Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: SURAT PERINGATAN PERTAMA
Bab 4: Surat Peringatan Pertama
Suara riuh rendah khas koridor SMA Pelita Bangsa di pagi hari biasanya menjadi hal yang paling dihindari oleh Revan. Namun pagi ini, kebisingan itu terasa jauh lebih baik daripada keheningan mencekam yang menyelimuti rumahnya semalam. Revan berjalan dengan kedua tangan yang tenggelam di saku celana abu-abunya, melangkah cuek melewati kerumunan siswa yang sesekali berbisik sambil melirik lebam kebiruan di sudut bibir dan pipinya.
Revan sudah terbiasa menjadi pusat perhatian atas alasan yang salah. Baginya, tatapan menghakimi dari orang-orang bukanlah hal baru.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam kelas XI MIPA 3, suasananya mendadak agak sunyi. Miko yang sedang asyik menyalin tugas di bangku belakang langsung mendongak, melambaikan tangan dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan.
"Van! Gila, muka lo makin kelihatan bonyoknya kalau kena lampu terang begini," bisik Miko begitu Revan mengempaskan tubuhnya di kursi sebelah. "Gimana semalam? Nyokap lo ngamuk parah gak gara-gara surat dari BK?"
Revan menaruh tas ranselnya di meja dengan kasar, lalu bersandar lesu. "Biasa aja. Lagian omelannya gak selesai."
Miko mengernyitkan dahi, bingung. "Kok gak selesai? Tumben. Biasanya nyokap lo kalau udah urusan nilai atau kelakuan lo, bisa ceramah sampai subuh."
Sebuah senyum sinis kembali terukir di wajah Revan. "Pahlawan kesayangan rumah tiba-tiba tumbang pas gue lagi disidang. Jadi perhatian langsung bubar jalan."
Miko langsung paham siapa yang dimaksud. Di kalangan teman-teman dekat Revan, sosok Arkael memang dikenal sebagai si genius yang super sensitif secara fisik. "Kak Arka pingsan lagi? Wah, pasti gara-gara begadang belajar buat Olimpiade Fisika tingkat provinsi hari ini, kan? Di mading sekolah aja namanya udah dipajang paling atas dari kemarin."
Mendengar kata 'olimpiade', dada Revan kembali terasa sesak oleh rasa tidak adil. Oh, jadi hari ini hari besarnya, batin Revan ketus. Pintu kelas tiba-tiba terbuka, dan sosok wali kelas mereka, Bu Ratna, masuk dengan membawa beberapa lembar kertas bermaterai. Pandangan mata guru paruh baya itu langsung tertuju lurus ke arah Revan.
"Revanza Dirgantara, setelah jam pelajaran pertama selesai, kamu segera ke ruang BK. Kepala sekolah dan Guru BK sudah menunggu kamu," ucap Bu Ratna dengan nada suara yang dingin dan tegas.
Revan hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi, mengabaikan tatapan kasihan sekaligus ngeri dari teman-teman sekelasnya.
Satu jam kemudian, Revan sudah duduk di kursi kayu ruang BK yang dingin. Di hadapannya, selembar kertas putih bertuliskan SURAT PERINGATAN PERTAMA (SP 1) tergeletak dengan angkuh. Kepala Sekolah, Pak Wijaya, menatap Revan dengan pandangan tajam dari balik kacamata kotaknya.
"Revan, ini sudah pelanggaran ketiga kamu dalam semester ini. Berkelahian di luar sekolah menggunakan seragam adalah pelanggaran berat. Hari ini, seharusnya orang tua kamu datang untuk menandatangani surat ini. Tapi, Ibu kamu tadi menelepon pihak sekolah sambil menangis, mengatakan tidak bisa datang karena harus menjaga kakakmu di rumah sakit," ujar Pak Wijaya, menghela napas panjang.
Guru BK yang duduk di sebelah Pak Wijaya ikut menimpali, "Kakak kamu, Arkael, adalah aset berharga sekolah ini. Hari ini dia terpaksa mendiskualifikasi diri dari olimpiade provinsi karena kondisinya drop akibat terlalu keras belajar. Pihak sekolah sangat memaklumi kondisi keluarga kamu yang sedang fokus mengurus Arkael. Tapi bukan berarti kamu bisa berulah seenaknya di luar, Revan!"
Kalimat dari Guru BK itu bagaikan bensin yang menyiram api di dalam dada Revan.
Fokus mengurus Arkael? Memaklumi? Revan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga persendian jarinya memutih. Semua orang di dunia ini seolah-olah bersekongkol untuk memaklumi Arka, mengasihani Arka, dan menaruh semua beban kesalahan pada pundaknya sendiri. Di mata orang-orang, Arka pingsan adalah sebuah tragedi dari seorang pejuang ilmu, sedangkan Revan yang babak belur adalah sampah masyarakat yang tidak tahu diuntung.
"Saya paham, Pak. Ibu saya memang gak akan pernah punya waktu buat saya kalau Kak Arka lagi butuh perhatian," sahut Revan, suaranya terdengar sangat tenang, namun sarat akan racun rasa benci yang mendalam.
"Revan! Jaga ucapan kamu tentang keluarga sendiri!" tegur Pak Wijaya, merasa ucapan siswanya terlalu sinis. "Kakak kamu berjuang sampai sakit-sakitan demi membawa nama baik keluarga dan sekolah. Harusnya kamu mencontoh dia, bukan malah merasa iri!"
Revan tidak menjawab lagi. Ia langsung meraih pulpen di atas meja, menandatangani surat SP 1 itu dengan coretan yang kasar dan tajam, lalu bangkit berdiri tanpa permisi. "Saya permisi kembali ke kelas, Pak."
Ia melangkah keluar dari ruang BK dengan dada yang bergemuruh hebat akibat amarah yang tertahan. Langkah kakinya membawanya melewati mading besar di dekat aula. Di sana, sebuah spanduk besar bertuliskan "Selamat Berjuang Arkael Dirgantara di Olimpiade Sains" terpampang dengan megah.
Revan berhenti di depan mading itu, menatap foto wajah Arka yang tersenyum rapi dengan jas almamater sekolah.
"Hebat banget lo, Bang," bisik Revan, menatap foto itu dengan pandangan benci yang memuncak. "Bahkan saat lo lemas di atas kasur rumah sakit, lo tetap berhasil bikin gue kelihatan kayak bajingan di depan semua orang. Akting lo emang gak pernah gagal."
Revan membuang muka, melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan perasaan yang semakin mati rasa. Di kepala Revan, dan di kepala seluruh guru serta teman-temannya di sekolah, Arkael hanyalah si anak emas yang sedang tumbang sesaat karena ambisi belajarnya yang terlalu tinggi.
.
.
.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...