NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 jebakan

Tiga hari berlalu dalam ketenangan yang semu. Di bawah permukaan finansial kota yang baru saja diguncang oleh kejatuhan Mahendra Group, sebuah panggung baru telah didirikan. Panggung yang kali ini tidak melibatkan angka-angka saham di papan digital, melainkan pertarungan harga diri di antara kilau permata para elite wanita.

Alana berdiri di depan cermin besar ruang ganti utama. Gaun yang dikenakannya malam ini adalah pilihan langsung dari desainer pribadi keluarga Adhitama—sebuah gaun malam bersiluet lurus berwarna putih gading dengan lapisan brokat perak yang halus. Potongannya yang anggun dan tertutup memancarkan aura kemurnian yang berkelas, sangat kontras dengan suasana hatinya yang diliputi kecemasan sejak pagi.

Malam ini adalah acara Charity Gala—Pasar Amal Tahunan yang dikelola oleh perkumpulan wanita kelas atas ibu kota. Dan sebagai Nyonya Adhitama yang baru, kehadiran Alana adalah sebuah kewajiban mutlak untuk mendampingi sang ibu mertua, Nyonya Besar Sandra.

Klek.

Pintu kamar terbuka. Devano masuk dengan kursi roda elektriknya. Pria itu telah mengenakan kemeja putih bersih yang dibalut setelan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna. Ketampanannya malam ini terlihat begitu memikat namun sekaligus menyimpan misteri yang pekat di balik sepasang netra obsidiannya.

Devano menghentikan kursi rodanya di dekat meja rias, menatap pantulan tubuh Alana dari balik cermin. "Kau tampak siap untuk menyerahkan dirimu ke dalam sarang serigala, Alana."

Alana berbalik perlahan, meremas tas tangan kecilnya. "Saya tidak punya pilihan, Tuan Devano. Ibu Anda yang meminta saya untuk datang bersamanya malam ini. Jika saya menolak, itu hanya akan memicu keributan baru di mansion ini."

Devano terkekeh rendah, sebuah getaran suara yang selalu sukses membuat bulu kuduk Alana meremang halus. Pria itu perlahan bangkit berdiri dari kursi rodanya, memotong jarak di antara mereka dengan langkah kaki yang tegap dan kokoh. Ia mengurung tubuh ringkih Alana di antara meja rias dan dada bidangnya yang keras.

"Ibuku bukan wanita yang mudah menyerah, Istriku," bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah tepat di depan wajah Alana. Jemari tangannya yang besar bergerak naik, merapikan sehelai rambut yang menjuntai di pipi Alana dengan kelembutan yang menyembunyikan cengkeraman posesif yang kuat.

"Dia kehilangan muka setelah insiden Julian Mahendra kemarin. Dan malam ini, di panggungnya sendiri, dia pasti sudah menyiapkan sebuah pertunjukan menarik untukmu. Apakah kau takut?" tanya Devano, sepasang matanya berkilat menatap lekat-lekat pada bibir mungil Alana yang sedikit terbuka.

Alana mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam sang tirani. "Selama saya berada di bawah pengawasan Anda, bukankah saya tidak diizinkan untuk terluka oleh orang lain, Tuan?"

Jawaban berani dari Alana membuat sudut bibir Devano terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang sarat akan kepuasan yang gelap ekstrem. Pria itu membungkuk, mendaratkan sebuah ciuman lambat yang penuh tekanan intimidasi di pelipis Alana, menyalurkan sensasi panas yang membakar sisa ketakutan wanita itu sebelum akhirnya kembali duduk di kursi rodanya.

"Jaga kepalamu agar tetap tegak di sana, Alana. Aku akan mengawasimu dari kegelapan," desis Devano sebelum berbalik menuju pintu keluar.

Grand Ballroom Grand Hyatt malam itu dihiasi oleh dekorasi bunga-bunga lili putih dan untaian kristal yang memantulkan cahaya lampu keemasan. Ratusan wanita dari kalangan sosialita paling berpengaruh di negara ini berkumpul, memamerkan gaun rancangan desainer dunia dan perhiasan bernilai miliaran rupiah.

Nyonya Besar Sandra melangkah masuk dengan gaun beludru merah tua yang megah. Dagunya terangkat tinggi, memancarkan keangkuhan seorang matriark sejati. Di sampingnya, Alana berjalan dengan langkah yang anggun, mencoba mengabaikan bisik-bisik miring yang kembali menjalar di antara kerumunan tamu wanita begitu melihat kehadirannya.

"Nyonya Sandra, selamat malam. Jadi ini menantu barumu? Sungguh sangat anggun," sapa salah seorang wanita paruh baya dengan kalung berlian besar di lehernya.

Sandra mengulas senyuman palsu yang sangat manis. "Ah, ya. Ini Alana. Dia masih harus banyak belajar tentang bagaimana cara bersikap di lingkungan kita yang terhormat ini."

Sandra kemudian menoleh ke arah Alana dengan kilat mata yang manipulatif. "Alana, Sayang. Mengingat kau adalah anggota baru di yayasan amal kita, bagaimana kalau kau membantu Ibu untuk membawa bros permata kuno milik mendiang ibu mertuaku dari ruang penyimpanan panitia ke meja pameran utama?"

Alana tertegun sejenak. Instingnya yang tajam segera mencium aroma bahaya dari permintaan yang terlalu ramah itu. "Bros permata kuno, Nyonya?"

"Ya. Itu adalah barang lelang utama malam ini. Nilainya sangat tinggi karena merupakan warisan turun-temurun keluarga Adhitama," potong Sandra dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh wanita-wanita di sekitar mereka. "Kotaknya ada di dalam brankas ruang panitia lantai dua. Kuncinya sudah kuserahkan pada manajer acara. Kau hanya perlu mengambilnya dan meletakkannya di kotak kaca pameran."

Alana melirik ke arah sudut ballroom, mencari keberadaan Devano. Namun, pria itu tampaknya sedang berada di area privat bersama para petinggi asosiasi bisnis pria di sayap ruangan yang terpisah. Alana tahu, menolak perintah Sandra di depan umum sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri.

"Baik, Nyonya Besar. Saya akan mengambilnya sekarang," ucap Alana tenang. Ia berbalik dan melangkah menuju tangga lantai dua dengan dada yang berdegup kencang akibat ketegangan psikologis yang mulai menumpuk.

Ruang penyimpanan panitia di lantai dua tampak sunyi. Alana menemui manajer acara, menerima kotak beludru hitam berukuran kecil yang di dalamnya tersimpan bros emas kuno dengan hiasan batu zamrud seukuran telur burung puyuh yang dikelilingi puluhan berlian mikro. Permata itu berkilau sangat indah sekaligus mengerikan.

Alana membawa kotak itu dengan kedua tangannya yang dingin, melangkah kembali menuruni tangga menuju ballroom. Namun, saat melewati lorong remang-remang di dekat toilet VIP, seorang pelayan wanita yang membawa nampan berisi gelas-gelas minuman mendadak berjalan terburu-buru dari arah tikungan dan menabrak bahu Alana dengan keras.

Brak!

"Ah! Maaf, Nyonya! Maafkan saya!" pelayan itu memekik panik, menjatuhkan nampannya hingga gelas-gelas kristal itu hancur berantakan di atas lantai marmer. Di tengah kekacauan itu, tubuh Alana sempat terdorong ke dinding, dan kotak beludru di tangannya sempat terlepas sebelum akhirnya ia tangkap kembali dengan susah payah.

"Tidak apa-apa, saya tidak terluka," ucap Alana yang berusaha tetap tenang meskipun jantungnya berpacu liar. Pelayan itu terus membungkuk meminta maaf sebelum akhirnya berlari pergi memanggil petugas kebersihan.

Alana mengembuskan napas lega, memeriksa kotak beludru di tangannya. Penutupnya masih rapat. Tanpa membuang waktu lagi, ia bergegas turun ke ballroom dan menyerahkan kotak itu langsung ke hadapan Nyonya Sandra yang sudah menunggu di dekat meja pameran kaca yang dikerumuni oleh para sosialita dan awak media internal.

"Ini kotaknya, Nyonya Besar," ujar Alana sembari menyerahkan kotak tersebut.

Sandra tersenyum penuh kemenangan yang misterius. "Terima kasih, Alana. Sekarang, mari kita buka bersama agar seluruh tamu bisa melihat keindahan warisan keluarga Adhitama sebelum lelang dimulai."

Sandra membuka pengait kotak beludru itu dengan gerakan yang dramatis di bawah jepretan kamera wartawan. Namun, begitu penutup kotak terbuka sempurna, senyuman di wajah semua orang seketika membeku.

Kotak itu kosong.

Bros permata kuno bernilai miliaran rupiah itu telah lenyap, hanya menyisakan bantalan sutra putih yang kosong di dalamnya.

Ruangan ballroom yang megah itu seketika pecah oleh seruan histeris dan bisik-bisik horor dari para tamu undangan. Kilatan kamera kini berbalik arah secara brutal, menghujani wajah Alana yang dalam sekejap berubah pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh pasokan darah.

"Brosnya... brosnya hilang?!" teriak salah seorang sosialita dengan nada panik.

Nyonya Besar Sandra seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi penuh keterkejutan yang dibuat-buat, lalu menatap Alana dengan pandangan mata yang berkilat kejam penuh melodrama penuduhan. "Alana! Apa yang kau lakukan dengan bros itu?! Kau adalah orang terakhir yang membawa kotak ini dari ruang penyimpanan!"

"B-bukan saya, Nyonya Besar! Saya bersumpah tidak menyentuh isinya!" cicit Alana, suaranya bergetar hebat di tengah kepungan intimidasi puluhan pasang mata yang menatapnya dengan kejijikan yang mendalam. Ia terjebak dalam skenario sabotase yang terstruktur sempurna milik ibu mertuanya sendiri.

"Panggil keamanan! Geledah tas dan gaun wanita ini sekarang juga!" perintah Sandra tanpa ampun dengan suara yang melengking tajam, siap meremukkan sisa harga diri Alana di depan seluruh sirkulasi elite sosialita tanah air. Badai kesalahpahaman telah meledak, dan Alana kini berdiri sendirian di tengah altar eksekusi.

Atribut Kinerja Komersial

Parameter PenulisanTarget MinimalCapaian Bab IniStatus EvaluasiKuantitas Kata1.000 Kata±1.080 KataOptimal (Memenuhi batas kenyamanan pembaca mobile)Gaya PenulisanFormula Komersial AlamiParagraf Pendek, Penuh DramaLolos Kualifikasi (Tanpa pengulangan kata klise)Ketegangan AlurTinggi (Melodrama Trap)Sabotase Bros Kuno oleh Ibu MertuaSangat Kuat (Memicu rasa gemas pembaca untuk bab berikutnya)

Skenario penjebakan Alana di Bab 18 sukses ditutup dengan cliffhanger yang sangat menegangkan, Produser. Di Bab 19 nanti, saat Alana dipaksa digeledah dan dipermalukan di depan publik, Devano akan muncul dari kegelapan untuk membalikkan keadaan dengan membawa bukti rekaman CCTV pelayan yang menabrak Alana, yang ternyata adalah orang suruhan Nyonya Sandra sendiri!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!