NovelToon NovelToon
Sistem Harem Ku Aktiv

Sistem Harem Ku Aktiv

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Karensi

Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Bab Empat

​Sinar matahari pagi menembus celah gorden jendela apartemen mewah Bella. Gue terbangun dengan badan yang terasa sangat segar. Fisik level dua beneran membuat waktu istirahat gue jauh lebih efektif. Gue bangkit dari kasur empuk kamar tamu dan meregangkan otot otot badan gue. Suara bising alat masak terdengar dari arah dapur. Gue keluar kamar dan melihat Bella sedang asyik memasak sarapan. Dia memakai apron warna merah muda yang terlihat sangat pas membalut tubuh langsingnya. Rambutnya diikat rapi ke atas menyisakan beberapa helai yang jatuh membelai leher putihnya.

​"Pagi Raka kamu udah bangun rupanya. Aku lagi masak nasi goreng udang kesukaan aku. Kamu pasti lapar kan," sapa Bella dengan senyum yang sangat manis. Matanya berbinar cerah menatap gue.

​"Pagi juga Bel. Wanginya enak banget sampai bikin cacing di perut gue demo minta makan," jawab gue membalas senyumannya.

​Sambil menunggu sarapan siap gue duduk di kursi meja makan. Tiba tiba layar biru hologram sistem muncul di depan mata gue dengan bunyi notifikasi yang khas. Suara robotik sistem langsung menggema jelas di dalam kepala gue.

​"Misi Balas Dendam Diaktifkan. Tuan Rumah harus pergi ke kampus hari ini juga. Berikan pelajaran berharga kepada target Siska dan target Dion yang telah berani menghina Tuan Rumah di depan umum. Buat mereka berdua menyesal dan hancurkan harga diri mereka di depan mahasiswa lain. Hadiah Penyelesaian Keahlian Manipulasi Pikiran Level Satu dan Saldo Uang Tunai Seratus Juta Rupiah. Hukuman Jika Gagal Penurunan Fisik menjadi Level Nol dan Saldo Uang dikosongkan."

​Gue tersenyum miring membaca misi baru ini. Ini tepat seperti apa yang gue harapkan dari sistem hebat ini. Siska dan Dion memang harus dikasih pelajaran setimpal. Mereka pikir mereka bisa menginjak injak harga diri gue lalu hidup tenang begitu saja. Hari ini gue akan tunjukkan kepada mereka siapa yang sebenarnya menguasai permainan ini. Dengan kekuatan fisik baru dan uang ratusan juta di dalam rekening gue punya semua senjata utama untuk menghancurkan kesombongan mereka.

​Bella meletakkan dua piring nasi goreng udang yang masih mengepul panas di atas meja. Kami makan berdua sambil sesekali mengobrol ringan masalah seputar kampus. Rasa masakan Bella luar biasa lezat seperti buatan koki restoran. Tingkat kasih sayang di layar atas kepalanya masih stabil di angka sembilan puluh lima persen. Dia benar benar sudah jatuh hati sepenuhnya kepada gue. Selesai makan gue pamit kepada Bella untuk pergi ke kampus sebentar.

​"Lu nggak perlu ikut Bel. Lu istirahat aja di rumah dulu. Gue cuma mau mengurus beberapa dokumen penting yang tertinggal di loker kampus. Nanti siang gue pasti udah pulang lagi ke sini buat nemenin lu," ucap gue menenangkan Bella yang tampak agak khawatir membiarkan gue pergi sendirian.

​"Hati hati ya Raka pas di jalan. Kalau ada apa apa langsung telepon aku secepatnya. Kevin pasti masih sakit hati dan mengincar kamu jadi kamu harus selalu waspada sama orang orang suruhannya," pesan Bella dengan nada yang sangat perhatian.

​Gue mengangguk mantap lalu bergegas pergi mandi dan bersiap siap. Gue sengaja memakai pakaian terbaik yang gue punya dari sisa barang bawaan gue kemarin. Walaupun cuma kaos hitam polos dan celana jeans biasa tapi efek Peningkatan Fisik Level Dua membuat postur tubuh gue terlihat jauh lebih tegap dan sangat proporsional. Otot bahu dan dada gue yang padat tercetak jelas di balik kain kaos.

​Gue juga mengaktifkan secara pasif Keahlian Aura Intimidasi Raja Level Satu yang gue dapatkan semalam setelah menghajar Kevin. Entah kenapa aura ini rasanya membuat gue teringat pada kisah Prabu Ken Arok tokoh sejarah legendaris yang kharismatik dan sangat ditakuti musuhnya saat pertama kali menaklukkan Tumapel di masa lalu. Langkah kaki gue sekarang terasa berat berwibawa namun tetap sangat mematikan di saat yang bersamaan.

​Perjalanan ke kampus memakai taksi tidak memakan waktu lama. Gue sengaja turun dari taksi tepat di depan gerbang utama yang kondisinya masih hancur berantakan bekas tabrakan truk gila kemarin. Beberapa pekerja bangunan terlihat sedang sibuk membersihkan puing puing tembok beton yang berserakan. Begitu kaki gue melangkah masuk ke area pekarangan kampus suasana keramaian langsung berubah drastis menjadi hening. Banyak mahasiswa yang sedang nongkrong di taman dan lorong kampus langsung menoleh kaget ke arah gue. Mereka semua menatap gue dengan raut wajah sangat terkejut seolah melihat orang mati bangkit kembali dari dalam kuburan.

​Bisik bisik pelan mulai terdengar dari segala penjuru arah. Mereka pasti sangat kaget melihat gue masih hidup dan bisa berjalan tegak tanpa perban luka sedikit pun padahal baru kemarin siang gue terkena ledakan yang sangat parah di tempat ini. Aura Intimidasi Raja yang gue pancarkan membuat mahasiswa lain secara otomatis mundur menyingkir dan memberikan jalan lebar untuk gue lewat. Tidak ada satu pun orang yang berani menatap langsung mata gue terlalu lama. Kharisma dan pesona diri gue benar benar berada di tingkat maksimal pagi ini.

​Langkah kaki gue mengarah lurus menuju gedung fakultas ekonomi tempat biasa anak anak populer kampus suka berkumpul. Tebakan insting gue tidak meleset sama sekali. Di kantin elit paling depan fakultas itu gue melihat Siska sedang duduk berdua saling bersandar bersama Dion. Mereka sengaja duduk di sudut paling mencolok seolah ingin memamerkan kemesraan palsu mereka kepada semua orang yang lewat.

​Siska terlihat sedang memegang sebuah buku novel tebal karangan penulis ternama Karensi. Gue ingat betul masa masa bodoh dulu betapa Siska sering merengek memaksa gue menabung mati matian demi membelikan dia novel Karensi edisi terbaru yang harganya cukup mahal buat ukuran kantong mahasiswa miskin kayak gue. Dia selalu bangga bilang kalau membaca karya sastra Karensi itu membuat dia terlihat pintar dan elegan di mata teman temannya. Padahal gue tahu pasti dia itu malas dan jarang sekali membaca satu buku pun sampai tamat. Di sebelahnya Dion sedang meminum segelas kopi mahal sambil tertawa sombong memamerkan kunci mobil sport merahnya di atas meja makan.

​Darah gue langsung mendidih panas melihat wajah tengil Dion dan gaya angkuh Siska. Siska yang dulu gue sayang sepenuh hati sekarang terlihat sangat murahan dan menyedihkan di mata gue yang sudah terbuka lebar ini. Gue mempercepat langkah kaki menghampiri langsung meja mereka berdua. Kehadiran fisik gue seketika membuat suasana kantin elit itu mendadak sunyi senyap tanpa suara. Semua pasang mata orang orang di sana langsung tertuju penuh rasa penasaran ke arah meja kami bertiga.

​Gue menarik kursi kosong yang ada di seberang meja mereka dengan sangat kasar lalu duduk santai menyilangkan kaki. Siska dan Dion langsung terlonjak kaget melihat tubuh gue mendadak duduk tepat di depan muka mereka. Buku novel Karensi yang sedang dipegang Siska sampai terjatuh ke atas lantai saking kagetnya. Wajah Siska langsung memucat pucat pasi seperti melihat penampakan hantu siang bolong. Matanya terbelalak sangat lebar melihat penampilan fisik tubuh gue yang berubah drastis menjadi jauh lebih berotot bersih dan sangat berkharisma tinggi.

​"Raka kamu belum mati sungguhan. Gimana bisa kamu sehat walafiat begini tanpa cacat," seru Siska dengan suara bergetar keras tidak percaya menatap wajah gue lekat lekat seolah memastikan gue ini manusia nyata.

​Dion juga terlihat sangat kaget pada awalnya tapi dia buru buru menutupi kepanikannya dengan kembali memasang wajah sombong andalannya yang memuakkan itu. Dia memajukan badannya ke arah gue seakan ingin menantang.

​"Lu lagi ngapain duduk di sini gembel miskin. Bukannya lu harusnya udah mampus kebakar di taman kemarin siang. Atau lu cuma mau pamer karena kebetulan lu beruntung bisa selamat dari kecelakaan maut itu hah," ucap Dion dengan nada suara tinggi sengaja mencari simpati dan perhatian orang orang di sekitar kantin.

​Gue tersenyum sangat dingin membalas tatapannya. Aura Intimidasi Raja gue langsung gue pusatkan sepenuhnya tepat ke arah tubuh Dion bernaung. Suhu udara di sekitar meja kami mendadak terasa turun drastis menjadi sangat dingin dan mencekam. Dion langsung tersentak mundur kaget dan menelan ludah kasar berulang kali. Keringat dingin mulai menetes keluar membasahi pelipisnya. Mulutnya mendadak kaku dan tenggorokannya terkunci tidak berani melanjutkan hinaannya lagi.

​"Lu nyuruh gue mampus mati. Sayang sekali umur gue masih sangat panjang buat terus melihat kelakuan pengecut lu yang luar biasa menjijikkan itu Dion," ucap gue sangat santai tapi mematikan menatap lurus masuk ke dalam mata panik Dion. "Gue datang ke sini cuma mau mengucapkan kalimat selamat kepada Siska. Selamat karena lu akhirnya sudah memilih cowok paling pengecut di seluruh area kampus ini sebagai kekasih lu."

​Siska mengerutkan kening merasa tidak terima dengan ucapan gue.

​"Lu jangan sembarangan ngomong menghina Dion ya Raka. Dion ini cowok pemberani dan dia sangat kaya raya. Nggak kayak lu yang hidupnya cuma modal nekat dan tenaga murahan," balas Siska membela.

​"Oh ya pemberani luar biasa kata lu," gue langsung tertawa mengejek sangat keras memecah keheningan kantin sampai bergema. "Lu semua orang yang ada di sini pasti melihat jelas kejadian ledakan kemarin siang kan. Waktu truk gila itu nabrak gerbang depan cowok berani pujaan lu ini langsung lari kocar kacir ketakutan parah. Dia ninggalin lu sendirian di dekat area parkiran Siska. Dia lari terbirit birit kayak anjing kecil ketakutan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang buat menolong lu. Coba lu ingat ingat lagi pakai otak lu kejadian siang kemarin Siska. Siapa orang yang nekat mati matian lari menyelamatkan nyawa Bella dan siapa cowok brengsek yang kabur mencari selamat duluan."

​Wajah Siska langsung memerah parah menahan malu yang luar biasa. Dia menoleh pelan menatap Dion dengan tatapan mata menuntut penjelasan jujur. Dion gelagapan parah dan wajahnya berubah sangat panik berkeringat karena aib terbesarnya dibongkar habis habisan di depan banyak orang. Beberapa mahasiswa yang sedang makan di kantin mulai berbisik bisik terang terangan mengejek nama Dion. Mereka pasti sangat ingat kejadian nyata kemarin karena memang banyak sekali saksi mata yang melihat langsung Dion lari kabur duluan menyelamatkan diri sendiri meninggalkan kekasihnya.

​"Itu sama sekali tidak benar Siska sayang. Aku kemarin itu cuma lari ke depan mencari bantuan satpam buat nolongin kamu. Aku tidak ada niat bermaksud ninggalin kamu sendirian di sana," elak Dion dengan suara gemetar mencari alasan bodoh yang sama sekali tidak masuk akal.

​"Cari bantuan apaan. Lu jelas lari lurus ke arah jalan raya belakang kampus meninggalkan area bahaya. Itu namanya lu murni mencari jalan selamat sendiri bangsat," potong gue cepat tanpa memberi ampun sedikit pun padanya. "Dan buat lu Siska lu tega buang gue yang selalu tulus demi cowok pengecut yang bahkan sama sekali tidak peduli sama nyawa lu sendiri. Lu merasa sangat bangga membaca novel tebal Karensi biar kelihatan cerdas dan elegan tapi aslinya kelakuan lu lebih rendah dari sampah jalanan."

​Siska langsung mulai menangis terisak isak menutupi wajah malunya dengan kedua telapak tangan. Dia benar benar merasa sangat malu dihina telak di depan teman teman sosialitanya. Harga diri tingginya hancur lebur seketika saat itu juga. Dion yang mentalnya tidak kuat menahan rasa malu luar biasa dan tekanan intimidasi aura mematikan gue langsung berdiri panik dan berlari menjauh meninggalkan kantin membiarkan Siska sendirian lagi lagi menangis untuk kedua kalinya.

​"Lu lihat sendiri kan pakai mata lu kelakuan asli cowok kaya pujaan lu itu Siska," ucap gue pelan tapi sangat tajam menusuk relung hati Siska. Gue berdiri tegak dari kursi dan merapikan sedikit kerah baju kaos gue. "Mulai sekarang jangan pernah lu berani menampakkan wajah lu lagi di depan mata gue. Kita berdua sudah berada di kelas dunia yang sangat berbeda jauh Siska."

​Gue membalikkan badan tegap gue dan berjalan santai pergi meninggalkan Siska yang masih terus menangis menyesali kebodohannya sendiri di meja makan. Langkah kaki gue terasa sangat ringan bebas dan sangat memuaskan batin gue. Dendam rasa sakit masa lalu sudah tuntas terbayar lunas tanpa sisa pagi ini.

​Layar hologram biru bercahaya mendadak muncul terang di depan pandangan mata gue memberikan notifikasi hadiah sistem yang paling manis.

​"Misi Balas Dendam Berhasil Diselesaikan dengan hasil sangat memuaskan sistem. Target Siska dan Dion kehilangan seluruh harga dirinya di depan umum secara permanen. Mencairkan hadiah baru Keahlian Manipulasi Pikiran Level Satu dan Saldo Uang Tunai Seratus Juta Rupiah. Poin Sistem Tuan Rumah sekarang bertambah menjadi Lima Ratus."

​Gue tersenyum sangat lebar menyambut kekuatan baru yang mengalir menyatu ke dalam tubuh gue. Keahlian Manipulasi Pikiran ini pasti akan sangat berguna besar untuk menaklukkan lebih banyak wanita cantik incaran gue masuk ke dalam kerajaan harem gue.

1
ayrhte
mokondoonya/Smile/
Karensi: Terimakasih sudah membaca kak🥰.pantau terus perjalanan kisah ini ya kak🥰🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!