluh derajat," jawab Citra yakin sekali.

Puann tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi. Ia berbalik badan dan berlari kecil menjauh dari sana sambil air mata mengalir deras membasahi pipinya. Rasa kecewa, sedih, dan marah bercampur menjadi satu. Bagi Puann, diamnya Bahlil saat itu adalah jawaban persetujuan.

Sepanjang jalan pulang, pikiran Puann sangat kacau. Ingatan tentang penghinaan keluarga, kesusahan hidup, dan tawaran Citra terus berputar di kepalanya.

Ia merasa tidak berharga dan beranggapan bahwa Bahlil pasti merasa malu memiliki istri sepertinya.

Sesampainya di kontrakan, Puann membanting pintu dengan kasar. Ia duduk di kursi kayu dengan napas memburu sambil menunggu kedatangan suaminya dengan hati penuh amarah.

Tak lama kemudian, Bahlil pulang. Ia masuk dengan wajah biasa saja, seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi. Sikap tenang itu justru memicu kemarahan Puann makin meledak.

"Kamu dari mana aja?! Ngomong apa aja sama perempuan itu hah?!" seru Puann langsung berdiri menghadap Bahlil.

Bahlil mengernyitkan dahi, terkejut melihat istrinya menangis dan marah besar. Ia meletakkan tasnya pelan-pelan.

"Aku kerja seperti biasa, Puann. Ada apa sih? Kok kamu marah-marah begini?" tanya Bahlil tenang.

"Kerja katamu? Kerja sambil pegang-pegang tangan, kerja sambil dengerin dia nawarin hidup mewah kalau ninggalin aku?! Kamu kira aku nggak denger ya?! Aku denger semuanya, Mas! Semua omongan dia!" bentak Puann dengan suara parau.

Bahlil terdiam. Wajahnya berubah kaku, namun ia sama sekali tidak terlihat bersalah. Ia hanya diam mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri.

"Jawab aku! Kamu seneng ya denger dia ngomong gitu? Kamu sebenarnya pengen kan punya istri kaya kayak dia, bukan kayak aku yang cuma bikin kamu susah dan malu-maluin ini?!" tuduh Puann makin keras, air matanya makin deras.

"Bukan gitu maksudnya, Puann. Kamu salah paham," jawab Bahlil akhirnya, tapi suaranya lemah dan tidak meyakinkan sama sekali.

"Salah paham apa?! Dia bilang suruh kamu nikah sama dia kalau capek hidup susah! Dan kamu? Kamu cuma diam aja! Kamu nggak langsung usir dia, kamu nggak langsung bilang kamu sudah punya istri yang kamu cintai! Kamu diam aja kayak orang yang lagi mikirin tawaran itu!" Puann mengeluarkan semua kekesalannya yang sudah lama tertahan.

Pertengkaran itu berlangsung lama dan memanas. Puann bicara panjang lebar mengungkapkan rasa sakit hati, rasa rendah diri, dan ketakutannya.

Sebaliknya, Bahlil semakin lama semakin sedikit bicara. Ia memilih bungkam dan membiarkan Puann marah sendiri tanpa memberikan penjelasan yang memuaskan.

Perlahan langit mulai gelap. Suasana di dalam kontrakan menjadi hening dan dingin. Puann duduk memunggungi Bahlil sambil masih terisak pelan. Ia berharap suaminya akan meminta maaf atau memeluknya, namun harapannya itu sia-sia belaka.

Saat Puann berbalik badan hendak bicara lagi, kursi tempat Bahlil duduk sudah kosong. Pintu depan terbuka sedikit dan tidak ada suara langkah kaki lagi.

Malam itu, Bahlil tidak pulang. Ia menghilang begitu saja tanpa pesan atau kabar, meninggalkan Puann sendirian dengan sejuta rasa sakit dan ketidakpastian.

1
ᴹᴿˢ ᵁᴹᴵ
cek sja puan tapi jgn gegabah plaa takut slah fhm jdinya
ᴹᴿˢ ᵁᴹᴵ
mak aii judul karyaa nya 🤣🤣🤣
DityaR: Awkwwkwkwkwk🤣
total 1 replies
Ara
puan dan Bahlil banget nih kak? 😭😭😭😭
DityaR: iya dong
total 1 replies
novi juita
my little bolu ketan 🤭😄
DityaR: my little cilok pentol kecap dinda
total 1 replies
Sky
alamak judulnya 😄
DityaR: kenapa emang?
total 1 replies
Linee Alice
Ananda Bahlil🤣
DityaR: iya dinda
total 1 replies
Linee Alice
Bahlil😭😭
Tasya
wahhh mbg😍
DityaR: buah apa yang paling manis, buahhliiill
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!