🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4. Pelan-pelan menjadi rumah
Pagi itu langit Garut tampak mendung tipis. Kabut masih menggantung di pucuk-pucuk pepohonan ketika halaman rumah keluarga Rahman mulai ramai oleh suara orang berpamitan. Seminggu sudah sejak kepergian Bu Rahman, tetapi suasana duka masih begitu teras di rumah sederhana peninggalan almarhum pasangan guru itu.
Karpet ruang tamu masih digelar. Di sudut rumah, beberapa dua air mineral dan kardus makanan kiriman tetangga belum sepenuhnya dibereskan. Aroma kayu dan minyak kayu putih masih samar tercium dari kamar Bu Rahman yang kini kosong.
Rumah itu terasa berbeda.
Terlalu sunyi.
Di teras depan, Mas Iqbal tampak sedang memasukkan tas ke bagasi mobil. Lelaki asal Pekalongan itu mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan peci hitam sederhana. Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding saat pertama datang beberapa hari lalu.
Sementara teh Indah sibuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Sesekali perempuan berjilbab cokelat muda itu memanggil putrinya yang sejak tadi mondar-mandir di halaman.
"Aisyah, sandal kamu mana?" serunya.
"Adaaaa...." jawab suara kecil dari arah pohon mangga.
Sekar yang berdiri di ambang pintu rumah memperhatikan semuanya dalam diam. Jemarinya meremas ujung cardigan rajut yang ia kenakan pagi itu. Sejak menjadi penghuni rumah ini, ia masih merasa seperti tamu.
Bahkan sampai hari ini.
Kadang ia masih sulit percaya bahwa dirinya kini adalah istri Galang.
Pernikahan itu terjadi terlalu cepat. Terlalu mendadak. Bahkan setelah seminggu berlalu, Sekar dan Galang masih sering canggung satu sama lain.
Mereka tidur di kamar yang sama, tetapi dipisahkan oleh jarak sunyi yang tak terlihat.
Dan lagi ini, setelah Mas Iqbal serta Teh Indah pulang ke Pekalongan, rumah itu akan terasa jauh lebih asing bagi Sekar.
"Neng..."
Lamunannya buyar ketika Teh Indah mendekat sambil tersenyum lembut.
"Iya,Teh?"
"Udah sarapan belum?"
Sekar mengangguk kecil. "Udah."
Teh Indah memandang wajah gadis itu beberapa detik. Tatapan perempuan itu hangat sekali, seperti seorang kakak kandung yang sedang mengkhawatirkan adiknya.
"Capek, ya?" tanyanya lirih.
Sekar tersenyum tipis. "Enggak kok, Teh."
Padahal jelas sekali wajahnya pucat dan matanya masih sembab karena kurang tidur beberapa malam terakhir.
Sejak Bu Rahman meninggal, rumah itu nyaris tak pernah benar-benar ramai lagi. Para pelayat sudah mulai jarang datang. Kesibukan setelah tahlilan perlahan selesai.
Dan ketika semua orang kembali hidup masing-masing, kesedihan justru terasa semakin nyata.
Terutama bagi Galang.
Lelaki itu kini lebih banyak diam.
Pagi ini pun ia hanya berdiri di dekat mobil sambil membantu Mas Iqbal tanpa banyak bicara. Mengenakan kaus putih polos dan sarung corak bermerek wadimor, wajahnya terlihat lebih kurus dibanding beberapa hari lalu.
"Om?!"
Suara Aisyah memecah suasana.
Anak perempuan sembilan tahun itu berlari kecil lalu langsung memeluk kaki Galang erat.
Galang akhirnya tersenyum kecil untuk pertama kali pagi itu.
"Mau pulang, ya?" tanyanya pelan sambil mengusap kepala keponakannya.
Aisyah mengangguk cepat. "Tapi nanti kalau libur sekolah Aisyah ke Garut lagi!"
"Iya, boleh."
"Aisyah mau main di kebun belakang lagi."
Galang terkekeh pelan. "Emang siapa yang mau manjat pohon jambu terus jatuh?"
"Itu mah dulu..." protes Aisyah sambil manyun.
Sekar yang melihat interaksi mereka dari teras tanpa sadar ikut tersenyum kecil. Baru kali ini ia melihat sisi Galang yang lebih hangat.
Ternyata lelaki itu bisa selembut itu pada anak kecil.
Aisyah kembali memeluk om-nya erat.
"Om jangan sedih terus ya..." bisiknya polos.
Kalimat sederhana itu membuat senyum Galang memudar perlahan.
Tangannya berhenti mengusap kepala sang keponakan.
Namun beberapa detik kemudian ia kembali mengangguk pelan.
"Iya."
Aisyah lalu berpamitan kepada Teh Mila yang sedang menggendong putranya yang baru berusia tiga tahun. Bocah kecil itu tampak sibuk memainkan mobil-mobilan sambil sesekali mengoceh tidak jelas.
"Dadah, Aa Faiz..." seru Aisyah.
Bocah kecil itu malah tertawa sambil menyembunyikan wajah di bahu ibunya.
Teh Mila terkekeh pelan. Di antara semua saudara Galang, perempuan itu memang yang paling ceria. Meski matanya masih sembab karena kehilangan sang ibu, ia tetap berusaha membuat suasana rumah tidak terlalu muram.
"Nanti kalau libur sini lagi ya," katanya pada Aisyah.
"Iyaaa!"
Setelah semua koper selesai dimasukkan ke mobil, suasana pamitan benar-benar dimulai.
Mas Iqbal menyalami Galang erat. Tidak banyak kata keluar dari mulut kakak beradik itu. Namun pelukan mereka cukup menjelaskan semuanya.
"Jaga runah baik-baik," ujar Mas Iqbal pelan.
Galang mengangguk.
"Kalau ada apa-apa telpon."
"Iya, Mas."
Lelaki itu menepuk pundak adik iparnya kuat-kuat sebelum masuk ke mobil.
Sementara itu Teh Indah berjalan menghampiri Sekar yang sejak tadi berdiri tenang di dekat pintu.
Perempuan itu langsung memeluk Sekar erat tanpa aba-aba. Sekar sedikit terkejut, namun perlahan membalas pelukan hangat itu.
"Titip Galang ya..." bisik Teh Indah lirih di telinganya.
Suara perempuan itu terdengar bergetar.
"Dia kelihatannya kuat...tapi sebenarnya paling enggak bisa kehilangan."
Sekar terdiam.
Tatapannya tanpa sadar beralih ke arah Galang yang sedang membantu menutup bagasi mobil.
"Kalau ada apa-apa..." lanjut Teh Indah pelan, "jangan sungkan telpon teteh atau Teh Mila."
Sekar mengangguk kecil.
"Iya, Teh."
Teh Indah melepas pelukannya lalu mengusap pelan pipi Sekar seperti seorang kakak kandung.
"Kamu juga jangan dipendem sendiri semuanya."
Kalimat itu entah kenapa membuat dada Sekar terasa hangat.
Sejak kecil ia memang terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Bahkan sampai sekarang. Namun di rumah asing ini, perlahan ada orang-orang yang mulai membuatnya merasa diterima.
"Ayo, Mah!" seru Aisyah dari dalam mobil.
Teh Indah tertawa kecil. "Iya cerewet."
Satu per satu mereka akhirnya masuk ke mobil.
Mesin mobil menyala.
Aisyah membuka kaca lalu melambaikan tangan heboh.
"Dadah Om Galang! Dadah Tante Sekar! Dadah Tante Mila! Dada Aa Faiz!"
Sekar refleks melambaikan tangan kecil sambil tersenyum.
Mobil itu perlahan keluar dari halaman rumah. Dan ketika suara mesinnya mulai menghilang di ujung jalan kampung suasana mendadak sunyi.
Angin pagi berembus pelan menggoyangkan daun mangga di halaman. Tak ada lagi suara Aisyah yang cerewet. Tak ada lagi obrolan Mas Iqbal dan Teh Indah di ruang tengah.
Rumah itu tiba-tiba terasa jauh lebih besar.
Dan lebih kosong.
Sekar berdiri kikuk di teras sambil menunduk.
Kini yang tersisa hanya dirinya, Galang, Teh Mila, dan putra kecil perempuan itu.
Namun Teh Mila pun tak mungkin lama tinggal di sana. Ia sudah memiliki rumah sendiri bersama suaminya, A Ridwan, di desa sebelah.
Artinya sebentar lagi rumah itu benar-benar hanya akan dihuni dirinya dan Galang. Pikiran itu membuat jantung Sekar kembali gugup.
Di sisi lain halaman, Galang masih berdiri memandangi jalan tempat mobil kakaknya menghilang tadi.
Tatapannya kosong. Untuk sesaat lelaki itu tampak begitu sendirian.
Teh Mila yang sejak tadi menggendong anaknya akhirnya mendesah pelan.
"Udah ah..." katanya sambil menatap adiknya. "Jangan bengong terus."
Galang tersadar lalu memalingkan wajah.
"Teteh juga pulang nanti sore."
Sekar langsung menoleh.
Teh Mila tersenyum kecil padanya. "A Ridwan mau jemput teteh habis asar."
Dan sekali lagi, dada Sekar terasa makin tidak tenang.
Karena setelah hari ini ia dan Galang benar-benar harus mulai menjalani rumah tangga mereka sendiri.
°°°°°°°
Hai, dukung Yehppee terus dengan komen, like, vote subscribe, dan bintang limanya ya🫶🫶
Bantu Yehppee menaikan performa novel ini☺️
Bersambung...