NovelToon NovelToon
Jiwa Ditubuh Maya

Jiwa Ditubuh Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Teen Angst
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.

Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"

Apa yang terjadi pada Maya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 - Rencana

Norma tidak bisa tidur malam itu. Setelah Jamie masuk ke kamarnya, wanita itu masih duduk sendirian di ruang kerja. Lampu meja menyala redup, menciptakan lingkaran cahaya kecil di tengah ruangan yang gelap. Bayangan rak buku memanjang hingga ke sudut-sudut ruangan, membuat suasana terasa semakin sunyi.

Jam dinding terus berdetak. Namun setiap detik yang berlalu justru membuat pikiran Norma semakin kacau. Pikirannya terus berputar.

Semua masalah seolah berpusat pada satu orang. Satu orang yang selama ini mereka abaikan. Satu orang yang dulu dianggap tidak penting. Sekarang justru menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan nyaman yang selama ini mereka nikmati.

Norma menggenggam kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku nggak bisa kehilangan semuanya...” gumamnya.

Suara itu nyaris tidak terdengar. Tapi kata-kata itu terasa begitu berat. Selama bertahun-tahun dia hidup nyaman di rumah besar itu. Semua kebutuhan terpenuhi. Tidak pernah perlu memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup dari bulan ke bulan.

Sekarang semuanya terasa terancam. Ancaman itu bernama Maya.

Malam terus berjalan. Namun Norma tetap duduk di sana sampai larut, ditemani kecemasan yang tidak kunjung hilang.

Keesokan harinya. Saat Jamie turun untuk sarapan, ia langsung melihat ibunya sudah menunggu di meja makan.

Norma tampak lebih pucat dari biasanya. Lingkaran hitam terlihat samar di bawah matanya. Jelas wanita itu tidak tidur nyenyak.

“Jamie.”

Pria muda itu baru saja menarik kursi ketika mendengar panggilan tersebut.

“Hm?”

“Ada yang mau Mama bicarakan.”

Nada suara Norma terdengar serius. Jamie langsung mengerti bahwa ini bukan pembicaraan biasa. Tanpa banyak bicara, dia mengikuti ibunya menuju ruang kerja.

Pintu ditutup rapat setelah mereka masuk. Ruangan itu kembali dipenuhi suasana tegang. Jamie berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.

“Apa lagi?”

Norma menatap putranya beberapa detik sebelum akhirnya berbicara. “Kalau Maya benar-benar mengambil warisannya, habis kita.”

Jamie mendecakkan lidah. “Aku tahu.”

Jawaban itu keluar cepat. Karena kenyataannya memang seperti itu. Mereka semua tahu. Tidak ada seorang pun di rumah itu yang benar-benar tenang sejak mengetahui fakta tentang warisan tersebut.

“Makanya kita harus cari cara,” lanjut Norma.

Tatapan Jamie berubah lebih serius. “Cara apa?”

Pertanyaan itu membuat Norma terdiam. Ia menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan.

“Aku nggak tahu.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki rencana jelas. Mereka hanya tahu bahwa situasinya buruk.

Jamie berjalan ke dekat jendela lalu melihat ke luar. Norma sendiri tampak gelisah di kursinya. Jari-jarinya terus bergerak tanpa sadar. Lalu akhirnya wanita itu berbicara lagi. Kali ini lebih pelan.

“Mungkin... kita bisa membuat dia sakit.”

Jamie langsung mengernyit. “Sakit?”

Norma mengangguk pelan. “Kalau dia nggak mampu mengurus semuanya, setidaknya kita punya waktu.”

Jamie memandang ibunya cukup lama. Ada sesuatu dalam ucapan itu yang membuatnya tidak nyaman.

Norma sendiri tampak tidak yakin dengan kata-katanya. Seolah dia baru menyadari betapa buruknya ide tersebut setelah mengucapkannya.

“Papa pernah bilang ada orang yang bisa dibuat sakit perlahan tanpa langsung ketahuan,” lanjutnya.

Jamie langsung menggeleng. “Aku nggak ngerti soal begituan.”

“Aku juga nggak.”

“Dan jangan tanya aku soal racun atau hal aneh begitu. Aku bukan penjahat film.”

Norma mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia memang panik. Namun kepanikan itu tidak memberinya jawaban.

“Lalu gimana?” tanyanya.

Jamie kembali berjalan mondar-mandir. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai kayu. “Aku bakal cari tahu sesuatu.”

“Cari tahu apa?”

“Mencari informasi mengenai obat yang bisa membuatnya mati perlahan."

Norma mengangguk pelan. Jawaban itu tidak benar-benar memberikan solusi. Namun setidaknya terdengar seperti sebuah rencana. Meski sebenarnya mereka hanya sedang bereaksi karena takut.

Mereka berdua tidak sadar bahwa setiap kata yang keluar dari mulut mereka kembali direkam oleh alat kecil yang tersembunyi di balik rak buku.

Alat itu bekerja tanpa suara. Tanpa cahaya. Tanpa menarik perhatian siapa pun. Tapi menangkap semuanya.

...***...

Sore harinya, di Rusun Melati. Maya duduk santai di atas kasur milik Bobby. Kamar itu sederhana. Jauh berbeda dengan rumah besar yang kini secara hukum memiliki hubungan dengannya. Namun entah kenapa, suasananya terasa lebih nyaman.

Di tangannya terdapat alat penerima sinyal yang baru saja memutar rekaman terbaru. Suara Norma dan Jamie terdengar jelas dari perangkat kecil tersebut.

Maya mendengarkan tanpa menyela. Tanpa mengubah ekspresi. Semakin lama rekaman berjalan, semakin dingin tatapannya. Namun tidak ada amarah besar. Tidak ada ledakan emosi. Justru sebaliknya. Maya terlihat sangat tenang. Seakan pikirannya sedang bekerja jauh lebih cepat daripada emosinya.

Saat rekaman selesai, ia mematikan alat itu. Lalu meletakkannya di samping.

“Bodoh sekali...” gumamnya. Kalau mereka benar-benar berniat menjatuhkannya, justru mereka sedang memberikan lebih banyak bukti.

Maya menyandarkan tubuh ke dinding. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar. Kini ia memiliki dua hal penting. Pertama, bukti bahwa keluarga itu bersikap baik karena takut kehilangan warisan. Kedua, bukti bahwa mereka sedang membicarakan cara untuk menyingkirkannya.

Memang belum cukup. Belum cukup untuk dibawa ke polisi. Akan tetapi cukup untuk menjadi awal? Cukup untuk menunjukkan arah.

Seringai muncul di bibir Maya. “Aku mulai lihat jalurnya.”

Ia tidak terburu-buru. Karena orang yang panik biasanya akan membuat kesalahan.

Saat itulah terdengar suara pintu dibuka dari luar. Maya menoleh.

Pintu terbuka. Bobby masuk sambil membawa kantong plastik berisi gorengan yang masih hangat. Aroma minyak dan tepung langsung memenuhi ruangan. Namun langkah Bobby langsung berhenti begitu melihat pemandangan di depannya.

Maya yang sedang duduk santai hanya melambaikan tangan.

“Halo.”

Bobby berkedip. Lalu menunjuk ke arah Maya.

“Kenapa lu ada di sini?”

Maya mengangkat alis. “Suka suka gue lah!"

“BUKAN ITU POINNYA!”

Bobby meletakkan kantong gorengan ke atas meja dengan ekspresi tidak percaya.

“Bukannya lu udah balik ke rumah mewah itu?!”

“Iya.”

“TERUS?!”

Maya mengambil satu gorengan dari kantong tersebut tanpa meminta izin.

“Gue mampir aja kok.”

“MAMPIR DARI KEMARIN?!”

Maya menggigit gorengan itu dengan santai. “Lebih nyaman di sini.”

Bobby langsung memegangi kepala. “Ya ampun...”

Wajahnya menunjukkan campuran kelelahan dan pasrah.

Sementara Maya tetap terlihat santai. “Lagian kasur lu empuk.”

“ITU KASUR PALING MURAH DI PASAR!”

“Masih lebih enak dari rumah sana.”

Jawaban itu membuat Bobby sedikit terdiam. Ia lalu menatap Maya dengan lebih serius.

“Jujur.”

“Hm?”

“Sebenernya ada masalah apa?”

Maya tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa detik. Lalu menunjuk alat penerima sinyal di sampingnya.

“Ada hiburan.”

“Hah?”

“Drama keluarga.”

Bobby makin bingung. Kerutan muncul di dahinya. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Maya sudah mengambil gorengan kedua.

“Eh itu punya gue!”

“Sekarang punya kita.”

“SIAPA YANG NGAJAR LOGIKA ITU?!”

Maya terkekeh pelan. Suara tawanya memenuhi ruangan kecil tersebut.

Bobby menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang

“Gue nyesel nolongin lu dulu.”

“Bohong!" sahut Maya.

“Iya sih.”

“Makasih.”

Bobby langsung menoleh.

“Hah?”

Ekspresinya benar-benar terkejut. Karena Maya biasanya tidak pernah mengucapkan kata itu. Setidaknya tidak dengan mudah. Namun kali ini Maya hanya mengangkat bahu. Seolah ucapan tersebut bukan hal besar.

“Udah, jangan besar kepala.”

Bobby langsung menunjuknya. “Nah itu Maya yang gue kenal!”

Maya memutar mata. Sedangkan Bobby akhirnya duduk di lantai. Ia mengambil gorengan miliknya sendiri sebelum semuanya benar-benar habis.

Suasana kamar menjadi jauh lebih ringan. Kontras dengan ketegangan yang sebelumnya memenuhi rumah besar keluarga itu.

Ketika Bobby sibuk makan, Maya kembali tenggelam dalam pikirannya. Di balik sikap santainya, otaknya terus bekerja. Menyusun langkah demi langkah.

"Bob! Gue punya rencana. Dan gue butuh bantuan lo!" ujar Maya.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq benci dan trauma dengan nama norma. blh dng aq maki2 si norma ini.
Ass Yfa
woo yg dikasih obat pak Darto kiraib kasih ke Jamie
Rommy Wasini Khumaidi
pasti obatnya dikasih pak Darto,kirain mau dikasih ke Jamie tuh obat
Ass Yfa
Weh ..Rangga muncul gaesss....Polisi ganteng
W I 2 K
cicak masuk perangkap.. 🤣🤣🤣, g usah kasih ampun pedofil Darto
Auraliv
lanjutttt
Rommy Wasini Khumaidi
bukanya barang² Maya sudah dibakar habis thor,waktu Maya mau laporin Jamie ke polisi?
Desau: itu barang yg tersisa kak
total 1 replies
istianah istianah
selesaikan dulu masalah maya kak, author,. baru masalah friska di atur sebaik mungkin, 😍😍 semngattt kak
Rommy Wasini Khumaidi
waduh siapa lagi ini,main kroyokan
mery harwati
Priska bikin ramuan obat bwt siapa itu? Jomie kah? Angel kah? Atw Darto? 🤔
Atw ramuan bwt orang lain?
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq salfoo. disini pria muda, dibawah pria tua
Desau: maaf kak, harusnya pria muda. awalnya aku terlanjur nulis pria tua, tapi ngeditnya tergesa gesa jd gk ke edit semua. karna tiba2 dapat ide terkait tokoh sambudi ini 😅
total 1 replies
mery harwati
Rangga aq kasih kopi ya sebelum kau bantu selidiki kasus Maya 💪
mery harwati
Rangga The Hot Police Man muncul euy 🤣💪 Dita mana Rangga? Udah punya anak belum kau sama Dita?
Tiara Bella
wah Rangga polisi yg itu bukan ya...🤭
mery harwati
Lemah Priska !! Sudah disiram air pel, sudah ditampar, sudah dikunci di toilet sekolah & Priska sudah tau bahwa Maya asli tersiksa & diperkosa, tapi lembek aja penyelesaian akhirnya 😃
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Nadira ST
kebanyakan bacot,langsung hajar lah bikin darting saja
Tiara Bella
pd jahat bngt ya geng violet ini....
Rommy Wasini Khumaidi
ayok Maya segera beraksi...semangat May💪💪
Tiara Bella
oh no....ada guru yg begono ...
mery harwati
Sekolah favorit atw sekolah anak² pengusaha atw sekolah internasional atw sekolah biasa² yang untuk kalangan pada umumnya ya ini sekolah Maya?
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!