Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Yang Terlupakan
Pagi di kota K kembali sibuk seperti biasa.
Kendaraan mulai memenuhi jalanan, klakson bersahutan, dan orang-orang bergegas mengejar rutinitas mereka. Dunia berjalan tanpa peduli bahwa di suatu sudut, ada kehidupan yang perlahan berubah arah.
Di lantai atas sebuah gedung tinggi, suasana terasa jauh berbeda. Tenang. Terkontrol. Dingin.
Seorang pria berdiri di depan jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Jas hitam yang melekat rapi di tubuhnya membuat sosoknya terlihat tegas dan berwibawa.
Arsen.
Tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara pandangannya lurus ke luar, menatap deretan gedung dan jalanan di bawah sana.
Namun pikirannya… tidak berada di situ.
Sejak satu bulan terakhir, ada sesuatu yang terus mengganggunya.
Sesuatu yang tidak biasa.
Sesuatu yang… tidak bisa ia abaikan.
Ketukan pintu terdengar.
Tok. Tok.
“Masuk,” ucapnya singkat tanpa menoleh.
Pintu terbuka.
Seorang pria masuk, mengenakan pakaian formal rapi. Wajahnya serius, tapi santai.
Raka.
Asisten sekaligus orang kepercayaan Arsen.
“Pagi, Pak,” sapa Raka.
“Pagi,” jawab Arsen pendek.
Raka melangkah mendekat, membawa beberapa berkas.
“Jadwal hari ini sudah saya susun. Jam sepuluh ada meeting dengan investor dari Singapura, lalu siang—”
“Raka.”
Ucapan Arsen memotong.
Raka berhenti bicara. “Ya, Pak?”
Arsen masih menatap ke luar.
"Kamu percaya sama mimpi?”
Pertanyaan itu membuat Raka mengernyit.
“Maaf… maksudnya?”
Arsen akhirnya menoleh.
Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.
“Menurut mu, mimpi bisa terus muncul berulang kali?”
Raka terlihat berpikir sejenak. “Bisa saja, Pak. Kalau itu sesuatu yang berkesan atau… belum selesai di pikiran.”
Arsen terdiam.
“Kenapa, Pak?” tanya Raka hati-hati.
Arsen tidak langsung menjawab.
Ia berjalan pelan menuju kursinya, lalu duduk.
Tangannya terlipat di atas meja.
“Ada sesuatu yang terus muncul,” ucapnya pelan.
Raka menunggu.
“Seorang wanita.”
Raka sedikit terkejut, tapi berusaha tetap tenang. “Wanita…?”
Arsen mengangguk pelan.
“Wajahnya nggak jelas. Tapi…” ia berhenti sejenak. “Au tahu dia nyata.”
Raka semakin bingung. “Nyata… maksudnya bukan cuma mimpi?”
Arsen menghela napas pendek.
“Aku ketemu dia.”
Raka langsung mengangkat alis. “Kapan?”
Arsen tidak menjawab langsung.
Pikirannya kembali ke malam itu.
Lampu redup. Suara musik.
Dan seorang gadis yang duduk di depannya.
Samar.
Tapi cukup untuk meninggalkan jejak.
“Satu bulan lalu,” jawabnya akhirnya.
Raka terlihat semakin penasaran. “Dan sekarang Bapak… mencarinya?”
Arsen menatapnya.
“Aku cuma ingat satu hal.”
“Apa itu?”
Arsen sedikit menyipitkan mata.
“Namanya.”
Raka menunggu.
“Nayra.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Raka mengulang pelan, “Nayra…”
“Cuma itu yang aku ingat,” lanjut Arsen. “Nggak ada nama belakang. Nggak ada kontak.”
Raka menghela napas. “Nama itu… cukup umum, Pak.”
“Aku tahu.”
“Dan Bapak tetap mau mencari?”
Arsen terdiam sejenak.
Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya… tidak.
Ia sendiri tidak tahu kenapa.,
Harusnya ia tidak peduli. Itu hanya satu malam. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Dan seharusnya juga tidak penting.
Tapi—
“Aku nggak bisa diem, saja” ucapnya akhirnya.
Raka menatapnya.
“Ini pertama kalinya aku… ngerasa kayak ada yang belum selesai.”
Raka tersenyum tipis. “Menarik.”
Arsen langsung menatapnya tajam. “Apa yang menarik?”
“Bapak,” jawab Raka santai. “Biasanya dingin banget soal hal beginian.”
Arsen menghela napas pelan.
“Jangan banyak komentar.”
“Siap, Pak,” Raka tertawa kecil.
Beberapa detik hening.
“Jadi…” lanjut Raka. “Mau saya bantu cari?”
Arsen menatapnya.
“Kamu punya cara?”
Raka mengangkat bahu. “Kita mulai dari tempat Bapak ketemu dia.”
Arsen langsung mengangguk kecil.
“Hotel itu.”
“Bapak masih ingat?”
Arsen mengangguk.
“Tentu.”
Beberapa jam kemudian—
Sebuah mobil hitam berhenti di depan hotel mewah. Bangunan itu berdiri megah, sama seperti malam itu.
Arsen turun dari mobil, diikuti Raka.
Ia menatap bangunan itu beberapa detik.
Ada sesuatu yang terasa… familiar.
Dan juga asing.
“Masih ingat semuanya, Pak?” tanya Raka.
“Cukup,” jawab Arsen singkat.
Mereka masuk ke dalam.
Lobi hotel ramai, tapi tetap terasa eksklusif.
Arsen langsung berjalan menuju resepsionis.
Seorang wanita menyambut dengan senyum profesional.
“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?”
Arsen tidak berlama-lama.
“Saya butuh data tamu yang menginap satu bulan lalu, tepatnya tanggal 14."
Resepsionis itu sedikit terkejut.
“Maaf, Pak, untuk data tamu itu bersifat pribadi—”
“Saya hanya butuh satu nama.”
Nada suara Arsen tenang, tapi tegas.
Wanita itu terlihat ragu.
Raka langsung maju sedikit. “Kami bisa bekerja sama dengan pihak manajemen.”
Arsen mengeluarkan kartu namanya, lalu meletakkannya di meja.
Wanita itu melihatnya.
Wajahnya langsung berubah.
“Oh… Pak Arsen…”
Ia menelan ludah.
“Mohon tunggu sebentar, Pak.”
Arsen hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, seorang manajer hotel datang.
“Pak Arsen, selamat datang,” sapanya ramah.
“Langsung saja,” jawab Arsen. “Saya butuh data tamu di malam itu.”
Manajer itu sedikit ragu. “Kalau boleh tahu, untuk keperluan apa, Pak?”
Arsen menatapnya datar.
“Saya mencari seseorang.”
“Nama?”
Arsen terdiam sejenak.
Seolah memastikan.
“Nayra.”
Manajer itu berpikir.
“Baik, Pak. Kami coba cek.”
Beberapa saat kemudian, mereka berada diruang kecil. Laptop terbuka. Data ditampilkan.
Raka memperhatikan layar.
“Banyak juga,” gumamnya.
Arsen menatap serius.
“Fokus ke nama Nayra.”
Manajer mulai mencari.
Beberapa detik.
Lalu—
“Ada, Pak.”
Arsen langsung mendekat.
“Beberapa tamu dengan nama Nayra menginap dalam periode itu.”
Raka menghela napas. “Ya, sesuai dugaan.”
Arsen menatap layar.
Ada beberapa nama.
Tapi semuanya hanya nama depan.
Tidak cukup.
“Alamat?” tanya Arsen.
Manajer menggeleng. “Data tidak lengkap semua, Pak. Ada yang pakai identitas umum.”
Arsen mengepalkan tangan pelan.
Raka meliriknya. “Tenang, Pak. Ini baru awal.”
Arsen terdiam.
Ia menatap layar itu lama. Nama itu ada. Tapi tetap terasa jauh.
“Aku bakal nemuin mu,” gumamnya pelan.
Raka mendengar.
“Sepertinya Bapak serius sekali.”
Arsen tidak menjawab.
Tapi matanya sudah cukup menjelaskan.
****
Di tempat kos—
Nayra duduk di dalam kamar, menatap buku kuliahnya.
Tapi pikirannya jauh.
Sinta duduk di sampingnya.
“Na, kamu denger nggak sih?” tanya Sinta.
“Hah?” Nayra tersadar.
“Aku dari tadi ngomong,” Sinta menghela napas. “Besok kita ke dokter, ingat?”
Nayra mengangguk pelan. “Iya…”
Sinta menatapnya. “Kamu masih kepikiran, ya?”
Nayra terdiam.
Lalu pelan berkata, “Aku bahkan nggak tahu dia siapa…”
Sinta langsung paham.
“Yang di hotel itu?”
Nayra mengangguk.
“Kamu pengen nyari dia?” tanya Sinta.
Nayra menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Kenapa?”
Nayra menatap ke depan.
“Dia asing.” Sederhana.Tapi tegas.
“Dan Aku… nggak mau hidup ku makin rumit.”
Sinta terdiam.
Nayra menggenggam tangannya.
“Ini tanggung jawab ku,” lanjutnya pelan. “Bukan dia.”
Sinta menatapnya lama.
Lalu menghela napas.
“Ya udah… tapi kalau suatu saat dia datang?”
Nayra tersenyum tipis.
Pahit.“Dia nggak akan datang.”
To be continued 🙂 🙂 🙂