NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANTARA TAKUT DAN BERANI

Dunia maya rusuh.

HP Eng Sok tidak berhenti bergetar sejak pagi. Notifikasi dari Instagram, TikTok, Facebook — belum lagi WhatsApp dari orang-orang yang tidak dikenal. Kabar tentang dia dan Ah Chio meledak. Dia hanya melihat 3. Judul doang.

Entah siapa yang pertama menyebarkan. Mungkin tetangga. Mungkin kru syuting. Mungkin seseorang dari klinik — meskipun Dokter Shih sudah berjanji menjaga kerahasiaan. Masih pagi, matahari belum sepenggalah. Ah Chio aja masih di Klinik. Makan dan minum es teh bareng orangtuanya, dia, dan Ah Me.

Tidak penting.

Yang penting: semua orang sudah tahu bahwa Ah Chio tidur di kontrakan Eng Sok. Meskipun tidak ada yang terjadi. Meskipun hasil visum bukti. Meskipun Ah Chio masih dalam perawatan psikiatri.

Publik tidak peduli fakta. Mereka hanya ingin cerita.

---

Eng Sok tidak panik.

Ia duduk makan. Ah Chio awalnya panik. Membalas komentar beberapa kali. Tapi perutnya lapar. Ia yakin kalau ia masih utuh. Masih perawan.

"Ah Chio," katanya. "Kita rekam video."

Ah Chio mengerjap. "Rekam? Buat apa?"

"Klarifikasi, lah. Masak kalah sama pejabat korup. Udah korup aja masih klarifikasi ngerasa ga salah!”, jawab Eng Sok asal-asalan.

Tauke Hok mencubit pipi Eng Sok,”Siau Heng… Lu tuh!”

---

Setelah makan, Eng Sok dan Ah Chio masuk ke klinik. Minta bantuan Dokter untuk klarifikasi hasil visum. Untuk semata membersihkan nama Ah Chio.

Eng Sok gak terlalu perduli sama nama baiknya. Artis itu unik. Nama buruk pun bisa terkenal .

Dokter Shih yang wajahnya biasanya beku jadi meringis. Dokter Shih setuju membantu. Eng Sok sendiri yang merekam — dengan HP, di ruang praktik, karena klinik itu sepi, baru buka beberapa minggu.

"Tidak ada kekerasan. Tidak ada luka. Pasien dalam kondisi sehat.", kata Dokter Shih.

Dokter Shih bicara tenang. Tidak berlebihan. Tidak defensif.

"Kandungan obat dalam darah pasien adalah obat psikiatri rutin — bukan narkoba, bukan alkohol, bukan zat terlarang.", katanya. 

Eng Sok minta soft file logo klinik. Awalnya sih untuk orang yang mau klarifikasi. 

Video itu di-upload ke Instagram dan TikTok.

Eng Sok tidak menulis caption panjang. Hanya: "Klarifikasi tentang Nona @HokChioLittle13. Terima kasih."

Komentar negatif membanjiri — tapi ia tidak membaca. Dia milih pulang, mengamankan bubur masuk kulkas buat makan siang. Terus Kalistenik. Harapannya otot-ototnya segera pulih. Ia ingat kalo latihan gini seminggu dua atau tiga kali harus ada jeda.

Agak bingung juga dia waktu latihan 10-15 menit tapi kayak dihajar Pasukan Kerajaan Utara 8 jam. Bedanya, besok paginya segar dan lentur.

---

Di Universitas Hiang Hok, Eng Sok santai.

Para dosen tidak bertanya soal skandal. Mereka hanya bertanya soal budaya Cia Agung. Ada juga dosen sok suci kasak-kusuk. Tapi, Pria berblazer naga dengan tanda pengenal bertuliskan “Rektor Tio” menegurnya,”Kayaknya di sini ada juga dosen seperti itu. Kalo artis, aktor, aktris, memang dari dulu sering beritanya. Mereka bukan pendidik. Tapi pendidik, begitu… “, katanya pada dosen yang kasak-kusuk. Dosen itu menelan ludah. Diam. Eng Sok gak peduli. Masalah pribadi urus sendiri. 

Tapi mahasiswa — di luar ruangan — melihatnya dengan tatapan aneh.

Ada yang bisik-bisik. Ada yang tersenyum miring. Ada yang mendekat dan minta foto.

Eng Sok tidak peduli. Ia menjawab pertanyaan dosen dengan tenang. Lalu pulang. Panitia sigap menyaring pertanyaan relevan.

---

Hari-hari berikutnya — Eng Sok diundang podcast. Klarifikasi bareng Ah Chio. Lumayan nambah pundi-pundi mereka.

Lalu mereka ngide jualan Sam Hok Liong semprot bareng di rumah Eng Sok lama. Barang-barang sudah dipindahkan dikit-dikit. Eng Sok kapok. Terpaksa agak istirahat dan gak terima job terlalu banyak. Pokoknya jam 6 sore pulang atau kelar. 

Dia pingin main Mikrodrama lagi tapi belum ada tawaran.

Podcast terus, banyak. Empat. Enam. Sepuluh dalam seminggu. Dua jam tapi bayaran gak kalah dari syuting seharian. Ah Chio pun diam-diam sewa apartemen. Dibantu Eng Sok. Karena endorse laku, podcast jalan terus. Ah Chio gak pingin beli rumah karena pertimbangan keamanan. Kalo di Apartemen kan ada yang jaga. Di apartemen itu juga ada klinik psikiatri, kalo mendadak dia capek mental lagi.

Topiknya tidak selalu tentang skandal. Ada yang ingin tahu soal perawatan rambut. Ada yang ingin tahu soal gaya hidup bangsawan jadul. Ada yang ingin tahu soal cara make up.

Di Universitas masih jalan. Tidak ada yang batal. Bahkan dia dipuji berani dan tahan tekanan publik. Dalam hati dia,”Pangeran dah gua! Perdana menteri vazal juga. Kalo sama mulut orang kalah, perang jadi bubur ga sih?” Semua minta dia pake Tng Sa saat datang. Ah Me menjahitkan dia Tng Sa. Banyak. Dia juga belajar bikin baju. Awalnya sederhana tau-tau suatu hari sampai bikinin baju Ah Chio Blazer dan korset.

Ada juga tawaran film dan Mikrodrama. Tapi kebanyakan podcast. Macem-macem. Dia juga iseng-iseng jual kosmetik natural yang suka endorse lama-lama berapa bulan ada toko fisik. 

Motor Sioh Bu awalnya mau dibeli ulang sama Eng Sok. Tapi Sioh Bu ga mau. “Beli baru aja, Siau Heng… Lu kira kuda apa, ada kesaktiannya?” Eng Sok ketawa-ketawa tapi nurut. Eng Sok bingung awal naik motor. Tapi lama-kelamaan lancar. Jadinya dia gak capek pas bantu Ah Me antar bordiran. Antar Ah Ti beli ini itu. 

Dibantu Eng Sok, Ah Chio bikin rekening lain. Dibantu Buka dompet digital. Cari notaris. Akhirnya dibantu beli motor juga. Akhirnya Ah Chio tinggal di apartemen sendiri waktu sudah kelar renovasi. 

Eng Sok datang. Menjawab. Tidak banyak bercerita. Tapi tidak menolak.

Honor podcast — cukup untuk makan. Syuting lagi sepi. Kenaikan rating justru dari podcast.

Eng Sok bersyukur.

---

Ah Chio dan Eng Sok makin dekat.

Mereka sering ketemu di lokasi syuting. Kadang di toko Sam Hok Liong — karena Eng Sok masih punya kontrak eksklusif. Kadang di rumah baru Ah Me — karena Ah Chio sudah tahu alamatnya.

Ah Me sudah lega. Tidak protes. Tidak melarang. Hanya kadang senyum-senyum sendiri.

Ah Ti memanggil Ah Chio "Cici" — tidak lagi "Nona".

Ah Chio senang.

---

Tapi Nyonya Hok — sejak peristiwa visum — berubah.

Dari yang awalnya marah, kini menjadi rajin bertanya.

Setiap ketemu Eng Sok — di toko, di acara keluarga, bahkan via WhatsApp — ia selalu berujar:

"Kapan anak dia dilamar?"

Eng Sok tersenyum. Tidak menjawab.

Nyonya Hok sudah cek latar belakang Eng Sok — dari tetangga, dari rekan kerja, dari media sosial. Ia percaya bahwa Eng Sok lelaki baik. Yang bisa telaten mengurus adik. Yang tidak mabuk-mabukan. Yang punya masa depan.

Tapi Eng Sok diam.

Bukan karena tidak suka.

Bukan karena tidak siap.

Tapi karena takut.

---

Sebulan.

Dua bulan.

Tiga bulan.

Akhirnya Eng Sok sudah pindah total ke rumah barunya. Rumah Ah Me yang baru. Punya sendiri. Dengan kebun sayur di Rooftop. Yang dia pandang dengan melongo. Karena aneh. Ditanam Ah Ti dan Ah Me. Tidak perlu dicabut rumput, ada weedmat. Ada mulsa, juga ayam. Iya ayam.

Ah Chio sudah bebas dari terapi psikiatri. Dokter menyatakan: stabil. Tidak perlu kontrol rutin. Ah Chio juga punya kebun balkon. Kecil lucu dengan tomat ceri yang Eng Sok awalnya merasa aneh tapi enak juga rasanya.

Nyonya Hok sudah menyiapkan mas kawin. Tauke Hok sudah menyiapkan amplop besar untuk resepsi. Mereka ikhlas kalopun harus Jip choe… Dapat yang kaya kalo Ah Chio ga bahagia terus masuk RS Psikiatri buat apa. Cukup sekali.

Tapi Eng Sok belum bilang apa-apa.

Ah Chio juga diam. Ia tidak pernah bertanya. Tidak pernah meminta. Tidak pernah mengungkit.

Mereka hanya bersama. Di lokasi syuting. Di acara podcast. Di rumah baru Ah Me. Kadang main Mikrodrama bareng. Di toko Sam Hok Liong. Di apartemen Ah Chio. Bersama. Tanpa hubungan aneh-aneh. Paling pol juga main catur kuno atau nonton drama terbaru.

Tidak ada status. Tidak ada janji. Tidak ada pernyataan resmi. Tapi hati mereka hangat. Ah Chio memasak buat Eng Sok. Eng Sok sering ngantar Ah Chio dan bantu Ah Chio untuk keterampilan misal ganti lampu atau pasang kabel.

---

"Semua terlalu cepat," kata Eng Sok pada dirinya sendiri.

Uang ada. Cukup. Tidak kaya. Tidak miskin.

Toko kosmetik campuran yang ia buat — berjalan. Tapi yang laku tetap kosmetik jadul dan natural. Produk modern — sedikit peminat. 

Kursus online agak menurun. 

Terus dia kerja sama dengan Ah Oan buka usaha salon natural. Rame. Terlalu rame sampai Ah Oan masuk RS diinfus. Terlalu serakah pelanggan.

Penghasilan tidak tetap. Kadang besar. Kadang kecil.

Eng Sok dan Ah Chio tidak punya agensi. Mereka artis bebas. Artinya — penghasilan tidak stabil.

"Menikah," pikir Eng Sok, "berarti harus bisa menjamin. Bukan hanya cinta."

Hari itu Ah Chio ulang tahun ke-28. Eng Sok memberikan kue ulang tahun. Tapi Ah Chio malah nanya,”Ko, kita dibawa ke mana? Kalo Koko gak serius, aku …”

Eng Sok diam. Dia merasa sakit di dada. Tapi dia belum siap. Malam itu dia tidak bisa tidur.

---

Tidak terasa, enam bulan berlalu. Enam bulan Eng Sok di dunia aneh ini dengan Ah Me, Ah Ti, dan Ah Chio.

Ah Ti naik ke kelas 6.

Akhirnya tawaran Mikrodrama datang lagi. Bahkan ada satu tawaran drama series yang cukup panjang. Karena cuan, ya ditandatangani.

Libur kenaikan kelas — Eng Sok ajak ke taman hiburan. Besok Eng Sok sibuk syuting Mikrodrama lagi. Dia sudah sehat dan tampan. Otot-ototnya bagus. Sudah punya Salon Natural kerja sama dengan Ah Oan dan toko kosmetik.

Kakak Adik itu naik Roda Putar. Lambat. Tidak terlalu tinggi. Tapi cukup untuk melihat seluruh kota — gedung-gedung pencakar langit, jalan raya berliku, dan lautan di kejauhan.

Ah Ti menatap ke bawah. Kaki mereka berayun-ayun dalam kapsul yang berputar.

"Ko," katanya. "Usaha Ah Me udah jalan. Usaha Koko juga."

Eng Sok tidak menjawab.

"Nasib Cici Ah Chio jangan digantung, Ko. Nanti menyesal.", lanjut Ah Ti.

Eng Sok melotot ke Ah Ti. Ah Ti — anak yang akan naik ke kelas 6 ini — wajahnya serius. Matanya tidak bergurau.

Eng Sok tidak bisa berkata apa-apa.

“Hidup membuat adikku jadi lebih tua.”, pikirnya.

Dadanya berdegup, lututnya agak gemetar. Ia ingat dua bulanan lalu Ah Chio nanya status hubungan. Dia cuma menelan ludah. Jakunnya naik turun.

Ia hanya ketawa. Kecil. Tidak jelas. Tangannya sedikit gemetar.

---

Roda Putar berhenti.

Eng Sok turun. Ah Ti mengikuti.

Di seberang wahana — di bawah pohon rindang — Ah Chio sedang berdiri. Tersenyum.

Di sampingnya, seorang pria.

Tinggi. Kulit putih bersih, hidung mancung, bola mata kebiruan — seperti blasteran antara Warga Cia Agung dan Warga Negara Bintang. Rambut hitam sebahu, berombak. Pakaian rapi — Kaos press body, dengan celana jeans ¾ dan tas selempang.

Pria itu sedang tertawa — mendengar sesuatu yang Ah Chio katakan. Ah Chio memakai kaos dan jeans full sampai mata kaki terlihat gembira dan tertawa.

Eng Sok berhenti melangkah.

Dadanya membara.

Ia tidak tahu kenapa. Tidak tahu sejak kapan. Tidak tahu apa yang sedang ia rasakan.

Ah Ti menarik lengan Eng Sok. "Ko, Cici Ah Chio."

Eng Sok tidak bergerak.

Ah Chio melihat mereka. Melambaikan tangan.

"Koko! Ah Ti! Ke sini!"

Pria itu ikut menatap. Tersenyum ramah — gigi putih, rapi.

Eng Sok menghela napas. Matanya panas.

Pria itu ramah, menyalami Eng Sok.

“Lim Hong Guan, boyfriendnya Ah Chio”, katanya.

“Ini pacarku, Ko Sioh Bu”, kata Ah Chio. Gak ada ekspresi bersalah dari mukanya.

“Kita… kita…”, kata Eng Sok terkejut.

“Dua bulan lalu Koko udah gua nanya. Waktu itu aku udah dekat sama Ah Guan. Tapi Koko ga jawab. Jadi pas Ah Guan nembak ya gua terima”, jawab Ah Chio

Ah Ti berbisik,”Telat sih, Fosil!”

Sioh Bu berbisik,”Sebelum baju merah dan sampai (sumpah perkawinan) gas aja!”

Mata Eng Sok merah. Tangannya mengepal.

---

BERSAMBUNG

---

Dunia maya rusuh. Eng Sok tenang.

Nyonya Hok sudah restu. Eng Sok diam.

Ah Ti — anak kelas 6 — bicara soal "menyesal".

Dan di taman hiburan, di samping Ah Chio — ada pria lain.

Dadanya membara.

Ia tidak tahu apa itu.

Tapi ia takut.

Bisakah Eng Sok merebut kembali Ah Chio?

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!