NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Pagi itu, Syifa melangkah di koridor kampus dengan sisa-sisa air mata yang masih menyamarkan binar matanya. Semalam adalah malam terpanjang dalam hidupnya. Ia duduk di barisan tengah ruang kuliah, menenggelamkan wajah di antara lipatan tangan, mencoba mengusir bayangan pria dingin yang dengan semena-mena menentukan tanggal pernikahan mereka.

​"Assalamu’alaikum, Syifa. Tumben sudah datang?" sapa Adiba yang baru saja sampai.

​"Wa’alaikumussalam..." jawab Syifa lirih, suaranya parau.

​Adiba tertegun melihat kondisi sahabatnya. Ia menangkup kedua pipi Syifa, memaksa gadis itu mendongak. "Ya Allah, Syif! Matamu sembab sekali. Ada masalah?"

​Syifa hanya menggeleng lemah. Namun, mata tajam Adiba justru menangkap sesuatu yang berkilau di jari manis Syifa. Sebuah cincin emas putih dengan desain minimalis namun elegant.

​"Tunggu... sejak kapan kamu pakai cincin di jari manis?"

​Syifa tersentak, refleks menyembunyikan tangannya di bawah meja. "Ini..hadiah dari Ummi. Iya, dibelikan Ummi."

​Adiba menyipitkan mata. "Kamu bisa membohongi semua orang, tapi tidak denganku, Syif."

​Syifa menghela napas panjang, pertahanannya runtuh. Dengan suara nyaris berbisik, ia menceritakan khitbah yang terjadi semalam dan bagian yang paling menyesakkan: pernikahan dua minggu lagi. Adiba nyaris memekik jika saja Syifa tidak segera membungkam mulutnya.

​"Dua minggu?! Serius!" bisik Adiba tak percaya.

​"Sstt! Jangan beritahu Jihan atau siapa pun. Aku tidak ingin jadi bahan gosip," pinta Syifa memelas.

Tanpa berselang lama teman-teman yang lain sudah mulai berdatangan masuk ke ruang kuliah, sahabat terheboh mereka pun baru saja datang, siapa lagi kalau bukan Jihan.

"Assalamu'alaikum ukhti, pagi-pagi udah asyik ngeghibah aja nih.." meletakkan tasnya di kursi sebelah Adiba.

"Wa'alaikumussalam..isshh emangnya kamu" celetuk Adiba meledek.

"Aku kan cuma sharing info aja gais hehe...tumben nih ada yang berangkat pagi? Ada apakah gerangan?" menatap Syifa heran.

"Mau numpang tidur, kenapa emang?" jawab Syifa enggan.

"Perlu aku siapin kasur engga nih? Biar tidurnya makin nyenyak?"

"Suka hati kamu lah Jihan" ujar Syifa yang sedang tidak ada mood bercanda.

"Hari ini mata kuliah statistik ngga jadi kosong deh, kata pak Udin ada dosen baru yang gantiin" celetuk Rohmah, yang duduk di barisan paling depan.

"Oh berarti ngga jadi jam kosong ya mata kuliahnya? Yahh, ngga bisa santuy di kantin nih" kata Jihan yang memang sudah memimpikan ada jam kosong di mata kuliah hari ini.

"Memangnya ada dosen baru ya? Palingan dosen senior yang diminta gantikan dosen matkul" Adiba terlihat tidak tertarik dengan pembahasan itu.

"Ada..Adiba cantik, katanya masih muda tahu, ganteng, masih single lagi ya kan Nay?" kata Bella yang duduk bersebelahan dengan Rohmah.

"Iya betul, di grup kampus aja lagi ramai di bahas dari semalem" jawab mahasiswi bernama Naya yang duduk di belakang Syifa.

"Tapi sepertinya bukan sembarang dosen deh, maksudnya ruangannya tuh di bedakan sama dosen lain" imbuh Ayu, teman ghibahnya Jihan.

"Ah masa sih? Emang situ udah lihat ruangannya?" tanya Jihan penasaran.

"Udah dong, dikasih tahu sama kakak tingkat"

...----------------...

Kegaduhan di kelas mereda saat pintu terbuka. Komting kelas masuk bersama seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam sempurna. Langkahnya tegap, aromanya yang maskulin seolah memenuhi ruangan, dan style rambutnya yang rapi memberikan kesan profesional yang tak terbantahkan.

​"Assalamu’alaikum," sapanya dengan suara bariton yang berat.

​"Wa’alaikumussalam warahmatullah!" jawab mahasiswi serempak, jauh lebih mendominasi dan bersemangat dari biasanya.

​"Ih, bapak dosennya ganteng banget!" bisik Pipit di barisan depan.

"Kalau dosennya ganteng begini sih mau kuliah dua jam pun betah" ujar Ayu tak mau kalah.

"Mirip aktor Korea, tapi versi lebih agamis ya. Aku naksir!" timpal Jihan yang baru saja datang, matanya sudah berbentuk hati.

​Syifa yang tengah menyesap air mineral dari botol minumnya, sekilas menoleh ke depan. Detik itu juga, air yang di mulutnya hampir saja menyembur.

​"Uhukk! Uhukk!" Syifa terbatuk, wajahnya memerah karena tersedak dan syok yang luar biasa.

"Eh Syif, pelan-pelan kalau minum" pungkas Adiba membantu menepuk-nepuk punggung Syifa.

"Anak kecil..anak kecil" umpat Jihan yang juga membantu menutup botol air minum Syifa supaya tidak tumpah.

'​Tidak mungkin! Ini pasti halusinasi karena aku kurang tidur' batinnya sembari mengusap bibir.

Namun, pria di depan sana memang nyata. Muhammad Fadhlan Ganendra, calon suaminya kini berdiri di balik meja dosen dengan wibawa yang luar biasa.

​Fadhlan sempat melirik ke arah kegaduhan kecil yang dibuat Syifa. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sangat tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat seisi kelas heboh.

​"Senyumnya manis banget! Pasti untukku!" seru Bella penuh percaya diri.

......................

​Fadhlan memulai perkenalan dengan sangat efisien. Tidak butuh waktu lama bagi para mahasiswi untuk mulai melontarkan pertanyaan pribadi.

​"Pak, benar bapak masih single?" tanya salah satu mahasiswi dengan berani.

​Fadhlan terdiam sejenak. Matanya menyapu ruangan, sempat berhenti selama dua detik tepat di manik mata Syifa yang pias, sebelum ia menjawab, "Status saya saat ini..." ia menjeda, mengangkat tangan kanannya sehingga cincin yang melingkar di jari manisnya terlihat jelas di bawah lampu ruang kuliah. "...akan menikah dalam waktu sangat dekat."

​Kekecewaan massal terdengar di ruangan itu, namun Syifa justru merasa ingin menghilang dari bumi. Pria itu baru saja mengumumkan rencana pernikahan mereka secara implisit di depan kelas yang ia ajar!

Seketika tawa para mahasiswa yang berada di sisi sebelah kanan pun terdengar. "Hahaha..kasihan pada naksir tapi langsung di usir" cibir para mahasiswa di ruangan itu.

"Wah siapa ya wanita beruntung itu" bisik Jihan pada Naya.

"Pasti cantik banget cewenya pak dosen" imbuh Irma yang duduk disebelah Naya.

​"Oke, baik. Saya harap kita bisa bekerja sama. Di kelas saya, tidak ada kata terlambat. Saya tegas dengan kehadiran dan kontrak kuliah. Jika tidak sanggup, silakan ambil mata kuliah lain," ucap Fadhlan dingin, kembali menjadi sosok dosen yang kaku dan disiplin.

'​Sudah kuduga. Dingin, kaku, dan killer. Benar-benar kulkas dua puluh pintu!' gerutu Syifa dalam hati, enggan melihat ke arah Fadhlan.

......................

Kuliah berlangsung selama dua jam yang terasa seperti dua abad bagi Syifa. Fadhlan mengajar dengan sangat cerdas, namun aura tegasnya membuat tak ada satu pun mahasiswa yang berani bergurau.

​"Ada pertanyaan?" tanya Fadhlan sembari merapihkan dokumen di mejanya.

​Suasana hening. Tiba-tiba, mata tajam itu kembali mengarah ke barisan belakang. "Mahasiswi yang duduk di pojok kiri, yang memakai jilbab warna hitam. Kamu paham materi hari ini?"

​Syifa tersentak. Ia menyadari yang dimaksud adalah dirinya. Dengan ragu, ia berdiri. "P-paham, Pak."

​"Siapa namamu?"

​"Asyifa Humaira, Pak."

​Fadhlan terdiam sejenak. Mendengar nama itu, sebuah kilatan yang sulit diartikan, antara kerinduan atau sekadar penanda. Namun, itu hanya sedetik sebelum wajahnya kembali sedingin es.

​"Baik, Asyifa. Simpan energi pemahamanmu untuk tugas minggu depan. Kelas selesai. Assalamu’alaikum."

​Setelah kelas bubar, Syifa sengaja melambat-lambatkan gerakannya merapihkan buku, berharap Fadhlan keluar lebih dulu. Namun, saat ruangan hampir kosong, pria itu justru masih berdiri di depan meja dosen sembari menatapnya.

​"Asyifa Humaira, bisa bicara sebentar?"

​Syifa membeku. Jihan dan Adiba memberi isyarat "semangat" sebelum akhirnya terpaksa keluar ruangan lebih dulu. Kini, hanya tersisa mereka berdua di ruang kuliah yang luas itu.

​Syifa berjalan mendekat dengan langkah ragu, kepalanya tetap menunduk. "I-iya, Pak? Ada yang salah dengan kehadiran saya?"

​Fadhlan tidak langsung menjawab. Ia justru merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah benda perak kecil yang berkilau.

​"Ini milik saya. Kamu menemukannya di minimarket kemarin, bukan?" Fadhlan meletakkan kalung itu di atas meja.

​Syifa terperanjat. Ia meraba dompet di dalam tasnya, dan benar saja, kalung yang ia temukan kemarin sudah tidak ada, sepertinya terjatuh saat ia mengambil buku tadi.

​"Maaf, Pak... saya memang berniat mengembalikannya, tapi saya tidak tahu kalau itu punya Bapak," jawab Syifa terbata.

​Fadhlan melangkah satu tindak lebih dekat. Aroma maskulin yang lembut namun tegas menyeruak, membuat Syifa semakin gugup.

​"Kamu benar-benar tidak ingat saya, Syifa?" suara Fadhlan kali ini tidak sedingin saat mengajar. Ada nada getir yang tersembunyi di sana.

​Syifa memberanikan diri mendongak. Ia menatap wajah tegas di depannya, mencoba menggali memori di balik kabut tebal yang menyelimuti masa kecilnya. Namun, kepalanya justru mulai terasa berdenyut nyeri.

​"Maaf, Pak...apakah harus dikatakan di sini? Tapi kakek saya pernah bilang kalau-" jawab Syifa pelan, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa sakit yang menyerang kepalanya.

​Melihat Syifa yang meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya, ekspresi Fadhlan berubah. Tangan pria itu sempat terangkat, seolah ingin meraih bahu Syifa untuk menenangkan, namun ia segera menariknya kembali sebelum sempat menyentuh. Ia sadar mereka masih di lingkungan kampus.

​"Pulanglah. Istirahat," ucap Fadhlan pendek, lalu ia berbalik pergi meninggalkan Syifa yang masih terpaku memegangi kepalanya yang berdenyut.

​Syifa menatap punggung tegap itu menjauh. Satu pertanyaan besar muncul di benaknya, 'Seberapa dekat kita dulu, sampai kamu menatapku seolah aku adalah orang yang paling berhutang penjelasan padamu?'

...****************...

1
Ulfa 168
lanjut thor
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!